Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil

Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil
Apakah Mungkin Aku?


__ADS_3

Suster Amira baru saja selesai memeriksa tekanan darah Arumi. Memang benar, rupanya menantu dari direktur rumah sakit Persada International Hospital mengalami anemia atau istilah orang awamnya disebut kurang darah. Itulah sebabnya mengapa akhir-akhir ini dokter cantik yang baru satu bulan menyandang status sebagai nyonya Rayyan mengalami gejala anemia seperti kelelahan, merasa pusing dan wajah pucat pasi bagaikan mayat.


"Bagaimana hasilnya, Sus?" tanya Arumi. Selama Amira memeriksa tekanan darah wanita itu, istri cantik dari Rayyan memejamkan mata sebab kepalanya terasa pusing sekali.


Amira merapikan kembali alat tensimeter yang tadi digunakan untuk mengukur tekanan darah Arumi. "Tekanan darah Dokter Arumi 90/60 mmHG. Memangnya selama beberapa hari ini Dokter tidak merasakan gejala anemia?"


Arumi menghela napas kasar, seraya memejamkan mata sejenak. "Tentu saja saya merasakannya, Sus. Namun, saya tidak menganggapnya terlalu serius." Seketika wajah Arumi berubah murung. Dia kembali teringat akan kejadian beberapa hari lalu.


Akibat terlalu banyak memikirkan cara bagaimana agar Rayyan luluh dan mau memaafkannya, dia sampai melupakan kesehatannya sendiri. Pola tidur terganggu, asupan nutrisi kurang ditambah beban pekerjaan yang berat karena selama empat hari berturut-turut melakukan tindakan operasi besar hingga energinya habis terkuras.


Sebagai wanita yang telah lama merasakan pahit manisnya kehidupan rumah tangga, Amira paham betul jika saat ini Arumi tengah mengalami masalah dalam rumah tangga yang baru dibina selama satu bulan lebih lamanya. Akan tetapi, dia tidak mau terlalu jauh mencampuri urusan orang lain karena tugasnya di sana hanya sebagai perawat bukan konselor yang bertugas memberikan nasihat ataupun edukasi seputar dunia rumah tangga.


"Saya memang tidak tahu pasti ada masalah apa antara Dokter Arumi dengan Dokter Rayyan, namun kalau boleh memberikan saran serumit apa pun masalah antara kalian jangan sampai Dokter Arumi melupakan kesehatan. Tetap jaga pola makan dengan baik. Apalagi, pekerjaan Dokter Arumi akhir-akhir ini banyak jika tidak peduli dengan kesehatan diri sendiri, bagaimana Dokter akan memberikan pertolongan pada pasien," ujar Amira.


Lagi-lagi, Arumi menghela napas kasar. Wanita itu menatap langit-langit ruang kerja milik sang suami.


"Bagaimana mau menjaga pola makan, Sus. Setiap pagi ketika mencium aroma masakan rasanya mual sekali. Jika terpaksa sarapan, saya sering meminta ART di rumah menyiapkan roti tawar selai marmalade dan wedang jahe. Setelah itu, barulah mualnya berkurang dan saya dapat beraktivitas seperti biasa."


Mendengar ucapa Arumi, perawat senior dalam balutan seragam putih mengerutkan alis petanda bingung. Baru beberapa jam bersama dengan istri atasannya, dia kembali dikejutkan oleh beberapa fakta yang cukup membuatnya tercengang. Namun, dia tidak berani menerka sesuatu hal yang belum pasti.


Suster Amira beringsut mendekati Arumi. Wanita paruh baya yang sebentar lagi akan pensiun duduk di tepian ranjang rumah sakit.


Dia menarik napas dalam, lalu bertanya. "Dokter Arumi, bolehkan saya bertanya sesuatu. Tapi ... ini bersifat pribadi. Namun, jika Dokter Arumi keberatan menjawab pertanyaan saya, tidak dijawab pun tidak masalah."


Arumi tersenyum tipis. "Memangnya Suster Amira mau bertanya apa? Kok raut wajahnya sampai serius begitu."

__ADS_1


Wanita paruh baya berseragam putih tampak berpikir sejenak, bingung sendiri ingin mulai percakapan dari mana. Cukup lama dia berpikir, hingga akhirnya dia menemukan cara bagaimana menanyakan hal yang sangat sensitif bagi sebagian kaum Hawa yang telah menikah.


"Ehm ... kalau boleh tahu selain merasakan mual di pagi hari dan juga pusing apakah ada yang Dokter Arumi rasakan? Misal, perut terasa kram dan perubahan suasana hati yang sering berubah-ubah."


Tanpa banyak berpikir, Arumi menganggukan kepala dengan cepat. "Benar. Akhir-akhir ini aku merasakan suasana hati yang tak karuan, bahagia dan sedih dalam satu waktu bersamaan. Hanya karena hal kecil, membuatku bersedih bahkan menangis tersedu."


Wanita muda itu terkekeh mengingat kejadian dua hari lalu di mana dia langsung meneteskan air mata tatkala Rini lupa membawakan pisang goreng crispy kesukaannya. Padahal biasanya dia akan bersikap biasa saja, tapi hari itu istri cantik dari Rayyan merajuk dan akhirnya menangis hingga membuat sang sahabat kebingungan. Benar-benar aneh!


Bola mata suster Amira terbelalak kala mendengar jawaban Arumi. Namun, dia ingin memastikannya lagi agar dugaannya semakin kuat.


"Dokter Arumi, terakhir kali mengalami siklus menstruasi kapan?" tanyanya dengan sangat hati-hati.


"Seharusnya minggu-minggu ini, Sus. Tapi ... sudah satu minggu lamanya, si tamu bulanan belum juga datang," jawab Arumi polos seraya memberikan senyuman hangat ke arah Amira.


"Suster Amira, a-apakah kamu memikirkan sesuatu hal yang sama denganku?" tanya Arumi tergagap. Air muka kecemasan bercampur bahagia terlukis jelas di wajah wanita itu.


Amira pun tersenyum. "Sepertinya begitu, Dok."


"A-apakah mungkin ... aku ....?" Kata-kata Arumi mengambang di udara tak berani melanjutkan perkataannya sendiri. Tidak berani menebak, tapi juga sedikit berharap.


Melihat kebahagiaan tergambar jelas di wajah Arumi, membuat Amira ikut berbahagia. Sedikit banyak tahu bagaimana perjuangan wanita muda itu untuk bisa mendapatkan keturunan. Konflik yang terjadi antara Arumi dan Naila pun, dia tahu karena dinding rumah sakit tempatnya bekerja dapat berbicara dengan sendirinya.


"Saran saya, sebaiknya Dokter Arumi pergi mengunjungi dokter obgyn untuk memastikan apakah tanda dan gejala yang dirasakan selama ini memang mengarah ke sana. Jikalau memang benar, Dokter Arumi bisa lebih berhati-hati lagi saat sedang melakukan tindakan pada pasien."


"Namun, apabila hanya gejala anemia dan asam lambung naik, Dokter Arumi masih bisa terus berusaha. Saya yakin, suatu saat nanti kebahagiaan akan datang menghampiri keluarga kecil Dokter." Doa tulus Amira panjatkan untuk Arumi.

__ADS_1


'Apa yang dikatakan oleh Suster Amira benar, tidak ada salahnya jika aku pergi ke dokter kandungan. Sekalipun memang hanya anemia dan asam lambung naik, setidaknya aku tidak dibuat penasaran. Dari pada berdiam diri dan terus menerus berharap tanpa ada kepastian, malah itu lebih menyakiti diriku sendiri,' batin Arumi.


Arumi mencoba bangun dari tidurnya dibantu oleh Amira. Kini, wanita itu duduk di sandaran ranjang rumah sakit.


"Suster Amira, aku takut jika harus pergi ke dokter kandungan sendirian. Kalau aku meminta Suster Amira menemani, apakah Suster keberatan?" tanya Arumi dengan wajah penuh pengharapan.


Suster Amira mengangguk sambil tersenyum. "Tentu. Saya akan menemani Dokter Arumi. Mau pergi sekarang?" tawar wanita paruh baya itu seraya melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangan.


Waktu sudah menunjukan pukul dua belas siang. Biasanya poli kandungan sudah mulai sepi saat jam makan siang. Selain itu, masih ada sisa satu hingga dua jam menunggu sampai Rayyan selesai melakukan tindakan operasi.


"Boleh, Sus. Kalau Suster tidak keberatan."


"Jangan sungkan, Dokter Arumi. Saya malah senang karena bisa membantu Dokter." Suster Amira tersenyum, lalu membantu Arumi bangkit dari pembaringan. "Dokter bisa jalan sendiri?" Arumi menganggukan kepala sebagai jawaban.


Namun, sebelum meninggalkan ruangan milik sang suami, Arumi mengirimkan pesan singkat untuk Rayyan.


[Mas, aku izin pergi ke dokter kandungan sebentar. Jika kamu sudah selesai tindakan dan aku belum kembali, temui aku di poli kandungan.]


Pesan singkat pun terkirim. Lantas, Arumi melanjutkan kembali perjalanannya menuju poli kandungan. Arumi dan Amira melangkah perlahan menyusuri lorong rumah sakit.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2