Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil

Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil
PROMOSI KARYA BARU


__ADS_3

Napas seorang wanita muda tercekat kala mendengar sepasang lelaki dan perempuan tengah merencanakan sebuah rencana pembunuhan terhadap dirinya. Tubuh wanita itu gemetar hebat disertai bulir keringat yang menetes di kening dan pelipis. Telapak tangannya terasa dingin dan lembab, ditambah degup jantung yang memompa lebih cepat dari biasanya.


"Mereka ... merencanakan pembunuhan terhadapku?" gumamnya lirih. Ia menutup mulutnya menggunakan telapak tangan. Tak percaya dengan apa yang didengar olehnya barusan.


Tanpa sadar, mengulurkan tangan ke udara dan mengusap permukaan perut yang terlihat masih rata. "Tidak ... mereka tidak boleh membunuhku dan bayi ini. Ya ... aku harus kabur sebelum mereka berhasil membunuhku," ucapnya lagi setelah sadar dari keterkejutannya. Bertekad melarikan diri agar kedua orang itu tak berhasil menjalankan rencana busuk yang telah disusunya secara apik.


Wanita itu mundur secara perlahan, mengatur agar suara langkah tak menggema memenuhi penjuru ruangan dan menyebabkan kedua orang di depan sana menyadari kehadirannya. Akan tetapi, usahanya itu tetap sia-sia ketika tanpa sengaja ujung sikunya menyenggol vas bunga yang ada di atas meja.


Prang!

__ADS_1


"Kurasa ada seseorang yang tengah menguping. Ayo, kita cari tahu siapa orang itu! Jangan sampai dia membocorkan rahasia ini sebelum tujuan kita berhasil." Tanpa membuang waktu, wanita berambut sebahu keluar dari ruangan yang pintunya tak tertutup rapat disusul kekasihnya mengekori di belakang.


"Sial! Pantas saja orang itu bisa menguping, rupanya pintu ini tidak tertutup rapat!" gerutunya kala menyadari daun pintu berwarna coklat itu tak tertutup rapat.


Terjadi aksi kejar-kejaran antara dua mobil mewah itu di jalanan yang terlihat lenggang. Beberapa kali bunyi klakson terdengar saat mobil yang dikendarai si wanita muda itu menyalip kendaraan roda empat di depannya tanpa memberikan sinyal terlebih dulu.


"Kemarilah, Baby. Ayo sini, ikut pulang bersamaku. Kasihan anak kita bila kamu terus berlari menghindariku."


Wanita muda itu menggelengkan kepala dengan cepat seraya berkata, "Tidak mau, Mas! Aku sudah tidak percaya lagi padamu. Kamu dan wanita itu bekerjasama ingin melenyapkanku dari muka bumi ini. Padahal aku ini istrimu, tetapi mengapa kamu tega melakukan itu padaku?" Bibirnya gemetar ketika mengucapkan kalimat itu. Jantungnya terasa seperti ditikam oleh sebilah pisau, menancap hingga menembus ke sumsung tulang yang terdalam.

__ADS_1


"Itu karena dia tidak mencintaimu. Baginya, kamu ... cuma digunakan sebagai mesin ATM yang 'kan dikeruk uangnya setiap hari hingga seluruh harta kekayaan keluargamu habis tak bersisa."


Lalu, wanita itu melangkah maju ke depan. Melihat wanita berambut panjang itu melangkah maju, maka di saat bersamaan, nona muda Wijaya mundur ke belakang. Perasaan cemas bercampur takut karena wanita gila itu terus mendekatinya. Ia takut jikalau malam ini dirinya akan pergi menyusul mendiang ayahnya yang baru saja meninggal dua bulan lalu.


Kalau itu terjadi, bagaimana dengan nasib dirinya dan juga bayi dalam kandungannya? Mungkinkah ia masih dapat membesarkan anaknya setelah kejadian hari ini? Ataukah ia harus kehilangan bayi itu untuk selama-lamanya?



__ADS_1


__ADS_2