
Setelah insiden di mana Rayyan harus berkeliling mencari minimarket atau drug store yang menjual produk khusus bagi wanita akhirnya ia mendapatkan apa yang diminta oleh istrinya. Ia berjalan tergesa-gesa menuju toilet wanita.
"Mbak, di dalam sana ada istri saya sedang kesakitan. Saya membawakan apa yang dia butuhkan. Bisakah Mbak membantu saja memberikan ini padanya?" Rayyan terpaksa berbicara dengan lawan jenis yang kebetulan baru saja keluar dari toilet. Berbekal kantong plastik yang dapat didaur ulang serta sarung tangan medis, ia menyerahkan bingkusan itu pada salah satu pengunjung.
Seorang gadis remaja berusia sekitar 19 tahun menatap heran ke arah Rayyan. Pria tampan dalam balutan celana jeans berwarna navy selutut dipadu kaos pollo berwarna putih serta kacamata hitam menggantung di bagian depan dada membuat penampilan anak sulung Firdaus terkesan menawan tapi menyeramkan dalam waktu bersamaan.
Menyeramkan karena tatapan mata Rayyan terlihat dingin dan tajam bagaikan seekor elang, berniat memangsa lawannya saat itu juga. Wajah datar tanpa ada senyuman terukir di wajah serta sarung tangan medis yang membungkus kedua tangan pria itu menjadi sorotan gadis remaja tersebut.
Rayyan mengarahkan pandangan gadis remaja itu pada bungkusan putih dengan logo drug store di bagian depan dan sarung tangan yang membungkus tangannya.
Merasa kesal karena ditatap se-intens itu oleh lawan jenis membuat perut Rayyan teroyak, rasanya ingin mengeluarkan sesuatu dari isi perutnya. Namun, ia berusaha keras menahannya agar tidak melakukan hal tersebut.
"Mbak, apakah bisa tolong bantu saya? Istri saya benar-benar kesakitan di dalam sana." Sekali lagi Rayyan berucap pada gadis yang berdiri di hadapannya. Perpaduan antara rasa kesal dan cemas melebur menjadi satu. Tanpa disadari oleh siapa pun, ia meremaas bungkusan itu dengan sangat kuat.
Melihat sorot mata penuh pengharapan, gadis remaja itu akhirnya luluh dan bersedia membantu. "Bisa, Pak. Istri Bapak, siapa namanya?"
Masih dengan mode datar dan dingin, Rayyan menjawab. "Namanya, Arumi. Tolong sampaikan jika ini dari suaminya, Rayyan."
Setelah meraih kantong plastik berisi barang yang dibutuhkan Arumi dan mengucapkan terima kasih pada gadis remaja itu, Rayyan bergegas mencari tempat aman sambil menunggu istrinya keluar dari dalam toilet.
Beberapa menit menunggu, Arumi dibantu gadis remaja tadi berjalan pelan-pelan keluar dari dalam toilet.
"Rayyan!" ucap Arumi lirih, memanggil nama suaminya. Wajah wanita itu pucat pasi serta telapak tangan yang tak pernah lepas dari bagian perut.
Menoleh ke sumber suara, dan mendapati sosok Arumi berdiri dengan wajah meringis kesakitan, Rayyan langsung berlari mendekati istrinya. Meninggalkan begitu saja dua buah koper berisi pakaian dan oleh-oleh untuk keluarga serta rekan-rekan di rumah sakit. Sedangkan gadis remaja tadi undur diri pada pasangan suami istri itu, untuk menemui keluarganya yang sedang menunggu di depan coffee shop.
"Babe, kamu tidak apa-apa? Apakah masih terasa sakit? Kamu ... sudah mengoleskan minyak angin aromaterapi yang kuberikan tadi 'kan?" cecar Rayyan. Bibir tipis itu terus berucap tanpa jeda sedikit pun.
__ADS_1
Arumi menggeleng lemah sambil bersandar di dada suaminya. Ia sama sekali tidak memiliki tenaga untuk berkata. Hanya mampu memberikan isyarat lewat gerakan tubuh.
"Ya sudah, kita duduk dulu di sana." Lantas Rayyan memapah istrinya duduk di kursi. Jaraknya tidak begitu jauh dari posisinya saat ini.
"Ray, maaf ...." lirih Arumi. Masih dalam posisi berada dalam dekapan sang suami, mata wanita itu terpejam karena merasa nyaman berada di dekat Rayyan. Ditambah hangatnya minyak angin aromaterapi serta rasa kantuk yang semakin berat membuatnya ingin segera merebahkan tubuh di atas ranjang.
Walaupun lirih tapi Rayyan dapat mendengar jelas suara Arumi. Kendati kecewa, pria itu berusaha tersenyum agar istrinya tidak merasa tertekan dan malah mengganggu kejiwaan wanita itu.
Dengan lembut dan penuh perhatian, Rayyan mengusap rambut istrinya sambil sesekali mendaratkan ciuman di puncak kepala wanita itu.
"Nope, Babe! Anggap saja belum rezeki," jawab Rayyan. "Masih banyak waktu untuk kita terus berusaha. Kalaupun memang tidak diberikan amanah oleh Tuhan, kita adopsi bayi mungil nan lucu di panti asuhan. Kamu dan aku merawat bayi itu dengan cinta dan kasih sayang."
Rayyan mencoba menghibur Arumi dengan kemampuan yang dimiliki. Berusaha tegar di hadapan wanita itu.
Terjadi keheningan sepersekian detik, hingga akhirnya Rayyan tersadar akan sesuatu hal. Ia mengurai pelukan, membawa tubuh wanita itu menghadapnya. Kini, posisi mereka saling berhadapan.
"Aku merasa ada sesuatu yang janggal. Kamu bilang pada Dokter Anin bahwa tiga hari sebelum akad nikah tamu bulananmu telah selesai, tapi hari ini terdapat bercak darah di segitiga bermudamu. Apakah kamu tidak merasa aneh dengan hal ini?" Rayyan menatap lekat manik coklat Arumi seraya menyentuh kedua pundak.
Rayyan menarik napas panjang seraya memejamkan mata, mengumpulkan energi di sela kegiatannya mengisi oksigen dalam paru.
"Babe, apa kamu tidak merasa akhir-akhir ini banyak sekali perubahan terjadi padamu. Mulai dari mood yang sering berubah-ubah, bagian bemper depanmu yang lebih berisi dan lebih sensitif lalu permintaan aneh yang terkadang membuatku keheranan. Kamu tidak merasakan itu semua?"
"Jangan-jangan, kamu ... hamil."
"Ngaco kamu. Mana mungkin aku hamil secepat itu, Ray!" sanggah Arumi cepat seraya melambaikan tangan ke depan Rayyan. "Usia pernikahan kita baru dua minggu, dan impossible sekali jika saat ini aku tengah berbadan dua."
Arumi mencoba melepaskan diri dari Rayyan, menurunkan kedua tangan di pundaknya. Kemudian membenarkan posisi duduk. Ia menatap lurus ke depan dengan sorot mata yang sulit diartikan.
__ADS_1
Rayyan menyandarkan punggung di sandaran kursi sambil menatap langit-langit atas bangunan bandara.
"Pembuahan bisa saja terjadi jika saat itu kamu sedang dalam masa subur, Rumi. Kamu sendiri bilang jika beberapa hari sebelum akad nikah kamu telah bersih dari tamu bulananmu. Jika dihitung, saat itu kamu sedang dalam masa subur. Dan di waktu bersamaan, kita pun melakukan hubungan int*m. Sangat wajar jika aku menganggap saat ini kamu sedang hamil."
Arumi tampak terkejut beberapa saat mendengar penjelasan Rayyan. Otaknya berusaha mencerna semua penjelasan yang diucapkan oleh suaminya. Memang benar, saat mereka menikah Arumi sedang dalam masa subur dan malam harinya Rayyan menggaulinya tanpa memberikan jeda sedikit pun. Banyak benih yang pria itu tebar di dalam rahim, sebab mereka melakukan hubungan tanpa menggunakan pengaman apa pun.
Detik berikutnya, jantung wanita itu sudah berdentam tak beraturan. Hatinya tiba-tiba cemas dan hangat pada satu waktu bersamaan.
Dalam hati bertanya, 'Mungkinkah memang benar aku hamil? Namun, bagaimana bisa hamil sedangkan usia pernikahan kami baru memasuki minggu kedua.'
"Memang terlalu dini bila menyimpulkan bahwa kamu sedang hamil muda. Oleh sebab itu, kita tunggu hingga kamu mengalami terlambat siklus menstruasi. Apabila terlambat datang bulan, segera periksa menggunakan test pack. Namun bila datang bulan, ya ... tidak perlu membeli."
Arumi ikut merebahkan punggung di sandaran kursi, sebelahan dengan Rayyan. Menatap langit-langit gedung sambil memikirkan sesuatu hal sama seperti suaminya.
"Seandainya aku tidak hamil, apakah kamu kecewa?"
Rayyan menyunggingkan senyum di bibir. Membayangkan dirinya menjadi seorang ayah bagi anak-anaknya kelak. Pasti hidupnya terasa lebih bahagia karena sukses menghamili wanita yang dulu di-cap mandul oleh banyak orang.
"Kalau boleh jujur, aku pasti kecewa karena impianku menjadi ayah sirna. Akan tetapi, aku sadar kebahagiaan seseorang tidak hanya terletak pada keturunan semata. Buktinya, kehadiranku di dunia ini tidak menjadikan rumah tangga kedua orang tuaku bahagia. Malah semakin hancur akibat kehadiran orang ketiga. Jadi, aku tidak mau menjadikan anak sebagai patokan kebahagiaan kita dalam berumah tangga," tutur Rayyan. Berkata jujur apa adanya, tanpa ada yang disembunyikan.
Arumi menahan senyum saat melihat sudut bibir suaminya. Mungkinkah pria itu memikirkan hal yang sama seperti dirinya? Sama-sama membayangkan kehidupan rumah tangga mereka semakin terasa bahagia karena kehadiran buah cinta.
"Baiklah. Kalau begitu, ketika aku mengalami terlambat datang bulan maka bergegas melakukan pemeriksaan. Setuju?"
"Setuju."
.
__ADS_1
.
.