Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil

Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil
Rumah Sakit Citra Asih


__ADS_3

"Dokter! Dokter Firdaus! Apakah Anda bisa mendengar suara saya?" tanya Nesa seraya merubah posisi tubuh pria paruh baya itu dari posisi miring menjadi terlentang. Akan tetapi, kakek dari tiga bayi kembar tak juga menunjukan respon apa-apa. Lantas, ia mendekati tubuh Lena yang tertelungkup di lantai. Sekuat tenaga, wanita muda itu membalikan tubuh pasiennya sehingga kini posisi dari ibunda kandung Raihan terlentang.


"Bu Lena, apakah Ibu bisa mendengar saya?" Nesa membawa kepala Lena ke pangkuan, menepuk wajah wanita paruh baya itu dengan lembut. Namun, sayang, tak ada respon sama sekali.


"Kenapa bisa jadi begini sih?" dengkus Nesa kesal karena semua kejadian ini di luar kendali. Niat hati membuat drama percekcokan antara Firdaus dengan Lena, malah berujung petaka yang membuat wanita muda itu diliputi rasa cemas.


Di saat Nesa sedang kebingungan, ia mendengar seseorang tengah menekan pass code unit apartemen milik Firdaus. Perawat wanita itu yakin, jikalau orang di luar sana adapah mbok Darmi. Oleh karena itu, tanpa pikir panjang, ia berteriak hingga suaranya menggema memenuhi penjuru ruangan.


"Tolong! Mbok Darmi, tolong saya!" Wajahnya berubah pias disertai keringat dingin muncul di permukaan kulit.


Mendengar suara teriakan dari dalam ruang kerja sang majikan, mbok Darmi berlari mendekati sumber suara. "Astaga, Pak Firdaus! Bu Lena!" Segera berhambur dan terduduk di lantai. Pandangan mata sendu menatap prihatin ke arah dua majikannya.


"Mbak Nesa, sebenarnya apa yang terjadi Mbak? Kenapa bisa jadi begini?" Memberanikan diri bertanya pada perawat pribadi Lena. Seingatnya, sebelum pergi meninggalkan apartemen, kedua majikannya dalam keadaan baik-baik saja. Namun, kenapa sekarang keadaan Lena dan Firdaus tak sadarkan diri.


"Mbok, bisa tidak jangan bertanya apa-apa dulu kepada saya? Lebih baik, Mbok telepon ambulance dan minta datang ke sini!" pintanya kepada Mbok Darmi. "Cepat, Mbok!"


"Baik, Mbak Nesa! Mbok telepon sekarang!" jawab Mbok Darmi sambil bangkit dari duduknya. Lalu melangkah menuju pesawat telepon dan menghubungi rumah sakit terdekat.


Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya dua unit mobil berwarna putih terparkir rapi di depan pintu masuk lobi apartemen. Suasana lobi yang sepi seketika menjadi ramai. Tampak empat orang petugas kesehatan berlari menuju lantai tujuh sambil membawa tandu.


"Mbok, temani Dokter Firdaus, saya menemani Bu Lena!" ucap Nesa sebelum ia masuk ke dalam mobil ambulance. Lagi dan lagi Mbok Darmi menuruti perintah wanita itu.


Ada dua unit mobil ambulance dengan dua pasien di dalamnya. Maka Nesa dan mbok Darmi membagi tugas mereka. Perawat wanita berseragam putih masuk ke dalam mobil pertama, sementara mbok Darmi di mobil kedua.


Perlahan, mobil ambulance itu melesat di jalanan ramai. Bunyi sirine berbunyi menandakan ada pasien gawat darurat di dalamnya. Tampak tenaga medis yang bertugas memberikan pertolongan pertama terhadap pasien, seperti memasang selang infus dan memeriksa tanda-tanda vital.


Tiga puluh menit menempuh perjalanan, akhirnya dua unit mobil ambulance telah tiba di rumah sakit. Pasangan suami istri lanjut usia terbaring lemah di atas brankar dalam keadaan tidak sadarkan diri.


"Mbok, saya akan urus administrasi. Kalau bisa, tolong Mbok hubungi keluarga pasien dan beritahu tentang keadaan ini. Tolong ya, Mbok." Tanpa menunggu jawaban, Nesa berlalu begitu saja meninggalkan mbok Darmi yang masih membeku di tempat.


Mbok Darmi mengeluarkan telepon genggam miliknya dari dalam dompet. Lantas, ia mulai menghubungi Rihan, untuk memberikan kabar tentang kedua orang tuanya.

__ADS_1


"Aduh, kenapa Den Raihan tidak mengangkat teleponku? Apakah dia sedang sibuk mengajar di kampus?" gumamnya ketika suara merdu operator seluler menyapa dirinya. "Apa sebaiknya aku telepon Den Rayyan saja? Tapi, bagaimana kalau dia marah karena aku mengganggunya dengan berita ini? Terlebih lagi dia sangat membenci Bu Lena."


Sungguh, wanita itu tengah dilema dihadapkan pada dua pilihan antara menghubungi Raihan atau Rayyan. Jika tak memberitahu salah satu di antara mereka, khawatir ada tindakan medis yang membutuhkan persetujuan pasien. Lalu, siapa yang akan bertanggung jawab? Sedangkan posisi dirinya dengan Nesa hanya orang asing, bukan merupakan keluarga ataupun sanak saudara.


Setelah menimang-nimang, akhirnya mbok Darmi nekad mengirimkan pesan singkat kepada Rayyan selaku putra pertama dari Firdaus. Jika nanti dokter tampan itu tak membalas pesan darinya, ia akan mencoba opsi terakhir yaitu memberitahu Raihan via salah satu aplikasi berwarna hijau.


[Assalamu a'laikum. Den Rayyan, ini Mbok Darmi. Saya ingin memberitahukan bahwa saat ini Pak Firdaus sedang berada di Rumah Sakit Citra Asih. Kalau tidak keberatan, bisakan Aden datang ke sini? Si Mbok cuma takut kalau Dokter terpaksa melakukan tindakan yang membutuhkan persetujuan dari keluarga pasien.]


Sebuah pesan singkat telah dikirim. Kini, mbok Darmi tinggal menunggu balasan dari Rayyan. "Semoga Den Rayyan membalas pesanku."


Sementara itu, Rayyan sedang duduk di ruang tamu. Ia tengah mengerjakan laporan sambil menemani Arumi memberikan ASI kepada Zavier. Namun, suara ponsel milik pria itu berbunyi nyaring membuat pasangan suami istri itu menoleh hampir bersamaan pada benda pipih berbentuk persegi panjang.


Tring!


Rayyan mengernyitkan alis ketika melihat nama mbok Darmi tertera di pop up yang muncul di layar ponsel.


'Tumben sekali Mbok Darmi menghubungiku. Pasti ada hubungannya dengan Papa dan wanita itu,' batin Rayyan. Pria itu sama sekali tak berminat membuka ponselnya. Ia masih duduk manis sambil kembali menatap layar laptop.


'Mengganggu saja!' gerutunya. Pria itu meraih telepon genggam dengan logo buah apel di belakangnya lalu membaca isi pesan tersebut.


Bola matanya yang sipit melebar sempurna ketika membaca pesan yang dikirimkan oleh mbok Darmi. Ia cukup terkejut mendapatkan kabar tentang Firdaus yang masuk rumah sakit. Namun, pria muda itu bersikap santai tak peduli dengan apa yang terjadi pada sang papa.


[Wa'alaikum salam. Maaf, Mbok, saya tidak bisa datang ke sana. Lebih baik Mbok hubungi saja anak Papa yang lain. Terima kasih.] balas Rayyan singkat.


"Ada apa, Mas?" tanya Arumi ketika melihat Rayyan mengembalikan lagi ponsel miliknya ke atas meja bundar di depan sana.


"Hanya urusan pekerjaan, tidak penting!" jawab Rayyan berbohong sama sekali tidak tertarik untuk menceritakan apa yang sedang menimpa papa-nya. Lantas, wanita cantik itu hanya membulatkan bibir membentuk huruf O.


Kembali lagi ke rumah sakit. Mbok Darmi tampak begitu mencemaskan nasib Firdaus dan Lena, dua majikan yang selama ini begitu baik kepadanya.


"Apa yang harus kulakukan jika terjadi sesuatu kepada Pak Firdaus dan Bu Lena? Aku ... tidak bisa mengambil keputusan apa pun." Mbok Darmi duduk dengan gelisah di sebuah kursi panjang terbuat dari stainless. Meremaas tangan guna mengurai rasa cemas yang menyelimuti diri.

__ADS_1


Nesa berlari menyusuri lorong rumah sakit. Wanita muda itu mendekati mbok Darmi yang sedang duduk di kursi tunggu di depan ruang IGD.


"Mbok, bagaimana kondisi Pak Firdaus dan Bu Lena?" tanyanya dengan napas tersengal-sengal. Menghirup udara sebanyak-banyaknya guna memenuhi pasokan oksigen di dalam paru-paru.


Mbok Darmi menggelengkan kepala cepat. "Belum ada dokter maupun perawat keluar dari pintu itu, Mbak. Si Mbok tidak tahu apa yang terjadi di dalam sana."


"Lalu, apakah Mbok sudah memberitahu Dokter Rayyan dan Pak Raihan kalau Dokter Firdaus dilarikan ke rumah sakit?" tanyanya.


Lagi dan lagi Mbok Darmi menjawab, "Sudah, Mbak. Tapi mereka tidak mengangkat telepon maupun membalas pesan saya." Saat itu Mbok Darmi belum membaca balasan pesan dari Rayyan karena ponsel miliknya dalam mode silent.


Menghela napas kasar. Seharusnya Nesa tidak usah meminta mbok Darmi menghubungi kedua pria tampan itu, karena mereka pasti enggan datang membesuk pasangan suami istri yang terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit.


Beberapa saat kemudian, seorang dokter senior keluar dari dalam ruang IGD. Sebuah benda bundar terbuat dari logam menggantung di lehernya. "Keluarga pasien!"


Buru-buru mbok Darmi mendekat sambil berkata, "Saya ART kedua pasien itu, Dokter. Bagaimana dengan keadaan mereka?"


"Beruntungnya kondisi Bu Lena baik-baik saja, meski sempat terjatuh dari kursi roda. Hanya terjadi luka ringan. Namun, saya harus menyampaikan kabar buruk tentang keadaan Pak Firdaus. Dia ... terkena stroke dan seluruh tubuhnya mengalami kelumpuhan."


Rahang mbok Darmi terbuka lebar ketika mendengar kabar tentang kedua majikannya. Di satu sisi merasa bahagia karena Lena dalam keadaan baik-baik saja. Namun, di sisi lain ia pun bersedih karena Firdaus dinyatakan mengalami kelumpuhan akibat stroke yang dideritanya.


"Ya sudah, kalau begitu saya permisi dulu. Saya akan meminta petugas memindahkan kedua pasien ke ruang perawatan. Permisi."


"S-silakan, Dokter," jawab Mbok Darmi tergagap. Wanita paruh baya itu tak bisa berpikir dengan jernih. Otaknya masih belum bisa mencerna atas apa yang terjadi saat ini.


.


.


.


__ADS_1


__ADS_2