Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil

Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil
Kencan Pertama?


__ADS_3

Memakan waktu sekitar tiga puluh menit, Rayyan dan Arumi telah tiba di sebuah café tempat para kaula muda-mudi duduk bersama sambil menikmati live music dari salah satu band terkenal di daerah tersebut.


"Ayo turun!" Tangan kekar itu kembali terulur, membantu Arumi agar tidak terjatuh.


Café itu cukup besar. Foto menu makanan dan minuman terpampang di dinding. Keindahan Pantai Jimbaran menjadi daya tarik sendiri bagi wisatawan asing dan turis mancanegara.


Arumi melangkah di sisi Rayyan. Sepanjang jalan pria itu menggenggam erat tangan wanita cantik bertubuh semampai. Bila diperhatikan dengan seksama, dua insan manusia itu terlihat begitu serasi, sama-sama memiliki paras rupawan.


"Ingin coba duduk di sana?" tanya Rayyan sambil menunjuk sebuah tempat kosong yang berjarak sekitar sepuluh meter dari pesisir pantai.


Arumi menganggukan kepala sebagai jawaban. "Boleh. Dari kursi itu kita bisa menikmati keindahan Pantai Jimbaran saat malam hati. Apalagi langit cerah dan banyak bintang di atas sana."


"Oke!" Rayyan menarik kursi untuk Arumi sebelum ia duduk di tempatnya.


Dari jarak sepuluh meter, sepasang anak manusia yang berbeda jenis kelamin itu dapat menyaksikan betapa indahnya pemandangan pantai Jimbaran saat malam hari.


Seorang pelayan datang menghampiri. Berpakaian seragam lengkap dengan celemek berwarna hitam. Tangan kirinya membawa buku menu sementara tangan lainnya membawa pulpen.


"Permisi, Bapak dan Ibu mau memesan apa?" tanya pelayan itu.


Rayyan menyerahkan buku menu ke hadapan Arumi. "Kamu pilih saja menu yang diinginkan. Malam ini, saya yang traktir."


"Lalu, bagaimana dengan jatah makanan dari hotel? Bukankah kita masih dapat satu kali jatah makan malam lagi?" tanya Arumi polos.

__ADS_1


Meskipun hidup bergelimang harta dan memiliki suami kaya raya tetapi ia tetap tak tega bila membiarkan makanan terbuang dengan sia-sia sebab dulu sewaktu Arumi masih kecil, wanita itu pernah merasakan kelaparan selama dua hari sebab mendiang ayah kandungnya tak kunjung pulang ke rumah. Pria itu lebih memilih tinggal bersama selingkuhannya dan tega menelantarkan anak serta istrinya demi seorang pelakor.


"Jangan menguji kesabaran saya!" sahut Rayyan.


"Tolong bawakan sweet corn chesse, pisang goreng keju dan lemon tea hangat dengan less sugar," ujar Arumi setelah beberapa detik memilih menu makanan yang ada di café tersebut.


Wanita itu menyodorkan buku menu ke hadapan Rayyan. "Saya pesan pasta, pisang bakar madu dan lemon tea hangat."


"Kenapa dia memilih menu yang sama denganku? Seperti tidak ada pilihan menu lain saja," gerutu Arumi dalam hati.


Pelayan itu bergegas mencatat semua pesanan Rayyan. "Ada lagi, Pak?"


"Bawakan juga dua botol air mineral biasa."


"Tampaknya Dokter begitu familiar dengan tempat ini. Apakah dulu sebelum pergi ke Jepang, Dokter pernah menginap di kawasan Jimbaran?" Arumi membuka percakapan malam ini. Duduk berdua dengan seorang pria tanpa berbincang membuatnya terasa ngantuk apalagi hampir seharian mengerahkan pikiran untuk menyerap semua ilmu dari pembicara membuat otaknya lelah dan ingin segera beristirahat.


Rayyan yang saat itu sedang memainkan telepon genggam segera meletakan benda pipih itu di atas meja. Lagi dan lagi menatap Arumi dengan sorot mata tajam, seolah ingin menerkam sang mangsa.


Mulut Arumi bungkam. Ia tak berani membuka suara jika pria itu sudah memberikan tatapan tajam, setajam silet.


"Pernah, sekali."


Mendengar jawaban dari atasannya, sebuah senyuman manis terlukis di wajah. "Pantas saja Dokter begitu familiar dengan tempat ini. Pasti ... dulu, Dokter ke sini bareng pacar ya?"

__ADS_1


"Biasanya, orang yang banyak bicara akan mati terlebih dulu daripada orang lain," sindir Rayyan.


Arumi mengerucutkan bibir. Ia paling tidak suka bila Rayyan kembali bersikap jutek, galak maupun dingin. Menurutnya, pria itu akan terlihat lebih tampan dan menarik jika memasang wajah ramah serta banyak tersenyum maka aura ketampanannya akan memancar bagai sinar rembulan di malam hari.


"Cih, begitu saja marah! Saya 'kan cuma bercanda, Dok. Jangan terlalu dianggap serius. Hidup itu harus dinikmati selagi berada di dunia maka perbanyaklah tersenyum," tutur wanita itu. Ia meraih telepon genggam dari dalam tas. Berbincang bersama Rayyan malah membuat mood-nya berantakan. Oleh sebab itu, ia lebih memilih membuka akun sosial media miliknya.


Ketika membuka akun instagram, netra wanita itu melihat foto sepasang wanita dan pria tengah berpelukan mesra dengan latar belakang matahari terbenam. Di keterangan foto bertuliskan "menikmati senja bersama kekasih tercinta." Meskipun foto si pria itu diblur tetapi Arumi mengenal jelas siapakah gerangan yang sedang memeluk erat tubuh wanita itu.


"Pasangan tidak tahu malu. Belum resmi bercerai sudah liburan bersama!" batin Arumi. "Semoga saja kasus perceraianku segera selesai agar aku tidak lagi berurusan dengan para penjahat itu!"


TBC


.


.


.


Halo guys. Otor mau promosiin karya milik temen otor nih.


Judul : Kepedihan Jiwa


Nama pena : Rima Junia Ermolina

__ADS_1



__ADS_2