Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil

Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil
Selamat Jalan, Papa


__ADS_3

Menatap haru pada pemandangan indah di depan sana. Anak, menantu serta cucu berkumpul bersama dalam ruangan yang sama pula. Tidak ada keinginan apa pun lagi yang diminta oleh Firdaus tatkala melihat orang tersayang duduk berdampingan meski tahu pasti bagaimana isi hati Rayyan, anak sulungnya. Demi sang papa, pemilik nama lengkap Muhammad Rayyan Firdaus rela mengesampingkan ego dalam diri asalkan dapat melihat kembali binar bahagia di bola mata Firdaus walau hanya sesaat saja.


Rayyan berusaha sekuat tenaga memendam amarah yang berkecamuk di dalam dada setiap kali tanpa sengaja beradu pandang dengan adiknya, Raihan. Wajah sang adik kembali mengingatkan suami Arumi akan kenangan pahit di masa lalu. Walaupun bersedia memaafkan Firdaus, tetapi nyatanya mengembalikan apa yang sudah retak sulit sekali 'tuk disatukan kembali.


"Bagaimana perasaan Papa hari ini? Merasa bahagia tidak, dapat bertemu lagi dengan si Kembar?" tanya Raihan. Saat ini, ia dan Firdaus tengah memandangi pasangan suami istri yang sedang sibuk bermain dengan Triplet. Suasana ruangan tampak begitu ramai karena kekehan ringan bersumber dari tiga bayi kembar anak Rayyan, memenuhi penjuru ruangan.


Pandangan mata Firdaus tak pernah lepas dari sepasang pria dan wanita serta tiga bayi mungil di depan sana. "Tentu saja, Nak. Sepanjang hidup baru kali ini merasakan kebahagiaan yang sulit diartikan. Tak ada kata yang mampu menggambarkan bagaimana perasaan Papa hari ini."


"Kamu tahu, moment inilah yang sangat dinantikan oleh Papa. Bisa berkumpul bersama keluarga walau Papa tahu ada ego dan kemarahan yang dipendam demi mewujudkan keinginan ini," ucap Firdaus lagi. Ia pandangi wajah si bungsu Raihan, lalu berkata, "Papa harap, kamu mau meminta maaf kepada Rayyan karena selama ini telah salah menilai dia. Minta maaflah dengan tulus kepadanya, Nak. Papa tidak mau melihat kalian terus menerus hidup bermusuhan."


Raihan menarik napas dalam, kemudian mengembuskan secara perlahan. "Pa ... sebenarnya aku pun ingin sekali meminta maaf kepada Kak Rayyan, tetapi lidah ini terasa kelu setiap kali hendak berbicara dengannya. Rasanya seperti ada bongkahan batu besar mengganjal tenggorokan hingga membuat suaraku tercekat."


Sudut bibir Firdaus terangkat ke atas. Ia tersenyum samar nyaris tak terlihat oleh netra siapa pun. "Memang awalnya terasa sulit, namun dengan tekad yang kuat, Papa yakin kalimat itu dapat meluncur dari bibirmu. Pesan Papa, jangan pernah menunda sesuatu yang baik. Toh ... kita tidak pernah tahu umur seseorang akan bertahan sampai kapan di dunia ini. Selagi ada kesempatan, minta maaflah kepada Kakak-mu."


Lagi dan lagi, dada pria itu terasa nyeri setiap kali menarik napas dalam. "Seperti Papa ini, meminta maaf ketika malaikat maut hendak menjemput. Meskipun begitu, Papa tetap bersyukur karena Tuhan telah memberikan kesempatan kedua untuk bisa kembali ke dunia ini walau hanya sekejap saja. Segala urusan Papa di sini sudah selesai tinggal menunggu Sang Pencipta memerintahkan Malaikat mencabut nyawa Papa."


Mendengar kata-kata yang terucap di bibir Firdaus, Raihan menggeleng cepat. "Tidak. Papa tidak boleh bicara begitu. Aku yakin, tim medis di rumah sakit ini dapat menyembuhkan Papa."


Firdaus terkekeh pelan. Perkataan Raihan hampir sama seperti apa yang diucapkan oleh si sulung. "Dasar bodoh! Kamu lupa siapa pria yang berada di hadapanmu ini! Dulu, Papa adalah seorang dokter dan tak jarang menemukan kasus seperti ini. Jadi, bisa memprediksi sendiri kemungkinan apa yang terjadi kepadaku selanjutnya."


Tampak Raihan menundukan kepala lemah. Mata mulai berkaca-kaca, hidung terasa masam dan dada terasa sesak seolah oksigen di dalam ruangan tersebut tak mampu mengalirkan udara ke dalam paru-paru.


Keheningan yang panjang menjeda di udara. Hanya terdengar suara celoteh si kembar yang begitu asyik bersama orang tuanya. Firdaus memejamkan matanya perlahan, mengurai semua memori dalam ingatannya yang tak bisa ia hapus selamanya. Ada waktu di mana dengan teganya dia menduakan Mei Ling dan memadu kasih dengan wanita lain di depan mata dan kepala istri sahnya itu hingga menyebabkan sang istri meninggal dunia.


"Kamu pasti tahu bagaimana kisah Papa dan Mama-mu dulu. Di kemudian hari, Papa harap kamu dapat menghormati wanita yang telah menjadi istrimu. Jangan pernah sekalipun kamu lukai hatinya, apalagi sampai berselingkuh. Demi Tuhan, Papa tidak ikhlas kalau sampai kamu mengikuti jejak Papa," lirih Firdaus. "Jadilah pria setia, hanya mencintai satu orang wanita saja. Tidak boleh tergoda meski ribuan bahkan jutaan wanita datang silih berganti menawarkan kenikmatan dunia yang belum pernah kamu rasakan bersama istrimu."

__ADS_1


"Contohlah Kakak-mu itu. Dia bahkan rela pergi dari rumah dan mengorbankan apa pun asalkan dapat hidup bersama Arumi. Walaupun sifatnya keras, arogan tetapi begitu tulus mencintai istrinya. Papa harap kelak kamu pun begitu."


Dua bulir bening mengalir di sudut mata Raihan. Tak sanggup lagi mendengar wejangan terakhir sebelum ditinggal pergi oleh sang papa. Oleh karena itu, dia berinisiatif memanggil Rayyan. "Kak Rayyan, bisakah kalian berkumpul bersama kami?" pintanya dengan bibir gemetar. Pandangan mata terus menunduk sambil mencengkeram ujung ranjang rumah sakit.


Sontak, pasangan suami istri itu menoleh ke sumber suara. Nada suara Raihan seolah menyimpan kepedihan yang mendalam membuat hati siapa saja rasanya disayat oleh sebilah pisau oleh tangan tak kasat mata. Lantas, kedua insan manusia itu saling menatap satu sama lain. Sejenak mereka bergeming seolah mencerna apa gerangan yang sebenarnya terjadi pada Firdaus.


Beberapa saat kemudian, sebuah gada besar menghantam kesadaran Rayyan. Menggelengkan kepala cepat, wajah berubah pias bagaikan mayat.


Arumi menyadari perubahan air muka sang suami. Lantas, ia melangkah maju ke depan menghampiri Rayyan dengan posisi tangan masih menggendong Zahira. Ia ulurkan tangan ke pundak suaminya sambil mengusap lembut seakan memberikan kekuatan kepada lelaki itu.


"Kita temani Papa sekarang. Mungkin, memang ini saatnya bagi Papa untuk melepaskan segala urusan ke duaniawian. Bimbing Papa agar bisa meninggal dalam keadaan tenang dan damai," ucap Arumi lembut.


"Mas Rayyan?" tegur Arumi kala tak mendapat respon apa pun dari sang suami. "Jangan biarkan Papa menunggu terlalu lama."


Setelah semua orang duduk melingkar mengelilingi pembaringan Firdaus, pria paruh baya itu membuka mata secara perlahan. Mengedarkan pandangan, menatap satu per satu wajah anak, menantu serta ketiga cucunya. Ia tersenyum lebar kala menyaksikan pemandangan langka di depannya.


Pria itu menghela napas berat, merasakan semakin lama dada terasa sesak menekan hingga ke paru-paru. Namun, berusaha sekuat tenaga agar tetap terlihat kuat di hadapan orang terkasih.


"Arumi, Papa juga minta maaf padamu karena sempat menolak pernikahan kalian. Hanya karena statusmu pernah gagal membina rumah tangga, Papa tega meminta Rayyan putus darimu. Tapi kini, Papa sadar jika kamu memang wanita yang ditakdirkan oleh Tuhan untuk menjadi pendamping hidup Rayyan selamanya. Papa harap, pernikahan kalian langgeng hingga ajal menjemput."


Firdaus beralih menatap Raihan. Bola mata si bungsu tampak memerah akibat bulir air mata yang sempat membasahi pipi. "Nak, ingat pesan Papa tadi. Jadilah pria sejati, yang tak pernah mendua meski banyak kekurangan dalam diri istrimu. Jangan jadikan itu alasan bagimu untuk berselingkuh, sebab sekali saja kamu menyakiti perasaan istrimu maka terimalah bayaran atas perbuatanmu di masa lalu."


Lalu, Firdaus kembali memandangi wajah Rayyan. Bibir pria itu gemetar, menahan debaran halus di dalam dada. "Dan untukmu, Rayyan, tak banyak yang ingin Papa sampaikan. Papa cuma mau minta padamu, tolong jaga dan lindungi keluargamu dengan baik. Didik anak-anakmu dengan ilmu agama agar kelak menjadi insan manusia yang berakhlak baik serta memiliki ilmu duniawi yang bisa dibagikan kepada orang lain."


Lidah Rayyan mendadak kelu. Jantungnya seakan berhenti berdetak selama beberapa saat. Seperti ada sebuah bongkahan kaktus yang menyumbat kerongkongan hingga ia tak mampu berkata-kata.

__ADS_1


Arumi dan Raihan mulai berkaca-kaca, sementara Triplet terdiam kala melihat ayah, bunda serta om-nya larut dalam kesedihan.


"Bolehkah Papa mencium satu per satu wajah Triplet untuk terakhir kalinya?" pinta Firdaus dengan suara mulai terengah.


Arumi menggigit bibir bawah, berusaha menahan suara isak tangis agar tak membuat suasana semakin mengharu biru. Tanpa berkata, ia dekatkan tubuh Zahira mendekati papa mertuanya. Setelah itu, barulah Ghani dan Zavier mendekatkan pipinya untuk dicium oleh Firdaus.


Terjadi keheningan beberapa saat. Semua orang larut dalam pikiran masing-masing. Firdaus memejamkan mata sejenak, kembali mengingat kenangan indah yang pernah dilaluinya bersama Mei Ling dan Lena.


"Apakah kini sudah waktunya aku pergi dari dunia yang fana ini?" ucapnya lirih.


Firdaus membuka mata dan mengerjap pelan ketika merasakan ada seseorang berdiri di hadapannya. Pandangan mata meredup namun ia masih dapat melihat kilauan cahaya putih yang menyilaukan mata. Pria itu dapat melihat, seorang wanita bergaun putih seolah tengah mengulurkan tangan ke arahnya.


"Kamu menjemputku?"


Wajah cantik yang tertutupi cahaya putih tampak sedang tersenyum manis dan mengangguk pelan. Mengulum senyum hingga matanya yang sipit semakin tidak terlihat.


Perlahan, kelopak mata Firdaus tertutup rapat. Ia merasakan kantuk yang teramat berat hingga membuat pria itu ingin sekali tertidur.


Layar monitor menunjukan gambaran jantung yang secara perlahan mulai membentuk sebuah garis lurus (flatline) hingga bunyi monitor tersebut nyaring terdengar di indera pendengaran semua orang. Tanpa bisa dibendung lagi, air mata mulai jatuh perlahan membasahi pipi.


"Selamat jalan, Papa. Tolong sampaikan pada Mama kalau aku begitu merindukannya," bisik Rayyan di telinga Firdaus.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2