Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil

Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil
Tante, Bukan Mama!


__ADS_3

Merasa namanya dipanggil, tentu saja membuat sang empunya nama menoleh ke sumber suara. Alangkah terkejutnya Arumi kala melihat istri kedua dari papa mertuanya berdiri dengan anggun seraya mengulum senyum ke arahnya.


"M-ma ...." Bibir mungil itu hendak memanggil Lena dengan sebuatan 'mama'. Akan tetapi, tiba-tiba saja sekelebat bayangan wajah Rayyan terlintas dalam benaknya dan membuat wanita muda itu meralat kembali perkataannya. "Tante Lena!" seru Arumi seraya bangkit dari kursi.


Menurut Arumi, memanggil Lena dengan sebutan 'tante' adalah pilihan terbaik bagi wanita itu sebab dia tak ingin ada masalah lagi menerpa rumah tangganya yang baru dibina selama satu bulan lebih lamanya. Wanita itu kembali teringat bagaimana emosinya Rayyan kala mendengar dirinya menyebut istri kedua dari papa mertuanya dengan sebutan 'mama'. Bercermin dari kejadian itu, Arumi mencoba tak mengulanginya lagi demi menjaga perasaan sang suami.


Sementara itu, Lena sempat terdiam beberapa saat mendengar menantu kesayangannya memanggil dirinya dengan sebutan tante. Padahal malam hari setelah resepsi pernikaha digelar, dokter cantik itu memanggil dirinya dengan sebutan 'mama.' Diam-diam, terbesit rasa kecewa dalam diri wanita paruh baya itu namun dia berusaha menutupi kekecewaannya itu.


"Kamu apa kabar, Sayang?" Lena memberikan pelukan erat pada menantu kesayangannya itu. Walaupun Arumi hanya istri dari anak tirinya, tetapi Lena tetap menganggap dokter cantik itu seperti menantu kandungnya sendiri. Tidak ada alasan bagi wanita paruh baya itu untuk membenci Arumi meski kelak sang menantu tidak memberikan cucu kepadanya.


Kabar kehamilan Arumi memang sengaja disembunyikan terlebih dulu. Rayyan sengaja mengambil keputusan itu, sebab dia tak mau jika kelemahan istrinya dijadikan kesempatan bagi orang jahat untuk mencelakai sang istri beserta ketiga buah hatinya dalam kandungan Arumi. Hanya segelintir orang-orang saja yang tahu dan mereka pun diminta tutup mulut hingga usia kandungan menginjak tiga atau empat bulan. Setelah itu barulah Rayyan mengumumkan pada semua orang perihal kehamilan Arumi.


"Kabarku baik-baik saja, Tante." Pelukan itu terurai, keduanya saling melempar senyum satu sama lain.


"Sudah lama sekali tidak bertemu. Ehm ... kalau tidak salah sekitar satu bulan lebih 'kan ya? Terakhir kali itu, malam setelah resepsi pernikahan berlangsung," tutur Lena.


Arumi tersenyum kaku, merasa tersindir oleh ucapan Lena. Meskipun jauh dari lubuh hati yang terdalam, wanita paruh baya itu sama sekali tak bermaksud menyindir sang menantu tapi perasaan Arumi lebih sensitif semenjak dokter mengatakan bahwa dirinya tengah berbadan dua.


"B-benar, Tante. Maaf kalau aku tidak sempat menemui Tante setelah resepsi pernikahan itu. Aku hanya tidak mau Mas Rayyan marah dan malah menimbulkan konflik di antara kami berdua." Arumi mengungkapkan alasannya mengapa selama satu bulan lebih ini dia sama sekali tidak menemui Lena, bahkan mengirimkan pesan singkat pun tidak. Dia melakukan itu semata-mata ingin menjaga perasaan Rayyan, pria yang telah memperistrinya.


Alih-alih marah, Lena malah tersenyum lebar. Dia lantas mengusap pundak Arumi dengan lembut. "Jangan meminta maaf, sebab itu semua bukan kesalahanmu." Wanita paruh baya itu menjeda kalimatnya. Dia berdehem guna menyingkirkan sesuatu yang mengganjal tenggorokan. "Tante, bisa memaklumi mengapa kamu sampai tidak ada kabar sama sekali."

__ADS_1


Sakit? Tentu saja Lena merasa sakit kala menantu orang di luaran sana memanggil sang mertua dengan sebutan 'mama' atau 'ibu', sementara menantunya sendiri memanggilnya dengan sebutan 'tante'.


"Oh ya, kamu ke sini dengan siapa? Hanya berdua saja dengan asistenmu?" Lena mencoba mengalihkan pembicaraan. Dia tak mau larut dalam kesedihan yang malah semakin membuatnya sakit hati dan kecewa.


"Aku pergi bersama Mas Rayyan, tapi dia sedang berbelanja ke supermarket sebentar. Kami berencana pergi mengunjungi Mama, dan sengaja mampir ke sini membeli beberapa buah-buahan serta bingkisan untuk diberikan pada Mama," jelas Arumi. Tampak Lena menganggukan kepala, menganggapi ucapan menantunya.


Lena mengulum senyum, dalam hati dia bersyukur setidaknya Rayyan begitu perhatian dan sangat menyayangi Nyimas. Walaupun Rayyan tidak pernah berbakti kepada wanita itu layaknya seorang anak terhadap ibu kandungnya, setidaknya Rayyan dapat berbakti kepada ibu angkat Arumi.


Terjadi keheningan beberapa saat. Lena masih memberikan senyuman hangat pada Arumi seraya memperhatikan penampilang istri dari anak tirinya dengan seksama.


"Arumi, Sayang. Tante perhatikan kamu semakin cantik saja. Dan ... tubuhmu semakin berisi seperti wanita yang tengah mengandung." Pandangan mata Lena terus memandangi tubuh Arumi. Tidak ada satu inci pun anggota tubuh dokter cantik itu dari jangkauan Lena.


Arumi tersenyum kikuk. Ingin rasanya wanita itu memberitahu Lena bahwa ternyata dirinya saat ini memang sedang mengandung. Akan tetapi, dia meredam rasa itu dan menunggu Rayyan sendiri yang mengumumkannya pada semua orang.


Lena menggeleng-gelengkan kepalanya. "Ya sudah tidak apa-apa. Sekalipun tubuhmu semakin berisi, Tante yakin, Rayyan tetap mencintaimu apa adanya." Lantas, kedua wanita beda usia itu terlibat percakapan singkat seraya menikmati minuman hangat di café tersebut.


"Tante sendiri kenapa bisa ada di mall ini?" celetuk Arumi. Saat itu dia sedang menyendokan kue matcha ke dalam mulut. Terlalu asyik mengobrol hingga lupa menanyakan mengapa ibu sambung suaminya berada di mall yang sama dengannya. Sungguh suatu kebetulan yang tidak terduga.


Lena meletakkan kembali cangkir kopi miliknya ke atas meja, lalu menghapus sudut bibirnya yang terdapat sisa kopi menggunakan tisu. "Tante ke sini karena ada janji bertemu dengan Raihan. Kebetulan kami berdua berencana hendak pergi membesuk saudara Tante yang sedang dirawat di rumah sakit."


Mendengar jawaban Lena, Arumi menghentikan sejenak kegiatannya. Alis wanita itu saling tertaut satu sama lain. "Raihan? Anaknya Tante dengan Papa Firdaus?" tanyanya untuk memastikan.

__ADS_1


Arumi memang tidak begitu mengenal sosok Raihan, putra bungsu Firdaus dengan Lena. Saat resepsi pernikahan digelar pun, adik Rayyan yang berprofesi sebagai dosen di salah satu fakultas kesehatan di kota Jakarta tak banyak menampakan batang hidungnya. Pria itu lebih memilih menyendiri daripada harus terlibat percakapan dengan orang asing. Jadi wajar apabila Arumi tak terlalu mengenal adik iparnya itu.


Lena menganggukan kepala. "Benar. Anak Tante dengan Mas Firdaus. Ehm ... adiknya Rayyan."


"Jangan bicara sembarangan!" sembur Rayyan tiba-tiba. Pria itu sudah berdiri seraya menghunuskan tatapan tajam ke arah Lena. Kedua tangan pria itu menjinjing dua kantong belanjaan yang dapat didaur ulang.


Refleks, Arumi dan Lena menoleh bersamaan ke arah Rayyan. Wajah pria itu memerah, dadanya pun kembang kempis. Susah payah menahan emosi agar tak meledak.


"Mas Rayyan," ucap Arumi lirih.


Mbak Tini yang ada duduk di dekat Arumi bergegas mengambil dua kantong belanjaan yang sedang dijinjing oleh sang majikan, lalu memilih menjauh tak mau terlibat jauh dalam urusan internal ketiga orang dewasa itu.


Rayyan mengulurkan tangan ke arah Arumi, lalu membawa tubuh wanita itu di belakang tubuhnya seolah dia sedang melindungi sebongkah berlian agar tak direbut orang lain.


"Aku peringatkan padamu, jangan pernah mengatakan hal konyol apa pun terhadap istriku! Karena sampai kapan pun, aku tidak akan pernah menganggapmu ataupun Bocah Ingusan itu sebagai keluarga. Ibuku hanya Mama Mei Ling dan aku anak tunggal! Aku tidak memiliki adik maupun kakak!" pungkas Rayyan. Pria itu memberikan tatapan dingin ke arah Lena.


Dan di saat bersamaan, Raihan pun berada di tempat yang sama. Melihat Lena dalam keadaan terancam, membuat dosen tampan itu mempercepat langkah mendekati sang mama.


Dengan gerakan cepat, Raihan menyembunyikan Lena di belakang tubuhnya. "Jangan pernah berkata kasar terhadap Mamaku!" seru Raihan tak kalah emosi.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2