
"Bukti apa yang kamu punya hingga begitu yakin kalau saya pernah melakukan perbuatan asusila kepadamu?" Raihan bertanya dengan menahan amarah dalam diri. Bola mata merah menatap tajam ke arah Valerie. Seumur hidup tak pernah sedikit pun berpikir ingin melecehkan seseorang. Selalu bersikap profesional saat mengajar walau banyak kaum Hawa memandang penuh napsu ke arahnya.
Ketika Raihan menolong Naura dan kesempatan melakukan tindakan asusila kepada wanita itu terbuka lebar, anak bungsu mendiang Firdaus lebih memilih meninggalkan kamar hotel dan pulang ke rumah daripada harus berduaan dengan lawan jenis. Pria itu tidak mau melakukan hubungan intim tanpa adanya ikatan pernikahan yang sah. Walaupun bisikan setan sayup-sayup terdengar jelas, tetapi ia mencoba meneguhkan iman agar tak tergoda.
Valerie tersenyum sinis, lalu mengeluarkan sebuah amplop dari dalam tas dan memberikannya kepada Raihan. "Saya harap, dengan bukti ini semua orang tahu siapa yang benar dan siapa yang berbohong."
Raihan memasukan tangan ke dalam amplop dan menemukan tiga lembar foto. Detik itu juga, mata pria itu terbelalak sempurna. Bumi rasanya mau berhenti berputar serta bibir terbuka lebar tanpa disadari olehnya.
"I-ini? Kenapa kamu bisa mendapatkan foto ini?" Raihan tergagap, tidak percaya atas apa yang ia lihat. Sebuah foto yang menunjukan kalau dia dan Valerie sedang berduaan di ruang dosen dalam keadaan yang cukup intim. Di mana mahasiswa semester akhir itu berada di atas tubuh sang dosen dengan kedua tangan pria itu melingkar di pinggang. Jika diperhatikan dengan seksama memang terlihat seperti sepasang yang hendak memadu kasih.
"Bagaimana, Pak Raihan, apakah Bapak masih ingin meyangkalnya? Kalau Bapak berpikir itu semua rekayasa, boleh tanyakan kepada tim IT di kampus ini. Saya yakin mereka akan bilang kalau foto itu asli, bukan editan," sahut Valerie dengan senyum penuh kepuasan. Rasa sakit hati dan malu karena telah ditolak mentah-mentah membuat dia nekad melakukan perbuatan keji demi membalas dendam.
Raihan melempar tiga lembar foto itu ke lantai hingga berserakan, membuat beberapa mahasiswa yang sedari tadi menonton bisa melihat adegan di dalam foto tersebut.
"Kamu pikir, dengan trik licik itu bisa merusak reputasi saya sebagai dosen di kampus ini? Jika kamu punya pemikiran begitu maka jawabannya salah." Raihan menggelengkan kepala, tak habis pikir kalau dirinya dijebak oleh mahasiswa bimbingannya sendiri. "Pria yang ada di foto itu memang saya, tetapi semua kejadian tidak seperti yang kalian bayangkan."
Dosen tampan itu menatap wajah seluruh mahasiswa yang ada di dekatnya. Setelah puas, dia kembali menatap Valerie dengan sangat tajam seakan ingin menelannya hidup-hidup. "Hari itu saya memang meminta Nona Valerie datang ke ruangan untuk membahas soal skripsi dan pengajuan sidang skripsi. Tanpa diduga, mahasiswa saya ini tersandung dan secara refleks kedua tangan ini menolongnya agar tidak terjatuh. Namun, tubuh saya tidak seimbang dan kami berdua terjatuh ke sofa dalam posisi yang cukup intim."
"Coba kalian bayangkan, apakah saya tega membiarkan seseorang terjatuh di depan mata saya tanpa menolongnya? Sekalipun orang itu bukan Nona Valerie, saya pun tidak akan membiarkan orang tersebut terjatuh begitu saja. Tapi sayang, perbuatan baik saya malah dijadikan boomerang untuk menyerang saya. Benar-benar gila!" ucap Raihan lirih. Napas terengah. Kedua telapak tangan saling menggenggam satu sama lain.
Berpikir, apakah ini adalah karma yang harus dituai karena mempunyai ibu mantan seorang pelakor? Terlahir dari rahim wanita yang tega merampas kebahagiaan wanita lain? Kalau boleh jujur, sebenarnya dia pun tak ingin dilahirkan ke dunia ini bila tahu kedua orang tuanya pernah melakukan kesalahan besar hingga menyebabkan seseorang meninggal dunia. Tapi apa daya, dia yang terpilih dari sekian banyaknya bibit milik Firdaus di dalam perut Lena. Seandainya bisa memilih maka dia tidak mau dilahirkan dari wanita mantan seorang pelakor.
__ADS_1
Valerie berdecak kesal karena Raihan masih mencoba membela diri padahal semua bukti telah mengarah kepada pria itu. Tidak mau keadaan berbanding terbalik, ia kembali memprovokasi semua orang agar mendukungnya. "Sudahlah, Pak Raihan, kalau salah ya ngaku saja. Jangan berbelit-belit! Akui saja kesalahan Bapak dan minta maaflah. Saya anggap semua masalah ini kelar."
Alih-alih menuruti perintah Valerie, Raihan tersenyum tipis. Kemudian melangkah mendekati mahasiswanya itu. "Sampai kapan pun, saya tak akan mengakui kesalahan yang tidak diperbuat. Walaupun taruhannya adalah reputasi hancur atas kasus ini, saya tidak peduli. Terlebih, saya punya bukti kalau saat itu tak ada niatan sedikit pun melakukan pelecehan terhadap Nona Valerie."
Seketika tubuh Valerie gemetar hebat mendengar ucapan Raihan. Bahkan ia merasakan saat ini bumi tak lagi berputar pada porosnya.
"Apa maksud, Bapak? Bukti? Bukankah foto itu adalah bukti yang sesungguhnya," ucap Valerie dengan mata melotot.
"Pertama kali mendengar pengakuanmu satu minggu lalu, saya mengetahui bagaimana karakter dirimu yang sebenarnya. Akan ada waktu di mana kamu membalas rasa sakit hati akibat penolakan yang saya berikan. Hari itu tiba dan saya yakin kamu telah menyiapkan rencana menyerang saya maka ...." Raihan mengeluarkan sebuah iPad dari dalam tas kerja miliknya, lalu memutar rekaman video detik-detik sebelum kejadian itu terjadi.
"Selain itu, saya pun punya saksi bahwa di antara saat itu saya tidak melakukan pelecehan terhadap Nona Valerie. Pak Wagiman adalah saksinya. Dia menyaksikan sendiri semua kejadian itu dari balik pintu toilet yang ada di ruangan saya. Kebetulan, dia sedang membersihkan toilet di dalam ruangan saat kejadian berlangsung."
Valerie semakin gemetar. Kepala menggeleng ke kanan dan kiri. Tak menyangka jika rencana yang disusun rapi malah berakhir sia-sia.
"Kalau memang saya ingin membela diri, lalu kenapa kamu ketakutan begitu? Seharusnya sikapmu tegar dan menunjukan kegugupan saat semua kebenaran terungkap bukan malah ketakutan begini," sindir Raihan.
"I-itu ... saya ...." Lidah Valerie kelu, tak sanggup berkata. Merasa malu sekaligus marah karena senjata yang disiapkan malah berbalik kepadanya.
"Lagipula, dari segi mana saya bisa tertarik hingga berani melakukan pelecehan kepadanya? Semua yang ada di tubuh Nona Valerie sama sekali tak membuat saya tertarik. Selain itu, mana mungkin saya tertarik kepada wanita lain di saat saya sedang menjalin kasih dengan seseorang." Raihan menatap salah seorang wanita di antara kerumunan. Tak berkedip sama sekali kala melihat Naura tersenyum manis ke arahnya.
Rupanya, selama beberapa bulan belakangan ini, Raihan dan Naura sedang melakukan pendekatan atau lebih dikenal dengan istilah PDKT. Dua insan manusia itu bertemu kembali saat dokter cantik mendaftar mengambil spesialis di salah satu universitas tempat Raihan bekerja. Benih-benih cinta yang sempat tumbuh kembali bersemi hingga akhirnya mereka jujur tentang perasaan masing-masing.
__ADS_1
Baik Raihan maupun Naura memutuskan membawa hubungan itu ke jenjang lebih serius lagi. Walaupun hubungan mereka terhalang restu dari mama Naura, tetapi dosen tampan itu berjanji akan berusaha meluluhkan hati sang calon mama mertua.
Semua orang yang ada di sana mengikuti ke mana arah pandang Raihan. Naura berdiri dengan anggun sambil memperhatikan sang kekasih difitnah sedemikian keji oleh orang lain. Ingin maju ke depan, tetapi perasaannya mengatakan bahwa pria itu mampu menangani semuanya hingga ia memutuskan untuk diam dan mengikuti alur permainan Valerie.
Wajah semakin pucat saat netranya beradu pandang dengan pemilik wajah setengah Arab. Sorot mata wanita itu menunjukan ketidaksukaan terhadap Valerie. Merasa malu karena ketahuan tengah memfitnah seseorang, ia meninggalkan tempat itu setengah berlari.
"Hu .... Dasar tukang fitnah! Sudah menebar fitnah malah kabur begitu saja! Tidak tahu malu!" celetuk salah satu mahasiswa yang kebetulan menonton drama menegangkan di depan sana.
"Cantik-cantik kok murahan!" timpal yang lain.
"Cinta ditolak, fitnah bertindak!" Masih banyak lagi kalimat mengandung sindiran pedas ditujukan kepada Valerie.
Setelah kepergian Valerie, Naura mendekati Raihan. Menyentuh wajah pria itu sambil mengamati wajah. "Are you okay?" tanyanya tanpa berkedip sedikit pun, memastikan kalau pria itu baik-baik saja.
Raihan menyentuh tangan yang berada di wajahnya. "Jangan cemas, aku baik-baik saja. Lebih baik sekarang kita ke perpustakaan. Ayo!" Pria itu menoleh kepada orang-orang yang ada di sana dan berkata, "Saya kejadian barusan bisa dijadikan pembelajaran bagi semua orang bahwa memfitnah seseorang bukanlah perbuatan terpuji."
Usai memberikan sedikit nasihat, Raihan menggandeng tangan Naura, melewati kerumunan orang. Sepasang kekasih itu melangkah bersama menuju tempat yang sama.
.
.
__ADS_1
.