Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil

Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil
Kenyataan Pahit


__ADS_3

"Raihan. Nak, kenapa kamu diam saja? Kondisi Papa, bagaimana? Apakah, dia baik-baik saja?" cecar Lena dengan berbagai pertanyaan. Sedari tadi Raihan tak kunjung menjawab pertanyaannya, membuat wanita paruh baya itu jadi penasaran.


Hanya terdiam, Raihan memulas senyum masam di wajah. Ia benar-benar tidak tahu harus berkata apa karena merasa ini semua seperti mimpi. Mimpi buruk yang tak pernah ia harapkan sebelumnya.


"Nak, cepat katakan, bagaimana keadaan Papa-mu? Apakah dia baik-baik saja?" Lena mengulurkan tangan ke depan, menyentuh pergelangan tangan Raihan. Semakin dibuat penasaran akan kondisi suaminya.


Sorot mata penuh pengharapan membuat Raihan tidak tahan. Ingin menyembunyikan rahasia tentang kepergian Firdaus, tetapi sepandai-pandainya menyimpan bangkai maka tercium pula. Walaupun ia merahasiakan kenyataan pahit suatu saat Lena pun akan mengetahui jikalau sang papa telah meninggal dunia.


Menarik napas dalam, kemudian mengembuskan secara perlahan. Raihan menautkan jemari tangannya dengan jemari tangan Lena, ditatap pula iris coklat milik wanita itu dengan lekat dan tidak lupa, ia berikan sebuah senyuman khusus untuk mamanya.


"Mama jangan khawatir, Papa juga selamat dalam insiden kebakaran." Tampak jelas rona kebahagiaan terlukis di wajah Lena kala mendengar kabar tentang suami tercinta. Akan tetapi, kebahagiaan itu tak berlangsung lama saat sebuah kenyataan pahit harus dia terima.


"Namun, sayang ... kondisi Papa tidak stabil menyebabkan kita semua harus ikhlas melepas kepergian Papa untuk selamanya," ucap Raihan lirih bagai desau angin di musim gugur, menerbangkan dedaunan kering dari dahan pohon.


Seketika tubuh ibu kandung Raihan lemas. Kepala menggeleng cepat. Menatap sosok tampan dengan sorot mata tidak percaya. "Tidak mungkin. Papa-mu tidak mungkin meninggalkan Mama. Dia pasti sedang tertidur di kamar sebelah. Iya, 'kan? Katakan pada Mama jika semua yang kamu ucapkan tidaklah benar!" jeritnya dengan ledakan tangis.


"Aku pun berharap demikian. Namun, nyatanya apa yang kukatakan adalah sebuah kebenaran. Papa meninggal tadi pagi dan baru dikebumikan satu jam yang lalu."

__ADS_1


Lena terus menggelengkan kepalanya dan memanggil nama sang suami. "Kamu pasti bohong! Mas Firdaus tidak mungkin meninggal! Papa-mu tidak mungkin meninggalkan Mama seorang diri. Dia ... sangat mencintai Mama, Rai. Papa-mu sangat mencintai Mama!" Ia tepiskan tangan kekar sang anak dengan kasar. Jemari lentik wanita itu menyibak selimut rumah sakit. Akan tetapi, pemandangan di depan mata membuat wanita itu terbelalak sempurna.


"Ini ... tidak mungkin!" ucap Lena lirih sambil menatap kedua kakinya yang menjadi amukan si jago merah. "Kenapa api itu tega merampas keindahan kakiku yang lumpuh ini? Kenapa? Apakah Tuhan belum puas memberikan ujian hidup kepadaku hingga api sialan itu menyambar dan menjadikan kedua kakiku sebagai sasaran empuk?"


Air mata Lena terus mengalir di antara kedua pipi. Semakin lama semakin deras hingga membasahi sprei ranjang rumah sakit. Tak kuasa menahan kesedihan yang mendera. Kehilangan pria yang telah puluhan tahun hidup bersama merupakan mimpi buruk bagi wanita itu. Bersama Firdaus, telah banyak lika liku kehidupan yang ia jalani. Manis pahitnya berumah tangga telah ia rasakan saat menyandang status sebagai istri siri sang mantan direktur rumah sakit.


Melihat Lena menangis membuat Raihan tidak tahan lagi. Hati pria itu ikut hancur berkeping-keping kala menyaksikan sendiri bagaimana mama tercinta menangis di hadapannya. Sungguh, ia tidak sanggup melihat kesedihan yang mendera wanita itu.


Membungkukan sedikit badan. Raihan memeluk Lena dengan erat. Membawa kepala sang mama dalam dekapan. Ia usap puncak kepala wanita itu sambil berkata, "Sst! Tidak baik berbicara begitu, Ma. Tuhan hanya ingin mengetahui sejauh mana batas kesabaran Mama dalam menghadapi ujian yang Dia berikan. Dia ingin tahu apakah Mama kuat menjalani ini semua atau tidak, sebelum mengangkat derajat Mama."


"Tapi mau sampai kapan Tuhan memberikan ujian itu kepada Mama? Sampai kapan, Nak? Sampai malaikat maut mengambil nyawaku, begitu?" sentak Lena dalam dekapan Raihan. "Mama sudah tidak sanggup lagi menerima cobaan ini. Mama ... tidak sanggup lagi. Lebih baik Mama mati, ikut bersama Papa-mu!"


Dengan gerakan cepat Raihan menangkap tubuh renta Lena yang nyaris terjatuh ke lantai. Sebelah tangan mencari tombol darurat di sebelah ranjang. Setelah itu, ia menekan tombol tersebut meminta tenaga medis datang ke ruangan.


Raihan tidak sanggup bila harus menenangkan Lena seorang diri, sebab untuk saat ini ia sendiri pun membutuhkan seseorang untuk menghibur dirinya. Kepergian Firdaus menyisakan kesedihan mendalam bagi semua orang.


***

__ADS_1


Setelah dokter memberikan suntikan obat penenang lewat selang infus, akhirnya tubuh Lena melemah. Mata wanita itu kian sayu dan tatapan menjadi kosong.


Lena masih sadar. Matanya menatap langit rumah sakit dengan tatapan kosong. Air mata masih jatuh membasahi wajah hingga ke atas bantal rumah sakit. Raihan mengusut sisa buliran kristal itu menggunakan jari telunjuknya.


"Jangan menangis lagi, Ma. Aku mohon hentikan," bisik Raihan lirih. "Kalau Mama menangis terus, Papa di atas sana pasti ikut bersedih karena melihat Mama meratapi kepergiannya." Anak bungsu Firdaus begitu setia berada di samping Lena. Walaupun ia terpukul atas kepergian sang papa, tetapi mencoba tegar meski hatinya bagai teriris oleh sebilah pisau tajam kala melihat dengan mata kepalanya sendiri lelehan air mata terus mengalir di sudut mata wanita paruh baya itu.


"Kalau Mama menyusul Papa, lantas bagaimana denganku? Apakah Mama tega membiarkan aku hidup seorang diri di bumi ini? Aku ... tidak mau hidup sebatang kara." Raihan meneteskan air mata, tak kuasa menahan butiran kristal itu untuk tidak jatuh berderai.


Dokter Imam menepuk pundak Raihan, meminta dosen muda itu untuk mengikutinya. "Pak Raihan, saat ini psikis Bu Lena sedang terguncang atas kepergian Pak Firdaus. Saya mohon kerjasama dari Bapak untuk bisa menghiburnya. Dukungan dari keluarga sangat dibutuhkan dalam situasi seperti sekarang ini. Semoga saja, Bu Lena bisa ikhlas menerima kenyataan ini," ucap dokter senior itu.


Terdengar helaan napas kasar bersumber dari Raihan. Dadanya terasa sesak saat mendengar penuturan dari dokter Imam terkait kondisi Lena saat ini. Dengan lirih ia menjawab, "Baik, Dokter. Saya akan mencoba menghibur Mama. Terima kasih atas bantuan Anda."


Dokter Imam tersenyum samar. "Ini sudah menjadi kewajiban saya sebagai seorang dokter." Lalu, ia menepuk kembali pundak Raihan dan berkata, "Bersabar, ikhlas dan tawakal. Memohon pada Tuhan agar semua lekas berlalu."


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2