
Hari ini merupakan hari pertama Arumi menjalani statusnya sebagai seorang janda. Semalaman suntuk ia berbincang hangat bersama sang mama. Banyak pembelajaran serta nasihat yang didapat dan wanita itu merekam semua dalam memori ingatannya.
Ia berdiri di depan cermin, mengoleskan lipstick agar bibir tipis nan ranum itu semakin merekah. Ketika jemari lentik itu meraih botol parfum di atas meja rias, sekelebat bayangan Mahesa melintas di benak.
Botol parfum aroma vanila merupakan aroma yang sangat disukai oleh mantan suami Arumi. Aroma ini memberikan kesan feminin dan elegan. Selain itu mampu membuat Mahesa merasa nyaman ketika berada di sisi sang istri.
"Maafkan aku, Vani (sebutan untuk parfum kesayangan), aku sudah bertekad membuang semua kenangan saat bersama Mas Mahes. Dan kebetulan kamu adalah salah satu diantara kenangan itu. Jadi, aku terpaksa membuangmu ke tempat sampah sebab tak mau lagi berada dalam bayangan masa lalu." Kini botol parfum itu sudah terongok di atas tempat sampah, berbaur bersama barang-barang yang mengingatkannya pada sosok mantan suami.
"Saat jam istirahat, aku akan pergi ke mall. Membeli parfum dengan aroma baru. Selama tujuh tahun lamanya aku menggunakan aroma vanila. Kini waktunya mencoba sesuatu yang berbeda," gumam wanita itu seraya mengikat rambut ala ponytail dengan memberikan aksen sedikit poni panjang ke depan.
Berjalan dengan anggun sambil menuruni anak tangga. Tak lupa seulas senyum terlukis di wajah.
"Selamat pagi, Ma." Mencium pipi Nyimas dengan penuh cinta.
Melihat kondisi Arumi sudah jauh lebih baik dari kemarin, membuat Nyimas tersenyum bahagia. Sebagai orang tua, ia pun ikut merasakan betapa hancurnya hati Arumi ketika cinta dan pengorbanan dibalas dengan sebuah pengkhianatan. Apalagi mantan besannya turut andil dalam pengkhianatan tersebut.
"Selamat pagi, Sayang. Tumben, pagi-pagi sekali kamu sudah rapi," ucap Nyimas lembut tanpa menyembunyikan sebuah senyuman di bibir itu. "Mau ke mana?"
"Tentu saja bekerja. Hari ini aku dapat shift pagi dan kebetulan akan ada operasi. Jadi harus berangkat lebih pagi agar tidak kena omel atasanku," balas Arumi santai.
Nyimas kembali tersenyum. "Kalau begitu, ayo lekas sarapan! Semua makanan baru saja matang dan siap untuk disantap."
Wanita itu menuangkan nasi goreng di atas piring milik putri tercinta. Hari ini, ia sengaja membuatkan nasi goreng seafood khusus untuk Arumi. Siapa tahu dengan cara ini bisa mengusir kegundahan hati dalam diri anak angkatnya tersebut.
Dengan semangat 45, Arumi menyendokan nasi goreng tersebut ke dalam mulut. "Masakan Mama selalu lezat. Pantas saja dulu Papa begitu mengilai nasi goreng seafood buatan Mama."
__ADS_1
Wanita cantik itu begitu menikmati setiap butiran nasi yang masuk ke dalam mulut sambil sesekali tersenyum ke arah Nyimas.
Setelah lima tahun menikah, ia baru merasakan kembali betapa nikmatnya hidup berdua dengan orang tua yang begitu mencintainya. Ia kembali berubah menjadi anak mama yang manja. Segala sesuatu disiapkan oleh Nyimas sama seperti saat wanita itu masih remaja.
"Ma, aku berangkat kerja dulu. Kalau jantung Mama terasa sakit lagi, minta Burhan untuk mengantarkan ke rumah sakit," ujar Arumi sebelum meninggalkan rumah.
"Tanpa kamu minta, Mama akan segera bergegas berangkat ke rumah sakit." Nyimas mendorong tubuh Arumi agar segera masuk ke dalam mobil. "Sudah sana berangkat! Nanti terlambat."
***
Sepanjang jalan, tatapan mata Arumi fokus ke depan. Sesekali melirik kaca spion ketika hendak menyalip kendaraan di depannya. Iringan musik instrumental piano ciptaan musikus terbaik di dunia menjadi kawan sejati wanita itu ketika mengendarai kendaraannya.
Hanya membutuhkan waktu kurang lebih satu jam, kini ia telah tiba di parkiran rumah sakit. Saat kendaraan roda empat milik Arumi terparkir, satu unit kendaraan lain menyusul. Meskipun kaca mobil itu dilapisi kaca film berwarna hitam tetapi wanita itu tahu siapa gerangan yang ada di dalam sana.
"Kupikir, aku sudah telat. Ternyata ada orang lain yang mengikuti jejakku," gumam Arumi sambil berjalan mendekati parkiran VVIP.
"Kamu itu kebiasaan, datang selalu terlambat. Untung saja statusmu bawahanku. Coba kalau kamu adalah ketua tim operasi kali ini, rekan sejawat akan melayangkan protes pada Dokter Firdaus dan itu bisa merusak reputasi rumah sakit ini." Rayyan pura-pura memasang wajah galak. Wajah yang diperlihatkan saat pertama kali melihat Arumi datang terlambat ke rumah sakit.
Arumi tidak langsung membela diri, ia malah mencari sesuatu di dalam tas. "Seharusnya kamu bercermin sebelum menegur seseorang. Apakah kamu sudah memberikan contoh baik kepada bawahanmu," wanita itu berdecih seraya memutar bola mata dengan malas.
"Sekarang kamu semakin berani membela diri." Rayyan berkacak pinggang, seolah mengatakan bahwa ia sedang marah. Namun, jauh di lubuk hati yang terdalam pria itu bahagia sebab perceraian antara Arumi dengan mantan suami tidak membuat mood wanita itu hancur.
"Bawel!" gerutu Arumi. Dengan langkah panjang ia meninggalkan Rayyan.
Tak ingin ditinggalkan oleh Arumi sendirian di parkiran, pria itu berlari mengejar partner kerjanya. Terjadi aksi kejar-kejaran antara dua insan manusia itu sehingga beberapa pengunjung serta tenaga medis lain menatap ke arah mereka.
__ADS_1
"Pria yang sedang berlari mengejar Dokter Arumi, adalah Dokter Rayyan 'kan?" bisik salah satu perawat yang berjaga di balik meja resepsionis.
"Benar. Itu, Dokter Rayyan. Namun, mengapa dia mengejar, Dokter Arumi?" timpal perawat yang lain. "Tunggu! Jangan-jangan ... di antara mereka terjalin hubungan spesial."
"Ngaco, kamu! Mana mungkin Dokter Rayyan menyukai Dokter Arumi," sela perawat lain. "Mereka 'kan bagai Tom dan Jerry, yang selalu bertengkar bila berdekatan."
"Iya, aku juga tahu. Namun, bila melihat pada fakta yang barusan lewat, itu sudah menjelaskan semuanya jika mereka ada hubungan spesial."
"Tidak mungkin!" seru salah satu di antara mereka. "Dokter Arumi itu sudah menikah. Jadi, mana mungkin ia menjalin hubungan dengan pria lain sedangkan statusnya masih istri orang."
"Loh, memangnya kalian tidak tahu jika rumah tangga Dokter Arumi dengan suaminya berada di ujung tanduk! Aku dengar dari saudaraku, yang merupakan teman arisan mertua Dokter Arumi, katanya rumah tangga mereka sedang diterpa masalah. Katanya sih, dalam proses perceraian."
"Apa?" pekik ketiga perawat hampir bersamaan.
"Sst! Pelankan suara kalian." Perawat berseragam batin mencoba mengingatkan ketiga rekan sejawatnya. "Ini rahasia kita berempat. Jangan sampai bocor. Mengerti!" Ketiga perawat itu menganggukan kepala.
Kebetulan saat ini ada empat orang perawat yang sedang berkumpul di meja resepsionis. Setiap pagi, sebelum memulai beraktivitas, biasanya mereka akan mengisi amunisi dengan bergosip ria. Apa saja yang dibahas hingga tak terasa waktu menunjukan pukul delapan pagi.
Hampir seluruh pegawai rumah sakit dijadikan bahan obrolan dan kini Arumi serta Rayyan-lah yang menjadi sasaran empuk bagi mereka untuk digosipkan.
TBC
.
.
__ADS_1
.