
Seketika tempat di mana Arumi dan Kayla berpijak terasa lebih panas dari sebelumnya. Bahkan pendingin ruangan yang disediakan oleh pihak mall tak mampu menyejukan hati dua insan manusia yang pernah saling menyayangi itu. Ehm ... mungkin lebih tepatnya Arumi yang terlalu menyayangi adik kecilnya itu. Sementara Kayla sama sekali tidak pernah menyayangi sahabatnya.
Arumi memandangi Kayla dari ujung rambut hingga ujung kaki. Lalu pandangannya beralih ke bagian perut yang sedikit lebih buncit. Terbesit rasa iri di dalam hati kala mengingat di dalam rahim gadis itu telah tumbuh benih yang ditanamkan oleh mantan suaminya.
Arumi menarik napas dalam guna menguatkan diri agar ia tidak terlihat lemah di hadapan pelakor, yang berkedok sahabat.
"Kamu diberikan kecantikan yang nyaris sempurna oleh Tuhan. Karir gemilang di dunia model serta memiliki kecerdasan tetapi sayang otakmu itu tidak digunakan untuk memilih mana hal baik dan mana yang buruk."
"Menerima tawaran mertua bejad untuk merebut suami dari sahabatmu sendiri. Di mana letak hati nuranimu sebagai sesama wanita, Kayla!" pekik Arumi. "Atau jangan-jangan, hati nuranimu itu telah mati bersamaan putusnya urat malu yang melekat di tubuhmu."
"Kamu menuduhku telah berselingkuh dengan pria lain. Lantas, bagaimana denganmu dengan Mas Mahes dulu heh? Bahkan perselingkuhan kalian telah membuahkan hasil. Hasil dari perbuatan zina kalian selama ini."
Habis sudah kesabaran Arumi. Ia meluapkan kekesalan terhadap mantan sahabatnya itu.
Sejujurnya, Arumi enggan membuka aib Kayla. Namun, melihat sikap angkuh gadis itu yang terkesan ingin menyudutkan dirinya, wanita yang bekerja di salah satu rumah sakit bertaraf internasional itu hilang kendali. Ia meluapkan isi hati yang disimpan olehnya selama ini.
Seketika mulut Kayla bungkam. Tubuh gadis itu pun gemetar. Ia khawatir akan ada paparazi, pemburu berita yang kebetulan lewat lalu merekam kejadian ini. Maka karirnya sebagai model akan hancur akibat dituduh sebagai seorang pelakor.
"K-kamu ...." ucap Kayla lirih. Tubuh gadis itu sedikit lunglai. Untung saja ia berpegangan pada tiang penyangga sehingga tidak terjerembab.
"Kenapa? Kamu pikir aku tidak berani membuka aibmu di tempat umum!" Arumi tersenyum tipis sambil melangkah membelakangi Kayla. "Kendati hati kecilku sakit mengumbar aib saudaraku sendiri tetapi melihat sikapmu yang seolah-olah ingin agar nama baikku tercoreng maka aku terpaksa melakukan ini."
"Aku hanya membela diri sama seperti seekor semut yang akan mengigit bila disakiti," timpal Arumi.
Kayla semakin ketakutan kala tubuh Arumi melangkah maju mendekatinya. Perlahan, ia mundur hingga membentuh tembokan di belakang.
"Jadi, sebaiknya kamu jangan pernah lagi memancing emosiku bila tidak mau kubongkar semua aibmu di hadapan para wartawan. Kamu tahu 'kan, bila itu terjadi maka karir dan nama baikmu sebagai seorang model berbakat akan hancur. Perjuanganmu selama ini akan sia-sia karena image-mu sebagai model telah tergantikan dengan image seorang pelakor!" Arumi menekankan kata pelakor di akhir kalimat.
Bola mata Kayla memerah. Tirai cairan bening telah bergelayut manja di pelupuk mata. Ingin menangis tetapi segan karena tidak mau dianggap lemah oleh sang lawan.
__ADS_1
Mengedarkan pandangan ke sekitar. Lalu, sebuah ide gila terlintas di benak kala melihat suami tercinta berjalan keluar dari toilet.
Brugh!
Gadis cantik itu menjatuhkan diri dengan sengaja. Suara rintihan kencang menggema hingga membuat Mahesa segera berlari menghampiri Kayla.
"Astaga, Baby!" pekik Mahesa sambil berjongkok. Memeriksa bagian bawah sang istri karena khawatir gadis itu mengalami pendarahan.
"Mas, Arumi jahat. Dia tega mendorongku karena tidak terima jika di dalam perut ini ada bayi yang kelak mewarisi seluruh harta keluarga Adiguna," keluh Kayla. Ia pura-pura menitikan air mata agar sang suami murka dan membalaskan dendam atas kekalahannya.
"Arumi benar-benar jahat, Mas. Dia berniat melenyapkan bayi yang tidak berdosa ini." Gadis itu kembali terisak.
"Keterlaluan kamu, Rumi! Kenapa kamu tega mendorong istriku?" bentak Mahesa tanpa bertanya terlebih dulu kronologi kejadian. "Bagaimana jika terjadi hal buruk menimpan anakku? Jika itu terjadi maka aku tidak segan-segan melaporkanmu pada pihak berwajib."
Pecah sudah tawa Arumi. Tubuh wanita itu bergetar. Ia merasakan ada tangan tak kasat mata telah menggelitik perut dan memaksanya untuk tertawa.
Alih-alih merasa takut karena dibentak oleh mantan suami, Arumi malah tersenyum mengejek.
"Apa karena terlalu sering bermain di selangk*ngan hingga membuat otakmu buntu heh!"
Geram dengan ucapan Arumi, Mahesa mengangkat tangan dan mengarahkan ke wajah mulus milik mantan istrinya. Namun, tiba-tiba saja tangan kekar seorang pria mencekal tangan Mahesa hingga menggantung di udara.
"Jangan pernah berani menyentuh wanita ini! Sekali saja tubuhnya terluka maka aku tidak segan-segan mematahkan tanganmu!" ancam Rayyan dengan sorot mata tajam.
Tanpa memberikan kesempatan pada Mahesa untuk berbicara, Rayyan menghampiri Arumi lalu memeriksa seluruh tubuh wanita itu.
"Kamu baik-baik saja 'kan? Apakah dia sempat memukulmu? Bagian mana yang dia sentuh," cecar Rayyan sambil mengamati setiap inchi tubuh Arumi.
"A-aku baik-baik saja." Arumi terkesiap beberapa saat ketika wangi tubuh pria itu menggelitik indera penghidunya.
__ADS_1
Terdengar desahaan napas panjang berasal dari Rayyan. Ada rasa lega terdengar dari embusan napasnya.
Pria itu menatap Mahesa dan Kayla secara bergantian. Perlahan, ia melangkah maju menghampiri mantan sahabat Arumi.
"Kamu itu Rubah Betina yang licik. Berani mengadu domba orang lain agar dendammu terbalaskan. Benar-benar jahat!" pekik Rayyan sehingga membuat Kayla memejamkan mata.
Wajah Kayla sudah memucat. Ia ketakutan ketika Rayyan berteriak di hadapannya. Tak menyangka akan ada seseorang yang melindungi Arumi. Khawatir Rayyan akan berbuat macam-macam, gadis itu melindungi kandungannya dengan kedua tangan.
Sebagai suami siaga, Mahesa langsung menarik tubuh Kayla agar menjauh dari Rayyan.
"Kamu siapa? Berani-beraninya ikut campur dalam urusan keluargaku." Mahesa tak kalah emosi dari Rayyan. Melihat istri sirinya ketakutan membuat naluri pria itu tergerak untuk melindungi istri tercinta.
"Aku adalah--" Rayyan sengaja menggantung kalimatnya. Lalu menoleh ke arah Arumi. "Calon suami dari mantan istrimu. Kita pernah bertemu sebelumnya. Apakah kamu lupa?"
Mahesa terhenyak. Kemudian memori ingatannya kembali berputar ke masa saat ia dan Kayla tengah berlibur di Bali.
"Bukankah kamu juga datang ketika sidang perceraian antara aku dan Arumi berlangsung?" Ragu-ragu ia mengucapkan kalimat yang melintas di benaknya.
Rayyan pun melangkah mendekat dan berdiri tepat di hadapan Mahesa. "Benar, aku adalah pria yang saat itu dengan setia duduk di barisan paling depan untuk memberikan dukungan pada wanita yang pernah dikhianati olehmu. Kenapa? Kaget?"
TBC
.
.
.
__ADS_1