Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil

Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil
Bertemu dengan Seseorang


__ADS_3

Dua hari setelah kejadian yang menimpa Arumi, akhirnya dokter memperbolehkan Mahesa untuk pulang ke rumah. Tanda-tanda vital serta kondisi pria itu semakin hari menunjukan ke arah membaik. Tinggal menunggu hasil CT scan kepala, barulah pria itu bisa meninggalkan rumah sakit yang ditempatinya selama sepuluh bulan lamanya.


Kayla masih setia menemani Mahesa, merawat dan menjaga pria itu dengan penuh cinta. Akan tetapi sikap suami sirinya itu terkesan lebih dingin seakan menjaga jarak dari sebelumnya. Meskipun begitu, mantan model itu tak peduli, ia tetap menjalankan tugasnya sebagai seorang istri.


"Mas, kamu sarapan dulu yuk. Setelah itu baru minum obat." Kayla duduk di tepian ranjang. Di tangan kanannya ada semangkok bubur yang barusan dibawakan oleh seorang perawat.


Putra membagi jadwal shift untuk menjaga Mahesa. Pagi hari hingga sore hari, akan ada Kalya yang menjaga. Sementara malam hari, selepas pulang bekerja, Putra-lah yang menjaga anaknya hingga sinar mentari kembali menyinari bumi.


Mahesa yang saat itu tengah termenung sambil menatap langit-langit menoleh ke sumber suara. Entah apa yang dipikirkan, namun tiba-tiba saja raut wajah pria itu terlihat lebih murung.


Akibat koma, dan benturan yang cukup keras membuat tubuh pria itu mengalami beberapa fungsi penurunan pada anggota tubuh seperti, kelumpuhan pada kaki yang bersifat sementara. Akan sembuh bila melakukan beberapa kali rangkaian terapi. Selain itu, fungsi kerja otak-nya pun menurun sehingga terkadang bersikap seperti orang linglung.


Kayla menekan remote yang ada di atas nakas, samping ranjang Mahesa. Seketika ranjang itu bergerak perlahan dan tubuh pria itu menjadi tegak seperti seseorang yang sedang duduk.


"Aku bisa makan sendiri. Tidak perlu kamu suapi," ucap Mahesa dingin. Pria itu menolak saat Kayla menyodorkan sendok berisi bubur ke depan mulut sang suami.


Mantan model itu menghela napas panjang, mencoba bersabar dengan sikap dingin yang ditunjukan kepadanya. Sabar, Kayla. Mungkin suamimu masih dalam tahap penyesuaian lagi. Kalian 'kan sudah sepuluh bulan tak bertegur sapa. Kalimat itu meluncur untuk menyemangati diri sendiri.


Dengan sangat terpaksa, Kayla menyerahkan mangkok berisi bubur ke hadapan Mahesa. "Ya sudah, kalau memang maumu begitu. Jangan sungkan untuk meminta tolong padaku jika kamu membutuhkan sesuatu." Lantas, wanita itu turun dari ranjang dan menuju sofa panjang terbuat dari kulit.


Satu kantong plastik berisi buah-buahan segar serta lima kotak kopi rasa French Vanilla, wanita itu masukan ke dalam lemari es berukuran sedang. Ia sengaja menyiapkan apel, jeruk dan mangga serta lima kotak kopi kemasan untuk Putra. Setelah lemari es itu terisi penuh oleh buah-buahan dan kopi kesukaan papa mertuanya, Kayla merapikan kantong plastik itu, melipatnya menjadi bagian kecil lalu menggabungkannya dengan plastik yang lain.


Setiap gerak gerik Kayla tertangkap oleh netra Mahesa. Sekian lama tak bertemu, memang banyak sekali terjadi perubahan pada istri sirinya itu. Penampilannya terlihat lebih sederhana, dengan pakaian serta gaya hidup tak semewah dulu. Sikap wanita itu pun berubah menjadi lemah lembut dan selalu tersenyum hangat kepadanya.


Melihat perbuahan sikap pada Kalya, Mahesa jadi teringat akan mantan istrinya. Dulu, Arumi pun bersikap sama seperti itu. Lemah lembut dalam berbicara, selalu tersenyum dan tak pernah mengeluh meski ia tahu Naila selalu saja mengganggu kehidupan rumah tangga mereka.


Sikap itulah yang membuatnya semakin mencintai mantan istrinya. Namun, Mahesa malah melepaskan bidadari itu demi menggapai sesuatu yang bersifat sementara hingga akhirnya membuat ia menyesal karena sudah menodai kesuciaan pernikahan mereka.

__ADS_1


Aku merindukanmu, Sayang.


"Sudah habis, Mas?" Kayla bertanya kembali. Bola mata bulat melihat isi mangkok bubur ludes tak bersisa.


"Sudah," jawab Mahesa singkat. Lalu ia menyerahkan mangkok kosong itu ke arah Kayla dan menerima gelas berisi air minum dengan tangan sebelahnya. Mahesa menyesap air putih itu hingga tersisa setengahnya.


"Oh ya, hari ini aku mau bertemu dengan teman lamaku di dekat rumah sakit ini. Kamu tidak masalah 'kan jika kutinggal sebentar? Ya, sekitar tiga puluh menit saja. Setelah itu aku datang ke sini lagi, menemanimu sampai Om Putra pulang dari kantor."


Dengan sikap acuh, Mahesa menjawab. "Terserah kamu saja." Lalu ia menekan remote sehingga posisi tubuhnya kembali terbaring.


Kayla mengulum senyum, mencoba menutupi rasa sakit atas perlakuan Mahesa. "Namun, kamu tenang saja. Aku sudah meminta perawat menjagamu. Jadi, kalau butuh apa-apa bisa panggil dia."


Melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangan. Waktu menunjukan pukul sembilan pagi. Lantas, Kayla mengambil sling nag miliknya dan mengecek kembali barang-barang yang ada di dalam tas.


"Mas, aku pergi dulu. Kalau ada hal urgent, hubungi saja aku." Sebelum pergi, wanita itu mengulurkan tangan ke depan dan mencium punggung tangan Mahesa. "Assalamu a'laikum."


Setelah kepergian Kayla, seorang wanita berseragam perawat masuk ke dalam ruangan. Ia merupakan perawat jaga yang dimintai tolong oleh Kayla selama tiga puluh menit ke depan. Tanggung jawab Mahesa berada di pundak perawat wanita itu.


"Pak Mahesa membutuhkan sesuatu?" Perawat wanita itu berdiri di sisi ranjang rumah sakit. Kedua tangan berada di dalam saku seragam putih yang ia kenakan.


Mahesa menggelengkan kepalanya lemah. "Tidak ada, Sus. Terima kasih," jawabnya lirih.


Perawat itu kembali berkata. "Baiklah. Kalau Bapak membutuhkan sesuatu, bisa tekan tombol yang ada di remote itu. Secepatnya saya segera datang ke sini." Tersenyum ramah pada salah satu pasien VIP.


Perawat itu berbalik dan hendak meninggalkan ruangan. Namun, secara tiba-tiba suara berat Mahesa menghentikan langkahnya.


"Tunggu, Suster. Bisakah kamu membawa saya ke suatu tempat. Ehm ... saya ingin menemui seseorang di rumah sakit ini."

__ADS_1


Mendengar permintaan Mahesa, tentu saja ia bingung antara menuruti kemauan sang pasien atau menolaknya. Meskipun wanita itu tahu, kondisi tubuh Mahesa menunjukan ke arah lebih baik. Namun, mengabulkan permintaan pasien tanpa izin dari keluarga tentu saja tidak diperbolehkan. Bagaimana jika keluarga pasien mengadu pada pihak rumah sakit dan dia dipecat dari pekerjaannya sebagai seorang perawat? Mau dikasih makan apa ibu serta adik-adiknya nanti.


Ruang kamar perawatan VIP menjadi hening seketika. Perawat wanita itu tengah bimbang, keputusan apa yang akan diambil olehnya. Sementara Mahesa masih menatap wanita itu.


"Kamu tenang saja. Saya yang akan bertanggung jawab bila terjadi hal buruk menimpa kita berdua. Yang penting, kamu temani saya sebentar. Tidak sampai satu jam, kita sudah kembali ke ruangan ini," ucap Mahesa mantap. Mencoba meyakinkan perawat itu agar tak ragu lagi membantunya.


Wanita berseragam perawat itu menganggukan kepala pelan. "Baik, Pa. Tapi benar ya, jangan lebih dari satu jam. Saya takut kena tegur Bu Kayla seandainya dia tahu Bapak tidak ada di ruang perawatan."


"Kamu bisa pegang kata-kata saya. Jika ternyata lebih dari satu jam, kamu boleh menegur dan membawa saya kembali ke kamar ini." Kesepakatan pun terjadi antara Mahesa dan perawat wanita itu.


Satu buah kursi roda sudah berada di dalam ruangan. Perawat wanita yang diketahui bernama Shinta segera membantu pria itu, mendudukannya di kursi roda.


"Pak, memangnya Bapak mau diantar kemana?" tanya Shinta seraya mendorong kursi roda milik Mahesa.


Tatapan mata lurus ke depan, menatap jalanan di depan sana sambil mengulum senyum. "Bertemu dengan seseorang yang sangat saya cintai."


Kening Shinta mengerut, menatap bingung Mahesa. Bertemu seseorang yang dicintai? Bukankah orang itu adalah Kayla? Lalu, mengapa pria itu masih mencarinya?


Banyak pertanyaan memenuhi isi kepalanya. Ia membutuhkan atas semua pertanyaan itu. Namun, ia tidak mau terlibat terlalu jauh urusan pribadi pasien.


Menggelengkan kepala, berusaha mengenyahkan pertanyaan yang sempat terlintas dalam benaknya. "Bapak tunjukan saja mau ke lantai berapa, nanti biar saya yang menekan tombol lift." Mahesa menganggukan kepala sebagai jawaban.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2