
Melihat bagaimana pria lain mendaratkan bibir di pipi dan bersikap manis terhadap Arumi, tiba-tiba Mahesa merasakan ribuan anak panah melesak, menancap ke dalam hatinya yang terdalam. Sakit hingga membuat pria itu tanpa sadar menyentuh sisi kanan, bagian atas tubuh. Ia tertegun seraya menatap lurus ke depan, ke arah sepasang pria dan wanita yang tengah berpelukan di depan pintu lift.
Kesakitan yang dirasakan oleh Mahesa terpampang nyata. Tubuh pria itu membeku saat si wanita membalas mencium pipi sang lelaki. Binar bahagia terpancar jelas di bola mata indah yang sedari dulu mampu menggetarkan jiwa. Ia merasakan bumi tak lagi berputar pada porosnya menyaksikan bagaimana manjanya Arumi saat di dekat pria lain.
"Pak Mahesa, kita mau bertemu siapa?" tanya Shinta. Ia tak menyadari kemana arah pandangan Mahesa mengarah. Perawat wanita itu hanya fokus menatap ke depan hingga tak melihat apa yang disaksikan oleh pasiennya barusan.
Mendengar suara Shinta, Mahesa mengalihkan pandangan ke arah lain. Tak kuasa menatap terlalu lama bagaimana dua insan manusia di depan sana berinteraksi dengan begitu intim. Niat hati memberi kejutan pada Arumi, tetapi dirinyalah yang mendapatkan kejutan dari sang mantan istri.
"Tiba-tiba kepalaku rasanya sakit sekali, Sus. Bisakah kamu mengantarkanku ke kamar lagi?" Mahesa berbohong menutupi perasaan tak nyaman melihat kemesraan antara Arumi dengan pria yang dulu pernah diduga menjadi kekasih gelap mantan istrinya.
"Baik, Pak. Kita kembali sekarang." Shinta tak banyak bicara lagi. Wanita itu langsung mendorong kursi roda, melangkah menuju lift yang diperuntukan khusus bagi para pengunjung rumah sakit.
Sementara itu, Rayyan terus memandangi ekspresi wajah Mahesa yang berubah secara tiba-tiba. Terlihat jelas kalau pria itu kecewa dan sakit hati karena disuguhkan oleh adegan drama secara live. Adegan yang sebenarnya tidak patut ditunjukan di tempat umum. Akan tetapi, ia sengaja melakukan itu untuk menunjukan bahwa wanita yang dianggap tak penting bagi keluarga Adiguna, rupanya sangat berarti bagi pewaris tunggal keluarga Wijaya Kusuma.
Maafkan aku, Rumi. Aku terpaksa memanfaatkanmu untuk mengusir si Berengsek itu. Jika tidak, mungkin hatimu akan sakit lagi karena bertemu lagi dengan orang-orang jahat itu.
"Babe, bagaimana kalau aku saja yang turun ke lantai bawah? Kamu, sebaiknya istirahat saja. Siang nanti, kita 'kan akan melakukan operasi ringan. Walaupun hanya satu jam saja, tetapi kondisimu saat ini sedang hamil. Aku takut kamu lelah dan malah pingsan ketika kita di dalam ruang operasi," bujuk Rayyan. Ia sengaja berkata begitu karena ingin menemui seseorang. Meluruskan semuanya agar segala masalah ini cepat berakhir.
"Tunggu, kamu memintaku kembali ke bangsal bukan karena sedang merahasiakan sesuatu?" memicingkan mata, menatap penuh intimidasi. Sorot mata wanita itu menelisik ke dalam iris coklat milik sang pujaan hati.
Rayyan terkekeh, tubuh pria itu bergerak turun dan naik. "Feeling seorang istri ternyata tak bisa dianggap remeh." Tangan pria itu menangkup wajah Arumi, lalu berkata lagi. "Memang ada sesuatu yang kusembunyikan darimu. Namun, saat ini belum waktunya aku memberitahumu. Kalau sudah selesai, aku baru memberitahumu."
"Tapi, Mas--"
__ADS_1
"Sst!" Jari telunjuk Rayyan berhenti persis di depan bibir ranum milik istrinya. "Jangan membantah! Kamu kembali ke dalam, ya?"
Arumi mendesaah pelan. Sekalipun ingin tahu rahasia apa yang sedang disembunyikan Rayyan, wanita itu tak bisa melawan perintah sang suami. "Baiklah. Tapi, kamu janji ceritakan semuanya padaku secara detail. Aku tidak mau ada dusta di antara kita."
"Janji!" jawab Rayyan sambil menempelkan keningnya di kening Arumi. "Seumur hidup, aku tak akan berdusta padamu."
Setelah memastikan Arumi kembali masuk ke dalam bangsal, Rayyan menekan tombol lift. Ia berniat bertanya pada bagian informasi, di mana kamar rawat inap Mahesa berada.
Kembali ke kamar rawat inap, Shinta dengan sangat hati-hati membawa tubuh Mahesa naik ke atas ranjang. Mengerahkan segala kemampuan yang dimiliki agar pasiennya bisa terbaring lagi di atas ranjang.
"Bagaimana, Pak Mahesa, apakah posisi begini sudah dirasa nyaman?" Shinta memastikan terlebih dulu sebelum meninggalkan ruang perawatan pasien VIP.
Mahesa yang saat itu tengah mengalami kelumpuhan sementara pada bagian pinggang sampai kaki, kini tak lagi bebas bergerak kemana pun ia inginkan. Merasa seperti orang tak berdaya karena untuk meraih gelas berisi air minum, remote penggerak ranjang ataupun remote pendingin ruangan terkadang ia membutuhkan bantuan seseorang. Segala yang ia banggakan kini secara perlahan sirna, menyisakan sebuah penyesalan yang terus bersemayam di dalam dada.
"Sudah, Sus. Terima kasih."
Suasana ruang perawatan kembali hening. Hanya terdengar suara burung yang berkicau di atas out put pendingin ruangan. Cuaca di luar cukup cerah, terlihat langit berwarna biru cerah disertai sinar matahari yang semakin meninggi ke atas cakrawala.
Di saat pria itu sedang memandangi keindahan langit lewat jendela kamar berukuran sekitar dua meter, terdengar suara ketukan pintu di luar. Refleks, ia menoleh ke arah pintu berwarna coklat.
"Masuk!" ujarnya pada seseorang di sana. Ia pikir, mungkin saja itu adalah Shinta ataupun dokter yang hendak memeriksa keadaannya sebelum benar-benar diperbolehkan pulang ke rumah.
Saat pintu itu benar-benar terbuka, barulah Mahesa tahu, siapa gerangan orang yang ada di ambang pintu.
__ADS_1
"Selamat pagi, Pak Mahesa," sapa Rayyan dengan sikap sok keren. Kedua tangan ia sembunyikan di dalam saku snelli putih yang dikenakan olehnya.
Mahesa mendengkus kesal. "Mau apa kamu datang ke sini?" Ia mengalihkan pandangan ke arah lain. Tak sudi menatap wajah lelaki yang telah mendaratkan kecupan di pipi mantan istrinya.
Rayyan tersenyum samar, bahkan nyaris tak terlihat oleh netra siapa pun. Merasa lucu melihat raut wajah Mahesa yang terlihat kusut seperti pakaian yang tidak pernah disetrikan.
Melangkah mendekati ranjang Mahesa hingga kini posisinya ada di sebelah kanan pria itu. "Kedatangan saya ke sini, hanya ingin memintamu untuk tidak lagi mengganggu kehidupan Arumi. Di antara kalian berdua sudah tak memiliki ikatan apa pun. Sebelum Anda koma, hakim sudah mengetuk palu dan mengatakan bahwa Arumi sudah bukan lagi istri Pak Mahesa."
"Cih! Biar pun sudah berpisah, bukan berarti kami tak lagi bisa bersama. Segala kemungkinan itu bisa saja terjadi asalkan Tuhan berkehendak," jawab Mahesa sinis.
Terdengar suara gelak tawa memenuhi seluruh ruang perawatan. Ucapan Mahesa membuat perut Rayyan seperti digelitik oleh ribuan tangan tak kasat mata. Terasa geli dan memaksa pria itu untuk terus tertawa. Karena terlalu hilang kendali, kelopak mata pria itu bahkan tak terlihat sama sekali.
"Kemungkinan untuk bisa bersama memang ada, tetapi saat ini tidak mungkin terjadi, sebab status Arumi sudah sah menjadi istri saya. Beberapa bulan setelah melewati masa iddah, mantan istri yang tak pernah dianggap kehadirannya oleh mertua serta seluruh anggota Adiguna telah resmi dipersunting oleh Muhammad Rayyan Firdaus Wijaya Kusuma. Kini, Arumi telah menyandang Nyonya muda dari keluarga Wijaya Kusuma, bukan lagi Adiguna."
"Jika Anda terus berusaha ingin mendapatkan Arumi kembali, rasanya akan sulit karena di hati wanita itu hanya ada nama saya seorang. Terlebih lagi, saat ini ia sedang mengandung buah cinta kami maka harapan Pak Mahesa semakin jauh karena kehadiran tiga bayi kembar akan mempererat hubungan rumah tangga antara saya dan Arumi."
"A-apa? T-tiga bayi kembar?" tanya Mahesa mengulang kembali perkataan Rayyan. Memastikan kalau ia tidak salah dengar.
Rayyan menaikkan sudut bibirnya ke atas. Tertawa di dalam hati, karena sukses membuat Mahesa terkejut akan kejutan yang diberikan untuknya. "Benar. Tiga ... bayi ... kembar ...." Sengaja menekan setiap kata terakhir yang terucap olehnya.
Kena mental gak, tuch?
.
__ADS_1
.
.