Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil

Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil
Kemarahan Mahesa


__ADS_3

"Mas, sebelum pulang ke hotel bagaimana jika kita makan malam dulu?" ajak Kayla sambil bergelayut manja di lengan suami tercinta.


"Mau makan di mana?"


Kayla bergegas mengeluarkan telepon genggam yang berlogo buah apel tergigit di bagian belakang dari dalam tas. "Lihat, di sekitar sini ada sebuah café yang sangat terkenal di kalangan anak muda. Banyak review bagus yang diberikan oleh pengunjung. Lokasinya pun dekat dengan pantai. Selain itu, setiap malam ada pertunjukan band terkenal yang dibawakan oleh vocalis setempat. Pokoknya recommended, Mas!" ujar Kayla panjang lebar.


"Ya sudah, kita akan makan di sana." Akhirnya Mahesa menuruti keinginan istri tercinta. Ia melajukan kendaraannya menuju salah satu café terkenal yang ada di kawasan Jimbaran.


Kepergian Kayla dan Mahesa kali ini ke Bali bukan dalam rangka perjalanan dinas melainkan berbulan madu. Meskipun gadis yang berprofesi sebagai model terkenal di tanah air sedang berbadan dua tetapi ia sangat antusias ketika Naila menyarankan agar pengantin baru itu menghabiskan waktu bersama di pulau Dewata.


Mahesa yang saat itu sedang gundah gulana akibat mendapatkan surat gugatan cerai dari Arumi tak kuasa menolak keinginan wanita yang saat ini sedang mengandung sang buah hati. Dengan terpaksa, pria itu menerima saran dari sang mama.


Hanya membutuhkan waktu sekitar sepuluh menit, mobil yang disewa oleh Mahesa telah tiba di parkiran café. Ia membukakan pintu untuk kekasih gelap yang kini berubah status menjadi istri siri.


Sepasang pengantin baru itu melangkah masuk ke dalam bangunan yang terbuat dari gubug bambu.


Tanpa rasa malu, Kayla melingkarkan tangan di lengan sang suami. "Tempat ini begitu cozy. Pantas saja banyak pengunjung yang rela datang ke sini hanya sekadar untuk hang out bersama orang terdekat."


Mahesa menganggukan kepala. Tubuhnya terasa lelah sebab seharian ini ia harus menemani Kayla keluar masuk mall serta pusat oleh-oleh yang menjual aneka ragam cindera mata khas Bali.


Kayla memilih meja yang jaraknya tidak begitu jauh dari pesisir pantai.


"Selamat malam, Bapak dan Ibu. Ini adalah beberapa menu andalan di café kami, Bapak dan Ibu bisa memilihnya terlebih dulu." Pelayan wanita itu menyerahkan buku menu ke hadapan Kayla.


"Kamu mau pesan apa, Mas?" tanya Kayla seraya membolak-balikan buku menu.


"Aku mau pesan pasta dan satu gelas es kopi," sahut Mahesa. Usai melihat aneka ragam menu yang tertulis di buku menu.


"Bawakan semua menu cemilan berbahan dasar pisang. Masing-masing satu porsi," seru Kayla. "Untuk minuman, aku mau lemon tea hangat plus gula sedikit."


Dengan cekatan pelayan itu menulis semua pesanan Kayla. "Mohon ditunggu," ucapnya sambil berlalu.


Usai pelayan itu pergi, Mahesa lebih memilih memainkan telepon genggam daripada berbincang hangat bersama Kayla. Sementara Kayla, sibuk membuka aplikasi shopping online.

__ADS_1


Setelah puas memasukan barang yang diinginkan ke dalam keranjang, gadis itu melirik ke arah Mahesa. Wajah tampan dengan jambang dan bulu-bulu halus di sekitar rahang tampak murung, seolah banyak beban yang dipikul oleh pria itu.


"Mas, aku perhatikan sejak datang ke Bali wajahmu selalu murung. Apakah kamu tidak menikmati bulan madu kita kali ini?" tanya Kayla dengan tatapan mengintimidasi. "Atau ... jangan-jangan kamu terpaksa ya liburan ke Bali karena didesak oleh Mama?"


Mahesa yang saat itu sedang memainkan telepon genggam terlonjak dari kursi. Bola matanya membulat sempurna. Nyaris saja benda pipih itu terjatuh di atas meja.


Dengan tergagap, pria itu berkata, "Jangan berpikir macam-macam, tidak baik bagi kandunganmu."


Kemudian ia memalingkan wajah ke arah laut. Namun, ketika netranya menyusuri betapa indah pantai Jimbaran, tak sengaja melihat sosok wanita yang begitu berarti dalam hidupnya.


Penampilan wanita itu begitu cantik. Meskipun tanpa mengenakan pakaian mewah serta riasan mencolok tetapi aura kecantikannya tetap terpancar. Apalagi terkena pantulan cahaya lampu, wajahnya semakin bersinar bagai rembulan yang tengah menyinari sang malam.


"Mas Mahes," panggil Kayla. Namun, pria itu bergeming. Ia tetap memperhatikan wanita yang duduk di sebelah sana.


"Mas, kamu kenapa sih?" tanya Kayla dengan meninggikan intonasi.


Mahesa kembali tersadar. Mengerjapkan mata berkali-kali, guna memastikan bahwa yang dilihatnya bukanlah halusinasi.


"Ha? Maksudmu apa? Aku ini Kayla, bukan Arumi!" dengus gadis itu kesal.


Rasanya Kayla ingin sekali marah pada Mahesa tetapi ia urungkan niatan itu sebab tak ingin membuat harga diri sang suami jatuh apabila ada salah satu pengunjung yang mengenal mereka dan membuat video lalu memposting di media sosial. Kemungkinan besar citra dan reputasi keluarga Adiguna akan hancur seketika. Jika itu terjadi, maka sama saja Kayla seperti bunuh diri dan ia tidak mau karir suami serta mertuanya jelek akibat keegoisannya.


Gadis itu hanya dapat meremas ujung pakaiannya guna mengurai rasa marah yang menyelimuti hati.


"Ehm. Itu ... maksudku adalah Kayla. Ya, Kayla bukan Arumi." Mahesa mencoba bersilat lidah agar istri keduanya tidak curiga. Tatapan mata masih mengarah pada sosok wanita yang duduk sekitar tiga meter dari meja yang dipesan olehnya.


Refleks, Kayla mengikuti arah pandanga Mahesa. Ia sangat terkejut saat melihat Arumi sedang duduk bersantai dengan seorang pria asing. Jika diperhatikan kedua insan manusia itu begitu serasi karena memiliki paras cantik dan rupawan.


Melihat ada peluang bagus, Kayla segera memanfaatkan kesempatan itu dengan sebaik-baiknya.


"Loh, bukankah itu Arumi? Sedang apa dia di sini? Lalu, pria itu siapa? Apakah mungkin selingkuhannya?" cecar Kayla.


Kayla sengaja memancing Mahesa agar pria itu cemburu. Dan benar saja, hanya membutuhkan waktu tiga menit, pria itu sudah terpancing emosi.

__ADS_1


Telapak tangan Mahesa terkepal hingga urat-urat halus menonjol, rahangnya mengeras dan sorot mata memancarkan penuh kemarahan pada sepasang pria dan wanita yang sedang duduk di sana.


"Dasar wanita murahan! Masih berstatuskan istri orang tetapi sudah pergi berlibur dengan pria lain!" ujar Kayla sinis. Ia sengaja meninggikan volume suara agar didengar Mahesa.


"Kamu tunggu di sini, aku akan ke sana sebentar." Mahesa berjalan dengan tergesa-gesa. Segurat kemarahan terpancar jelas di wajah.


"Aha ... setelah sekian lama, akhirnya aku dapat menyaksikan sebuah pertunjukan menarik yang dapat disaksikan secara live," gumam Kayla. Dengan penuh semangat gadis itu berjalan mengekori di belakang.


TBC


.


.


.


Halo semua, mohon maaf otor baru sempat update. Soalnya seharian ini otor bolak balik rumah sakit dan baru sempat ngetik. Mohon maaf telah membuat kalian kecewa. 🙏


Oh ya, otor juga mau promosiin karya milik temen otor nih. Cus ah, dikepoin!


Judul : Penjara Cinta Mafia Kejam


Nama pena : Siti Fatimah


Blurb : Kenapa hidupku harus menderita seperti ini, jika banyak orang yang bisa merasakan apa arti itu bahagia, kenapa hanya aku orang yang terjebak didalam lembah penderitaan ini sendiri.


Hidup bersama dengan seorang Mama tiri seperti halnya hidup didalam jeruji besi, sekaligus awal kehancuran bagiku setelah beberapa tahun yang lalu Mama kandungku meninggalkanku untuk selama-lamanya.


Dan Papa yang memutuskan untuk menikah lagi dengan Monika yang tak lain sekarang dia menjadi Mama tiri-ku sendiri, awalnya aku kira Mama tiri-ku peduli dan sayang kepadaku, tapi nyatanya setelah Papa pergi meninggalkanku dan menyusul Mama di Surga.


Sifat dan perlakukan dia terhadapku seketika berubah, bahkan dia hanya menganggap-ku layaknya seperti hewan yang tidak ada gunanya dan hanya akan jadi bahan siksaan. Yang selalu ia kurung didalam kamar tanpa beralas yang hanya menyisakan selembar karpet tipis beserta selimutnya. Bahkan sangking jahatnya ia hanya akan mengeluarkan-ku ketika menyerahkan-ku pada laki-laki mesum yang berani membayarnya dengan harga tinggi yaitu 50 juta permalam sangat kejam bukan.


__ADS_1


__ADS_2