Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil

Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil
Mereka Memang Pantas!


__ADS_3

Jarum jam dinding menunjukan pukul sepuluh lebih sepuluh menit pagi tetapi dokter bedah yang pernah menangani operasi Nyimas belum juga datang. Kabar terakhir yang didengar oleh Arumi mengatakan jika pria paruh baya itu sedang melakukan tindakan operasi pada pasien dengan kasus yang sama seperti Nyimas, sehingga dokter senior yang diketahui bernama dokter Ari Kusuma akan datang terlambat.


Terlalu lama menunggu membuat Arumi merasa bosan. Sudah hampir sepuluh menit duduk di kursi panjang terbuat dari stainless membuat wanita itu tak tahan harus menunggu seseorang. Oleh karena itu, untuk menghilangkan kejenuhan, Arumi mengeluarkan gawai dari dalam tas kemudian membuka akun media sosial miliknya.


"Sukurin kamu! Akhirnya Pelakor kena karmanya juga!" sungut Arumi ketika melihat video di Youtube yang menampilkan seorang wanita paruh baya tengah melabrakan istri kedua sang suami. Di mana sang madu tak terima disebut seorang pelakor. Wanita itu dengan bangganya menyebut jika ia lebih cantik dari istri pertama suami. Bahkan, ia pun memperlihatkan semua perhiasan yang dikenakan pada si istri pertama. Padahal semua harta kekayaan si suami sepenuhnya milik istri pertama.


"Cih! Dasar tua bangka! Sudah bau tanah masih tega main serong!" Kali ini Arumi menaikan satu oktaf suaranya. Ia dibuat geram karena si suami tega berselingkuh hanya karena urusan peranjangan. Pria itu tega bermain api cuma gara-gara istri pertama sudah tak lagi mampu memberikan kepuasan di atas ranjang.


Suara Arumi yang cukup keras membuat fokus Nyimas teralihkan. Wanita paruh baya itu tengah membaca koran karena mendengar rutukan yang bersumber dari bibir anak tercinta, ia menoleh ke arah Arumi.


Nyimas menautkan alis kebingungan kala melihat Arumi sedang memandangi layar ponsel dengan headset menutupi telinga.


Ia menepuk pundak Arumi dan dengan gerakan cepat wanita yang duduk di sisi Nyimas menoleh. Kemudian melepas headset dari telinga.


"Ada apa, Ma? Butuh sesuatu?" Ia tak sadar jikalau perbuatannya tadi telah mengganggu konsentrasi Nyimas.


Alih-alih menjawab pertanyaan Arumi, Nyimas malah bertanya. "Kamu itu kenapa menggerutu tak jelas seperti tadi, hem? Siapa yang kamu sebut pelakor? Kayla?" cecar Nyimas.


Arumi melotot seakan tak percaya dengan pertanyaan Nyimas. Ia tak menyangka kalau rutukannya tadi didengar oleh sang mama. Wanita itu berpikir tidak ada satu orang pun yang mendengar tapi ternyata dugaannya salah.


Bisa-bisanya Arumi memaki orang dalam video itu di saat ia sedang duduk berdua dengan Nyimas di tempat umum. Bagaimana kalau ada orang lain yang mendengar? Mereka pasti beranggapan bahwa Arumi adalah tukang nyinyir yang hobinya membicarakan keburukan orang lain.


"Oh itu ... aku hanya memberikan komentar pada video yang sedang kutonton ini, Ma," ujar Arumi sambil tersenyum kikuk.


"Mama pikir kamu menyumpahi wanita itu," ucap Nyimas santai. Kembali membuka lembaran koren yang tadi sempat ia tutup. "Lain kali, kecilkan volume headsetmu agar kamu bisa menakar apakah nada bicaramu terlalu tinggi atau tidak. Ini di rumah sakit, jangan berbuat gaduh."

__ADS_1


"Baik, Ma." Arumi patuh dan menuruti perintah Nyimas.


***


"Ma, aku akan ke toilet sebentar. Mama tunggu di sini. Jangan ke mana-mana," pinta Arumi setelah ia dan Nyimas keluar ruangan pemeriksaan.


Kini, dua wanita beda generasi itu tengah duduk di kursi panjang. Mereka sedang mengantri di depan apotek untuk menebus obat yang diresepkan oleh dokter Ari. Nyimas telah selesai diperiksa oleh dokter senior yang merupakan guru Arumi sewaktu masih kuliah mengambil spesialis bedah, beberapa tahun lalu.


Kondisi kesehatan Nyimas pasca operasi dalam keadaan baik tetapi ia disarankan untuk terus check up serta mengkonsumsi obat pengencer darah (warfarin) untuk mencegah pembekuan darah pada katup buatan.


"Ya sudah, sana. Jangan lama-lama. Biar Mama yang ambil obat kalau nanti dipanggil oleh petugas apoteker."


Senyuman merekah di wajah Arumi. "Iya, tidak akan lama kok, Ma." Usai mengucapkan kalimat terakhir, Arumi mengayunkan kaki menuju toilet yang ada di sebelah barat pintu keluar rumah sakit.


Setelah tiba di toilet, ia segera masuk ke dalam bilik untuk menuntaskan hajat. Saat sedang fokus melaksanakan hajat, wanita itu mendengar dua orang cleaning service perempuan tengah membicarakan seseorang. Kedua cleaning service itu tak tahu jika ada orang lain di dalam toilet itu selain mereka berdua karena suasana sepi sehingga tak menyadari akan kejadiran Arumi di dalam toilet.


"Pasien yang kamu maksud itu adalah model terkenal itu? Kalau tidak salah namanya adalah ...." Tampak cleaning service senior tengah mengingat nama korban kecelakaan kemarin siang. Ia mengetuk-ngetukan jari telunjuk di kening.


"Kayla. Kayla Lestari," sahut cleaning service itu.


Rona bahagia terlukis di wajah cleaning service senior, berusia sekitar tiga puluh enam tahun. Bola mata wanita itu pun berbinar kala teman seprofesinya membantu ia menyebutkan nama model yang dimaksud olehnya.


Ia menjentikan jari lalu berkata, "Benar. Nama pasien itu adalah Kayla Lestari." Wanita itu terlihat sumringah dengan wajah berseri-seri.


"Kamu benar, Dik. Sejak kemarin hingga detik ini, aku tak melihat siapa pun selain temannya itu. Padahal, menurut informasi yang aku dengar ketika dibawa ke rumah sakit, ia mengalami pendarahan hebat dan dokter akhirnya memutuskan untuk melakukan operasi pengangkatan rahim karena rahimnya rusak akibat kecelakaan itu."

__ADS_1


Raut wajah dua wanita itu menunjukan kengerian hampir bersamaan. Membayangkan mereka berada di dalam ruang operasi, menyaksikan para dokter mengangkat salah satu organ terpenting bagi kaum Hawa dikeluarkan dari dalam perut. Banyak darah yang keluar dan kemungkinan untuk hamil lagi tidak ada, membuat mereka bergidik.


"Apakah mungkin pasien itu hamil di luar nikah lalu Tuhan memberikan teguran karena ia telah berbuat dosa!" Cleaning service junior itu mencoba mengungkapkan kecurigaannya.


"Hush! Jangan asal ngomong! Kalau didengar orang lain lalu melaporkan pada yang bersangkutan, bisa dilaporkan ke polisi kita." Cleaning service senior mengingatkan juniornya agar berhati-hati dalam bertutur kata.


Cleaning service itu kembali berucap, "Aku tidak asal ngomong, Mbak. Coba deh Mbak bayangkan, kalau memang ia hamil dalam sebuah ikatan pernikahan yang sah, sudah pasti suami dan mertuanya datang mengunjungi dan menemani wanita itu selama di rawat di rumah sakit. Faktanya, tidak ada satu orang pun menemani wanita itu selama berada di sini."


"Itu artinya, ada sesuatu yang salah pada wanita itu," timpalnya. Tangan wanita itu menyemprotkan cairan pembersih kaca lalu mengelap cermin di dalam toilet itu menggunakan kanebo.


"Atau, jangan-jangan pria yang sedang koma itu adalah suaminya?" Tiba-tiba cleaning service itu teringat akan sosok pria yang pernah dilihat olehnya ketika ia sedang membersihkan lantai lorong rumah sakit. Saat ia berjaga, di waktu bersamaan sebuah mobil ambulance datang membawa dua orang pasien kecelakaan. Satu orang wanita dan satu orang pria.


Cleaning service senior itu menarik napas dalam-dalam. Ia kembali tersadar jika saat ini sedang berada di lingkungan rumah sakit. Wanita itu melirik ke arah pintu masuk toilet, khawatir jika ada seseorang yang menguping kemudian melaporkan pada atasannya. Tidak menutup kemungkinan mereka akan kena tegur atau bisa jadi berurusan dengan pihak berwajib atas tuduhan pencemaran nama baik sebab hingga detik ini fakta tentang Kayla masih simpang siur.


Tak mau terjadi masalah di kemudian hari, cleaning service senior itu berucap, "Sudah, hentikan! Jangan lagi membicarakan keburukan pasien. Aku takut kalau sampai ada orang yang dengar lalu memperkarakan masalah ini. Bisa-bisa pihak keluarga pasien menuntut rumah sakit ini dan malah jadi berita hangat di sosial media. Jangan sampai gara-gara lisan yang tak bisa dijaga mendatangkan musibah bagi seluruh pegawai di rumah sakit ini."


"Sebaiknya kita fokus bekerja agar pekerjaan ini cepat selesai."


Di dalam bilik toilet, bola mata Arumi melebar sempurna. Rahang wanita itu terbuka lebar dan ia semakin terkejut ketika mendengar Mahesa dalam keadaan koma. Sementara kondisi Kayla tak kalah memprihatinkan. Mantan sahabatnya itu harus kehilangan janin dan rahim dalam waktu bersamaan.


"Sepertinya, Tuhan mulai berikan pada kalian semua." Arumi tersenyum getir. Seharusnya ia bahagia karena Tuhan telah memberikan balasan bagi orang-orang yang telah menyakiti hatinya. Akan tetapi, hati wanita itu sakit kala mendengar dua orang yang pernah ia sayangi kini tengah tertimpa musibah.


Perlahan, ia menarik napas dalam. Memejamkan mata sejenak lalu berusaha berpikir jernih. "Mereka memang pantas menerima ganjaran atas perbuatan yang pernah dilakukan padaku."


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2