Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil

Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil
Suami Siaga


__ADS_3

Setelah melewati lika liku kehidupan yang menyakitkan, akhirnya Arumi dapat merasakan kembali kebahagiaan yang dulu pernah dirasakan olehnya. Jika dulu Mahesa-lah lelaki yang memberikannya segenggam cinta dan sejuta kebahagiaan, maka kini Rayyan-lah yang memberikan itu semua. Pria dingin yang dulu sangat membenci Arumi, kini malah sangat mencintai mantan rivalnya bahka menjadi bucin dan over protective. Meskipun begitu, Arumi sama sekali tak merasa keberatan, wanita itu menikmati setiap perhatian, kasih sayang dari Rayyan karena ia dapat memaklumi mengapa sang suami bersikap seperti itu.


Hari ini adalah jadwal Arumi mengikuti kelas yoga khusus ibu hamil di sanggar Annisa. Rayyan, dengan sigap mengantarkan istrinya menuju sanggar tersebut. Ia bahkan menemani istrinya hingga kelas yoga selesai dilakukan.


Lantas, bagaimana dengan pekerjaan Rayyan dan Arumi sebagai dokter? Sang lelaki akan menemani istri tercinta apabila memang tak ada agenda ke rumah sakit. Sementara Arumi, telah mengambil cuti sejak usia kandungan memasuki bulan ke-9.


"Hati-hati!" ujar Rayyan seraya membantu Arumi turun dari mobil. Perut yang semakin membesar karena sudah memasuki usia 9 bulan ditambah kembar tiga membuat wanita itu semakin kewalahan.


Walaupun kini bentuk tubuh sudah tak sedap dipandang, tetapi di mata Rayyan, Arumi tetaplah yang paling cantik di antara jutaan wanita di muka bumi ini. Ia semakin menyukai body istrinya yang sekarang, karena menurutnya, wanita itu terlihat semakin seksi dengan bagian bemper depan dan belakang lebih montok dari sebelumnya.


Saat tiba di depan pintu ruangan, ada dua ibu muda yang turut serta dalam kelas yoga tersebut. Mereka menatap iri penuh dengki pada pasangan suami istri itu.


"Wah, Bu Arumi pasti bahagia sekali ya karena selalu ditemani oleh suami. Saya kok jadi iri sih." celetuk salah satu ibu hamil berambut pendek sebahu.


"Iya, benar. Saya juga iri nih karena suami saya hanya sebatas mengantarkan saja dan tidak pernah sampai menunggu. Bu Arumi benar-benar beruntung, menikah dengan seorang jejaka seperti Dokter Rayyan. Sudah tampan, perhatian lagi," timpal ibu hamil yang lain.


"Apakah kita harus menjadi janda dulu agar mendapatkan suami pengganti yang seperti Dokter Rayyan?"


Si ibu berambut pendek menatap ke arah temannya, lalu berkata. "Maybe. Siapa tahu kita dapat penggantinya seperti Dokter Rayyan." Sontak, kedua ibu-ibu hamil itu terkekeh sambil menatap ke arah Arumi dan suaminya.


"Dasar tukang gosip!" gumam Rayyan menyerupai suara desauan angin di musim gugur. Tak ada yang mendengar kecuali Arumi seorang.

__ADS_1


"Sst! Biarkan saja. Mungkin itu salah satu cara mereka melupakan kecemasan dalam diri sebelum proses melahiran, Mas." Arumi mencoba menenangkan Rayyan agar tak merasa terganggu oleh celotehan tak jelas berasal dari kedua ibu-ibu hamil itu. Ia sudah terbiasa mendengar perkataan unfaedah seperti itu.


Saat masih menjadi istri Mahesa, bisikan-bisikan gaib sudah seperti makanan sehari-hari. Jadi, ketika bertemu lagi dengan orang-orang yang tak menyukainya, ia memasang kacamata kuda dan menulikan telinga. Bagi Arumi, yang terpenting saat ini bagaimana caranya dapat melahirkan ketiga buah hatinya dengan selamat.


Menarik napas dalam, lalu mengembuskan secara perlahan. "Bukan Arumi yang beruntung menikahi saya, Bu. Tapi saya yang beruntung telah menikahi wanita ini." Lantas, Rayyan berjalan melewati kedua wanita itu dan kembali berkata. "Hati-hati dalam berucap. Kita tidak pernah tahu kapan ajal menjemput. Jangan sampai didengar oleh Malaikat, lalu ibu-ibu menjadi janda di saat hamil tua."


Kedua ibu-ibu itu tampak tercenggang atas jawaban Rayyan. Tak pernah menduga sedikit pun jikalau pria yang terkenal dingin dan cuek akan menjawab perkataan mereka. Setiap kalimat itu bagaikan mata pisau yang sangat tajam hingga mampu membungkam mulut mereka dalam seketika.


Arumi telah tiba di dalam ruangan. Suasana masih cukup sepi karena jam latihan belum dimulai. Wanita itu duduk di atas matras yoga berwarna biru muda dengan ketebalan sekitar 10 mm. "Mas, apa kamu tidak merasa perkataanmu barusan dapat menyinggung perasaan mereka?"


Rayyan mendengkus kesal karena Arumi terkesan membela kedua wanita tadi. "Biarkan saja. Itu balasan bagi orang-orang julid yang mempunyai hati iri dan dengki. Mereka berkata begitu tanpa memikirkan bagaimana perasaanmu. Lalu, untuk apa aku memikirkan perasaan mereka." Pria itu mengeluarkan botol air minum dan handuk kecil dari dalam tas selempang olahraga. "Sudah. Lebih baik fokus terhadap materi yoga yang akan diberikan oleh instruktur."


"Aku tunggu di cafe depan. Jika sudah selesai, jangan lupa kirim pesan." Mendaratkan kecupan singkat sebelum meninggalkan ruangan.


Calon ibu dari ketiga bayi kembar tersenyum samar sambil berucap lirih. "Salah pilih lawan mereka. Naga jantan kok dilawan!"


Sementara itu, di kediaman Firdaus, tampak Lena sedang membaca laporan pemeriksaan medis yang baru saja ia dapatkan dari rumah sakit. Tampak air muka penuh kesedihan terlukis di wajahnya yang cantik.


"Apakah ini adalah balasan untukku atas semua perbuatan yang telah kulakukan di masa lalu?" gumam wanita itu seraya memegang lembaran kertas putih di atas paha. Buliran air mata mulai mengalir, membasahi pipi.


Firdaus yang duduk di tepian ranjang mendekati Lena, lalu berjongkok di hadapan sang istri. "Jangan pantang menyerah, Ma. Kamu masih bisa sembuh. Aku yakin, dengan kemoterapi, semuanya akan baik-baik saja."

__ADS_1


Masih dalam keadaan terisak, Lena menatap Firdaus dengan tatapan sendu. "Apa kamu tidak dengar tadi dokter bicara apa? Dia bilang, kemoterapi saja tidak menjamin kesembuhanku, Mas. Harapan hidupku hanya sekitar sebelas bulan saja. Setelah itu aku akan ...." Wanita itu kembali terisak, membayangkan jikalau ia pergi meninggalkan dunia ini untuk selama-lamanya. Akankan ia dapat hidup tenang setelah kepergiannya nanti, sedangkan Rayyan saja belum bisa memaafkan dirinya karena dulu pernah menyakiti mama-nya.


Tidak tahan melihat istri tercinta menangis, Firdaus membawa tubuh Lena yang ringkih dalam pelukan. Mengusap punggung wanita itu seakan memberitahu pada wanita itu semua akan baik-baik saja.


"Aku akan berusaha mencari dokter terbaik untuk menyembuhkanmu, Ma. Sudah ya, jangan menangis lagi."


"Percuma saja, Pa. Kalau pada akhirnya aku tetap meninggal." Lena semakin tergugu dalam dekapan suaminya. "Mungkin ini adalah balasan dari Tuhan karena dulu pernah menyakiti Mbak Mei Ling. Tuhan tidak hanya ingin menghukumku dalam sebuah penyesalan yang tiada pernah berakhir. Dia juga ingin aku menyusul mendiang istrimu."


"Sst! Jangan sembarangan bicara. Harapan itu masih ada. Kita belum mencoba melakukan kemoterapi, jadi kamu tidak boleh langsung menyimpulkan sesuatu." Firdaus masih mencoba menenangkan Lena agar tak terlalu memikirkan diagnosa dokter tentang penyakit sang istri yang di deritanya selama ini.


Lena mengurai pelukan, tubuh wanita itu masih bergerak turun dan naik. "Mas, jika Tuhan memang memanggilku untuk kembali, aku ingin meminta maaf kepada Rayyan untuk terakhir kali dan menjelaskan semuanya pada Raihan, mengapa kakak-nya begitu sangat membenci dirinya dan juga diriku."


"Aku ... tidak mau meninggal dalam keadaan tidak tenang," lanjut wanita itu.


Tampak Firdaus berpikir sejenak, menimbang-nimbang apakah memang ini adalah waktu yang pas untuk memberitahu Raihan mengapa Rayyan tak pernah menyukai Lena dan menganggap wanita itu sebagai ibu sambungnya meski sang istri telah menjalankan perannya sebagai ibu yang baik bagi Rayyan.


"Baiklah, kita akan memberitahu Raihan yang sebenarnya," ucap Firdaus singkat.


.


.

__ADS_1


.



__ADS_2