Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil

Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil
Hormon Bumil


__ADS_3

"Aduh, Bu Rumi, biarkan saya saja yang memasak semua hidangan ini," seru Mbak Tini tatkala wanita itu melihat sang majikan tengah mencuci ikan nila di bawah keran air di westafel.


Malam ini, Arumi memang sengaja ingin memasak hidangan spesial untuk dinikmati bersama suami tercinta dalam rangka merayakan kehamilan pertama yang selama ini sangat dinantikan oleh wanita itu. Sepulang dari rumah sakit, dia meminta ART-nya pergi berbelanja ke supermarket membeli ikan nila, ayam cincing dengan takaran masing-masing dua kilo, dan tak lupa kulit pangsit rebus. Rencananya Arumi ingin membuat pesmol ikan nila, ayam asam manis, sayur capcay brokoli bakso dan pangsit kuah kesukaan suami tercinta.


Arumi tersenyum tanpa melepaskan dua potong ikan nila berukuran besar dari tangannya. "Hanya mencuci ikan dan daging ayam saja kok, Mbak, tidak akan membuatku kelelahan."


"Tapi tetap saja, Bu, nanti kalau Pak Rayyan lihat, saya bisa kena tegur," cicit Mbak Tini. Wanita paruh baya itu memang sedikit sungkan pada suami baru dari majikannya, sebab dia baru beberapa minggu bekerja di apartemen milik Arumi. Ditambah kejadian empat hari lalu membuat wanita itu takut bila tanpa sengaja melakukan kesalahan.


Arumi terkekeh mendengar penuturan Mbak Tini. Rupanya sosok Rayyan kini sangat ditakuti oleh asisten kepercayaannya itu. "Kamu tenang saja, Mas Rayyan tidak akan marah padamu ataupun padaku karena sebelum aku pergi ke dapur, dia sudah memberikan izin dan tak melarangku. Selama aku tidak kelelahan, dia memberikan kebebasan padaku."


Mbak Tini yang saat ini tengah menyiapkan bumbu dapur untuk mengolah ikan dan daging ayam dapat bernapas lega. Dia merasakan bongkahan batu besar terangkat dari tubuhnya.


"Kalau Bu Rumi merasa lelah, istirahat saja di kamar. Biarkan saya menyelesaikan semua ini sendirian. Ibu cukup duduk manis sambil menonton drama atau membaca buku tanpa harus capek bekerja. Ingat loh, Bu, ada tiga janin di dalam kandungan Bu Arumi." Wanita paruh baya itu tersenyum sembari menatap ke arah perut sang majikan.


"Iya, Mbak. Kamu tenang saja. Aku akan istirahat kalau sudah merasa lelah."


Mbak Tini ikut bahagia setelah tahu jika Arumi saat ini tengah mengandung. Akhirnya Tuhan telah mengabulkan doanya selama ini.


Diam-diam, wanita paruh baya itu mendoakan majikannya agar segera diberikan momongan. Pagi, siang, sore dan malam, dia selalu bermunajat kepada Tuhan dan memohon penuh pengharapan semoga di dalam rahim Arumi hadir malaikat kecil yang kelak mempererat cinta kasih di antara pasangan suami istri itu.

__ADS_1


Saat Arumi tengah sibuk membuatkan pangsit kuat untuk Rayyan, tiba-tiba wanita itu mendengar suara bel pintu apartemennya berbunyi.


"Kamu teruskan saja, biar aku yang membukanya." Arumi melangkah secara perlahan ke arah pintu dan membuka handle pintu apartemennya.


"Apakah Ayah mengganggu Bunda?"


Suara lembut seorang pria menjadi sapaan pertama yang didengar oleh Arumi. Seketika senyuman manis terlukis di wajah cantik wanita itu melihat suaminya tercinta berdiri di ambang pintu.


"Mas Rayyan!" Arumi segera menghambur ke pelukan suaminya. Dia melingkarkan kedua tangannya dan memeluk erat sang suami. Hati wanita itu berbunga-bunga ketika melihat sosok pria yang begitu dirindukan olehnya berdiri di hadapaannya.


Padahal baru beberapa jam ditinggal pergi, karena Rayyan diminta oleh Firdaus menghadiri rapat bersama petinggi rumah sakit membahas rencana kerja untuk lima tahun ke depan. Namun, Arumi sudah sangat rindu pada suaminya itu. Dia merindukan aroma feromon sang suami yang menurut indera penciumannya begitu menggoda dan terkesan maskulin.


Meskipun terkejut, namun Rayyan tetap membalas pelukan Arumi. Bahkan, pria itu menciumi puncak kepala sang istri berkali-kali. "Tampaknya Bunda Triplet sangat merindukan Ayah Triplet." Kekeh Rayyan setengah berkelakar.


Arumi mendongakan kepala dan menatap suaminya dengan penuh cinta. "Benar, Bunda sangat merindukan Ayah. Ketiga anak kita pun merindukan Ayahnya. Benar 'kan, Nak?" Pandangan mata wanita itu mengarah ke perut. Dia seolah sedang meminta dukungan pada ketiga janin di dalam kandungannya.


Walau tahu mereka belum dapat mendengar suara sang bunda, tetapi Arumi tetap mengajak ketiga anak-anaknya berbicara sambil sesekali mengusap lembut perutnya dengan penuh cinta.


"Benar, Bunda. Kami sangat merindukan Ayah." Arumi menirukan suara anak kecil disertai tingkah manja yang sukses membuat Rayyan menggelengkan kepala. Pria itu tak menyangka jikalau Arumi dapat bersikap kekanak-kanakan.

__ADS_1


Padahal selama masa penjajakan, wanita itu terkesan mandiri dan dewasa. Akan tetapi, sifatnya berubah 360° selama menjalani masa kehamilan. Ternyata benar kata orang, sifat dan suasana hati seorang wanita ketika hamil sering berubah-ubah.


Rayyan mengurai pelukan, memberikan jarak di antara mereka. Pria itu membungkukan badan, menempelkan telinga di perut Arumi sambil berucap. "Duh ... duh ... kasihan sekali. Ternyata sejak tadi kalian merindukan Ayah? Maafkan Ayah ya, karena membuat kalian dan Bunda menunggu terlalu lama tapi Ayah janji, malam ini akan terus berada di dekat kalian hingga ketiga anak Ayah merasa bosan."


Tangan kekar itu mengusap lembut perut datar Arumi dengan pelan, kemudian mendaratkan ciuman di sana. "Kalian baik-baik di dalam sana ya. Tidak boleh menyusahkan Bunda selama Ayah tak ada di rumah."


Melihat sikap Rayyan yang berubah menjadi hangat kembali, membuat Arumi bahagia dan wajahnya kembali berseri seperti sedia kala. Kerikil kecil itu rupanya semakin mengeratkan cinta mereka dan juga memberikan pelajaran hidup bagaimana seharusnya pasangan suami istri bersikap agar dapat saling menghargai, saling menghormati satu sama lain. Terbukti, kini rasa cinta di dalam hati kedua insan manusia itu semakin erat dan rasanya sulit untuk dipisahkan.


"Ayo masuk. Aku akan membuatkan minuman hangat untukmu." Arumi menarik tangan Rayyan masuk ke dalam apartemen, menutup pintu dan bergelayut manja di lengan sang suami. "Hari ini aku memasak makanan spesial untuk kita nikmati bersama. Ehm ... aku juga membuatkan pangsit kuah kesukaanmu. Kamu suka?" Mengerjapkan mata layaknya anak kecil, berharapkan agar dipuji oleh kedua orang tuanya.


Senyuman di wajah kembali terlukis kala mendengar istrinya tercinta masih mengingat makanan kesukaannya walau itu sudah berlalu lima bulan lamanya. Semenjak itu, Arumi sudah tidak lagi membuatkan pangsit kuah salah satu makanan kesukaannya. Namun, malam ini Arumi secara khusus membuatkan pangsit kuat untuk dirinya.


Rayyan menganggukan kepala sambil berkata. "Apa pun yang kamu masak, aku akan menyukainya. Terima kasih, Bunda." Lantas, mereka pun masuk ke dalam kamar.


Di dalam kamar, Arumi membantu Rayyan melepaskan seluruh pakaian pria itu lalu memasukannya ke dalam keranjang pakaian kotor. Setelah itu, barulah dia meninggalkan kamar dan membuatkan minuman hangat untuk suami tercinta. Sementara Rayyan masuk ke dalam kamar mandi guna membersihkan badannya dari kotoran dan keringat yang menempel di tubuh.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2