Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil

Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil
Sumber Kebahagiaanku Adalah Arumi


__ADS_3

Selama delapan bulan lamanya, Mahesa menata kembali kehidupannya setelah ia mendapat ancaman dari Rayyan untuk menjauhi Arumi selamanya. Menjual seluruh harta kekayaan yang tersisa, ia beserta Putra memutuskan pergi meninggalkan kota Jakarta dan menetap ke sebuah kota kecil yang cukup jauh dari hingar bingar kehidupan ibu kota. Hanya sesekali saja mereka menginjakkan kaki ke kota yang penuh dengan kenangan manis dan pahit dalam waktu bersamaan untuk membesuk Naila di rumah sakit jiwa.


"Nak, Papa akan pergi ke Jakarta, apakah kamu mau ikut? Rasanya, sudah lama sekali Papa tidak membesuk Mama-mu di rumah sakit," ucap Putra.


Mahesa yang tengah memandangi foto pernikahannya bersama Arumi dulu segera menoleh ke sumber suara. Setiap hari, ia hanya duduk manis di kursi roda sambil menatap sebuah bingkai foto yang diambil kurang lebih enam tahun lalu, saat dirinya duduk di pelaminan bersama wanita cantik yang pernah ia khianati.


"Tidak, Pa. Terima kasih," jawab Mahesa singkat, memasang wajah datar tanpa ekspresi.


Semenjak Mahesa tahu bahwa cinta dan tubuh Arumi bukan lagi miliknya, sikap mantan pemilik Adiguna Properti berubah 180°. Senyuman yang dulu selalu terukir di wajah kini sudah tiada lagi. Bersikap dingin dan seakan sedang membangun benteng tinggi agar tidak ada satu orang pun yang datang mengganggu. Ia sibuk meratapi dan menyesali kesalahannya karena telah mengkhianati ikatan pernikahan sakral yang dibangun bersama mantan terindah yaitu, Arumi Salsabila.


Putra menarik napas dalam. Ia seharusnya tahu jikalau Mahesa pasti akan menjawab pertanyaan sama setiap kali dirinya mengajak pergi ke kota. Lalu, netranya menatap ke sebuah bingkai foto yang ada di atas pangkuan sang anak.


Lantas, ia duduk di sebelah Mahesa sambil berkata. "Nak, Papa tahu kamu masih belum bisa melupakan Arumi. Tapi, mau sampai kapan kamu terus begini? Mengurung diri di dalam kamar setiap hari tanpa mau bersosialisasi dengan lingkungan yang baru."


"Memang tak mudah untuk mengubur serta melupakan semua kenangan buruk di masa lalu. Terlebih, sebagian dari kenangan itu adalah kenangan manis yang selama bertahun-tahun ada dalam memori ingatanmu. Jika Papa jadi kamu, Papa pun sukar sekali melupakannya. Namun, kalau terus menerus berada di dalam kubangan yang sama kapan kamu bangkit!"


"Memangnya ... kamu tidak mau bahagia sama seperti Arumi? Bertemu wanita lain, menikah dan menjalani biduk rumah tangga bersama istri serta anak-anakmu. Papa pikir semua itu lebih baik daripada meratapi penyesalan yang tiada berujung," papar Putra. Pria itu ikut bersedih melihat kondisi anaknya saat ini. Ia lebih menyukai Mahesa yang dulu, selalu banyak oceh meski terkadang perkataannya sering memancing emosi ketimbang berubah menjadi sosok anak pendiam dan tak banyak bicara.


Mahesa meletakkan kembali bingkai foto warna kuning keemasan ke atas meja, lalu menggerakan roda mendekati jendela kamar. Ia memandangi hamparan persawahan hijau terbentang luas di depan sana. Langit cerah berwarna kebiruan, ditemani sinar mentari yang selalu setia menyinari bumi di belahan dunia manapun. Suasana begitu damai dan syahdu, jauh sekali dengan pemandangan saat masih tinggal di ibu kota.

__ADS_1


"Papa tahu sendiri, sumber kebahagiaanku adalah Arumi. Jika wanita itu tak ada di sisiku, lalu bagaimana aku bisa bahagia!" Tersenyum masam tanpa mengalihkan pandangan dari pemandangan indah di depan sana. "Bila dia tak bisa kudapatkan kembali, maka kebahagiaan ini tidak mungkin kurasakan lagi seumur hidup."


Putra menggelengkan kepala. Tak habis pikir kenapa Mahesa belum mau melupakan mantan istri pertamanya itu, padahal Arumi telah hidup berbahagia bersama suami serta ketiga bayi kembar yang kini telah berusia tiga bulan.


Walaupun Putra dan Mahesa telah tinggal jauh dari kota Jakarta, tetapi ia selalu update tentang kabar terbaru tentang kehidupan Arumi beserta keluarga kecilnya. Ia selalu menanyakan kabar mantan menantunya itu dari dokter Samuel, dokter yang pernah merawat Mahesa saat dirawat di ruang ICU.


"Jangan bicara omong kosong! Papa yakin, kamu dapat bahagia meski tanpa ada Arumi di sampingmu. Asalkan kamu mau dan berusaha melupakan wanita itu, kebahagiaan pasti datang menghampiri."


Mahesa berdecak kesal karena Putra selalu memaksanya melupakan Arumi. "Papa tidak akan pernah mengerti bagaimana rasanya kehilangan orang yang dicintai! Sakit, Pa, saat melihat Arumi bermesraan dengan lelaki lain di depan mata kepalaku sendiri!" Pria itu menyentuh hatinya yang terasa sakit seperti tengah ditikam oleh sebilah pisau tajam.


Suasana hening beberapa saat. Pria tampan yang masih setia duduk di atas kursi roda sedang menikmati kala tangan tak kasat mata menusuk, mengoyak dan mengiris hatinya hingga tersayat beberapa bagian. Kini, ia dapat merasakan bagaimana perasaan Arumi ketika dirinya memadu kasih bersama wanita lain sedangkan status mereka masih menjadi suami istri sah di mata agama dan negara.


Sekelabat bayangan wajah cantik Arumi menari indah di pelupuk mata. Wanita cantik yang selalu hadir, menemaninya di setiap malam dingin nan sunyi. Senyuman manis, tutur kata lembut serta sentuhan tangan penuh cinta masih ia rasakan hingga detik ini. Namun, sayang, tubuh dan cinta wanita itu sudah tak lagi bisa dimiliki karena kebodohannya telah menukar cinta demi seorang anak.


Bodoh! Ia merasa seperti orang terbodoh di dunia ini karena rela membuang wanita yang selalu ada di sisinya saat dia masih berada di titik terendah dalam karirnya. Masih menjadi pegawai rendahan yang tak mempunyai penghasilan serta kekayaan berlimpah ruah. Namun, di saat ia berjaya dengan teganya menyakiti perasaan Arumi hanya demi baktinya kepada sang mama. Sungguh, benar-benar bodoh!


Putra menatap lekat Mahesa dengan tatapan lekat. Dari sorot mata pria itu, ia dapat merasakan betapa hancurnya hati sang anak setiap mengingat kejadian itu. Ia pun tidak bisa menyalahkan Arumi jika mantan menantunya itu membalas perlakuan suami barunya, sebab saat itu ia yakin kalau dokter cantik itu sama sekali tak tahu dari jarak yang tidak terlalu jauh ada sepasang bola mata sedang menatap dengan kilatan mata dipenuhi oleh api cemburu membakar seluruh tubuh.


Tak mau membuat Mahesa semakin bersedih, Putra memilih mengalah dan meninggalkan pria itu berdua bersama perawat yang bekerja untuk menjaga serta merawat anak kesayangannya selama masa penyembuhan.

__ADS_1


Putra bangkit dari kursi sambil merapikan pakaian yang dikenakan. "Baiklah, kalau kamu memang tak mau ikut Papa ke kota. Kamu tinggallah di sini bersama Suster Nadira. Setelah semua urusan di Jakarta selesai, Papa akan segera pulang."


Lantas, Mahesa membalikan badan kemudian menatap punggung sang papa dengan tatapan nanar hingga tubuh renta itu menghilang bersamaan pintu yang tertutup rapat.


"Nadira, saya akan pergi ke Jakarta sebentar. Titip Mahesa dan tolong jaga dia dengan baik!" titahnya pada seorang perawat wanita berusia sekitar dua puluh lima tahun. Ia merupakan tenaga medis setempat yang melamar menjadi perawat homecare di kediaman Putra yang baru.


Dengan lemah lembut Nadira menjawab, "Baik, Pak Putra. Saya akan menjaga Pak Mahesa dengan baik. Bapak tidak perlu mencemaskan keadaannya."


"Kalau begitu, saya pergi dulu. Kalau ada hal urgent, kamu bisa minta tolong ke Pak Abdul, tetangga sebelah rumah."


Nadira mengangguk. Setiap kali Putra pergi ke Jakarta atau kemana pun, pria itu selalu memberitahu dirinya agar meminta tolong kepada pak Abdul. Salah satu mantan karyawan Adiguna Properti yang terkena PHK karena perusahaan properti itu mengalami kebangkrutan besar hingga mau tidak mau sang empunya menggadaikan ke pihak bank untuk mendapat pinjaman. Akan tetapi, perusahaan terus mengalami kemunduran, sebab reputasi perusahan yang dibangun susah payah oleh Putra tercoreng akibat skandal perselingkuhan antara Mahesa dengan mantan model papan atas.


Sang perawat menatap salah satu daun pintu yang tertutup rapat. Sejenak, ia menarik napas dalam, kemudian mengembuskan secara perlahan. Berusaha mengendalikan diri agar tak terlihat gugup saat berdekatan dengan Mahesa.


"Kamu pasti bisa!"


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2