Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil

Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil
Detik-Detik Retaknya Rumah Tangga Arumi


__ADS_3

|| Beberapa jam sebelum retaknya rumah tangga Arumi dan Mahesa ||


Ketika matahari terbit dari ufuk timur, burung-burung sudah terbangun dari tidurnya. Mereka berlomba-lomba mengepakkan sayap mungil untuk mencari makan. Suara kokok ayam ikut memeriahkan suasana di pagi hari.


Di sebuah rumah mewah, seorang wanita berparas cantik jelita baru saja keluar dari kamar mandi. Wajahnya terlihat kurang segar, meski seluruh tubuh sudah terkena guyuran air dingin.


Semenjak ia mendapatkan pesan singkat dan foto-foto mesra sang suami bersama seorang gadis, hati dan pikiran wanita itu tidak tenang. Semalaman ia tidak dapat tidur nyenyak, pikirannya berkelana ke mana-mana. Membayangkan kemungkinan terburuk akan terjadi menimpa rumah tangga yang telah dibina selama lima tahun, membuat kedua bola mata Arumi enggan tuk terpejam.


Arumi membolak-balikan tubuhnya di atas ranjang empuk berukuran king size di sebuah kamar berukuran 6×6 m2. Kamar yang dulu terasa hangat, kini berubah menjadi dingin se-dingin gunung es. Semua kebahagiaan itu kini tergantikan oleh kesedihan yang tak pernah berujung.


Akibat terlalu memikirkan kemungkinan buruk yang akan terjadi di keesokan hari, ditambah pekerjaannya yang tak kunjung usai, lambat laun kedua bola mata indah itu terpejam dan detik berikutnya ia terlelap. Dan tepat pukul tujuh pagi, wanita itu baru terbangun dari tidurnya yang panjang.


Saat ini, sepasang suami-istri yang menurut sebagian orang tampak serasi dengan paras sama-sama rupawan sedang duduk berdua di ruang makan. Sudah lebih dari lima menit ruangan itu sepi senyap, seolah tidak ada tanda-tanda kehidupan. Tidak ada yang berani membuka mulut, mereka diam seribu bahasa.


Arumi sibuk menyuapkan makanan ke dalam mulut sambil sesekali mencuri pandang ke arah suaminya yang tengah sibuk memainkan telepon genggam. Entah apa yang sedang dilakukan oleh Mahesa namun yang pasti saat ini pria itu begitu bahagia. Terlihat dari sudut bibir pria itu yang tak pernah berhenti mengulum senyum indah ketika menatap layar ponsel.


Bosan dengan situasi ini, Arumi menurunkan egonya sedikit untuk memulai pembicaraan. "Bagaimana kabar Mama dan Papa?" tanya Arumi memecah keheningan suasana pagi hari.


Mahesa yang sedang fokus menatap layar ponsel sambil sesekali menyuapkan makanan ke dalam mulut seketika tersedak kala mendapat pertanyaan dari sang istri.


Uhuk!


Sebuah pertanyaan singkat namun menyimpan banyak jebakan. Andai saja Mahesa salah menjawab, bisa-bisa nasib rumah tangga yang dibina bersama Arumi akan berakhir di meja sidang.


"Jangan tergesa-gesa. Tidak akan ada yang merebut makananmu, Mas." Wanita itu menuangkan air putih ke dalam gelas lalu menggesernya ke hadapan Mahesa.


Tanpa membuang waktu, Mahesa langsung meneguk gelas itu hingga tandas. Setelah tubuhnya kembali nyaman dan tidak ada nasi yang masuk lewat jalur napas atau trachea, ia menjawab pertanyaan Arumi. "Kabar Mama dan Papa sehat-sehat saja." Ia meletakkan kembali gelas itu. "Mereka titip salam untukmu."


Wanita itu menganggukan kepala, mulutnya terbuka membentuk huruf O. Namun, kemudian ia menyadari sesuatu. "Sejak kapan orang tuamu perhatian padaku? Setahuku, selama kita menikah sikap mereka acuh bahkan tak pernah menganggapku ada dalam keluarga kalian."


Raut wajah pria itu seketika berubah. Senyuman manis kini tidak terlihat lagi di wajah tampan itu yang ada hanya gerakan yang mengisyaratkan kegelisahan, keringat yang mulai muncul di kening pria itu.

__ADS_1


"Ehm. Itu, maksudku adalah--"


Ketika Mahesa hendak memberikan penjelasan pada Arumi, tiba-tiba gawai milik pria itu berdering. Suara dering ponsel itu menyelamatkannya dari sebuah jebakan yang dibuat sendiri olehnya. Dengan gerakan cepat ia mengambil gawai dan menerima panggilan itu.


"Halo," ucap Mahesa saat telepon genggam itu menempel di telinga. "Oke, aku akan segera ke sana. Aku akan tiba dalam tiga puluh menit lagi."


Mahesa memutus panggilan telepon. Ia bergegas meraih jas yang tersampir di kursi lalu menyambar tas kerja yang ada di samping. "Aku harus berangkat sekarang. Bye!" ujar pria itu tanpa memberikan ciuman yang biasa diberikan kepada sang istri.


Dengan langkah panjang, ia berjalan menuju mobil yang terparkir di depan garasi rumah.


Arumi sudah bersiap membuntuti suaminya itu akan tetapi suara dering ponsel berbunyi. Tanpa melihat ID penelepon, ia sudah tahu bahwa itu adalah panggilan penting dari rumah sakit.


"Halo, Sus!" jawab Arumi saat panggilan telepon tersambung.


"Dokter, pasien di kamar Dahlia kritis. Tanda-tanda vital melemah." Seorang perawat jaga melaporkan kondisi pasien yang beberapa hari lalu dioperasi oleh Arumi.


Wanita itu tampak terkejut ketika mendapat laporan dari rumah sakit. Pasalnya, pasca dilakukan operasi, keadaan pasien menunjukan ke arah lebih baik. Tidak ada komplikasi, tanda-tanda vital membaik tetapi kenapa kondisi pasien saat ini malah menurun.


Tanpa pikir panjang, ia langsung meraih kunci mobil yang tergeletak di atas meja makan. Wanita itu mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi. Untung saja saat itu kondisi jalanan lancar sehingga Arumi bisa sampai di rumah sakit hanya membutuhkan waktu kurang dari empat puluh menit.


"Kondisi pasien su--" ucapan perawat itu menggantung di udara kala suara berat seorang pria dengan intonasi tinggi menyela pembicaraan mereka.


"Dokter Arumi, ikut ke ruangan saya sekarang!" perintah Rayyan dengan sorot mata berapi-api.


Dengan sekali teriakan, wanita bertubuh semampai dengan body bak gitar Spanyol langsung menuruti perintah Rayyan. Ia mengekori pria itu di belakang.


Brak!


Suara gebrakan meja menyambut Arumi saat bokong wanita itu baru saja duduk di kursi di hadapan Rayyan.


"Saya sudah berkali-kali mengingatkanmu agar tetap fokus ketika melakukan operasi. Jangan pernah bermain-main dengan nyawa seseorang!"

__ADS_1


"Kamu tahu, akibat kelalaianmu itu nyaris saja pasien itu meninggal dunia!" bentak Rayyan berapi-api. Kedua bola mata pria itu melotot bahkan nyaris copot dan menggelinding di hadapan Arumi.


"Untung saja saya datang tepat waktu, sehingga kondisi pasien segera ditangani. Kalau tidak, keluarga pasien pasti akan menuntut rumah sakit ini atas tuduhan melakukan malpraktik. Meskipun menurut tenaga medis reaksi yang dialami oleh pasien itu adalah hal wajar terjadi pada beberapa pasien pasca operasi tetapi bagi orang awam, kita tetaplah salah."


"Walaupun kita sudah memberikan penjelasan secara logis, secara medis dan terperinci, tetap saja mereka tidak akan pernah mengerti."


Rayyan begitu frustasi. Ia melempar berkas yang ada di atas meja, kemudian membanting bagian belakang tubuhnya di atas kursi empuk kebangaannya. Rahangnya mengeras, kedua tangan mengepal sehingga ototnya menonjol ke luar.


Wajah Arumi semakin pucat ketika melihat Rayyan melempar berkas-berkas itu dan tak sengaja tangannya menyenggol hiasan yang terbuat dari keramik sehingga hiasan itu terjatuh.


Ia menutup mata dan telinga saat mendengar suara pecahan hiasan keramik itu di atas lantai. Sampai ia berpikir mungkin ini adalah akhir dari perjalanan karirnya sebagai seorang dokter.


"Maafkan saya, Dokter. Namun, ketika saya melakukan operasi, semua sudah sesuai dengan prosedur rumah sakit. Saya tidak--"


"Diam!" bentak Rayyan. Mata pria itu memerah dengan dada kembang kempis, menatap Arumi murka. "Lebih baik kamu pergi dari sini dan jangan pernah menampakkan diri selama satu minggu."


"Kamu, saya istirahatkan selama satu minggu!"


"Tapi, Dok--" Arumi ingin menjelaskan agar ia tidak diistirahatkan selama satu minggu.


"Pergi!"


Dengan berat hati, Arumi pergi dari ruangan itu. Menuruti semua perintah Rayyan tanpa membantah lagi. Bagi wanita itu, percuma saja ia membela diri. Toh kenyataannya, Rayyan akan tetap membenci dirinya walaupun ia sudah melakukan operasi sesuai prosedur rumah sakit.


TBC


.


.


.

__ADS_1


Halo semua, mohon maaf otor baru sempat update. Soalnya lagi sibuk di real life.


Jangan lupa tinggalkan jejak ya kak. Terima kasih. 🥰


__ADS_2