
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Nyimas saat melihat raut wajah Arumi memucat.
Wanita itu baru saja pulang dari acara pertemuan seluruh donatur yayasan panti asuhan bersama teman geng sosialitanya di daerah Bogor. Sejak tadi pagi ia berada di luar rumah sehingga tugas menjaga si kembar dilimpahkan kepada mbak Tini.
Arumi menarik kembali kakinya yang ia luruskan di sofa sebelah sehingga kini kaki jenjang nan mulus itu menjuntai ke bawah. Sedikit menggeser tubuh, dan mempersilakan Nyimas duduk di sebelahnya. "Ma, barusan aku melihat berita di televisi yang mengatakan bahwa apartemen elit di kawasan Jakarta Barat telah terbakar. Ada sekitar dua puluh korban kebakaran, dua di antaranya terluka parah."
"Lalu, apa hubungan kebakaran itu dengan kamu, Nak, sampai membuat wajahmu pucat begini!" Alis Nyimas mengerut, otaknya sedang menebak sendiri apa yang sebenarnya telah terjadi selama ia tak ada di rumah.
Arumi membalikan tubuh menghadap ke arah Nyimas, kini posisi wanita itu berhadapan dengan sang mama. Kemudian ia menjawab, "Unit apartemen itu merupakan kediaman Papa Firdaus dan Tante Lena, Ma. Aku takut hal buruk menimpa mereka."
Nyimas tampak terkejut mendengar ucapan Arumi. Bola mata wanita itu terbelalak sempurna. Suara tercekat dan jantung rasanya berhenti berdetak. Akan tetapi, ia mencoba bersikap biasa saja. Toh belum ada berita terkini terkait nama korban dalam kebakaran tersebut.
Wanita itu berdehem guna menyingkirkan bongkahan kaktus yang menghalang tenggorokan. "Jangan bilang kalau kamu berpikir jika mertuamu itu adalah salah satu korban kebakaran tersebut," tebaknya seraya memicingkan mata ke arah Arumi.
"Namun, sayangnya, aku berpikiran begitu, Ma. Coba Mama bayangkan, bagaimana Papa Firdaus dan Tante Lena bisa menyelamatkan diri dengan kondisi fisik mereka yang sekarang. Kemungkinan melarikan diri dari kobaran api sangat mustahil. Apalagi si jago merah merambat dengan cepat hingga nyaris melahap beberapa unit apartemen yang ada di gedung itu," papar Arumi menjelaskan apa yang ada dalam pikirannya saat ini.
Wanita cantik dalam balutan jilbab warna broken white dipadu dengan long dress navy mencoba menarik napas dalam guna mengendalikan diri agar tak terlihat cemas di hadapan Arumi. Sejujurnya ia pun cukup mencemaskan keadaan besannya itu, namun Nyimas mencoba bersikap tenang dan menyakini diri sendiri jikalau Lena dan Firdaus akan baik-baik saja.
"Ya ... siapa tahu saat kejadian, Jeng Lena dan Pak Firdaus telah dievakuasi oleh dua perawat pribadinya sehingga mereka bisa selamat dari kobaran api. Bukankah kamu bilang sendiri kalau Jeng Lena segera meminta satu orang perawat tambahan untuk merawat Papa mertuamu?"
"Iya, Ma, tapi tetap saja aku tidak yakin kalau dua perawat itu bisa membantu Papa dan Tante Lena pergi dari gedung itu." Arumi masih bersikeras dengan pendapatnya. Entah kenapa, ia seperti mendapat firasat jika mertua serta ibu tiri sang suami tidak dalam keadaan baik-baik saja. "Bagaimana jika mereka memang terluka, Ma, apa yang harus kulakukan?" tanyanya lirih. Wanita itu cukup frustasi. Ia meremas jemari tangan lentik nan panjang itu satu sama lain.
Nyimas beringsut mendekati Arumi hingga tak ada jarak di antara mereka. Ia dapat merasakan bagaimana perasaan anaknya itu saat ini. Lantas, ia mengulurkan tangan menyentuh pundak anak tercinta. "Jangan berpikiran negatif dulu, Nak. Bisa saja apa yang kamu pikirkan tidaklah benar. Kita 'kan belum tahu informasi terkini dari para korban yang selamat. Bisa saja Jeng Lena dan Pak Firdaus selamat." Mengusap lembut berusaha menenangkan Arumi agar tak cemas lagi. "Jangan berpikir terlalu berat, nanti bisa stres. Kalau kamu stres, jatuh sakit, lalu Triplet siapa yang mengurus? Mereka pasti rewel karena Bunda-nya sakit."
Nyimas melirik ke arah jam dinding berbentuk burung merak berwarna keemasan di atas televisi. "Lagipula ini sudah pukul empat sore, waktunya Triplet mandi. Sebaiknya kamu mandikan mereka."
__ADS_1
"Nak Rayyan pun sebentar lagi pulang dari rumah sakit. Jika dia tahu kamu tengah memikirkan Pak Firdaus dan Jeng Lena, pasti di antara kalian berdua terjadi perang ketiga. Mama tidak mau itu terjadi. Kasihan Triplet jika tahu kedua orang tuanya bertengkar." Nyimas memberikan nasihat kecil untuk putri tercinta.
Terdengar helaan napas kasar bersumber dari Arumi. Nyaris saja ia lupa kalau sebentar lagi Rayyan pulang bekerja. Jika tak diingatkan mungkin sekarang ia masih duduk termenung sambil menerka-nerka keadaan Firdaus dan juga Lena.
"Ya sudah, kalau begitu aku ke kamar dulu. Mama jangan lupa istirahat. Pasti lelah sekali 'kan selama beberapa jam duduk di mobil," cetus Arumi sebelum meninggalkan Nyimas.
"Iya. Sebentar lagi Mama ke kamar. Sudah sana, mandikan si kembar!" Nyimas memperhatikan punggung Arumi yang semakin lama menghilang dari pandangan.
Setelah memastikan pintu kamar utama tertutup rapat, Nyimas mengeluarkan benda pipih dari dalam hand bag miliknya. Kemudian mencari nomor seseorang yang dia kenal.
"Maaf, nomor yang Anda tuju sesang tidak aktif atau berada di luar jangkauan. Cobalah beberapa saat lagi." Terdengar suara operator di seberang sana ketika Nyimas mencoba menghubungi Lena.
Hubungan Nyimas dan Lena bisa dikatakan cukup baik. Meskipun kedua wanita itu jarang bertemu karena kesibukan masing-masing, namun mereka tetap menyempatkan diri untuk saling bertukar kabar lewat pesan singkat berwarna hijau. Karena memang Rayyan tak melarang mertuanya bertemu istri kedua Firdaus, tentu saja ia bebas bertemu dengan wanita itu. Kapan pun dan di mana pun Nyimas ingin bertemu ataupun menghubungi Lena walau sekadar say hello, pria keturunan Tionghoa dari pihak sang mama tak 'kan memarahinya.
Namun, beda kasusnya jikalau Arumi yang ada di posisi Nyimas. Rayyan akan marah besar apabila mengetahui istri tercinta menghubungi atau menanyakan kabar Firdaus dan Lena tanpa izin darinya.
"Lebih baik aku mandi saja. Daripada duduk di sini dan pikiranku berkelana ke mana-mana. Setelah relaks, baru aku menghubungi Jeng Lena lagi." Lantas, Nyimas bangkit kemudia melangkah menuju kamar tamu. Tubuh terasa lelah akibat seharian bermain bersama anak-anak panti asuhan. Walaupun capek tetapi hati terasa bahagia karena dapat berbagi kebahagiaan bersama anak-anak kurang mampu dan yatim piatu.
***
Sementara itu, di sebuah rumah sakit yang tak jauh dari tempat kejadian kebakaran, tampak beberapa tenaga medis hilir mudik berlarian ke sana kemari sambil membawa brankar menuju ruang IGD. Suara teriakan, tangisan serta erangan kesakitan menggema ke seluruh penjuru ruangan.
Sore itu, rumah sakit tipe C yang ada di daerah Jakarta Barat menjadi lautan manusia. Banyak korban kebakaran yang dilarikan ke rumah sakit tersebut guna mendapatkan pertolongan pertama. Para dokter, serta perawat yang berjaga saling bekerjasama memberikan pertolongan pada pasien yang membutuhkan.
Dari sekian banyaknya korban yang dievakuasi, dua di antaranya adalah Firdaus dan Lena. Kondisi pasangan suami istri itu cukup memprihatinkan, sedangkan Arman dinyatakan tewas dalam insiden kebakaran. Tubuhnya gosong terbakar bersama dengan surat-surat berharga beserta perhiasan yang dijarah dari kediaman Firdaus.
__ADS_1
Akibat sifat rakus dan tamak membuat Arman menjadi gelap mata bahkan saat ajal menjemput harta kekayaan milik orang lain masih berada dalam dekapan tubuhnya. Namun, semuanya telah menjadi abu tak bersisa sedikit pun. Seandainya saja pagi itu ia tak membuntuti mantan istrinya mungkin saja saat ini pria berambut gondong itu masih dapat menghirup udara segar, memperbaiki diri agar menjadi insan manusia yang lebih baik lagi serta memulai hidup baru terlepas dari bayangan masa lalu sebagai mantan napi (narapidana). Akan tetapi, ia tak memanfaatkan kesempatan yang Tuhan berikan kepadanya. Dia meninggal dalam keadaan mengenaskan.
"Dokter, bagaimana dengan keadaan dua pasien paruh baya korban kebakaran tadi apakah mereka baik-baik saja?" tanya Puspa. Ia segera berhambur mendekati seorang pria paruh baya mengenakan snelli putih yang berdiri di ambang pintu.
Dokter senior menarik napas dalam, kemudian mengembuskan perlahan. "Apakah Anda keluarga pasien?" tanyanya lirih.
Puspa menggeleng cepat. "Bukan, Dokter. Saya perawat pribadi mereka."
"Sebaiknya Anda menghubungi keluarga pasien, sebab kondisi kedua pasien kritis."
Kening sang perawat home care mengerut, menatap dokter senior itu penuh tanda tanya. "Kritis bagaimana, Dok?"
Dokter senior itu terdiam sejenak. "Kedua pasien itu kritis. Mereka mengalami luka bakar di sebagaian wajah. Tangan dan kaki terkena luka bakar serius. Detak jantungnya pun melemah. Saya akan membawa pasien ke ruang ICU, sebab mereka kini dalam keadaan tak sadarkan diri atau mengalami ... koma."
Puspa nyaris kehilangan kata saat mendengar penjelasan dari dokter. Wanita itu merasa bersalah, akibat kelalaiannya menyebabkan unit apartemen milik sang pasien hangus terbakar dan pasangan suami istri itu menjadi korban kebakaran dengan luka bakar paling serius di antara yang lain. Bahkan, satu orang tewas karena kesalahannya.
"Sebaiknya Nona menghubungi keluarga pasien. Saya tak menjamin kedua pasien itu dapat bertahan lebih lama terlebih, kondisi pasien pria terlalu banyak menghirup asap kebakaran dan itu cukup berbahaya bagi kesehatan. Jadi saran saya, segera hubungi keluarga pasien sebelum terlambat."
Tidak ada kata yang terucap. Puspa tak mengira jika keadaan Firdaus dan Lena akan separah itu. Rasa bersalah terus menghantui wanita itu. Seandainya saja dia tidak lupa mematikan kompor, dan lebih teliti lagi mungkin kejadian ini tak menimpa pasangan suami istri itu.
"Saya masih harus mengurus pasien lagi. Permisi, Nona," ucap Dokter itu seraya undur diri dari hadapan Puspa.
Kini tinggallah Puspa seorang diri di depan ruang IGD. Ia termenung sambil menatap lurus ke depan. 'Ya Tuhan, apa yang sudah kulakukan? Kenapa aku bisa mencelakai orang-orang tak berdosa itu?' batinnya.
.
__ADS_1
.
.