
Baik Kayla maupun Putra tidak bisa berkutik lagi. Mulut mereka bungkam seketika, lidah pun terasa kelu tak sanggup berkata. Bagi sang model, tidak pernah terlintas dalam benaknya bahwa dia akan mengemis, memohon bantuan pada wanita yang dulu pernah menjadi perisai baginya tatkala anak-anak panti menghina serta mem-bully dirinya.
Rini yang saat itu menatap Kayla tanpa sengaja melihat gurat kekecewaan terlukis di wajah mantan sahabatnya itu. Tumbuh besar bersama di panti asuhan rupanya membuat ikatan persaudaraan di antara dia, Kayla dan Arumi terjalin erat bahkan orang awan akan mengira jika ketiga wanita itu adalah kakak adik. Namun, siapa sangka hubungan pertemanan yang begitu erat di antara mereka harus kandas hanya karena sebuah pengkhianatan.
"Aku tahu kalian begitu sangat membutuhkan bantuan Arumi. Tapi maaf, baik aku maupun Mas Rio tidak bisa menolong Om Putra dan kamu, Kayla. Kalian ingin tau alasannya apa? Karena aku tidak mau bila Arumi kembali mengingat kejadian di masa lalu. Kejadian di mana dia melihat dengan mata kepalanya sendiri pergumulan panas antara suami dan sahabatnya di sebuah kamar hotel."
"Belum lagi ada peran penting Tante Naila selaku ibu mertua dari Arumi. Itu akan sangat menyakitkan bagi sahabatku. Aku khawatir luka dalam hatinya kembali terbuka lagi, setelah dia berusaha mati-matian mengikhlaskan semua kejadian yang menimpanya di masa lalu."
"Saat ini Arumi sudah bahagia bersama dengan suaminya yang baru. Dan aku mohon, Om Putra maupun kamu, Kay, jangan usik lagi kehidupan sahabatku. Sudah cukup kalian menorehkan luka di dalam hatinya. Kini, biarkan dia menjalani kehidupan rumah tangganya dengan tenang tanpa ada gangguan dari siapa pun," pinta Rini dengan penuh pengharapan.
Luruh sudah air mata yang sedari tadi dibendung oleh Kayla. Teringat akan kesalahannya di masa lalu. Dengan teganya dia menyusun rencana licik bersama Naila untuk mengusir Arumi selamanya dari keluarga Adiguna.
Wanita itu dengan tidak tahu malunya bermain kuda-kudaan bersama Mahesa di sebuah kamar hotel dan mengirimkan pesan misterius pada Arumi agar dokter cantik itu menyaksikan sendiri bagaimana benda pusaka milik sang suami sedang mengoyak inti tubuh sang model.
Kedua pundak Kayla bergerak turun dan naik. Suara isak tangis lirih terdengar oleh indera pendengaran semua orang. Dada wanita itu terasa sesak bagai ditimpa bongkahan batu yang teramat besar.
Sementara Putra hanya tertunduk malu, menyadari kesalahannya sebagai kepala keluarga yang tak bisa membimbing Naila agar menjadi istri, ibu dan mertua yang baik. Dia malah bungkam dan membiarkan sang istri terus menerus melakukan kesalahan.
"T-tapi ... aku menyesal, Rin, karena sudah menghancurkan rumah tangga Arumi. Aku sudah menerima semua balasan yang kuperbuat di masa lalu. Semua yang kumiliki telah diambil kembali oleh Sang Pencipta. Di dunia ini, hanya Mas Mahesa yang kumiliki," ucap Kayla di sela isak tangisnya.
Tangisan itu begitu menyayat kalbu, seolah ribuan jarum menusuk hati bagi siapa saja yang mendengarnya. Namun, tidak bagi Rio. Pria itu hanya tersenyum smirk menyaksikan drama langka, di mana kakak angkat dari mendiang sang papa serta mantan sahabat istrinya menyesali semua kesalahan yang pernah diperbuat di masa lalu.
__ADS_1
'Ujian ini tidak ada apa-apanya di banding dengan pengkhianatan yang pernah kalian lakukan terhadap Arumi,' batin Rio.
Rini menarik napas dalam. Situasi ini sukses membuat suasana hatinya berubah-ubah. Tanpa sadar, jemari lentik itu mengusap lembut perutnya yang masih datar.
'Sabar ya, Sayang. Kita selesaikan masalah ini dulu. Setelah itu baru kita istirahat,' ujar Rini dalam hati, meminta janin dalam kandungannya bisa diajak kerjasama.
Melihat air mata Kayla jatuh berderai, membuat Rini ingin sekali memeluk tubuh rapuh itu dalam dekapan. Mengusap punggung adik kecilnya seraya mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja. Akan tetapi, dia berusaha meredam egonya untuk melakukan itu semua sebab pengkhiatana Kayla telah merusak hubungan persahabatan di antara mereka.
"Kalau kamu menyesal, kenapa tidak menemui Arumi sendiri dan meminta maaf padanya secara langsung. Bukan malah kamu mengutarakannya di hadapanku. Kamu itu punya salah sama dia, bukan kepadaku, Kay."
"Seharusnya kamu datangi dia, minta maaf baik-baik padanya. Asalkan kamu meminta maaf dengan bersungguh-sungguh dan merubah sikapmu, aku yakin, Arumi pasti memaafkan." Rini menjeda kalimatnya sejenak, lalu kembali berkata. "Kamu pasti tahu 'kan, bagaimana hati mantan sahabatmu itu?"
"Ya! A-aku tahu. D-dia ... adalah wanita baik yang memiliki hati bersih seputih kapas dan selembut sutera. Dia sahabat yang selalu menjadi perisaiku di saat orang lain menghina dan mem-bully-ku," kata Kayla lirih dengan suara tercekat. Wanita itu kembali terisak, menyesali kesalahannya terhadap Arumi. Akibat bujuk rayu setan, hingga dia tega merampas kebahagiaan orang lain. Kini hanya ada penyesalan menyelimuti diri.
"Maafkan aku dan Mas Rio yang tak bisa menolong Om Putra dan kamu, Kay. Kami hanya bisa mendoakan, semoga secepatnya Mas Mahesa lekas sadar dari komanya," tutur Rini.
Putra tersenyum samar, berusaha menerima kenyataan pahit jikalau ternyata keponakannya sendiri pun tak bisa menolongnya.
Pria itu melirik ke arah Kayla yang masih terisak. Melihat menantu yang dulu diharapkan dapat memberikan kebahagiaan pada keluarga Adiguna, namun ternyata dia tak bisa mewujudkan keinginannya untuk menimang cucu.
"Sudahlah, Kay, hentikan air matamu. Tidak ada gunanya menyesali semua yang telah terjadi," ucap Putra mencoba menasihati menantunya itu. Meski sejujurnya dia pun sedang menasihati dirinya sendiri agar ikhlas menerima semua ujian yang Tuhan berikan pada pria itu.
__ADS_1
Setelah Putra mengucapkan kalimat itu, Kayla pun menuruti perintah sang mertua. Tubuh wanita itu tak lagi gemetar seperti tadi. Dia sudah dapat menguasai diri.
Jemari lentik nan mungil milik Kayla mengusut sisa bulir air mata di sudut mata. Wanita itu menarik napas, kemudian mengembuskan secara perlahan. "Baikalah, kalau begitu aku akan mencari waktu tepat untuk bertemu Arumi. Meminta maaf padanya atas semua kesalahanku di masa lalu."
Rini tersenyum hangat seraya menatap bola mata Kayla yang memerah akibat menangis. Dari sorot mata itu, dia dapat melihat bahwa mantan sahabatnya itu telah berubah dan menyesal telah mengkhianati pesahabatan yang telah dibina puluhan tahun lamanya.
"Jadilah insan manusia yang baik, Kay. Jangan pernah melakukan kesalahan yang sama, sebab hidup di dunia ini cuma sekali. Kamu akan rugi jika tidak memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya."
Kemudian, Rini bangkit dari sofa secara perlahan. Merentangkan kedua tangan ke samping. Detik itu juga Kayla berhambur dalam pelukan. Melingkarkan tangan di punggung mantan sahabatnya.
"Maafkan aku, Rini. Maafkan aku ...." ucap Kayla lirih.
"Kudoakan, semoga kamu berhasil mendapatkan maaf dari Arumi." Rini mengusap punggung Kayla lembut. Kayla tak sanggup berkata, dia hanya dapat menganggukan kepala sebagai jawaban.
Setelah sesi berpelukan, Kayla dan Putra pamit meninggalkan kediaman Rio. Kini, hanya tersisa Rini dan Rio di ruang tamu. Kedua insan manusia itu saling menatap satu sama lain. Lalu, detik berikutnya mereka tersenyum.
"Kita lanjutkan makan malam yang tertunda." Rio melingkarkan tangan di pinggang sang istri. Kedua insan manusia itu melangkah masuk ke dalam ruangan.
.
.
__ADS_1
.