Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil

Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil
Suasana Haru


__ADS_3

Mendadak rasa gugup melanda ketika mobil yang dikendarai oleh arumi mendekati perumahan di kawasan Tangerang Selatan. Walaupun bukan merupakan perumahan elite tetapi tetap saja kawasan itu berada di dekat ibu kota Jakarta dan lokasinya pun cukup stategis.


Rumah dengan konsep minimalis modern dibangun di atas tanah seluas 100×50 m2. Terdiri dari dua lantai dan memiliki empat kamar tidur. Selain itu, di bagian depan rumah ditumbuhi tanaman hijau serta pepohonan yang menjulang tinggi ke atas sehingga rumah itu terlihat lebih sejuk dan asri.


Di rumah itu, Arumi menghabiskan masa remajanya dengan penuh cinta dan kasih sayang. Kedua orang tua angkat wanita itu begitu memanjakannya seperti anak kandungnya sendiri.


Perasaan wanita itu semakin tak menentu ketika mobil miliknya memasuki sebuah gerbang yang menjulang tinggi ke atas awan. Seorang security membukakan pintu setelah mengetahui bahwa putri dari si pemilik rumah datang.


"Selamat sore, Mbak Arumi," sapanya hormat.


"Selamat sore, Pak," jawab Arumi ramah. Walaupun suasana hatinya sedang kacau, tetapi ia tetap berusaha untuk tersenyum di hadapan orang banyak.


Arumi turun dari mobil, seorang asisten rumah tangga berdiri di ambang pintu. Wanita berusia setengah abad itu tersenyum ramah menyambut kedatangan putri majikannya.


"Mbak Arumi!" serunya sambil berhambur dalam pelukan wanita itu.


"Mbok. Bagaimana kabarnya?"Arumi membalas pelukan itu. Ia memeluk erat tubuh Mbok Darmi, asisten rumah tangga Nyimas.


Mbok Darmi sudah dianggap seperti keluarga sendiri oleh Arumi sebab sejak wanita berambut panjang tergerai itu remaja, Mbok Darmi juga turut andil dalam memberikan kasih sayang padanya.


"Alhamdulillah, Mbak. Mbok sehat-sehat saja. Duh, si Mbok kangen sekali. Sudah lama, Mbak tidak main ke sini," ujar wanita itu setelah mengurai pelukannya. Kemudian ia membawa tubuh Arumi masuk ke dalam rumah.


"Benar, Mbok. Aku terlalu sibuk bekerja hingga tak ada waktu luang untuk datang ke rumah ini." Arumi sedikit tersindir oleh ucapan Mbok Darmi. Namun, ia sadar semua yang dikatakan oleh wanita itu benar adanya. Sudah lama sekali ia tidak datang berkunjung ke rumah Nyimas.


Melihat raut wajah Arumi berubah, Mbok Darmi sadar bahwa ia telah menyinggung perasaan putri majikannya itu. Tak ingin suasana menjadi kelabu, ia mengalihkan pembicaraan.


"Sudahlah. Ayo masuk! Mbok ajak Mbak Rumi menemui Bu Nyimas." Ia menarik tangan Arumi. Kedua wanita itu melangkah masuk ke dalam ruangan.


Tiba di taman belakang, Mbok Darmi melepaskan tangannya. Ia berjalan perlahan menghampiri sang majikan. "Bu Nyimas, Mbak Arumi datang ke sini," bisiknya lembut di telinga sang majikan.

__ADS_1


Di atas ayunan yang terbuat dari rotan, seorang wanita paruh baya sedang tertidur lelap. Di atas pangkuannya terdapat sebuah foto album yang berisi kenangan saat mendiang suami tercinta masih ada di bumi ini.


Ia mengerjapkan mata kemudian melirik ke arah Arumi. Seulas senyum tersungging di bibir wanita itu. "Rupanya kamu sudah tiba di sini. Mama pikir masih di jalan."


Arumi tersenyum getir ketika melihat sisa cairan kristal mengering di sudut mata sang mama. Entah mengapa hatinya terasa sakit melihat pemandangan itu. "Tuhan, mungkin kah selama ini tanpa kusadari aku telah berbuat zalim kepada Mama? Aku telah menelantarkan beliau sehingga Engkau menegurku dengan cara yang teramat indah." batinnya.


Tanpa disadari, air mata Arumi jatuh membasahi pipi. Cairan bening itu kembali mengguyur wajahnya sama seperti air hujan yang saat ini sedang turun, mengguyur kota Tangerang.


Nyimas bangkit dari ayunan, berdiri di hadapan Arumi. Kemudian ia merentangkan kedua tangan. Tanpa mengucapkan kata-kata, putri angkatnya itu berhambur dalam pelukan.


"Maafkan Arumi karena sudah menelantarkan Mama. Arumi terlalu sibuk hingga melupakan tugas dan kewajiban sebagai seorang anak." Suara isak tangis menyayat kalbu terdengar di sela-sela suara petir yang menggelegar. "Sungguh, Arumi menyesal telah menyia-nyiakan Mama."


"Anak nakal! Mana mungkin Mama marah hanya karena kamu jarang berkunjung ke rumah ini. Kamu pasti salah paham kenapa album ini ada di atas pangkuan Mama 'kan?" tanyanya sambil menuntun Arumi duduk di kursi yang letaknya tidak jauh dari ayunan rotan.


"Mama cuma kangen sama Papa kamu. Kita sudah lama tidak berziarah ke makam Papa." Nyimas mengusap pundak sang anak dengan lembut.


"Lalu, kenapa ada sisa air mata di sudut mata Mama?" tanya Arumi. Ia masih sesegukan di samping Nyimas. Pundaknya turun-naik secara bergantian.


"Mama jangan bohong," ucapnya lirih. "Kalau bohong nanti hidungnya panjang loh seperti Pinokio!"


Nyimas terdiam beberapa saat, lalu membawa tubuh Arumi dalam pelukan. Mengusap punggung anaknya dengan penuh cinta.


Sejak dulu, Nyimas memang sulit menyembunyikan sesuatu dari Arumi. Anaknya itu sangat peka terhadap hal sekecil apa pun. Hingga ia dan Zidan tak dapat berbohong di depang wanita itu.


"Andaikan kamu tahu saat ini Mama berbohong, tolong berpura-pura-lah tidak menyadarinya. Anggap saja kamu tidak tahu bahwa saat ini Mama sedang bersedih karena sedang merindukan kehadiran suami dan anak tercinta." Air mata yang sejak tadi ditahan, akhirnya tak dapat dibendung lagi. Ia pun ikut larut dalam suasana.


Kedua wanita itu menangis. Mencurahkan isi hati lewat tangisan. Mereka menangis bukan karena lemah melainkan mencoba untuk menjadi lebih kuat. Bukan kah menagis juga merupakan salah cara untuk menyingkirkan perasaan tak nyaman dalam diri?


Mbok Darmi yang sedari tadi berdiri di ambang pintu sambil membawa nampan berisi cemilan dan minuman hangat ikut larut dalam suasana haru. Melihat pemandangan itu membuatnya merindukan putra semata wayangnya yang sedang bekerja di rantau orang. Perlahan, air mata wanita itu meleleh di antara kedua pipi.

__ADS_1


"Aku jadi merindukan Karto. Bagaimana kabar cah lanang itu?" gumam Mbok Darmi. "Pokoknya nanti malam aku harus meneleponnya.


***


Setelah drama yang mengharu biru. Nyimas dan Arumi duduk di sofa ruang keluarga. Mereka sedang menonton acara televisi sambil menunggu waktu makan malam.


Ketika sedang asyik menonton sinetron yang disiarkan oleh salah satu saluran televisi nasional, Nyimas teringat sesuatu. Ia menatap Arumi dengan intens kemudian berkata, "Mama hampir lupa menanyakan sesuatu padamu."


Arumi melirik ke samping sekilas. Ia mengernyit. Entah mengapa kali ini perasaan wanita itu tidak tenang seolah sesuatu akan terjadi hari ini. Namun, Arumi segera menyingkirkan perasaan itu jauh-jauh. Ia mencoba berbaik sangka dan berpikir positif sebelum Nyimas mengatakan sesuatu padanya.


Dengan ragu Arumi berucap, "Mama mau bertanya apa?"


"Beberapa hari yang lalu Mama menelepon rumahmu dan menanyakan keberadaan Mahesa sebab teman arisan Mama berencana membeli rumah untuk anaknya sebagai kado pernikahan. Ya, siapa tahu kalau Mama berbicara empat mata dengan suamimu, ia akan memberikan potongan harga," kekehnya.


"Mama menelepon ke nomor ponselnya tetapi tidak pernah diangkat. Oleh karena itu Mama coba menelpon ke rumahmu tapi kata Bi Lina, Mahesa sudah lama tidak pulang ke rumah," ucap Nyimas panjang lebar.


Wanita itu menghentikan sejenak ucapannya. Ia menghela napas panjang lalu menatap lekat ke manik coklat milik sang anak. "Apakah kalian sedang bertengkar?"


Arumi meremas jemarinya dan menundukan kepala. Ia takut Nyimas melihat matanya mulai berkaca-kaca lagi.


Kedua iblis dalam dirinya sedang berperang antara mengungkapkan kebenaran atau terus menutupinya hingga batas waktu yang tak ditentukan. Apabila ia memilih terus menutupi, maka konsekuensinya wanita itu akan tetap terbelenggu dalam ikatan pernikahan yang tak suci lagi.


Ia menghela napas panjang dan mendongakan kepala. Menggenggam erat ujung pakaian yang dikenakan. Mengumpulkan keberanian untuk berkata yang sejujurnya.


"Ma, seandainya aku bercerai dari Mas Mahes, apakah Mama akan mendukung keputusanku?" tanyanya lirih.


TBC


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2