Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil

Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil
Rencana Lamaran


__ADS_3

Tepat pukul tujuh malam, Rayyan telah tiba di apartemen yang sengaja ia beli sebagai kado pernikahan untuk istri tercinta. Rayyan membeli apartemen tiga kamar tersebut atas sepengetahuan Arumi. Wanita itu juga-lah yang mendekorasi seluruh ruangan yang ada termasuk kamar utama. Kamar yang akan menjadi saksi penyatuan dua insan manusia dalam sebuah ikatan suci pernikahan.


Rayyan memang sengaja meminta pendapat calon istrinya itu, sebab di tempat itulah ia dan Arumi akan mulai membangun sebuah keluarga. Pria itu ingin melibatkan Arumi dalam situasi apa pun. Ia tak mau seperti Firdaus, pria egois yang selalu ingin dituruti keinginannya oleh orang lain.


Perlahan, ia melangkah mendekati saklar lampu lalu menyalakannya hingga ruangan gelap gulita kini menjadi terang benderang.


Pria itu mengedarkan pandangan ke sekeliling. Seulas senyum terlukis di wajah kala melihat sebuah foto berukuran besar menempel di dinding. Foto ia dan kekasih tercinta saat mereka tengah menghadiri seminar kesehatan di daerah Bandung.


"Kamu terlihat cantik meski saat itu dirimu masih diselimuti kesedihan pasca perpisahan dengan mantan suamimu."


Rayyan tersenyum. Mengingat setiap momen bersama Arumi. Banyak kesempatan yang dilalui oleh mereka berdua setiap kali diminta rumah sakit untuk menghadiri acara seminar di luar kota.


Pergi berjalan berdua setiap kali ada kesempatan sambil menikmati keindahan kota di mana ia dan Arumi menjadi peserta seminar. Mungkin sebagian orang akan beranggapan Rayyan adalah pria kere karena ia tidak pernah mengeluarkan modal setiap kali pergi berlibur ke luar kota. Namun, apakah salah jikalau ia mengambil kesempatan dalam kesempitan? Lagi pula, ia dan Arumi tetap profesional jika sedang terlibat dalam berbagai kegiatan selama acara seminar berlangsung.


"Aku sudah tak sabar ingin segera memilikimu seutuhnya Rumi." Berbicara sendiri, seolah Arumi ada di hadapannya.


Jiwa semakin bergejolak. Hasrat untuk memiliki Arumi semakin mengebu-ngebu. Tak ingin terus menunda niatan baik tersebut, Rayyan segera mengeluarkan gawai dari saku celana. Lalu menghubungi sahabat karibnya yang bernama Rio.


"Rio, akhir pekan nanti apakah kamu ada acara?" tanya Rayyan tanpa basa basi. Pria itu langsung menyampaikan maksudnya menghubungi Rio.


Rio--yang saat itu tengah duduk santai seraya memakan pisang goreng keju buatan Rini mengernyitkan kening, bingung mengapa tiba-tiba saja Rayyan meneleponnya hanya sekadar untuk menanyakan agenda kegiatan di akhir pekan.


Tak mendapatkan respon dari sahabatnya, Rayyan memejamkan mata seraya menghela napas panjang.


"Rio, kamu masih hidup kan?" tanya Rayyan sinis. Ia kesal karena sahabatnya itu tak memberikan respon sama sekali.


"Sialan kamu, Ray!" bentak Rio. "Sembarangan saja kalau bicara."


"Ada apa kamu menanyakan agendaku akhir pekan ini?" Pria di seberang sana membenarkan posisi duduk. Bahkan, ia mengecilkan volume televisi agar suara Rayyan dapat terdengar jelas.

__ADS_1


Dengan penuh keyakinan, Rayyan berucap, "Aku berniat meminang Arumi akhir pekan ini. Dan aku butuh seseorang untuk mendampingiku menghadap Tante Nyimas."


Sontak, Rio tersedak pisang keju yang akan dimakan olehnya. Mendengar rencana Rayyan untuk meminang Arumi membuatnya syok. Bola mata pria itu melebar sempurna dengan rahang terbuka lebar. Bahkan, ia nyaris saja menjatuhkan garpu dalam genggaman ke lantai.


Rio terbatuk sambil menepuk dada, membuat Rini yang duduk manis di sebelah suami mengambilkan air di atas meja.


"Mas, kamu baik-baik saja?" Wanita itu membantu mengusap punggung suami tercinta.


Rio meraih gelas itu, meneguknya hingga menyusut setengahnya. "Terima kasih," ucapnya lirih.


Setelah semuanya kembali normal, Rio berdehem sebelum membuka suara.


"Kamu serius, Ray?" tanya Rio penuh selidik. "Meminang anak orang merupakan perkara serius yang perlu dipikirkan matang-matang, sebab itu merupakan langkah pertama mengawali sebuah hubungan yang lebih serius lagi. Aku tidak mau kamu hanya terbawa suasana saja lalu mengambil keputusan dalam keadaan tidak sadar."


Rini melirik ke arah Rio, memperhatikan gerak gerik pria itu sedari tadi. Wanita itu menyadari ada sesuatu yang tidak beres, membuatnya penasaran.


"Mas, coba gunakan tombol loudspeaker, aku ingin tahu kalian sedang membicarakan apa," pinta Rini pada Rio.


"Aku tahu kamu pasti syok mendengar kabar ini. Namun, aku tak dapat menundanya lagi. Aku ingin segera menghalalkan hubungan yang tengah kujalani bersama Arumi."


"Aku dan Arumi sama-sama telah dewasa. Kami memang bisa menahan gejolak dalam diri masing-masing tapi entah sampai kapan benteng pertahanan itu akan berdiri kokoh!"


"Daripada aku khilaf dan malah melakukan dosa besar, lebih baik aku menyegerakan niatan suci ini untuk menjadikan Arumi sebagai istriku. Oleh karena itu, aku ingin memintamu dan juga Rini beserta Mamamu untuk mendatangi rumah calon mertuaku."


"Kamu tahu sendiri, bagaimana hubunganku dengan Papa dan Mama tiriku. Kami tidak pernah akur. Di dunia ini, hanya kamu dan keluargamu yang kumiliki. Sementara saudaraku dari pihak Mama sudah tak pernah terjalin komunikasi di antara kami. Aku malu jika tiba-tiba meminta mereka datang ke Jakarta untuk membantuku meminang Arumi," papar Rayyan panjang lebar.


Suara jerit histeris memekikan gendang telinga. Rini begitu gembira mendengar kabar kalau Rayyan akan segera meminang Arumi. Bola mata wanita itu berbinar bahagia. Hatinya benar-benar berbunga-bunga seperti orang yang baru saja menang lotre.


"Sst!" Rio menempelkan jari telunjuk di depan bibir. "Jangan teriak! Nanti aku tidak mendengar si Kutub Utara itu bicara apa." Mencoba mengingatkan agar Rini tak hilang kendali.

__ADS_1


Rini tersenyum sambil mengangkat tangan ke udara. Jari telunjuk dan ibu jari membentuk huruf O.


Di seberang sana Rayyan sampai menjauhkan telepon genggam miliknya akibat suara jerit histeris Rini yang sangat keras.


"Minta istrimu jangan kencang-kencang kalau berteriak. Membuat gendang telingaku sakit!" protes Rayyan seraya mendengus kesal. Meski begitu, ia tetap melanjutkan percakapannya.


"Bagaimana, kamu bersedia 'kan membantuku? Aku janji, setelah ini tidak akan menyusahkanmu dan keluargamu lagi."


Rio menghela napas panjang. Sejujurnya, ia turut bahagia mendengar niat baik Rayyan untuk meminang Arumi. Akan tetapi, ia tak menyangka Rayyan akan melakukan itu tepat dua hari setelah sahabat dari istrinya melewati masa iddah.


"Mas, bantuin lah itu sahabatmu. Lamarkan Arumi untuk menjadi istri Rayyan," rengek Rini seraya menggoyangkan tangan di paha sang suami. Wanita itu memasang puppy eyes, berharap agar Rio luluh dan mau membantu Rayyan. Padahal, tanpa dibujuk pun pria itu bersedia membantu sahabatnya.


"Oke, aku bersedia membantumu. Akhir pekan, kita semua akan datang ke rumah Tante Nyimas," ujar Rio tegas.


"Tunggu!" sergah Rayyan cepat. "Aku ingin, acara lamaran itu sekaligus menjadi acara pertunangan kami berdua."


Lagi-lagi, perkataan Rayyan membuat Rio dan Rini terkesiap beberapa saat. Namun, buru-buru mereka berdua mengembalikan kesadarannya.


"Baik, kalau itu maumu. Aku dan keluargaku akan menyiapkan seserahan dan keperluan lain untuk acara lamaran dan pertunangan nanti. Kamu tinggal mencarikan cincin yang bagus untuk Arumi."


Rayyan tersenyum, seraya berkata, "Siap! Aku akan mencarikan cincin paling mahal khusus untuk calon istriku. Terima kasih, Rio."


Akhirnya, sambungan telepon itu terputus. Seulas senyuman terlukis di wajah pria itu. Hatinya berbunga-bunga karena sebentar lagi impiannya menikahi Arumi segera terwujud.


"Semoga kamu bahagia atas kejutan lamaran yang kuberikan nanti."


.


.

__ADS_1


.



__ADS_2