
Tiga Bulan Kemudian
Hari ini, bertepatan dengan tanggal 14 Februari, genap satu tahun usia pernikahan Arumi dan Rayyan. Telah banyak lika liku kehidupan rumah tangga mereka lalui bersama, baik suka maupun duka pasangan suami istri itu hadapi bersama tanpa melepaskan genggaman tangan satu sama lain. Terlebih, kehadiran si kembar tiga semakin menguatkan cinta di antara dua orang dewasa itu.
Arumi sengaja bangun pagi, ia berencana membuat kue ulang tahun yang dibuat sendiri oleh jemari lentik wanita itu. Beruntungnya ada Nyimas di rumah sehingga sang mama dapat membantunya menjaga si kecil jika sewaktu-waktu mereka menangis karena kehausan ataupun buang air.
Wajah semakin sumringah kala melihat hasil karyanya telah terpampang nyata di depan mata. Ini adalah wedding anniversary pertama bagi ia dan suami. Oleh karena itu, ibu tiga bayi kembar identik secara khusus membuat kue ulang tahunnya sendiri tanpa dibantu oleh siapa pun.
"Perfect!" ucap wanita itu kala meletakkan satu buah lilin ulang tahun berbentuk angka satu di atas kue. Ia merasa puas atas hasil akhir dari kue yang dibuat olehnya sendiri. Semoga tidak mengecewakan, begitu pikir Arumi.
Lantas, ia meraih telepon genggam miliknya yang diletakkan di atas meja makan. Sengaja membawa serta benda berbentuk pipih itu saat ia tengah membuat kue ulang tahun untuk mengintip resep yang dibagikan oleh para koki di salah satu aplikasi pemutar video.
"Halo, Mas. Jam berapa kamu pulang ke apartemen?" tanyanya saat sambungan telepon terhubung. Tak ada waktu untuk menunggu terlalu lama. Maka dari itu, ia memilih menghubungi suaminya secara langsung daripada mengirimkan pesan singkat yang entah kapan akan dibalas oleh Rayyan.
Suara serak khas orang bangun tidur menyahut, "Mungkin pukul dua belas siang, Babe. Satu jam lagi, aku ada operasi besar sampai pukul sebelas siang. Setelah itu, barulah bisa pulang ke apartemen." Sejak semalam, pria bermata sipit itu tidak pulang ke apartemen. Ada banyak operasi besar yang ditangani olehnya bersama tim.
Sebenarnya, Arumi pun terlibat dalam tindakan operasi besar yang dipimpin langsung oleh sang suami, namun karena Ghani demam membuat Rayyan meminta istrinya untuk tinggal di rumah merawat si sulung hingga benar-benar sembuh dari sakitnya. Sebagai istri dan ibu yang baik, tentu saja Arumi setuju atas keputusan yang dibuat oleh ketua tim sekaligus suaminya sendiri.
Si cantik Arumi kembali berkata, "Oh begitu rupanya. Kupikir, pagi ini kamu sudah bisa pulang." Suara wanita itu terdengar kecewa karena tak bisa segera memberikan kejutan kecil untuk suami tercinta.
Rayyan bangkit dari pembaringan, membuka gorden ruangan khusus yang biasa ia gunakan untuk beristirahat. Sinar mentari kembali bersinar terang menerangi bumi. Langit cerah, suara cicit burung saling menyahut bagaikan alunan melodi indah yang memanjakan indera pendengaran.
"Tumben sekali kamu meneleponku sambil menanyakan kapan aku pulang." Memicingkan mata, menatap tajam ke sisi kanan seakan di depan sana ada sosok sang istri tengah duduk manis di tepian ranjang.
Lalu, tiba-tiba sebuah palu besar menghantam kesadarannya. Dengan sedikit cemas pria itu bertanya. "Babe, apakah ini semua berkaitan dengan Dage? (Sebutan kakak laki-laki tertua dalam bahasa Mandarin). Apakah demamnya semakin tinggi sampai 38°C? Karena itulah kamu menanyakan kapan aku pulang, begitu?" cecar Rayyan tanpa memberikan kesempatan pada Arumi untuk membuka suara. "Jika iya, aku segera pulang menjemput kalian. Kita bersama-sama membawa Dage ke rumah sakit."
__ADS_1
Rayyan sudah bersiap meraih kunci mobil yang ada di dalam laci meja kerja, tetapi suara lembut di seberang sana menghentikan aktivitasnya.
"Jangan mencemaskan keadaan Dage, dia baik-baik saja. Tadi subuh, panasnya sudah turun. Alhamdulillah, setelah dikompres dan kuberikan ASI akhirnya demamnya turun."
Terdengar helaan napas penuh kelegaan di seberang sana. Raut wajah penuh kecemasan semakin memudar tergantikan oleh sebuah senyuman samar di sudut bibir.
Untuk pertama kalinya, si sulung mengalami demam dan itu membuat Rayyan beserta Arumi kelimpungan. Walaupun mereka berkecimpung di dunia medis, yang terbiasa mengobati serta merawat pasien sakit tetapi ini merupakan pengalam pertama bagi keduanya melihat buah hati tercinta sakit sehingga cukup membuat pasangan muda itu kebingungan. Beruntungnya ada Nyimas yang cukup berpengalaman sehingga Ghani dapat ditangani dengan segera.
"Syukurlah kalau begitu," ucap Rayyan lirih. Pria itu terduduk lemah di atas kursi kebangaannya. Nyaris saja ia berlari menuju parkiran VVIP dan melajukan kendaraan roda empat dengan kecepatan tinggi demi menjemput istri beserta anak tercinta dan membawa ke rumah sakit. "Jika memang bukan berkaitan dengan Ghani, lalu untuk apa menanyakan kapan aku pulang, hem?"
Arumi terkikik pelan saat mendengar pertanyaan Rayyan. Ia sangat yakin jikalau pria di seberang sana lupa bahwasanya hari ini adalah hari bersejarah bagi mereka berdua.
Terlalu sibuk mengurusi pekerjaan, tanggung jawab yang semakin banyak terkadang membuat seseorang melupakan sesuatu hal penting dalam hidupnya, begitu pun dengan Rayyan. Pria berwajah oriental itu lupa kalau hari ini, tepat satu tahun lalu, ia mengikrarkan janji suci di hadapan semua orang untuk menjadikan Arumi sebagai istri serta ibu bagi anak-anaknya kelak.
Yakin kalau Rayyan benar-benar lupa kalau hari ini adalah anniversary yang pertama, Arumi sengaja mengerjai suaminya itu. Maka, ia mulai memainkan perannya sebagai aktris dadakan.
Wajah yang rileks kembali tegang. Kembali mengingat kalimat yang telah diucapkan olehnya barusan. Kenapa nada bicara Arumi terdengar kesal sekali. Mungkinkah dirinya melakukan sebuah kesalahan tanpa disadari olehnya?
Dengan tergagap disertai keringat dingin yang mulai bercucuran, Rayyan berkata. "B-bukan begitu maksudku, Babe. A-aku ... sama sekali tidak keberatan kalau kamu menginterogasiku. Sungguh!"
Senyuman samar di wajah Arumi terlukis kala mendengar ucapan Rayyan. 'Rasakan kamu, Mas. Emang enak aku jailin!' batinya.
Arumi berdehem, lalu berkata. "Ya sudah, pokoknya aku tidak mau tahu. Setelah semua pekerjaanmu selesai, kamu langsung pulang ke rumah! Jangan sampai terlambat. Oke?" Wanita itu sengaja menekankan kalimat terakhir, sebagai ultimatum agar suaminya segera pulang setelah segala urusan pekerjaan selesai ditangani.
"Oke, Babe. Aku pasti pulang tepat waktu. Tunggu aku kembali."
__ADS_1
Usai mengucapkan salam, akhirnya sambungan telepon terputus. Di saat itu pulalah suara tawa Arumi menggema memenuhi dapur. Ia sudah tak sanggup lagi menahan diri untuk tidak tertawa.
"Aku yakin, wajah Mas Rayyan barusan tampak begitu cemas. Ia pasti berpikir jikalau diriku marah betulan kepadanya." Suara tawa wanita itu kembali menggema. Tangannya menyentuh bagian perut yang terasa sakit akibat tertawa terbahak. Hari ini ia benar-benar merasa bahagia karena tanpa sengaja sukses mengerjain suaminya. Anggap saja sebagai uang muka sebelum ia meminta kado perayaan pernikahan kepada sang suami.
Mendengar suara tawa begitu nyaring dari arah dapur, Nyimas melangkah mendekati suami suara. Tangan kanan menggendong Zavier yang tampak asyik bercelotoh sendiri. Entah apa yang dibicarakan oleh bayi berumur tiga bulan itu, hanya dia dan Tuhan saja yang tahu.
"Arumi! Kamu kenapa, Nak?" tanya Nyimas setelah tiba di dapur. Melihat anaknya tertawa terpingkal, membuat wanita paruh baya itu jadi penasaran.
Refleks, Arumi menoleh ke arah Nyimas. Netra wanita itu menangkap sosok bayi mungil tampan tengah tersenyum ke arahnya. Pemilik mata sipit tersenyum lebar kala melihat ibunda tercinta menatapnya penuh dengan cinta.
Ibu dari tiga bayi kembar menyeringai sambil menggaruk kepalanya tidak gatal. "Aku baik-baik saja kok, Ma. Tadi, ada hal kecil yang membuatku tertawa."
"Kamu itu, ya. Selalu saja membuat Mama cemas. Mama pikir kamu frustasi karena gagal membuat kue ulang tahun untuk Nak Rayyan," cibir Nyimas.
"Iih, si Mama. Memangnya Mama pikir, aku ini tipe orang yang mudah putus asa hingga tertawa tidak jelas seperti orang gila. Maaf nih, ya. Nyonya Rayyan bukanlah tipe wanita lemah yang mudah putus asa hanya karena hal sepele."
Arumi melangkah mendekati Nyimas, lalu tangannya terulur ke depan. Ia membawa tubuh mungil Zavier dalam gendongan. Menciumi pipi gembul si gembul dengan sangat gemas. "Arumi yang sekarang berbeda dengan yang dulu. Manis pahit kehidupan telah aku cicipi sehingga membuatku tumbuh menjadi sosok wanita dewasa yang tak mudah menyerah begitu saja. Cuma karena gagal membuat kue, tak 'kan membuatku gila," tuturnya sambil membanggakan diri.
Nyimas mencubit hidung mancung anaknya dengan gemas, seperti tengah mencubit hidung si kembar. "Iya, Mama tahu. Anak Mama sekarang telah berubah menjadi sosok wanita tangguh dan tak mudah ditindas oleh siapa pun. Namun, apabila ada yang berani menyakiti maka akan tiga lelaki yang berdiri melindungi."
Bibir Arumi telah terbuka lebar, siap menjawab perkataan Nyimas. Akan tetapi, suara tawa Zavier mengalihkan perhatian semua orang. Bayi mungil itu tertawa renyah seakan ia tahu jika dirinya termasuk salah satu dari ketiga lelaki yang disebutkan oreh Nyimas. Kelak, saat ia dan Ghani tumbuh dewasa akan melindungi dan menjaga Arumi, Zahira serta adik perempuannya yang lain. Tak 'kan membiarkan seseorang menyakiti perasaan ibu serta adik-adiknya.
.
.
__ADS_1
.