
Seorang wanita muda berlari tergopoh-gopoh menyusuri lorong rumah sakit. Entah kenapa, sejak mendapat panggilan telepon dari suami tercinta dan mendengarkan keluh kesah pria itu tentang gagalnya operasi yang dilakukan bersama tim membuat ia menjadi gelisah. Mengerjakan sesuatu tidak fokus hingga membuat wanita itu terpaksa menitipkan Triplet kepada Nyimas dan mbak Tini.
Kegelisahan Arumi menjadi-jadi saat ia keluar dari pintu lift, tanpa sengaja melihat Raihan sedang mendorong kursi roda milik Lena masuk ke dalam kotak persegi terbuat dari besi. Lantas, ia semakin mempercepat langkah menuju ruangan direktur karena khawatir telah terjadi sesuatu kepada pria yang telah menikahinya satu tahun lalu.
"Tuhan, semoga apa yang kutakutkan tidak terjadi. Jaga dan lindungilah suamiku," gumam Arumi sambil terus berlari.
Ketika berada di depan pintu berwarna putih bertuliskan 'ruang direktur', tanpa mengetuk pintu, Arumi segera masuk ke dalam. Alangkah terkejutnya dia saat mendapati Rayyan tengah terduduk di sudut ruangan dengan penampilan yang cukup memprihatinkan. Berkas penting serta serpihan benda pecah belah berserakan di mana-mana.
"Astaga, Mas Rayyan!' pekik Arumi histeris sambil melangkah maju ke depan. Melangkah secara perlahan, menghindari serpihan beling agar tak mengenai kaki.
Saat Arumi telah sampai di tempat Rayyan, ia membawa tubuh tegap nan gagah itu ke dalam pelukan. Tanpa bertanya apa yang terjadi, ia sudah tahu alasannya kenapa penampilan pria itu sungguh berantakan.
__ADS_1
Mengusap punggung Rayyan dengan lembut. "Jika kamu ingin menangis, menangislah. Jangan ditahan. Aku selalu siap menjadi pendengar setia dan meminjamkan bahu untukmu bersandar. Kamu bebas meluapkan kesedihan yang tengah dirasakan saat ini."
"Kenapa dia harus muncul lagi di hadapanku, Rumi? Kenapa? Tidakkah dia merasa puas telah menghancurkan kebahagiaanku selama bertahun-tahun lamanya. Lalu, dia hadir kembali dan dengan santainya memintanya izin kepadaku agar dipertemukan dengan Triplet. Memangnya dia siap hingga aku harus mengabulkan permintaan wanita itu untuk terakhir kali. Dia hanya istri siri Papaku tetapi bukan ibu kandungku apalagi nenek dari ketiga buah hatiku," ucap Rayyan sambil melingkarkan tangan di pinggang sang istri. Ia peluk erat wanita itu. Suara isak tangis pilu terdengar walaupun lirih. Hanya di dekat Arumi, ia dapat mencurahkan isi hati yang terdalam.
"Namun, wanita itu datang ke sini seolah-olah dia punya hak penuh terhadap Triplet. Apakah dia tidak sadar bahwa di dunia ini cuma wanita itu satu-satunya orang yang sangat kubenci. Lalu, kenapa dia selalu mengganggu kehidupanku. Kenapa? Tidak bisakah dia membiarkan aku hidup bahagia tanpa harus mengingat kembali kenangan buruk di masa lalu?" ucap Rayyan lirih. "Aku hanya ingin hidup bahagia bersama keluarga kecilku. Apakah itu berlebihan?"
"Kenapa dia selalu mengacaukan semuanya?" sambung pria itu sambil terus meletakkan ujung dagu di ceruk leher sang istri.
"Dengan banyaknya ujian hidup, Tuhan bisa tahu sebatas apa kesabaranmu menghadapi itu semua. Siapa tahu, Tuhan angkat derajat kita dan menjadikan sebagai salah satu umat terbaik dari sekian banyaknya penduduk di muka bumi ini," imbuh Arumi. "Kita hanya perlu bersabar dan berlapang dada dalam menghadapi ini semua."
"Masalah Tante Lena, sebaiknya jangan kamu pikirkan lagi. Bila kamu memang tak mengizinkan beliau menemui Triplet, itu adalah hakmu. Meskipun Tante Lena masih bersikeras ingin menemui anak-anak, aku yakin, Raihan dapat memberi pengertian pada ibu tirimu," ucap Arumi lembut.
__ADS_1
Rayyan mengurai pelukan. Ia tatap iris coklat istrinya dengan sendu. "Kenapa kamu begitu yakin kalau anak haram itu bisa mengatasi semuanya?"
Arumi mengulum senyum lebar di wajah. Sebelum menjawab pertanyaan Rayyan, ia terlebih dulu mengusut sisa butiran kristal di sudut mata menggunakan punggung jari telunjuk.
"Pertama, jangan panggil Raihan anak haram, sebab sebutan itu dapat melukai perasaan orang lain. Walaupun kenyataannya dia terlahir sebelum adanya ikatan pernikahan sah antara mendiang Papa Firdaus dengan Tante Lena, tetapi dia hanyalah seorang bayi suci yang terlahir di dunia ini tanpa tahu apa-apa. Kedua, karena status Raihan adalah seorang dosen maka kemampuan pria itu tak bisa diragukan lagi. Anakmu itu dapat diandalkan dalam segala hal."
Rayyan berdecak kesal mendengar Arumi memuji pria lain. "Ck! Sehebat itukah dia hingga kamu memujinya mati-matian."
Wanita bermata indah terkekeh pelan. "Dia memang hebat, tetapi kamu lebih hebat darinya. Kamu adalah suami terhebat yang pernah Tuhan berikan kepadaku." Ia menangkup wajah pria itu, lalu mencium bibir sang suami dengan penuh cinta. "I love you, Honey."
***
__ADS_1
Note : Besok mulai masuk ke season dua. Menceritakan kehidupan Mahesa, Kayla dan Raihan.