Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil

Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil
Wedding Day Raihan dan Naura (S2)


__ADS_3

Tiga bulan kemudian ....


Hari bahagia datang menghampiri pasangan kekasih yang dulu sempat menemui batu krikil dalam hubungan percintaan. Setelah melakukan lamaran dan segala persiapan pernikahan telah selesai dilakukan, akhirnya Raihan resmi mempersunting kekasih tercinta. Di hadapan penghulu, saksi serta para tamu undangan, anak bungsu Firdaus secara lantang mengucap ikrar suci pernikahan.


Bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda yang jatuh pada tanggal 28 Oktober, pemilik nama asli Muhammad Raihan Firdaus telah melangsungkan pernikahan yang kebanyakan dihadiri oleh sanak saudara dari pihak mempelai wanita. Ada pula rekan kerja, kerabat, kenalan, sahabat serta teman sekolah dari kedua mempelai turut hadir memberikan do'a restu.


Usai melakukan ijab qabul, resepsi pernikahan digelar di tempat yang sama. Menyewa ballroom yang super luas dengan kapasitas mampu menampung kurang lebih lima ratus orang telah didekorasi sedemikian indah. Mengusung konsep cherry blossom yang mana dekorasinya didominasi warna merah muda, dilengkapi lampu kristal menambah kesan elegan. Kelopak bunga bertebaran di mana-mana menguarkan semerbak harum memenuhi penjuru ruangan.


Raihan tampak begitu tampan mengenakan kemeja putih dan berdasi kupu-kupu berwarna putih, senada dengan jas yang membalut tubuh. Sementara Naura berdiri di samping pengantin pria, mengenakan gaun pengantin buatan desainer terkenal tanah air.


Gaun pengantin model cutting ball gown dilengkapi headpiece tiara membuat Naura tampak seperti seorang putri raja. Terlihat sangat cantik meski dipoles make up natural. Wajah setengah Arab dipadu khas Asia membuat siapa saja yang melihat tak dapat mengedipkan mata karena saking terpukau oleh kecantikan mempelai wanita.


"Akhirnya, setelah melewati ujian dalam hubungan kita, aku bisa mempersuntingmu juga, Sayang," bisik Raihan di telinga sang istri. Wajah sumringah, senyum mengembang menandakan betapa bahagiannya dia hari ini.


"Kamu benar sekali, Mas. Tak pernah terlintas di benakku sebelumnya kalau kisah kita akan berakhir di pelaminan," jawab Naura, ikut membenarkan perkataan Raihan.


Naura melingkarkan tangan di lengan Raihan, lalu menyenderkan kepala di dada bidang sang suami. "Ingat tidak, bagaimana pertemuan pertama kita dulu? Saat itu, aku begitu bodoh karena menuduhmu telah merampas kesucianku di saat sedang tak sadarkan diri. Padahal kenyataannya, kamulah yang telah menyelamatkanku dari kejaran para preman itu." Ia terkekeh kala membayangkan kejadian di masa lalu. "Namun, siapa sangka pertemuan itu malah membuat hati kita saling tertaut satu sama lain."


Mengusap puncak kepala Naura dengan lembut. "Itulah yang dinamakan jodoh. Kita tidak akan pernah tahu takdir Tuhan seperti apa. Berlari sampai ke ujung dunia, bila sudah jodoh maka pasti bertemu kembali."


Posisi Naura masih bersandar di dada bidang Raihan. Tanpa sengaja, netra wanita itu menangkap sosok seorang pria sedang menyuapi sang istri. Seketika, ingatan dokter cantik itu tergali kembali akan kejadian satu tahun yang lalu di mana dia secara tidak tahu malu melamar pria itu tanpa pernah berpikir apakah dia menyukainya atau tidak.


"Apa kamu cemburu melihat kemesraan mereka berdua?" tanya Raihan lirih sambil mengikuti ke mana arah pandang Naura.


Wanita cantik dalam balutan gaun pengantin mendongakan kepala, menatap lekat iris coklat Raihan. Tersenyum manis sambil berkata, "Untuk apa cemburu, toh sekarang aku sudah punya kamu. Sosok suami idaman semua wanita. Aku itu cuma mau kamu seorang, Sayang."


***


Di antara para tamu undangan yang hadir, dua di antaranya adalah Rayyan dan Arumi. Mereka secara khusus datang memenuhi undangan pernikahan Raihan dan Naura, memberikan do'a restu kepada kedua mempelai.


Duduk di deretan bangku paling depan yang dikhususkan untuk keluarga, mereka sudah datang sejak tadi menyaksikan serangkaian prosesi pernikahan hingga para saksi menyuarakan kata 'sah' yang menandakan bahwa mulai hari ini Raihan dan Naura telah resmi menjadi suami istri.


"Honey, apakah kamu baik-baik saja? Perlukah kita keluar dari sini untuk mencari udara segar?" tanya Arumi setelah MC mempersilakan para hadirin menikmati hidangan yang telah disediakan.


Sejak tadi, Arumi memperhatikan gelagat aneh yang ditunjukan Rayyan ketika tanpa sengaja netra sang suami beradu pandang dengan Lena. Walaupun pria itu bungkam dan lebih memilih menyimpan sendiri apa yang dirasakan, tetapi ia sangat yakin bahwa saat ini suasana hati ayah dari Triplet sedang tidak baik.


Rayyan menarik napas dalam, kemudian mengembuskan secara perlahan. Sepasang mata sipit menatap istri tercinta. "Tidak perlu, Babe. Aku ... baik-baik saja kok. Segera habiskan semua makanan ini. Setelah itu kita naik ke atas pelaminan dan memberikan ucapan selamat kepada kedua mempelai."

__ADS_1


Arumi menarik napas panjang, mengisi pasokan oksigen dalam dada. Sejujurnya, ia pun merasa kurang nyaman berada di gedung tersebut dalam waktu yang relatif lama, sebab dari sekian banyaknya tamu undangan yang hadir satu di antaranya adalah ... Kayla. Namun, demi menghormati kedua mempelai, ia rela meredam ego untuk kebaikan bersama.


"Ya sudah kalau begitu. Sekiranya kamu sudah tidak tahan lagi, jangan ragu untuk berbicara," tutur Arumi.


Menganggukan kepala lemah sembari meraih gelas berisi minuman dingin. "Tenang saja, aku masih dapat menahannya," jawab Rayyan.


Tepat pukul dua belas siang, sebelum kedua mempelai beristirahat, Arumi mengajak Rayyan naik ke atas panggung menemui kedua mempelai. Wajah Raihan dan Naura tampak bersinar meski jelas kelelahan.


"Selamat untuk pernikahan kalian. Semoga langgeng hingga maut memisahkan," ucap Arumi memulai. Tangan wanita itu menyalami Raihan dan Naura.


"Jadilah suami setia, bertanggung jawab dan mencintai istrimu apa adanya. Jangan pernah sekalipun kamu melakukan kesalahan yang pernah Papa lakukan terhadap mendiang Mama-ku," timpal Rayyan. Tidak tahu apa maksud dan tujuan berbicara begitu. Mungkin saja ayah Triplet ingin memberikan nasihat secara tersirat kepada mempelai pria dalam balutan jas serba putih. Hanya dialah yang tahu.


"Mas?" tegur Arumi dengan suara lirih. Merasa khawatir jika kedua mempelai menyalah artikan perkataan sang suami. "Ehm ... maaf ya, Mas Rayyan tidak bermaksud menyinggung kalian."


Alih-alih merasa tersinggung, Raihan melebarkan senyuman lebar di sudut bibir. Ia menganggap apa yang dikatakan oleh kakaknya merupakan wejangan yang harus diingat selama menjalani biduk rumah tangga bersama Naura agar ke depannya kesalahan yang diperbuat Firdaus tidak terulang kembali.


"Kakak tenang saja. Aku akan belajar menjadi suami yang baik dan setia seperti Kakak. Hanya mencintai Kak Arumi seorang," jawab Raihan. "Do'akan pernikahanku harmonis selamanya ya, Kak," pintanya tulus.


"Walaupun hubungan kita tidak akur seperti layaknya kakak dan adik pada umumnya, tetapi aku tetap mendo'akan yang terbaik bagi rumah tangga kalian. Pesanku cuma satu, di saat kamu memang sudah tak lagi mencintai istrimu pulangkan dia ke rumah orang tuanya baik-baik. Jangan malah melukai hati dan perasaannya!"


Arumi tersenyum dan menatap suami serta adik iparnya. Untuk pertama kalinya, ia terenyuh melihat kedekatan kakak beradik itu. Meskipun Rayyan membuat benteng tinggi nan kokoh agar Raihan serta Lena tak mengganggu kebahagiaan mereka, tetapi ia yakin bahwa sebenarnya Rayyan selalu menyelipkan nama sang adik di setiap do'a yang dipanjatkan kepada Sang Pencipta.


Arumi melangkah maju dan memeluk Naura. "Senang kita bisa menjadi keluarga," bisiknya di telinga mempelai wanita.


"Terima kasih, Dokter Arumi."


Rayyan dan Arumi memberikan hadiah tiket pesawat, voucher menginap dan berlibur ke Maldives selama lima hari lamanya. Semua itu diberikan khusus untuk kedua mempelai yang sedang bersuka cita.


Usai memberikan ucapan selamat, Rayyan dan Arumi turun dari atas panggung menuju tempat semula. Hanya tersisa dua meter lagi, mereka berpapasan dengan Lena yang baru saja dari toilet. Luka bakar yang dioperasi memberikan bekas permanen di sebagian wajah serta beberapa area tubuh lainnya sehingga wajahnya yang cantik sudah tak lagi terlihat.


Rayyan membeku saat dia berhadapan kembali dengan ibu tirinya. Begitu pun dengan Lena. Wanita itu tak menduga kalau anak dari sang suami masih setia berada di dalam gedung yang sama dengannya.


Keheningan tercipta selama beberapa detik. Di antara mereka tidak ada yang berani membuka suara.


"Tante Lena ... apa kabar?" tanya Arumi memecah keheningan. Walaupun sedikit canggung karena sudah lama tidak bersua, tetapi mencoba bersikap sewajarnya.


"Kabar Tante baik-baik saja. Terima kasih sudah bersedia hadir dalam acara pernikahan Raihan." Lena membalas dengan senyuman canggung.

__ADS_1


"Tidak perlu berterima kasih. Ini sudah menjadi kewajibanku sebagai anak pertama dari mendiang Papa." Rayyan menoleh kepada Arumi, memberikan kode bahwa ia tak ingin berlama-lama di sana.


Arumi segera tanggap dan mengerti maksud gerakan Rayyan. Lantas, ia berkata, "Tante Lena, aku pamit dulu. Kasihan Triplet kalau terlalu lama ditinggal. Sekali lagi, kami ucapkan selamat atas pernikahan Raihan dan Naura."


Usai mengucapkan kalimat terakhir, Arumi melangkah bergandengan tangan melewati Lena yang masih membeku di tempat. Sementara itu, ibu kandung Raihan menatap punggung Rayyan dan Arumi dengan nanar.


Ketika sedang menunggu Rayyan di lobi hotel, Arumi berpapasan dengan Kayla yang sedang menunggu Husni. Degup jantung kedua wanita tersebut terus detak tak beratura. Kegugupan kembali dirasa kala mereka berdiri bersampingan.


"Ehm .... Halo, Arumi. Lama tidak berjumpa," sapa Kayla memulai percakapan. Meskipun terlihat canggung tetapi mencoba bersikap sewajarnya.


Tersenyum dipaksakan, Arumi membalas, "Oh ya. H-halo, juga Kayla. Benar, sudah lama sekali kita tak bertemu. Bagaimana kabarmu?"


"Seperti yang kamu lihat. Aku baik-baik saja."


Kemudian, keheningan mengambang di udara. Dua wanita cantik terdiam seakan mulut terkunci rapat. Akan tetapi, keheningan itu tak berlangsung lama kala suara cempreng Kayla kembali terdengar.


"Arumi, aku minta maaf atas semua kesalahan yang pernah kuperbuat kepadamu. Karena egoku, pernikahanmu dengan Mas Mahesa berakhir. Aku menyesal," ucapnya lirih. Kepala tertunduk menahan rasa nyeri di hati. Bila teringat kejadian itu, dada terasa sesak seakan ditimpa oleh sebongkah batu yang sangat besar. "Kini aku tahu bagaimana rasanya dicampakkan oleh seseorang yang dicintai."


Arumi menghela napas. Ia ingin meminta Kayla berhenti membicarakan masa lalu, tetapi sudah terlambat. Mantan sahabatnya itu telah lebih dulu berucap.


Melirik sekilas dan menaruh hand bag di atas pangkuan. "Tidak perlu meminta maaf. Semua sudah terjadi dan kini aku telah mencoba melupakan apa yang pernah menimpaku dulu. Jadi, aku harap kamu pun belajar melupakannya. Jangan pernah lagi ingat masa lalu, bila membuatmu terluka."


Mata mulai berkaca-kaca. Sejak dulu, Arumi memang selalu baik kepadanya. Sikap wanita itu tak berubah sedikit pun meski dia pernah melakukan kesalahan. Arumi tetaplah wanita baik dan selalu bersikap bijak.


Mendongakan kepala perlahan, lalu memberanikan diri menatap iris coklat Arumi. "Lima bulan lagi aku menikah. Bila tidak ada halangan, kuharap kamu, Dokter Rayyan, Triplet dan Tante Nyimas sudi kiranya hadir dalam moment bersejarahku."


"Menikah? Dengan siapa?" tanya Arumi sambil membelalakan mata. Lama tak mendengar kabar, rupanya banyak kejadian yang menimpa Kayla.


Mengulum senyum di bibir hingga membentuk sebuah lengkungan di wajah. "Dengan ketua RT di tempatku. Dia--"


Suara Kayla mengambang di udara. Bunyi klakson membuat dua wanita itu menoleh ke sumber suara. "Aku duluan ya, Rumi. Calon suamiku sudah menunggu. Kuharap, kamu bersedia hadir memberikan do'a restu kepada kami." Mantan model itu bangkit dari sofa dan kembali berkata, "Senang bisa bertemu denganmu lagi."


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2