
"Aku ...." Raihan berusaha melanjutkan kalimatnya, tetapi bibir tak mampu berkata seperti terkunci rapat hingga tidak ada kalimat yang terucap.
"Aku, apa hem! Kalau bicara itu yang jelas, jangan berbelit-belit!" Membuat Rayyan tidak tahan lagi menunggu kalimat yang ingin disampaikan oleh adiknya. Rayyan bersumpah dalam hati jikalau hal penting yang ingin disampaikan hanyalah akal bulus Raihan saja, dia akan mengepalkan telapak tangan dengan sempurna kemudian melayangkannya ke wajah adik lelakinya, sebab telah menghambat langkahnya berkumpul dengan Arumi serta Triplet.
Akan tetapi, Raihan masih bergeming di tempat. Pria itu membeku dengan wajah tertunduk ke bawah, kedua genggaman tangan saling mencengkeram satu sama lain. Entahlah, ia bingung sendiri bagaimana memulai percakapan dengan sang kakak.
Rayyan mendengkus kesal. "Ck! Jika kamu hanya ingin membuang waktuku saja lebih baik aku pulang sekarang!" Pria itu membalikan badan dan melangkah maju ke depan.
Mendengar suara derap langkah, Raihan mendongakan kepala secara perlahan. Sedikit demi sedikit wajah tampannya menatap ke arah Rayyan yang mulai menghilang dari pandangan.
Tidak mau kehilangan kesempatan untuk berbincang secara empat mata dengan sang kakak, Raihan kembali mengumpulkan keberanian dalam dada. Ia buka mulutnya, lalu berseru, "Aku mau minta maaf, Kak!" Kalimat itu akhirnya meluncur di bibir si bungsu.
Hanya tersisa beberapa langkah lagi Rayyan mendekati si Lolly, di detik itu juga ia menghentikan langkah kala mendengar seruan nyaring dari belakang. Mempertajam segala indera yang ada dalam diri, memaksa otaknya berpikir jernih tentang apa yang ia dengar barusan.
Ia pikir sedang berhalusinasi mendengar permintaan maaf terucap langsung di bibir Raihan. Namun, rupanya saat ini adiknya itu sungguh-sungguh meminta maaf kepadanya ketika suara sengau bersumber dari adiknya terus terucap.
"Aku minta maaf karena selama ini telah salah paham kepadamu. Sekarang ... aku tahu kenapa Kakak begitu membenci Mama-ku. Ini berkaitan dengan masa lalu Mama dan Papa hingga menyebabkan kesalahan fatal yang membuat Kakak begitu membenci Mama," ucap Raihan lirih. "Aku pun akan melakukan hal yang sama seandainya ada di posisi Kakak. Aku ... pasti membenci wanita yang menjadi dalang atas meninggalnya orang tercinta."
Rayyan menarik sudut bibirnya samar-samar. Tersenyum geli setelah tahu hal penting apa yang ingin dibicarakan oleh Raihan. Lantas, ia berbalik kembali menatap adiknya dari jarak sekitar lima meter.
__ADS_1
"Jadi ... sekarang kamu sudah tahu kenapa aku selalu membenci wanita itu dan tak pernah menganggapnya ada meski dia telah menjalankan tugas dan kewajibannya sebagai seorang ibu?" tanya Rayyan dengan nada sinis. Sebuah senyuman menyeringai di wajahnya yang tampan.
Raihan menarik napas panjang. Mengakui jikalau memang sejak awal Lena-lah yang bersalah hingga detik ini Rayyan tak pernah mau menerima kehadiran wanita lain 'tuk menggantikan posisi Mei Ling sebagai ibu kandung dari direktur tampan itu.
Dengan lirih Raihan menjawab, "Benar. Aku sudah tahu semuanya, termasuk insiden kecelakaan yang mengakibatkan Tante Mei Ling. Itu semua disebabkan oleh kesalahan Papa dan Mama."
"Aku memaklumi jika selamanya Kakak membenci Mama, karena perangai wanita yang telah melahirkanku tidaklah terpuji. Dia menjadi duri dalam rumah tangga Papa dan Tante Mei Ling. Ditolong dari kejaran pria jahat, diberikan tempat tinggal layak dan jufa pekerjaan tetapi Mama malah menusuk wanita berhati Malaikat seperti Tante Mei Ling. Sikap Mama memang sulit dimaafkan."
"Dulu, aku tidak tahu apa yang terjadi di antara kalian semua. Namun, setelah mendengar kejadian itu membuka mata hatiku. Aku salah, sebab turut membenci Kakak Rayyan tanpa menyelidiki terlebih dulu apa yang sebenarnya terjadi. Aku sangat menyesal, Kak. Oleh karena itu, aku ingin meminta maaf atas semua kesalahan yang pernah kuperbuat kepadamu."
Tawa Rayyan pecah saat itu hingga membuat dia bergegas memegangi perutnya yang terasa geli. Ia merasakan ratusan tangan tak kasat mata sedang menggelitik perut. Bulir air mata menggenang di sudut mata karena terlalu kencang tertawa.
"Makanya, jadi anak itu jangan terlalu bodoh! Mau saja dibohongi oleh Ibumu yang tak lain adalah seorang ja--" Detik itu juga Rayyan segera mengatupkan bibir. Teringat bahwa saat ini statusnya adalah seorang ayah dari tiga bayi kembar. Mempunyai kewajiban mendidik, serta memberikan contoh baik bagi Triplet.
Tidak! Rayyan tidak mau itu semua terjadi. Dia terlalu mencintai istrinya hingga tak sanggup bila harus berpisah dengan wanita itu.
"Aku terima semua penghinaanmu, Kak, sebab diriku memang bodoh tak peka atas semua kejadian yang menimpa keluarga kita."
Menghunuskan tatapan tajam sambil berdecak kesal. "Ck! Keluarga kita! Memangnya siapa yang mau menganggapmu jadi keluarga!" sembur Rayyan. "Asal kamu tahu, Ibuku tak pernah melahirkan lagi sejak aku terlahir ke dunia. Itu artinya, aku anak tunggu dan tak punya kakak maupun adik!"
__ADS_1
"Tapi, Kak ... bukankah kita berdua sama-sama anak Papa Firdaus, lalu kenapa Kakak tidak mau menganggapku sebagai adik?" tanya Raihan.
"Di dalam tubuh kita memang mengalir darah Papa yang sama, tetapi tidak terlahir dari rahim wanita yang sama. Ingat itu!" jawab Rayyan. "Dan ... satu hal lagi. Aku sudah memaafkanmu. Karena kupikir dirimu cuma Anak Berengsek dan bodoh yang mudah dikibuli oleh Wanita itu!" Lantas, dia membalikan badan dan hendak melangkah.
Akan tetapi, Raihan tidak ingin menyerah. Ia kembali melontarkan kalimat. "Dengan cara apa agar Kakak mau menerimaku sebagai adik? Aku bersedia melakukan apa pun demi mendapatkan pengakuan darimu."
Masih posisi membelakangi badan Raihan, Rayyan menjawab, "Menjauhlah dari pandanganku dan jangan pernah mengganggu lagi kehidupan rumah tanggaku. Bila Tuhan memberikan kesempatan kedua kepada wanita itu, bawa dia pergi sejauh mungkin. Aku tidak sudi melihat wajahnya lagi."
Perlahan, tubuh Rayyan semakin menghilang dari jangkauan bersamaan dengan tertutupnya pintu mobil. Si Lolly telah melaju dengan kecepatan sedang, meninggalkan anak bungsu Firdaus seorang diri.
Raihan menghela napas begitu lirih. Begitu sulitkah mendapatkan pengakuan dari kakak kandungnya sendiri? Ia pikir dengan meminta maaf akan memperbaiki hubungan yang telah lama rengang. Namun rupanya, Rayyan tetap memilih menjaga jarak meski pria itu sudah memberikan maaf kepada Raihan.
***
Sementara itu di Rumah Sakit Harapan Indah, seorang wanita paruh baya sedang terbaring tak sadarkan diri. Terhitung sudah dua hari ia belum tersadar dari komanya pasca kebakaran terjadi beberapa hari lalu. Sebuah kedutan pelan membuat jemarinya bergerak pelan, seakan ingin menggenggam sesuatu. Bergumam lirih berusaha memanggil nama seseorang.
"Mbak Mei Ling ... maaf!" ucap Lena lirih. Keringat dingin memulai muncul ke permukaan, membasahi kening wanita itu.
.
__ADS_1
.
.