Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil

Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil
Dokter Arumi Salsabila


__ADS_3

"Sudah ingat akan memori ingatan masa lalu?" tanya Rayyan sinis. Pria itu menghunuskan tatapan permusuhan ke arah Firdaus. "Apa perlu aku beberkan semuanya bagaimana Papa memperlakukan Mama dulu?"


"Papa telah melukai hati seorang wanita yang begitu tulus mencintai pria berengsek seperti Papa! Kenapa Papa tidak belajar mencintai Mama? Kenapa?"


"Seharusnya Papa mendengarkan pendapat Mama ketika pertama kali membawa Ja*ang itu ke rumah ini bukan malah meminta Mama untuk tutup mulut dan menerima keputusan Papa secara sepihak. Bagaimanapun, Mama pun punya hak atas rumah ini."


"Kalian berdua tinggal bersama maka segala keputusan ditanggung bersama. Namun, Papa terlalu egois hingga tak memberikan kesempatan pada Mama untuk buka suara. Sampai akhirnya rumah tangga yang selama ini Mama pertahankan dengan penuh perjuangan dan air mata harus kandas akibat sebuah perselingkuhan!" Rayyan menatap nyalang ke arah sang papa. Sosok pria yang dulu pernah menjadi idola dalam hidupnya.


Kali ini Rayyan benar-benar tidak tahan dengan sikap Firdaus yang selalu memaksakan kehendak tanpa meminta pendapat orang lain. Sedari dulu pria yang telah menanamkan benih di dalam rahim sang mama, selalu saja mengambil keputusan secara sepihak.


Mungkin dulu Rayyan bisa bersabar, sebab ia merasa tak punya pilihan selain menuruti keinginan Firdaus. Namun, setelah beranjak dewasa, ia memiliki pendapat sendiri. Apalagi urusan pendamping hidup, Rayyan akan menolak karena itu menyangkut masa depannya.


"Hentikan, Ray. Papa mohon hentikan," pinta Firdaus lirih. Sorot mata tajam nan membunuh telah tergantikan dengan sebuah tirai air mata. Tanpa meminta izin terlebih dulu, cairan bening kristal itu meluncur di antara kedua pipi.


"Kenapa, Pa? Papa menyesal karena telah mencampakkan Mama di saat beliau masih ada di dunia ini?" Bibir Rayyan bergetar, bola mata sipit mirip dengan Mei Ling telah memerah dan hidung pun terasa masam.


"Penyesalan Papa tidak berarti apa-apa karena kini Mama telah meninggalkan kita selama-lamanya. Papa telah menjadikanku seorang piatu demi kebahagiaan sendiri. Papa ... benar-benar egois!" ucap Rayyan dengan suara serak.


Kemudian ia berlalu begitu saja tanpa menoleh sedikit pun ke arah Firdaus. Dada Rayyan terasa sesak jika mengingat kejadian di masa lalu.


Firdaus membeku di tempat. Semua perkataan Rayyan bagaikan sebuah tamparan keras, begitu menyakitkan. Ia sadar telah melakukan banyak kesalahan selama Mei Ling hidup di dunia. Tak sedikit pun memberikan kebahagiaan pada wanita yang rela mengabdikan diri seumur hidup pada pria berengsek seperti Firdaus. Akan tetapi, semua telah terjadi tak bisa diputar kembali.


"Maafkan aku, Mei. Maaf ... aku benar-benar menyesal telah menyia-nyiakanmu," kata Firdaus lirih.


Perlahan, Firdaus melangkah mendekati sofa yang ada di ruang santai di lantai dua. Pikirannya kosong, seolah terjebak akan dimensi beberapa waktu lampau.

__ADS_1


Tanpa disadari mereka, Lena sudah berdiri di anak tangga terakhir sejak beberapa menit lalu, mendengarkan perbincangan sepasang ayah dan anak itu. Dada Lena terasa sesak, hatinya pun terluka. Akibat cinta buta menyebabkan wanita itu gelap mata dan tega merebut suami dari wanita lain. Seandainya waktu bisa diputar kembali, mungkin Lena lebih memilih hidup tersiksa bersama mantan suaminya daripada bahagia di atas penderitaan wanita lain.


"Ya Allah ... ampuni hamba karena telah merusak kebahagiaan orang lain," ucap Lena lirih. "Mbak Mei, aku benar-benar menyesal telah merampas apa yang sudah menjadi milikmu."


Sementara itu, Rayyan yang baru saja masuk ke dalam kamar segera melemparkan tas hitam miliknya ke atas kasur. Lalu, meletakkan cake yang diberikan oleh Nyimas di atas nakal. Dengan terburu-buru ia mengeluarkan koper dari dalam walk in closet.


"Sialan. Kenapa Papa selalu saja mengambil keputusan tanpa meminta pendapatku dulu. Memangnya dia anggap aku anak kecil yang bisa diatur sesuka hati," gerutu Rayyan seraya memasukan pakaian ke dalam koper.


Tekad pria itu sudah bulat. Ia akan meninggalkan rumah yang ditinggalinya bersama papa, Lena serta Raihan. Kendatipun rumah itu banyak menyimpan kenangan bersama mama tercinta, tapi kesabaran Rayyan telah habis. Ia tak tahan lagi tinggal satu atap dengan orang jahat seperti mereka.


"Aku tidak punya pilihan lain selain pergi dari sini. Persetan dengan harta warisan jika harus hidup tanpa adanya cinta dan kasih sayang dari Arumi. Lebih baik aku jatuh miskin daripada kehilangan wanita baik seperti kekasihku itu."


Bibir pria itu terus mengumpat hingga tanpa sadar ia telah memasukan semua helai pakaian dan barang-barang penting ke dalam koper termasuk foto Mei Ling. Setelah memastikan tidak ada barang tertinggal, ia menarik koper kemudian melangkah keluar kamar.


"Nak, kamu mau pergi ke mana?" Lena bangkit dari duduk, mengayunkan kaki mendekati anak tirinya. Wanita itu mencoba mengulurkan tangan ke depan tapi ditepis oleh Rayyan.


"Jangan sentuh aku dengan tangan kotor itu! Aku tak sudi disentuh oleh seorang pelakor sepertimu!" sentak Rayyan. Mundur beberapa langkah ke belakang.


Air mata menetes satu per satu membasahi pipi Lena. Semua pengorbanan yang dilakukan olehnya ternyata tak mampu membuat hati Rayyan luluh dan mau menerimanya sebagai pengganti Mei Ling. Padahal, wanita itu benar-benar tulus menyayangi anak pertama sang suami dengan istri pertama Firdaus.


Untuk pertama kalinya Rayyan menatap manik coklat milik Lena. Sorot mata pria itu memancarkan kesedihan, kemarahan dan kekecewaan hingga membuat Lena semakin merasa bersalah.


"Rencanamu untuk menyingkirkan istri pertama dan anak dari suamimu telah berhasil. Rumah ini beserta isinya telah kamu rebut dari aku dan Mamaku. Namun, jangan harap kamu akan berhasil mengambil alih rumah sakit yang dibangun atas kerja keras dan usaha Mamaku. Selamanya rumah sakit itu akan tetap menjadi Mamaku walau beliau sudah tak ada lagi di dunia ini."


Kali ini giliran Firdaus yang ditatap oleh Rayyan. "Dan untuk Papa, selamat menikmati penderitaan yang telah diperbuat olehmu sendiri. Anggap saja ini adalah balasan atas perbuatan jahat yang pernah Papa perbuat pada Mama."

__ADS_1


"Semoga kalian tidak akan pernah berbahagia selama hidup di dunia ini."


Wanita paruh baya itu melirik Rayyan yang sedang bersiap menarik koper. Ia mengatupkan bibir, berusaha agar suara isak tangis tak meluncur dari bibirnya.


"Nak, Papa mohon, jangan pergi dari rumah ini." Suara penuh permohonan terdengar jelas di indera pendengaran Rayyan.


Ingin rasanya ia berbalik dan memeluk tubuh renta Firdaus. Pria yang amat disayanginya setelah kepergian mama tercinta. Akan tetapi, perbuatan pria itu di masa lalu telah menorehkan luka di dalam hati Rayyan remaja. Luka itu teramat dalam dan sukar tuk disembuhkan.


Rayyan menarik napas dalam, memejamkan mata sejenak. Lalu, ia melanjutkan langkahnya, menuruni anak tangga dengan mengangkat koper.


"Selamat tinggal semuanya."


Rayyan baru saja akan berbelok menuju pintu keluar, tiba-tiba saja suara berat seseorang menghentikan langkahnya.


"Siapa wanita yang telah meluluhkan hatimu, Nak?"


Dengan lantang Rayyan menjawab, "Dokter Arumi Salsabila."


.


.


.


__ADS_1


__ADS_2