Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil

Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil
Candle Light Dinner


__ADS_3

Jam dinding menunjukan pukul tujuh malam. Ini adalah malam minggu, malam yang sangat dinantikan bagi kawula muda untuk menyambangi rumah sang kekasih. Biasanya, di malam ini banyak restoran, mall serta taman yang dipadati pasangan kekasih ataupun keluarga kecil untuk menghabiskan waktu bersama. Dulu, Arumi dan Rayyan pernah menjadi bagian dari mereka tetapi setelah Triplet lahir suami istri itu belum pernah berkencan lagi seperti layaknya pasangan kekasih di luaran sana.


Bukannya tidak ingin pergi berkencan, hanya saja kesibukan masing-masing membuat mereka tak memiliki waktu berduaan. Kendati demikian, Arumi dan Rayyan selalu menyempatkan diri bermesraan di atas tempat tidur sambil berbincang hangat membahas apa saja yang ingin disampaikan kepada pasangan dari hati ke hati sebelum akhirnya berlayar ke pulau kapuk atau istilah anak zaman sekarang disebut 'pillow talk'.


"Bu Arumi, mari saya bantu me-nina bobokan Den Zavier agar lekas tidur!" tawar Mbak Tini. Asisten rumah tangga dokter cantik telah menyelesaikan pekerjaannya. Hidangan makan malam beserta bakwan jagung kesukaan Rayyan telah terhidang di atas meja makan.


Arumi bergegas memberikan Zavier kepada mbak Tini. "Tolong ya, Mbak, kamu bantu saya menidurkan Èr Gē (kakak kedua). Saya hendak mandi sebentar, selagi Mas Rayyan belum pulang."


"Baik, Bu. Bu Arumi mandi saja dengan tenang, serahkan Den Zavier pada saya." Tangan Mbak Tini menepuk-nepuk bokong anak kedua dari pasangan dokter bedah terhebat di rumah sakit Persada International Hospital. "Jangan lupa pakai parfum dan dandan yang cantik, Bu, biar makan malam kali ini lebih romantis."


Senyuman mengembang di bibir ibu tiga bayi kembar. "Mbak Tini bisa saja. Tapi, saranmu benar adanya, Mbak. Menyambut kedatangan suami dengan bersolek dan berpakaian rapi akan membuat suami mendapati ketenangan setelah seharian lelah bekerja. Bisa jadi malah bernilai pahala di mata Tuhan."


"Benar, Bu. Selagi dalam batasan normal, menurut saya boleh-boleh saja. Tidak ada salahnya membahagiakan suami agar rumah tangga Bu Arumi dan Pak Dokter semakin harmonis."


"Baiklah! Kalau begitu, aku titip mereka bertiga ya, Mbak."


"Siap, Bu!" jawab Mbak Tini singkat.


Arumi segera masuk ke dalam kamar mandi. Memanfaatkan waktu sebaik mungkin untuk merawat tubuhnya yang tampak kelelahan setelah tujuh jam lamanya sibuk bekerja di rumah sakit ditambah mengurus tiga bayi kecil membuat tenaganya terkuras habis. Beruntungnya ada mbak Tini dan pak Burhan yang menjaga si kembar di saat dirinya dan Rayyan sibuk bekerja. Jika tidak, entah apa yang 'kan menimpa tiga bayi mungil itu.


"Selamat datang, Pak Dokter!" sapa Mbak Tini saat melihat sosok jangkung berdiri di ambang pintu masuk unit apartemen. Tubuh Zavier berada dalam gendongan wanita itu. Matanya yang sipit seperti sang ayah, jernih dan bersinar mulai terkantuk-kantuk. Terkadang terbuka dan tertutup dalam waktu bersamaan. Sangat menggemaskan.


"Dàgē dan Mèimei, apakah mereka sudah tertidur?"


"Sudah, Pak. Tinggal Den Zavier saja yang belum. Mungkin dia sedang menunggu Ayah-nya pulang."

__ADS_1


Di antara ketiganya, memang cuma Zavier yang tak dapat tidur lelap tanpa mendapat ciuman dari sang ayah. Walaupun ciuman itu hanya sekilas tetapi cukup ampuh membawa kakak kedua Zahira pergi ke pulau kapuk.


Terlahir dari rahim yang sama dengan wajah identik tak menjamin mereka mempunyai tabiat yang sama pula. Buktinya, ketiga buah cinta Arumi bersama suaminya terlahir dengan kebiasaan berbeda.


Ghani terkesan lebih pendiam, tak banyak senyum, sifatnya mirip dengan Rayyan. Zavier adalah kebalikannya dari sang kakak. Dia murah senyum, dan mudah akrab dengan siapa pun. Mempunyai kebiasaan sebelum tidur meminta jatah ciuman dari ayahnya, jika tidak maka matanya yang sipit tak 'kan pernah terpejam. Sementara Zahira, selalu merusak moment kedua orang tuanya saat sedang berduaan. Oleh karena itu, ayah dan bundanya baru bisa bermesraan ketika si bungsu telah terlelap.


Rayyan tersenyum lebar, rasa letih dalam tubuh sirna begitu saja kala melihat buah cintanya sedang menanti kedatangan pria itu. Ia bergegas mencuci tangan terlebih dulu sebelum akhirnya membawa tubuh montok dengan kedua pipi gembul seperti bakpau.


"Aduh ... anak Ayah pasti sudah sangat mengantuk sekali ya, tapi tidak bisa tidur karena belum dicium!" ujarnya seraya mengangkat tubuh Zavier dari gendongan mbak Tini. Berusaha tak menyentuh kulit asisten rumah tangganya agar penyakit anak itu tidak kambuh.


Menghujani kakak kedua Zahira dengan ciuman bertubi-tubi hingga tubuh montok itu merasa kegelian ketika bulu-bulu halus di area sekitar rahang mengenai pipinya. Terdengar suara kekehan kecil dan tawa riang menggema memenuhi ruangan.


"Oh ya, di mana Arumi? Apa dia masih berada di kamar bayi?" Rayyan bertanya seraya duduk di sofa. Ia ingin bermain sebentar dengan putranya sambil menunggu Zavier tertidur dengan sendirinya.


"Aku di sini, Babe!" Suara lembut Arumi menginterupsi percakapan mereka. Wajahnya yang terlihat letih kini kembali lebih segar setelah terkena guyuran air hangat. Aroma parfum lily of valley, rambut yang ditata rapi serta dress lima senti di atas lutut berwarna navy berbentuk V neck dengan bagian kancing menyamping ke kanan serta penambahan aksen pita di bagian pinggang membuat wanita itu tampak lebih cantik walau memang pada dasarnya Arumi sudah cantik sejak masih bayi.


Rayyan terkesiap beberapa saat. Entah kenapa, ia selalu terhipnotis setiap kali melihat sosok wanita itu di hadapannya. Apa pun yang ada dalam diri sang istri mampu membuat kesadarannya menghilang, terbang ke atas awang. Pikiran kosong dan bola mata tak bisa berkedip karena tidak mau melewatkan sedetik pun kesempatan untuk memuja wanita itu.


"Dokter Rayyan, Bu Arumi, saya permisi dulu ke kamar anak-anak. Takut mereka merengek meminta ASI." Mbak Tini menundukan kepalanya di hadapan dua majikannya. Lalu, ia segera melangkah masuk menuju kamar. Memberikan kesempatan kepada pasangan suami istri itu sejenak menikmati waktu kebersamaan mereka ditemani Zavier agar Zahira kecil tak menjadi kakak diusianya yang masih tiga bulan.


Rayyan tersenyum melihat Arumi menghampirinya. "Kupikir kamu masih sibuk mengurusi anak-anak. Tapi ternyata kamu sibuk berhias, menyambut kedatanganku."


Wanita cantik itu menjawab, "Cuma ingin membuatmu merasa tenang setelah seharian sibuk bekerja." Meraih tangan suaminya, kemudian mencium punggung tangan pria itu. "Selamat datang di rumah, Honey!" Mencium pipi dengan penuh cinta.


Rayyan membalas ciuman istrinya sambil berkata, "Kamu cantik malam ini, Babe. Terima kasih karena sudah menyambutku dengan penuh kehangatan."

__ADS_1


Arumi tersenyum samar. Pandangan mata menatap Zavier yang sudah tertidur di dalam gendongan suaminya. "Mas, kamu lekas ganti pakaian. Setelah itu kita makan malam bersama. Zavier, biar aku yang membawanya ke kamar." Rayyan menuruti perintah istrinya. Jujur, ia pun mulai merasa lapar.


Sepanjang perjalanan menuju apartemen, ia telah membayangkan bakwan jagung kesukaannya. Olahan sayuran dicampur tepung terigu, rempah-rempah diaduk menjadi satu kemudian di goreng di atas minyak panas membuat pria itu menelan saliva susah payah. Selain tubuh sintal Arumi, jenis makanan itu mampu membuat produksi air liurnya di dalam mulut semakin bertambah. Entahlah, kenapa sejak kecil ia sangat menyukai makanan itu mungkin karena dulu Mei Ling selalu membuatkan bakwan jagung di saat dirinya enggan makan sayur dan menyiasatinya dengan mencampur sayuran dalam bentuk adonan kemudian disulap menjadi makanan lezat.


"Mbak, saya titip anak-anak ya, selama kami makan malam. Persediaan ASI sudah ada di dalam freezer. Nanti, tinggal Mbak panaskan saja."


Mbak Tini mengangguk. "Baik, Bu!"


Arumi dan Rayyan telah ada di ruang makan. Duduk berhadapan dengan ditemani cahaya lilin di atas meja. Malam ini, mbak Tini menyediakan tumis sawi telur puyuh, ikan sarden dan tak lupa bakwan jagung. Walaupun acara makan malam ala restoran bintang lima dengan konsep candle light dinner tapi menu makanan rumahan, sebab Arumi sedang ingin mengkonsumsi sayuran agar produksi ASI untuk si kecil semakin deras.


Suasana makan malam terasa syahdu dan terkesan begitu romantis. Meskipun hanya makan malam di rumah dengan menu sederhana tetapi pasangan suami istri itu dapat merasakan cinta yang tumbuh semakin kuat di antara keduanya. Hanya terdengar suara dentingan sendok dan garpu beradu dengan piring. Tak ada percakapan terjadi di antara mereka.


"Mas, ada hal penting yang ingin aku bicarakan." Arumi memulai percakapan malam hari itu.


Rayyan menyendokan makanan ke dalam mulut. Ia begitu menikmati menu hidangan yang disedikan di atas meja, terlebih bakwan jagung buatan Arumi. Tahu betul jika makanan itu merupakan buatan tangan istrinya sendiri meski sang istri tak bercerita, tetapi indera perasanya tajam dan dapat membedakan mana masakan buatan Arumi dan buatan orang lain.


Tersenyum lebar ke arah Arumi. "Jika mau bicara, bicara saja, Babe. Aku tak 'kan mungkin melarangmu berbicara. Apa yang ingin kamu bicarakan?"


Menghela napas panjang, sambil meremaas sendok dengan erat. "Ehm ini tentang--"


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2