Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil

Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil
Terbongkar


__ADS_3

🔞 HARAP BIJAK DALAM MEMBACA !


Waktu terus berputar dengan cepat. Tak terasa sudah dua jam lebih Arumi berdiam diri di atas rooftop rumah sakit. Usai mencurahkan kesedihannya lewat tangisan, ia bergegas berjalan menuruni anak tangga menuju pintu lift. Namun, ketika berada di ujung lorong rumah sakit, ia berbelok ke kanan. Wanita itu masuk ke dalam toilet.


Di depan cermin, ia memandangi penampilannya yang awut-awutan. Mata sembab akibat terlalu lama menangis, riasan luntur serta maskara yang belepotan membuat Arumi terlihat sangat menyeramkan. Untung saja ketika ia berjalan masuk ke dalam toilet, suasana hening sehingga tidak ada satu orang pun yang melihat penampilannya saat ini.


Wanita itu mendesaah panjang. "Gara-gara Dokter Rayyan, hari ini aku banyak mengeluarkan energi!" gurutunya saat merapikan riasan di depan cermin. Tangannya sibuk menghapus sisa riasan make up yang menempel di wajah.


Saat sedang sibuk membubuhkan riasan di wajah, tak sengaja bola mata indah wanita itu melirik ke arah arloji yang melingkar manis di pergelangan tangan.


"Astaga! Sudah pukul dua belas siang. Aku harus segera pergi ke hotel itu. Jangan sampai terlambat. Kita akan lihat, pertunjukan apa yang ingin ditampilkan oleh orang asing itu." Arumi memasukan kembali semua peralatan make up ke dalam tas, kemudian berlari menuju parkiran mobil.


Arumi mengendarai mobil dengan kecepatan sedang. Kendaraan roda empat itu melaju memecah jalanan ibu kota. Tak sampai memakan waktu satu jam, mobil mewah series terbaru yang dilajukan oleh Arumi telah tiba di salah satu hotel bintang lima di kawasan Jakarta Pusat.


Dengan langkah panjang ia berjalan masuk ke dalam lobi hotel, menghampiri dua orang wanita yang bekerja di balik meja resepsionis.


"Selamat siang, ada yang bisa dibantu?" sapa salah satu resepsionis berseragam batik dengan senyum ramah terlukis di wajah.


"Ehm ... begini, Mbak. Apakah ada orang atas nama Mahesa memesan kamar di sini?" tanya Arumi dengan sedikit ragu.


Dua orang wanita dewasa berseragam batik itu saling memandang. Lalu, detik berikutnya mereka menatap Arumi.


"Apakah, Ibu bernama Arumi Salsabila?" tanya salah seorang dari mereka.


Alis Arumi tertaut satu sama lain, membentuk busur panah. Bingung, itulah yang dirasakan oleh wanita itu sebab seingatnya ini adalah kali pertama ia datang ke hotel tersebut. Bagaimana dua orang karyawan itu tahu namanya. Mungkinkah ini adalah rencana yang disusun oleh orang misterius itu, hanya mereka dan Tuhan saja yang tahu.


Meskipun ragu, wanita itu menjawab, "Benar, saya Arumi Salsabila Adiguna," tegas Arumi dengan menekan nama Adiguna di belakang nama lengkapnya.


Kemudian, dua orang karyawan hotel itu saling menatap.

__ADS_1


Detik kemudian, salah satu di antara mereka langsung mengeluarkan kunci serep yang berada di dalam laci. "Nomor kamar 5012. Ibu bisa langsung naik ke atas. Liftnya di sebelah sana." Wanita itu menunjukan arah di mana posisi lift berada.


Meski mempunyai sejuta pertanyaan dalam benaknya, Arumi tetap menuruti instruksi karyawan hotel berseragam batik itu. Ia masuk ke dalam lift.


Sepanjang jalan menuju kamar, Arumi menghela napas panjang kemudian menghembuskannya secara perlahan. Degup jantung wanita itu mulai tak beraturan. Dalam benaknya muncul beberapa pertanyaan, bagaimana jika Mahesa selingkuh. Apa yang akan dilakukan olehnya jika suami tercinta bermain api di belakangnya.


Tidak ingin berburuk sangka pada Mahesa, wanita itu mengenyahkan pikiran yang ada dalam benaknya. "Sebaiknya aku masuk dan memastikannya sendiri," gumam Arumi.


Arumi menarik napas dalam sambil menempelkan kartu. Lalu pintu itu terbuka dengan sendirinya. Ia berjalan mengendap-endap, berusaha agar tidak ketahuan oleh si pemilik kamar.


"Mas, katakan padaku, siapa yang paling liar di atas ranjang. Aku atau istrimu?" tanya seorang gadis dengan suara terengah-engah.


"Ehm ... tentu ... saja kamu, Baby. Kamu begitu liar dan sangat menggairahkan. Membuat pusakaku ingin selalu terbenam dan mengoyak inti tubuhmu," jawab Mahesa. Pria itu terus memaju mundurkan pinggulnya di atas tubuh sang kekasih sambil sesekali mengerang dengan suara serak.


"Oh, Baby. Inti tubuhmu begitu sempit. Aku, benar-benar menyukainya."


Setelah mendengar ucapan itu, Mahesa semakin menggila. Ia menaikan ritme permainan. Dihentakannya inti tubuhnya ke bagian paling sensitif milik sang kekasih. Hingga terdengar suara anggota tubuh yang saling beradu. Bunyi derit ranjang pun ikut serta meramaikan pergulatan panas itu.


Suara desaahan saling bersahutan memenuhi ruangan. Arumi yang saat itu masih berdiri di ambang pintu dibuat terpana kala mendengar suara seorang pria yang tak asing bagi dirinya sedang menyebut nama wanita lain.


Ia berjalan mendekat ke sumber suara. Dari celah pintu kamar yang tak tertutup rapat, dengan mata dan kepalanya sendiri, Arumi bisa melihat jelas bagaimana Mahesa menghentakan tubuhnya di atas tubuh sahabatnya sendiri.


Dunia ini rasanya tak lagi berputar. Hati Arumi hancur berkeping-keping dan tubuhnya bergetar hebat bahkan nyaris tumbang. Suami dan sahabatnya sedang asyik memadu kasih di depan matanya sendiri.


Ia berjalan sambil berpegangan pada benda yang ada di dekatnya agar tubuhnya tidak terjatuh ke lantai. Kemudian membuka pintu itu secara perlahan. Dada wanita itu terasa sesak saat netranya benar-benar melihat Mahesa mencumbu mesra Kayla dengan sangat buas.


Karena terlalu menikmati permainan itu kedua manusia berhati iblis itu tidak menyadari kehadiran Arumi.


"Dasar brengsek!" pekik Arumi. Meskipun hatinya sakit tetapi ia berusaha menahan agar air matanya tidak jatuh membasahi pipi.

__ADS_1


Kedua manusia berhati iblis itu menoleh ke sumber suara. Mahesa masih bergeming, dengan posisi inti tubuh masih berada di inti tubuh milik Kayla. Ia terkejut melihat Arumi berdiri dengan sorot mata memancarkan kemarahan, tangannya terkepal sempurna dengan gigi gemelutuk.


Sebuah pukulan keras menghantam kepalanya dan mengembalikan kesadaran pria itu, Mahesa bergegas bangkit dari ranjang. Ia mencari celana boxer yang dilempar ke sudut ruangan.


Memandangi bagian inti tubuh pria itu berada di posisi on membuat Arumi mual apalagi terdapat cairan kenikmatan milik Kayla menempel di sana semakin membuatnya jijik dan ingin menenggelamkan kedua manusia iblis itu ke dasar jurang yang paling dalam dan berharap agar mereka tidak muncul lagi ke permukaan.


Mahesa berjalan mendekati Arumi. Ia meraih tangan wanita itu yang terkepal di samping.


"Baby, aku ... bisa menjelaskannya," ucap pria itu dengan suara tercekal. Akibat panik, ia bahkan memanggil Arumi dengan sebutan Baby. Padahal sebutan itu khusus diberikan oleh Mahesa untuk kekasih gelapnya. Seorang gadis yang kini sedang mengandung darah dagingnya.


Arumi menepis tangan kotor itu dengan kasar. Ia tidak sudi disentuh oleh pria yang tidak setia. Seorang pria yang tega mengkhianati ketulusan cintanya dan menduakan wanita itu dengan sahabatnya sendiri.


"Sejak kapan kamu memanggilku dengan sebutan, Baby?" Arumi tersenyum smirk.


"Ehm ... maksudku, Sayang." Mata pria itu bergerak ke sana-ke mari. Tidak bisa fokus menatap Arumi.


"Sejak kapan kamu berselingkuh?" bentak Arumi. "Jawab, Mas! Sejak kapan kamu menduakan aku dengan sahabatku sendiri!"


"Sejak tiga bulan yang lalu. Aku sudah berpacaran dengan Kayla," ucapnya lirih. "Tolong, maafkan aku."


Hancur sudah benteng pertahanan Arumi. Air mata yang ditahan olehnya kini luruh. Di hadapan Mahesa dan Kayla, wanita itu menangis. Badannya berguncang hebat, suara isak tangis menyayat hati menggema memenuhi ruangan. Seketika, tubuhnya terkulai lemas di atas lantai.


TBC


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2