
Tak terasa waktu terus berputar. Kini, sudah tiga hari berlalu sejak insiden kecelakaan yang menyebabkan Kayla harus kehilangan calon bayi serta rahim yang dimiliki olehnya dalam waktu bersamaan. Selama tiga hari juga Mahesa tak sadarkan diri dari koma. Pria itu terus terbaring akibat kecelakaan beberapa waktu silam.
Setelah memeriksa dan memastikan kondisi kesehatan Kayla, dokter sudah memberikan izin pada wanita itu untuk pulang hari ini. Ia dibantu Mona sedang berkemas, merapikan semua pakaian serta barang keperluan selama berada di rumah sakit ke dalam koper.
"Obatmu ini akan kamu masukan ke mana?" tanya Mona. Wanita itu mengangkat plastik daur ulang yang berisi obat-obatan milik majikannya.
Kayla yang saat itu sedang memasukan semua skin care miliknya menoleh sekilas ke arah Mona. "Untuk memudahkan aku meminum obat, simpan saja ke dalam tas yang ada di kabinet TV. Kalau disimpan ke dalam koper, aku akan kesulitan mencarinya jika sudah waktunya minum obat," sahut Kayla seraya menunjuk ke arah kabinet TV berpelitur coklat.
"Baik. Aku masukan ke dalam sini ya." Mona memasukkan plastik itu ke dalam sling bag milik Kayla yang ada di atas kabinet televisi. Model cantik di seberang sana menganggukan kepala sebagai jawaban.
Di saat Kayla dan Mona sedang sibuk dengan pekerjaannya, terdengar suara ketukan pintu. Tak lama, pintu kamar terbuka. Tampak seorang wanita berdiri di ambang pintu dengan senyuman manis terukir di wajah.
"Halo, Kayla." Wanita itu melangkah maju mendekati ranjang rumah sakit. Ia memeluk tubuh Kayla dengan erat. "Maafkan aku baru sempat membesukmu. Sudah satu minggu ini aku ikut seminar di luar kota dan baru tahu jika kamu di rawat di rumah sakit."
Wanita itu mengurai pelukan, menggenggam erat tangan Kayla lalu berkata, "Aku turut prihatin dengan musibah yang menimpamu, Kay. Sungguh, aku sangat menyesal karena tak ada di sisimu saat kamu membutuhkan support dari orang terdekat," timpalnya.
Bola mata indah wanita itu berkaca-kaca. Ia sangat menyesal karena tak ada di sisi Kayla kala teman sekolahnya itu sedang dalam kesusahan.
"Tidak apa-apa. Aku bisa mengerti dengan kesibukanmu, Ra. Kamu 'kan pasti sibuk bekerja. Apalagi bekerja di rumah sakit itu membutuhkan tenaga serta pikiran," sahut Kayla ramah.
Wanita yang diketahui bernama Naura merupakan teman sekolah Kayla sewaktu SMA (Sekolah Menengah Atas) dulu. Ia berprofesi sebagai dokter IGD di Persada International Hospital. Hubungan antara Kayla dan Naura begitu dekat. Komunikasi di antara mereka berdua tetap terjalin meski keluarga Naura memutuskan pindah ke Jakarta karena sang papa mendapatkan pekerjaan di rumah sakit tempat wanita itu bekerja saat ini.
"Ooh ... kamu benar-benar temanku yang sangat pengertian." Naura kembali memeluk Kayla. Bahkan ia semakin mengeratkan pelukan.
Naura mengurai pelukan lalu mengalihkan pandangan ke arah Mona. "Halo, Mon. Bagaimana kabarmu?" tanya Naura ramah. Ia duduk di tepian ranjang rumah sakit.
__ADS_1
Mona, asisten Kayla tersenyum seraya berkata, "Baik. Kamu sendiri, bagaimana?" Wanita itu masih sibuk memasukan helai pakaian ke dalam koper.
Wanita berparas ayu itu menaikkan bahu serta melebarkan kedua tangan ke udara. "Seperti yang kamu lihat saat ini. Aku dalam keadaan sehat walafiat."
"Ya ... ya ... sejak dulu, kamu memang selalu sehat. Jarang sekali bolos sekolah karena alasan sakit. Berbeda dengan kami yang sering bolos karena ... mencari cuan agar dapat bertahan hidup," kelakar Mona. Jari telunjuk dan ibu jari saling bersentuhan Diangkatnya kedua jari itu ke udara.
Seketika ruangan yang tadinya tenang menjadi riuh seketika oleh gelak tawa berasal dari tiga wanita cantik yang ada di kamar tersebut.
"Kamu benar sekali, Mon. Zaman SMA kelas dua, dalam satu bulan kalian pernah bolos sekolah selama tujuh hari bahkan Pak Kepala Sekolah memanggil Ibu Murni (ibu panti asuhan) serta Tante Ningsih agar datang ke sekolah untuk menanyakan ke mana kalian pergi selama ini. Beliau pikir kamu sakit, ternyata kalian pergi ke Jakarta untuk ikut seleksi pemilihan model.
"Ck! Benar-benar gila kalian saat itu," ledek Naura. "Tapi, aku salut pada kalian berdua sebab di usia masih remaja kamu dan Kayla sudah bisa bekerja dan menghasilkan uang. Sementara aku dan yang lain masih meminta orang tua." Naura memandangi Mona dan Kayla bergantian. Ada rasa bangga dalam diri Naura karena ia memiliki dua teman yang begitu ulet bekerja.
Ucapan mengandung pujian itu membuat Kayla tersenyum masam. "Apa yang dapat kamu banggakan pada kami berdua, Ra? Aku hanya anak sebatang kara yang dibesarkan di panti asuhan. Tidak ada seorang pun yang bersedia mengadopsiku. Bahkan, calon orang tua angkatku lebih memilih mengadopsi anak lain hanya gara-gara aku pernah ketahuan memukul temanku sesama anak panti."
Wanita cantik itu mengepalkan tangan ke samping. Apabila mengingat kejadian di masa lalu membuat dadanya terasa sesak dan dendam dalam diri Kayla semakin tumbuh bersemi.
Seharusnya kini ia hidup bahagia karena memiliki keluarga lengkap, mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tua dan tentunya hidup bergelimang harta tanpa harus susah payah bekerja hanya untuk mencari sesuap nasi. Namun, semua impian itu musnah karena calon orang tua angkat Kayla tak sudi membawa Kayla kecil ke sebuah istana penuh dengan kehangatan kasih sayang kedua orang tua yang selama ini didambakan oleh wanita itu.
Naura dan Mona melirik Kayla dengan tatapan sendu. Mereka sudah tahu masalah yang terjadi di panti asuhan tempat Kayla dibesarkan dulu sebab anak kecil yang membully wanita itu bersekolah di sekolahan yang sama. Isu itu tersebar ke seluruh murid SMA.
Kayla remaja sudah dapat membela diri dan lebih kuat setelah dua sahabatnya pergi meninggalkan panti asuhan karena diadopsi oleh orang tua angkat masing-masing. Dari situ, mental wanita itu kuat seperti baja sehingga ketika isu itu tersebar, Kayla remaja bersikap masa bodoh. Ia menutup telinga dan mata. Lebih memilih fokus berkarir sambil menyelesaikan studi-nya.
"Maafkan aku, Kay. Aku tidak bermaksud membuka kembali luka di hatimu. Demi Tuhan, aku tidak ada maksud ke situ." Buru-buru Naura meminta maaf pada Kayla karena ucapannya telah menyinggung perasaan wanita itu. Ia merasa bersalah karena telah mengingatkan Kayla akan kenangan buruk di masa lalu.
"Iya, tidak masalah. Aku malah bersyukur tidak jadi diadopsi oleh pasangan suami istri itu. Jikalau saat itu aku menjadi anak asuh mereka, pasti saat ini hidupku menderita karena mengurusi wanita sialan itu yang sakit-sakitan," balas Kayla disertai senyuman hangat.
__ADS_1
Suasana kembali mencair setelah melihat Kayla tersenyum lagi. Mereka kembali terlibat perbincangan hangat hingga tak terasa waktu sudah menunjukan pukul sepuluh pagi.
Beruntungnya saat itu Naura tidak sedang bertugas. Jadi, ia leluasa mengunjungi teman sekolahnya itu sebelum Kayla pulang ke rumah.
"Kapan-kapan kamu main ke rumahku, Kay. Mama pasti senang melihatmu lagi." Kini Kayla dan Mona sedang berjalan menyusuri lorong rumah sakit.
Kayla dibantu Naura mendorong kursi roda. Sementara Mona menarik koper milik sang artis. Ia berjalan di belakang dua temannya itu.
"Mamaku itu bosan setiap kali merindukanmu yang dilihat hanya majalah bukan orangnya asli. Kamu tahu sendiri, selain kamu dan Mona, tidak ada lagi teman sekolahku yang sesuai dengan kriteria Mama. Dari sekian banyaknya teman kuliah yang datang ke rumah hanya ada satu orang yang sesuai kriteria Mama."
"Coba kalian bayangkan, bagaimana ketatnya Mamaku dalam menyeleksi seseorang." Naura menghembuskan napas secara kasar. Mengingat betapa pemilihnya sang mama membuat wanita itu kesulitan dalam bergaul dengan seseorang termasuk mendapatkan tambatan hati. "Aku hampir gila, Kay."
Kayla tertawa geli. Ia bisa membayangkan bagaimana ekspresi teman-teman Naura saat pertama kali main ke rumah. Sama halnya dengan dirinya dan Mona dulu, kala pertama kali mengunjungi rumah mewah Naura di Bandung dulu.
Kayla dan Mona dicecar berbagai pertanyaan hingga membuat sakit kepala. Beruntungnya dua wankta itu dapat menjawab pertanyaan hingga akhirnya mama Naura mengizinkan putrinya bergaul dengan mereka. Maklum saja, Naura itu merupakan putri tunggal dan anak kesayangan orang tuanya. Jadi orang tua Naura begitu selektif.
"Iya. Aku bisa bayangkan bagaimana wajah teman-temanmu itu ketika bermain ke rumahmu untuk pertama kali. Mamamu pasti riweh 'kan?" balas Kayla sembari tertawa. Banyak sekali kejadian konyol yang terjadi saat menginjakan kaki tuk pertama kali di rumah Naura. Namun, tak semua dapat diceritakan karena mengingat saat ini Kayla hendak menemui seseorang.
Kini mereka tiba di depan pintu lift. Kayla, Mona dan Naura masuk ke dalam benda persegi terbuat dari besi. Suasana sepi sehingga mereka leluasa untuk melanjutkan obrolan.
"Setelah dari sini, kamu mau pergi ke mana?"
"Aku akan menemui suamiku, Ra. Dia juga dirawat di rumah sakit ini," jawab Kayla. "Sama-sama korban kecelakaan. Namun, kondisi suamiku belum sadarkan diri. Oleh karena itu, aku ingin membesuknya sebab selama aku dirawat belum sempat menemui suamiku."
"Ya sudah, kalau begitu aku turun duluan ya. Sampai ketemu lagi, Kayla," ucap Naura sebelum keluar pintu lift.
__ADS_1