Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil

Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil
I Want You!


__ADS_3

Setelah puas berkeliling sambil menikmati kuliner di sepanjang Jalan Alor, akhirnya Rayyan dan Arumi kembali ke hotel. Niat hati pukul sepuluh malam kembali ke penginapan, namun rupanya melenceng dari perkiraan. Mereka baru sampai di hotel tepat pukul sebelas malam waktu setempat.


"Kamu, mandilah duluan. Aku mau memasukan oleh-oleh ini ke dalam koper," titah Rayyan kala ia dan Arumi sudah berada di dalam kamar. Satu buah kamar presidential suite dipesan khusus oleh dokter tampan itu selama berada di negeri jiran.


Rayyan selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk istri tercinta. Mulai dari tiket pesawat hingga penginapan merupakan nomor satu di kelasnya. Pria itu ingin selama berbulan madu Arumi merasa nyaman dan bahagia sehingga secara perlahan rasa sakit dalam hatinya semakin berkurang.


Arumi meletakkan sling bag ke atas nakas di samping ranjang. Mencopot giwang yang menjuntai indah di daun telinga, lalu melirik sekilas ke arah suaminya.


"Kenapa tidak mandi bersama saja? Ini sudah hampir larut malam loh," jawab wanita itu santai. Tanpa berpikir jika ia telah mengundang hewan buas masuk ke dalam rumahnya.


Rayyan yang tengah sibuk membuka kantong belanjaan berisi oleh-oleh mengernyitkan kening. Ia bingung sendiri mengapa Arumi malah mengajaknya mandi bersama. Padahal wanita itu tahu, jika berada di dekat Arumi, hasrat dalam diri pria berusia dua puluh delapan tahun itu sulit dikendalikan. Ia selalu hilang kendali bila bersama istrinya.


Bangkit secara perlahan. Setelah dapat berdiri dengan seimbang, Rayyan mengayunkan kakinya mendekati sang istri.


"Kamu sadar dengan apa yang diucapkan barusan?" tanya Rayyan seraya menatap intens sosok bidadari cantik di sampingnya.


Alih-alih menjawab pertanyaan Rayyan, Arumi malah balik bertanya. "Loh, memangnya ada yang salah? Kita ini suami istri. Kamu suamiku dan aku adalah istrimu. Sah-sah saja 'kan bila kita berdua mandi di kamar mandi yang sama. Bukankah Rasulullah pun dulu sering mandi bersama dengan istri-istrinya? Bahkan pernah minum dalam satu bejana yang sama. Rasulullah saja melakukannya bersama pasangannya, lalu mengapa kita tidak menirunya?"


"Ray, untuk menjaga hubungan suami istri agar tetap harmonis itu sulit. Sekuat apa pun aku berusaha menjaganya, namun buktinya pernikahan pertamaku gagal. Suami selingkuh dengan sahabatku sendiri. Aku cuma takut kamu merasa bosan karena pernikahan kita terasa biasa-biasa saja, tidak ada sesuatu yang spesial hingga membuatmu memutuskan berpaling dariku dan mencari kesenangan di luaran sana."


Rayyan terpaku beberapa saat. Tidak menyangka bila selama ini Arumi berpikiran sempit dan mengira jikalau pria itu akan berselingkuh sama seperti Mahesa dulu.

__ADS_1


Menarik napas panjang dan menarik pinggang istrinya hingga tidak ada jarak di antara mereka.


"Dasar bodoh! Kenapa punya pemikiran seperti itu? Sudah kukatakan, selamanya aku tidak akan pernah selingkuh dari kamu. Cuma kamu satu-satunya wanita yang tidak membuatku alergi. Sedangkan bersama wanita lain, tubuhku akan bereaksi tidak normal," sungut Rayyan berapi-api. Kesal karena Arumi masih berpikir jika dirinya akan selingkuh di belakang sang istri.


Deru napas memburu menerpa kening Arumi dan tak lama kemudian ia tersadar jika telah membangkitkan sosok Rayyan lain yang bersemayam dalam diri pria itu. Sosok yang begitu menyeramkan dan mampu membuat siapa saja yang melihatkan ketakutan. Mata indah wanita itu mengerjap secara perlahan, mencari cara agar suaminya tidak marah. Lama berpikir, rupanya sebuah ide terlintas dalam benaknya.


Melingkarkan tangan di leher Rayyan, kemudian mengulum senyum. Dengan suara manja Arumi berucap. "Iya ... iya ... aku tahu kalau kamu tidak mungkin selingkuh di belakangku. Sudah ya, jangan marah lagi. Kalau marah, nanti tampannya hilang loh."


Rayyan melirik Arumi yang tengah tersenyum dengan bibir dibuat sesensual mungkin. Apabila melihat sikap Arumi seperti ini, maka ia pun tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Sikap wanita itu mampu memadamkan emosi dalam diri pria itu.


"Ya sudah, lain kali jangan pernah sangsikan lagi ketulusan cintaku padamu. Selamanya, hanya kamu yang ada di hatiku. Mengerti?" Rayyan mengalah. Tidak mau bertengkar dengan istrinya cuma karena hal sepele. Lagi pula, ia pun memaklumi jika Arumi masih berada di bawah bayang-bayang masa lalu.


Arumi mengangguk cepat seraya merapatkan tubuhnya kembali. Dua buah squishy itu menempel di dada bidang Rayyan.


"Babe ...." Rayyan mengerang sambil memejamkan mata.


"Kenapa, Honey? Kamu menginginkan sesuatu yang lebih hem?" Arumi sengaja menggoda Rayyan dengan memasang wajah mendamba dan suara yang dibuat sesensual mungkin. "Jika iya, kita bisa memulai permainannya sekarang."


Gerakan dada Rayyan yang bergerak naik-turun tak beraturan membuat Arumi menyeringai. Merasa puas karena berhasil membuat suaminya terangs*ng. Kesempatan ini dimanfaatkanya dengan sebaik mungkin.


"Rayyan, please touch me! I want you tonight!"

__ADS_1


Bak gayung bersambut, Rayyan pun ingin memasuki Arumi malam ini. Entah mengapa, wajah sang wanita akhir-akhir ini terlihat lebih berseri. Dua benda kenyal mirip squishy yang dibungkus kacamata semakin berisi dan padat.


"Jangan menyesal jika malam ini kamu tidak dapat tidur nyenyak. Aku tidak akan berhenti sekalipun kamu memohon dan bersimpuh di hadapanku."


Rayyan menarik pinggang Arumi dengan satu tangan, sedangkan tangan yang lain menahan tengkuk wanitanya. Pria itu mencium bibir istrinya dengan rakus hingga mereka berdua sama-sama terengah-engah.


"Kelinci kecilku, bersiaplah untuk memulai permainan."


Tanpa membuang waktu, Arumi segera melingkarkan kakinya di pinggang Rayyan sambil kedua tangan melingkar di leher. Sementara Rayyan menahan bokong Arumi kedua tangan agar wanitanya tidak terjatuh. Sepasang suami istri itu masuk ke dalam kamar mandi.


Saat tiba di kamar mandi, Rayyan menurunkan Arumi di atas closet dengan sangat hati-hati. Seolah tubuh Arumi adalah sebuah guci antik yang memiliki harta puluhan bahkan ratusan milyar.


"Tunggu di sini, aku akan mengisi air dulu." Arumi menganggukan kepala, menjawab ucapan Rayyan dan membiarkan pria itu menyalakan kran air dan mengisi kotak persegi terbuat dari keramik.


Sambil menunggu suaminya kembali, dengan tergesa-gesa Arumi menanggalkan semua helai kain yang menempel di tubuh hingga tubuh sintal itu polos tanpa ada benang menutupi. Ia menopang sebelah kaki di kaki yang lain, memainkan helaian rambut panjang hitam tergerai dengan gerakan slow motion.


Tubuh Rayyan menegang bagai tersengat aliran listrik dengan daya ratusan volt. Tubuh molek istri tercinta terpampang nyata di hadapannya. Di depan sana, Arumi menatapnya dengan sorot mata penuh gair*h.


"Babe, kamu--"


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2