Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil

Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil
Malam Syahdu Bersamamu


__ADS_3

Rayyan segera menendang pintu vila ketika ia baru saja tiba di penginapan. Untung saja kunci kamar di setiap penginapan menggunakan kata sandi sehingga pria itu tidak kesulitan jika ingin masuk ke dalam kamar.


"Arumi ... di mana kamu!" teriak Rayyan. Akibat diselimuti kekhawatiran, ia tak lagi canggung memanggil partner kerjanya dengan hanya menyebut nama tanpa menyertakan gelar dokter di depan nama wanita itu.


"Arumi!" Kali ini Rayyan menaikan satu oktaf suaranya. Ia mencari wanita itu di setiap sudut ruangan namun tak juga kunjung menemukan Arumi.


Pria itu mengusap wajahnya dengan kasar. Frustasi karena tidak menemukan Arumi di mana pun. Rasa cemas kembali hadir dalam diri. "Sialan! Sebenarnya wanita itu pergi ke mana!"


Ia terduduk di atas sofa. Mengeluarkan benda pipih berukuran 6.5 inci dari saku celana. Mencoba menghubungi nomor Arumi tetapi sayang hanya terdengar suara operator yang menjawab.


Brugh!


Tangan kekar itu melempar tas miliknya hingga alat tulis serta modul berisi materi seminar berhamburan di lantai. Ia benar-benar mencemaskan Arumi. Khawatir wanita itu akan bertindak bodoh karena bertemu dengan dua orang manusia berhati iblis seperti mantan suami dan mantan sahabatnya.


"Aku harus mencari dia sampai ketemu. Jika tidak maka jangan harap malam ini aku akan tidur nyenyak!"


Kini pria itu menyusuri pesisir pantai Jimbaran, mencari keberadaan Arumi sambil menikmati keindahan malam di tepian pantai. Suasana gelap gulita akibat pencahayaan minim membuat netranya kesulitan melihat di tengah kegelapan. Hanya berjarak tiga meter, mata sipit pria itu menangkap sosok wanita yang tengah duduk di atas pasir.


Meski posisi wanita itu membelakangi Rayyan tetapi ia yakin, makhluk yang tercipta dari tulang rusuk pria di depan sana adalah Arumi.


"Kamu jahat, Mas. Dengan teganya menyebut diriku murahan. Padahal selama ini aku selalu setia, menjaga kesucian pernikahan kita dengan baik. Tidak sekali pun aku pergi dengan lawan jenis tanpa sepengetahuanmu. Baru kali ini saja aku pergi tanpa meminta izin sebab kita berdua sebentar lagi akan berpisah," ucapnya disela suara isak tangis menyayat kalbu.


Rayyan masih bergeming. Ia berdiri di tempat. Entah mengapa saat mendengar bibir mungil nan ranum milik Arumi kembali menyebut nama Mahesa, timbul percikan api dalam diri pria itu. Tangan mengepal di samping, deru napas tak beraturan.


Mengingat kejadian beberapa menit lalu, membuat emosinya kembali terpancing. Apalagi melihat tubuh Arumi bergetar akibat menangis hatinya terasa sakit. Perasaan aneh ini kembali muncul setelah sekian lama akhirnya ia merasakan kembali betapa hancurnya hati seorang wanita akibat dikhianati oleh orang terkasih.


"Apakah ini balasan darimu atas semua pengabdianku selama ini? Hanya karena aku belum bisa memberikan anak, kamu tega melukai hatiku, Mas." Suara tangisan itu kembali pecah. Ia menenggelamkan wajahnya di antara kedua lutut yang terlipat lalu melingkarkan tangan di tulang kering miliknya.


"Seharusnya tadi aku memukul wajah pria itu karena telah melukai hati Arumi," batin Rayyan. "Hitung-hitung membantu Arumi membalaskan rasa sakit di hati wanita itu.


"Aku benci kalian!" Arumi meraung sambil menggerakan kakinya di atas pasir, layaknya seorang anak kecil yang merengek karena tak dibelikan mainan oleh sang ibu.


Rayyan berjalan dengan sangat hati-hati dan berhenti di samping Arumi. Ia melepaskan jaket yang dikenakan kemudian memasangkannya di pundak sang wanita.


"Udara pantai di malam hari tidak baik untuk kesehatan."

__ADS_1


Arumi terkesiap. Dengan gerakan cepat ia mengusap cairan bening yang terus meleleh di pipi kemudian mendongakan kepala. Mendapati partner kerjanya berdiri di sisi wanita itu dengan sorot mata yang sulit diartikan.


Tak kuasa bersitatap dengan pemilik mata sipit yang wajahnya mirip aktor Mandarin, Xiao Zhan, Arumi menundukan kepala. Menyembunyikan mata sembab akibat terlalu banyak menangis.


"Saya mencarimu di dalam vila tetapi tak menemukan keberadaanmu di sana," ucap Rayyan lembut. Sikap pria itu berubah 180°, dari galak menjadi lembut. Tak ada lagi sosok Rayyan yang tegas, galak dan dingin.


"Maaf karena acara makan malam Dokter terganggu akibat kedatangan mantan suami dan mantan sahabat saya." Ada penyesalan di setiap kalimat yang terucap. Bagaimanapun juga, ia bertanggung jawab atas insiden yang terjadi di café tadi.


"Apakah, tempo hari kedatanganmu ke kantor Rio untuk meminta bantuan sahabatku mengurusi kasus perceraian kalian?" celetuk Rayyan saat tiba-tiba memori ingatannya menampilkan kejadian beberapa waktu silam ketika tanpa sengaja ia dan Arumi bertemu di kantor firma hukum, milik Rio.


Arumi menganggukan kepala. Ia masih menundukan wajah. "Benar. Siang itu saya langsung pergi menemui pengacara untuk segera mengurusi proses perceraian."


Menyadari sesuatu, dengan refleks Arumi menoleh ke arah Rayyan yang saat itu sudah duduk di sisinya.


"T-tadi, Dokter bilang, Rio adalah sahabat, Dokter?" tanyanya terbata-bata.


"Ya ... dia sahabat lama saya. Sebelum pergi ke Jepang, saya dan Rio sama-sama mengambil jurusan hukum. Akan tetapi, di awal semester saya pindah ke Jepang dan mengambil jurusan kedokteran atas perintah Dokter Firdaus." Terdengar hembusan napas berat ketika pria itu menyebut nama sang papa.


Kening Arumi mengerut, betapa banyak pertanyaan muncul dalam benaknya. Namun, ia tak berani bertanya sebab tidak mau mencampuri ranah pribadi seseorang.


Duduk berdekatan ditemani cahaya rembulan membuat detak jantung keduanya tak beraturan. Kendatipun begitu, dua insan beda jenis kelamin itu berusaha menutupi debaran jantung agar tidak terdengar oleh masing-masing.


"Jadi ... Rini adalah sahabatmu?" Rayyan menatap Arumi dengan sorot mata yang sulit diartikan.


"He'em ... tebakan Dokter benar sekali." Seulas senyum terlukis di wajah. Sebuah senyuman yang biasa diberikan pada semua orang kala dirinya berpapasan dengan orang yang dikenal olehnya.


"Ah ... dunia ini ternyata tak selebar daun kelor." Rayyan merentangkan kedua tangan ke belakang. Kemudian menghirup napas dalam. Menikmati udara malam bersama seseorang sungguh mengasyikan. Begitu menurut pria itu.


"Oh ya, bagaimana Dokter bisa tahu saya ada di sini?" Arumi memicingkan mata, menatap lekat wajah pria itu dengan intens. Getaran aneh kembali menerobos masuk, mengusik serta menggelitik perutnya.


"Saya mengikuti langkah kaki serta menggunakan insting. Di tempat asing ini, kamu mana mungkin berani pergi ke suatu tempat yang belum pernah dikunjungi."


Arumi menganggukan kepala sambil kembali menatap pemandangan laut indah di depan sana. "Insting Dokter Rayyan selalu tepat. Orang-orang memang tidak salah menjuluki Anda dengan sebutan Ahli Nujum yang super genius karena bisa memprediksa di mana keberadaan orang lain." Diikuti suara kekehan ringan di akhir kalimat.


"Diam-diam ... kalian menggosipkan saya?" tanya Rayyan penasaran. Wanita itu menganggukan kepala sebagai jawaban.

__ADS_1


"Rupanya begitu. Pantas setiap waktu saya selalu bersin. Ternyata kamu dan para tenaga medis itu membicarakan keburukan saya heh!" Pria itu berkacak pinggang sambil menatap sinis ke arah Arumi.


"Hanya sesekali saja, Dok. Itupun saat kami sudah terlalu lelah dengan pekerjaan hingga membuat saya dan rekan-rekan sejawat membahas obrolan yang tak berfaedah."


"Ehm ... mulai sekarang berarti saya harus lebih berhati-hati agar kalian tidak semakin gencar bergosip tentang saya."


Pria itu melirik sekilas ke arah arloji. Waktu sudah menunjukan pukul sebelas malam waktu setempat.


Ia beranjak dari duduk. Mengulurkan tangan ke samping lalu berucap. "Ayo, masuk ke dalam vila. Kamu harus banyak istirahat untuk mempersiapkan mental ketika menghadapi persidangan nanti."


Tanpa menunggu diperintah untuk kedua kali, Arumi menerima uluran tangan itu. Ia menggenggam erat jemari Rayyan. Pun begitu sebaliknya.


Malam ini, untuk pertama kalinya Rayyan merasakan kehangatan dari kehadiran seseorang. Jiwanya yang kosong akibat kepergian Mei Ling kini perlahan terisi oleh sosok wanita yang dulu sangat dibenci olehnya.


TBC


.


.


.


Halo kak, nih otor mau promosiin lagi nih karya milik temen otor.


Judul : Mendadak Nikah


Author : nunuk pujiati


Blurb : Demi kebahagiaan saudara kembarnya, Raya rela menerima permintaan Mahen untuk menikah malam itu juga dan tanpa sepengetahuan orang terdekat.


Selama menjadi suami-istri, kehidupan mereka tak ada manis-manisnya, pertengkaran serta kekonyolan selalu membuat kedua orang tua mereka geleng-geleng dan khawatir hubungan kedua anaknya akan kandas di tengah jalan.


"Jangan pernah kamu merubah batasan kita, Mahen! Lihat saja, jika kamu melanggar semua, maka saat itu juga aku akan minta cerai!"


Apakah Raya akhirnya bisa menerima Mahen sebagai suaminya atau Raya akhirnya memilih untuk bercerai, setelah semua masalah saudara kembarnya selesai?

__ADS_1



__ADS_2