
Acara tasyakuran berjalan dengan lancar, meski ada sedikit insiden tak terduga di tengah acara tetapi semua dapat diatasi secepat mungkin atas campur tangan Nyimas sebagai penengah. Wanita paruh baya itu berhasil menghilangkan amarah dalam diri Rini yang disebabkan oleh kelalaian Rayyan dan Arumi. Sikap lemah lembut serta memiliki welas asih tinggi membuat sahabat karib Arumi luluh seketika.
"Lain kali, kalian berdua tidak boleh menyembunyikan sesuatu lagi dariku," ujar Rini masih memasang wajah cemberut layaknya seorang anak kecil yang sedang merajuk pada sang bunda karena tidak dibelikan mainan baru.
"Iya, janji. Ini pertama dan terakhir kalinya aku menutupi sesuatu darimu. Ke depannya tidak akan ada kejadian yang sama." Arumi membalas perkataan Rini. Ia bertekad tidak akan mengulangi kesalahan sama di kemudian hari. Wanita itu tak mau hubungan persahabatannya yang terjalin selama belasan tahun kandas begitu saja karena kesalahpahaman.
Bercermin dari kejadian di masa lalu, membuat Arumi menjaga baik tali persahabatannya dengan Rini. Sudah cukup bagi wanita itu kehilangan satu orang sahabat, dan ia tak mau terulang tuk kedua kali. Bagi wanita itu, Rini adalah sahabat terbaik yang selalu ada di kala suka maupun duka. Best friend forever, begitu menurut Arumi.
"Kamu juga, Ray. Kalau ada kabar penting, segera beritahu aku. Aku tidak mau menjadi orang terakhir yang mendengar kabar baik tentang sahabatku. Camkan itu dalam hati dan pikiranmu!"
Rayyan menghela napas dalam. Baru kali ini ada seorang wanita yang berani mengancamnya. Tubuh pria itu mulai terasa panas, mulai dari hati kemudian merambat ke daun telinga dan wajah memerah menahan amarah. Tidak terima apabila ada seseorang yang mengancam dirinya.
"Oke. Aku janji akan segera memberitahumu. Puas?" ucap Rayyan. Akan tetapi, untuk kalimat terakhir tak berani ia suarakan di hadapan Rini, mengingat saat ini wanita itu sedang mengandung dan suasana hati sering berubah-ubah membuat pria itu lebih berhati-hati agar tak menyinggung perasaan ibu bumil satu ini.
"Permisi, Pak, Bu." Kehadiran Mbak Tini yang disusul si mbok menginterupsi seluruh orang yang ada di ruang tamu. Lantas, dua wanita itu menekuk kedua lutut seraya melangkah perlahan mendekati mereka. Tangan keduanya membawa nampan berisi teh hangat, kopi hangat lengkap dengan bakwan jagung dan pisang goreng sebagai camilan.
Saat ini Arumi beserta yang lainnya tengah duduk lesehan hanya beralaskan zabuton (alas duduk di lantai, terbuat dari busa terbuat dari kain). Oleh karena itu, dua asisten rumah tangga tersebut melangkah mendekati meja bundar terbuat dari kaca dengan cara menekuk kedua lutut.
Usai meletakkan minuman hangat serta camilan di atas meja, dua asisten itu undur diri. Melanjutkan kembali pekerjaannya yang sempat tertunda.
"Ayo, Nak Rini dan Nak Rio, diminum dulu. Selagi masih hangat." Nyimas mempersilakan kedua tamu istimewa di hadapannya untuk menikmati hidangan yang ada di atas meja.
Rio mengulurkan tangan ke depan, meraih cangkir kopi yang disuguhkan oleh mbak Tini. Ia menghirup aroma kemurnian kopi yang ada di depannya, kemudian menyesapnya secara perlahan.
__ADS_1
"Bagaimana kalian bisa tahu kalau kami ada di rumah Mama Nyimas?" Rayyan membuka suara setelah menyesap kopi buatan sang asisten.
Tampak Rini begitu menikmati pisang goreng buatan si mbok. Olahan makanan yang berasal dari pisang kepok dibalut tepung terigu dicampur sedikit garam merupakan makanan kesukaan sahabat baik Arumi. Ia akan banyak menghabiskan banyak pisang goreng dalam sehari karena baginya makanan itu terasa lezat saat dikunyah.
Melihat Rini begitu menikmati makanan kesukaannya, alhasil membuat Rio mau tidak mau dirinyalah yang mewakili sang istri menjelaskan mengapa mereka bisa ada di rumah Nyimas.
Rio sedikit ragu untuk berterus terang, sebab khawatir jikalau alasannya itu terdengar tak masuk akal. Akan tetapi, sudah kadung datang jauh-jauh kalau tak mendapatkan apa yang diinginkan maka sia-sia saja pengorbanan mereka.
Walaupun ragu, ia tetap mengutarakan maksud kedatangannya ke rumah itu. "Ehm ... sebenarnya kedatanganku dan Rini ke sini sengaja ingin bertemu dengan kalian berdua."
"Sejak semalam, istriku ini uring-uringan. Aku tak mengerti mengapa ia jadi seperti ini. Setelah kuselidiki, ternyata ia tengah ngidam." Rio menjeda kalimatnya sejenak seraya memandangi wajah Rayyan, Arumi dan Nyimas secara bergantian.
Ruangan itu kembali hening kala Rio terdiam. Tatapan mata semua orang tertuju pada sosok pria berwajah Timur Tengah di depan sana. Sementara Rini, ia sama sekali tak peduli dengan lingkungan sekitar. Masih asyik mengunyah pisang goreng buatan si mbok.
Emang dasar bumil, untuk urusan perut tetap nomor satu! Bagaimana tidak berisi, hampir beberapa menit sekali perut terasa lapar karena ia kini tak sendiri, melainkan ada satu nyawa lain tengah tumbuh di dalam rahim wanita itu.
"Rini ... ngidam ... ingin perutnya dielus oleh Rayyan, Tante."
"Shiit!" gumam Rayyan merasa keinginan Rini tidak masuk akal. Bagaimana mungkin dirinya mengusap perut buncit seorang wanita sedangkan di dunia ini tidak ada wanita lain yang pernah disentuh olehnya selain Arumi setelah kepergian Mei Ling. Ya, walau nanti ia mengenakan sarung tangan sebagai pelindung, tetapi terasa aneh karena perut yang diusap olehnya bukanlah buah cintanya bersama sang istri.
Ucapan Rio membuat Arumi terbelalak, lalu melirik ke arah Rini. 'Kenapa bisa ngidam minta dielus oleh suami orang? Benar-benar aneh.'
"Benar, Ray. Istriku ngidam dielus perutnya oleh kamu." Rio memasang wajah serius, cemas jikalau ia dituduh membual.
__ADS_1
"Sebelum ke sini, sebenarnya aku pergi ke apartemen kalian, tapi rupanya tidak ada satu orang pun di sana. Akhirnya aku memutuskan melajukan kendaraanku ke rumah Tante Nyimas. Ternyata dugaanku benar, kalian ada di sini." Rio menjelaskan kronologinya mengapa bisa sampai di rumah ibu angkat Arumi.
Nyimas terkekeh sejenak. "Memang ada kok jenis ibu hamil yang ngidam seperti itu. Terkadang keinginannya tidak masuk akal bagi sebagian orang. Akan tetapi, itulah kenyataannya. Semua tergantung pada kalian."
Rayyan terdiam. Memandangi wajah Arumi sambil sesekali melirik ke arah wanita hamil yang masih sibuk mengunyah pisang goreng. Entah sudah habis berapa buah pisang goreng yang masuk ke dalam perut. Namun, yang pasti saat ini istri dari sahabatnya itu begitu senang karena bisa menikmati lagi makanan kesukaannya.
"Aku mohon, Ray, sekali ini saja. Kamu tolong bantu aku mewujudkan keinginan Rini. Meskipun tahu jika di dunia ini hanya Arumi yang bisa menjinakan penyakit anehmu itu, tetapi demi bayi dalam kandungan istriku, berbelas kasihlah kepada kami." Rio bahkan rela memohon di hadapan semua orang, berharap agar Rayyan bersedia mengabulkan keinginan jabang bayi dalam kandungan sang istri.
Rayyan beradu pandang dengan Arumi. Keduanya saling memandang satu sama lain. Lewat tatapan mata, sepasang suami istri itu seolah sedang berkomunikasi dalam diam. Meski bibir terkunci rapat, tetapi hati terus berkata. Hingga akhirnya sebuah kesepakatan didapat.
"Oke, aku bersedia. Tapi ... seperti biasa, aku gunakan sarung tangan sebagai pelindung karena tak mau penyakit anehku ini kambuh setelah menyentuh perut istrimu."
Rayyan putuskan membantu Rio, sahabatnya. Teringat kalau saat ini Arumi pun tengah mengandung. Membayangkan jikalau sang istri ada di posisi Rini maka ia pun akan melakukan hal yang sama demi buah cintanya di dalam kandungan istri tercinta.
Suara berat Rayyan menghentikan kegiatan Rini. Senyum mengembang di sudut bibir mendengar kesediaan dokter tampan itu mengusap lembut perutnya yang buncit.
Lantas, Rini pun mulai memposisikan diri dengan nyaman sambil menunggu Rayyan memasang sarung tangan agar tak bersentuhan dengan wanita lain. Setelah siap, barulah ia melakukan tugasnya.
Perlahan, Rayyan mulai mengusap lembut perut buncit Rini. Walaupun perut yang disentuh olehnya bukan buah cintanya bersama Arumi, namun ia tetap merasakan debaran lembut dalam hatinya.
'Sayang, kamu jangan salah menilai ya, Nak. Tangan yang berada di atas perut Mama bukan tangan Papa-mu, melainkan tangan Uncle Beruang Kutub yang telah mencair setelah bertemu Aunty Arumi. Kelak, sudah besar kamu harus menghormatinya sama seperti kamu menghormati Papa dan Mama,' ucap Rini dalam hati.
.
__ADS_1
.
.