Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil

Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil
Rencana Meminang Kayla (S2)


__ADS_3

Alvin sudah sadarkan diri, dokter pun memberitahu bahwa kondisi pria itu baik-baik saja tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan. Kendati begitu, pria yang bekerja sebagai fotografer terkenal harus cuti beberapa hari untuk memulihkan kondisi kesehatan agar bisa beraktivitas seperti biasa. Tugas pria itu sebagai tukang foto telah diambil alih oleh teman sesama fotografer.


"Apa kamu tidak ada niat untuk pindah dari sini? Jika melihat dari reaksi warga beberapa hari lalu, tampaknya mereka menaruh dendam kesumat kepadamu. Daripada insiden tempo hari terulang lagi, alangkah baiknya tinggalkan tempat ini sebelum terlambat," ujar Alvin, mencoba mengutarakan kekhawatirannya kepada Kayla.


Kayla menyodorkan satu sendok bubur ayam ke depan mulut Alvin dan menjawab, "Mau pindah ke mana lagi, Vin? Ini sudah kedua belas kalinya aku pindah rumah. Bila dibandingkan dengan tempat yang lain, di sini aku merasa lebih nyaman dan tenang. Selain itu, usahaku pun cukup ramai dan telah mempunyai banyak customer. Kalau aku pindah, maka memulai lagi dari nol."


Alvin membuka mulut dan menelan makanan dari tangan Kayla tanpa sungkan. "Lebih baik mengulang dari awal daripada nyawamu melayang! Apa kamu tidak lihat, bagaimana kemarahan warga malam itu? Untung saja mereka menghajarku, kalau tidak mungkin kamu telah menyusul calon bayimu yang belum pernah terlahir ke dunia."


Kayla yang saat itu sedang mengaduk makanan menghentikan sejenak aktivitasnya. Menghunuskan tatapan tajam bagaikan ujung mata pisau yang baru saja diasah. "Semua ini tidak ada sangkut pautnya dengan calon anakku! Jadi, kumohon jangan bawa-bawa dia dalam topik pembicaraan."


Bibir Alvin bungkam seketika ketika mendengar ucapan Kayla. Menyesal karena telah mengorek kembali luka yang susah payah dia kubur dalam-dalam. "Maafkan aku, Kay, bukan maksud menyinggung perasaanmu. Hanya saja aku tidak rela bila mereka menyakitimu. Kamu itu sedang mencoba memperbaiki diri, seharusnya mereka membantu bukan malah membuat onar."


Menarik napas dalam, kemudian mengembuskan secara perlahan. "Aku mengerti kekhawatiranmu. Namun, ini sudah menjadi pilihanku biarkan aku bertanggung jawab atas resiko yang telah kuambil."


Alvin meraih gelas bening di atas meja, lalu menyesapnya hingga tandas tak bersisa. Setelah itu, memposisikan tubuh senyaman mungkin. "Baiklah kalau itu maumu, aku tak kan memaksa. Kalau butuh bantuan, jangan sungkan menghubungiku."


Senyuman mengembang di kedua sudut bibir mantan model terkenal. Tersenyum tulus hingga membuat Alvin merasa jauh lebih tenang. "Tenang saja, aku pasti menghubungimu."


Sementara itu, di kediaman Husni, pria yang menjabat sebagai ketua RT sedang berdiri di depan cermin. Sudah hampir lima belas menit memandangi pantulan diri di depan sana sambil berbicara sendiri.


"Aargh! Kenapa lidahku mendadak kelu saat hendak menyampaikan niatanku datang menemui Bu Kayla. Ayolah, kenapa kamu bisa payah begini sih!" keluh Husni sambil mengacak-ngacak rambutnya yang sudah disisir rapi.


Husni melangkah gontai mendekati ranjang. Ia dudukan bokongnya yang dibalut celana bahan warna coklat tua di tepian pembaringan. "Bagaimana mau mengutarakan isi hati bila membuka mulut saja susah. Ya Tuhan, apakah memang ini petanda kalau aku harus melepaskan wanita itu?" ucapnya lirih sambil menatap langit-langit kamar.

__ADS_1


Pintu kamar terbuka lebar, menampakkan sesosok wanita paruh baya berdiri di ambang pintu. Tersenyum hangat memandang anak kesayangan. "Kamu yakin ingin melepas Neng Kayla begitu saja tanpa mengungkapkan perasaanmu kepadanya? Yakin bisa ikhlas bila melihat dia bersanding dengan pria lain?" cecar Fatimah.


Husni menggeser tubuhnya ke samping, memberikan ruang kosong untuk ibunda tercinta duduk di sebelahnya. "Tentu saja tidak ikhlas. Aku sudah menyimpan rasa pada Bu Kayla sejak pertama kali bertemu dan rasa itu semakin hari semakin bertambah. Jadi, mana mungkin aku rela begitu saja melepas dia untuk orang lain."


"Maka dari itu, kalau kamu tidak rela segera utarakan isi hatimu kepadanya. Jangan ditunda-tunda lagi. Kalau sudah keduluan orang, kamu tak punya kesempatan lagi memiliki Neng Kayla," tutur Fatimah lemah lembut. Mengusap punggung Husni dengan penuh cinta. "Sana, temui Neng Kayla sekarang! Bilang kepadanya kalau kamu ingin menjadikan dia sebagai pendampingmu."


Mengendarai motor kesayangan, Husni melajukan kendaraannya dengan kecepatan sedang menuju kediaman Kayla. Teriknya sinar matahari tak menyurutkan semangat duda beranak satu menemui wanita yang telah memporakporandakan hatinya sejak beberapa bulan yang lalu.


Hanya membutuhkan waktu lima menit, ia telah sampai di halaman rumah mantan model tanah air. Luas halaman tidak begitu lebar tetapi cukup asri dan sejuk karena Kayla banyak menanam pepohonan sehingga udara sekitar menjadi lebih segar.


Berdiri di ambang pintu dengan degup jantung tak beraturan. Semakin lama debaran di dada semakin tidak terkendali bahkan salah satu organ penting bagi manusia rasanya mau copot dari tempatnya.


Menarik napas panjang mencoba memberanikan diri untuk bertemu dengan Kayla secara langsung. Setelah dirasa cukup tenang, barulah Husni mengulurkan tangan ke depan mengetuk daun pintu berwarna putih. Menunggu beberapa saat hingga terbuka diikuti kemunculan mantan model di sana.


"Wa'alaikum salam," jawab Kayla. "Pak Husni, tumben datang ke sini. Ada perlu apa, Pak?"


"Ada hal penting yang ingin saya bicarakan dengan Bu Kayla. Apakah saya boleh masuk ke dalam?"


Memandang penuh tanda tanya ke arah pria jangkung di hadapannya. Kedua alis saling menaut mencoba mencari tahu hal penting apa yang ingin disampaikan.


"Boleh, Pak. Mari, silakan masuk!" Kayla menggeser tubuhnya demi mempersilakan Husni masuk ke dalam rumah.


Di rumah itu ia tidak sendirian, ada Mona serta kedua anak buah Ikbal yang diminta menjaga kediaman Kayla selama Alvin berada di sana untuk menghindari hal tak diinginkan. Meskipun Reza serta beberapa warga yang terlibat pengeroyokan telah masuk penjara demi memberikan efek jera, tetap saja pria paruh baya yang notabene merupakan ketua RW setempat ingin memastikan keselamatan warganya terjamin. Terlebih, Ikbal tahu bahwa Kayla adalah wanita yang disukai keponakannya maka dia berkewajiban menjaga pujaan hati sang keponakan.

__ADS_1


Kayla dan Husni duduk bersebrangan. Jendela serta pintu segaja dibuka lebar sehingga orang yang lalu lalang dapat melihat kalau kedua insan manusia itu tidak sedang melakukan perbuatan terlarang yang memancing emosi warga.


"Kalau boleh tahu, hal penting apa yang ingin disampaikan Bapak hingga repot-repot datang ke sini," tanya Kayla memulai percakapan.


"I-itu, soal ... Mas Alvin," jawab Husni terbata. Entah kenapa malah kalimat itu yang meluncur dari bibir pria itu padahal kedatangannya ke sana bukan untuk menanyakan kabar Alvin melainkan meminang Kayla sebelum dia membawa keluarganya datang ke rumah itu.


Bodoh! Kenapa malah kalimat itu yang kamu ucapkan, Husni! Payah. Kamu benar-benar payah! rutuk Husni dalam hati.


"Oh, soal Alvin. Mau saya panggilkan Alvin ke sini agar dapat berbicara dengan Bapak?"


Husni menggeleng, kemudian mengangguk, lalu mengangguk lagi dengan cepat.


Alis Kayla mengerut memperhatikan gerak gerik Husni yang tampak gelisah. "Sebenarnya, Bapak ingin membicarakan tentang Alvin atau tentang hal lain?"


"Ehm ... i-itu ... tentang--"


.


.


.


Note : Karya ini beberapa episode lagi akan tamat dan beralih ke cerita anak-anak Arumi, tetapi di lapak berbeda. Bulan depan Insha baru rilis.

__ADS_1


__ADS_2