
Sementara itu, di sebuah kota yang cukup jauh dari Jakarta, seorang wanita cantik sedang memasak di dapur. Jemari tangan bergerak dengan cekatan mengolah masakan sehingga aroma harum masakan menyeruak memenuhi seisi ruangan.
Bunyi alat masak yang saling beradu terdengar hingga ke dalam kamar membuat kelopak mata Husni secara perlahan terbuka. Mendadak perut pria itu terasa lapar kala mencium aroma lezat masakan bersumber dari dapur rumahnya. Ia duduk, lalu menyadarkan punggung di sandaran tempat tidur.
Tiba-tiba, senyum merekah di bibir saat tanpa sengaja melihat sebuah bingkai foto berukuran besar menggantung di dinding kamar. Foto pernikahan antara dia dan istri tercinta terpampang di depan sana.
Husni turun dari pembaringan menuju dapur. Bibir semakin melebar, sorot mata memancarkan sinar kebahagiaan serta hatinya menghangat kala menyaksikan sendiri betapa kerasnya usahan Kayla menyiapkan makanan untuk dirinya.
"Kamu sedang memasak apa, Sayang?" tanya Husni seraya memeluk tubuh sang istri dari belakang. Menyingkirkan rambut panjang hitam tergerai ke samping, lalu mengecup leher jenjang tinggi dengan penuh cinta.
Embusan napas dan hangatnya bibir menyentuh permukaan kulit membuat bulu kudu Kayla meremang seketika. Bulu-bulu halus di sekitar rahang semakin memberikan sensasi berbeda.
"Aku sedang membuatkan nasi goreng untuk kita sarapan. Maaf ya, Kang, cuma ini yang bisa aku masak," ucap Kayla lirih karena merasa bersalah tak bisa membuatkan masakan lezat selain nasi goreng telur mata sapi.
Husni mematikan kompor yang masih menyala, lalu membalikan badan istrinya hingga tak ada jarak di antara mereka. Tangan kekar sang ketua RT terulur ke depan, mengampit ujung dagu lancip milik istri tercinta menggunakan ibu jari dan jari telunjuk.
"Neng, Akang menikahimu bukan untuk menjadikanmu sebagai asisten rumah tangga di sini melainkan sebagai pendamping hidup yang selalu berada di sisiku. Walaupun memang pada dasarnya seorang istri berkewajiban melayani suami dengan baik. Namun, bila Neng tidak sanggup maka Akang tak kan mungkin memaksa. Segala sesuatu membutuhkan proses begitu pun dengan keahlian dan kemampuan Neng dalam melayani Akang."
"Tidak masalah jika hari ini Neng hanya menyiapkan nasi goreng untuk Akang sarapan. Atau selamanya Neng tidak bisa masak pun, Akang selalu mencintaimu," ucap Husni dengan penuh kelembutan. Setiap kalimat terucap mampu menggetarkan jiwa bagi siapa saja yang mendengarnya.
Sepasang mata bulat semakin berkaca-kaca. Hati terasa menghangat mendengar untaian kalimat dari bibir sang suami. Jiwa terasa damai dan tentram. Berbicara dalam hati, kebaikan apa yang dimiliki hingga Tuhan mempertemukannya dengan sosok pria baik berhati malaikat seperti Husni.
"Kenapa Akang baik sekali sama aku? Padahal, dulu aku pernah membuat kesalahan besar tetapi kenapa Tuhan malah mengirimkan Akang di saat aku sedang menuai hukuman atas kejahatanku di masa lalu." Iris mata coklat beradu pandang dengan pemilik mata bulat. Hingga detik ini, ia masih belum percaya bahwa Husni benar-benar tulus mencintainya.
Husni menangkup wajah Kayla. Pandangan mata menatap intens milik sang istri. "Karena Akang mencintai, Neng. Mungkin Neng masih ragu dengan ketulusan cinta yang Akang punya. Tapi demi Tuhan, Akang tidak punya niatan apa pun selain ingin membina rumah tangga yang harmonis bersama istri tercinta. Akang ingin membangun sebuah keluarga yang diridhoi Tuhan."
__ADS_1
Air mata Kayla menetes saat itu juga kala Husni menjawab keraguan yang ada dalam hatinya. Bukan air mata kesedihan melainkan air mata bahagia. Bibir gemetar, lidah terasa kelu tak sanggup berkata.
"Neng, setiap orang mempunyai masa lalu. Akang, Ibu dan semua orang pasti pernah mempunyainya. Namun, bedanya masa lalu kami tersimpan rapat karena tidak diumbar oleh orang lain. Jadi, Akang mohon, jangan lagi mempertanyakan kenapa dan bagaimana Akang mencintai Neng. Cukup Neng tahu kalau Akang benar-benar tulus mencintaimu."
Tanpa banyak berkata, Kayla segera mengalungkan kedua tangan di leher Husni. Kemudian bibirnya yang ranum mencium benda kenyal milik pria itu. Ia melumaat habis bibir sang suami dengan napas memburu.
Mendapat serangan tiba-tiba membuat sang lelaki terkesiap beberapa saat. Bola mata terbelalak sempurna dengan ritme jantung yang memompa lebih cepat. Sekujur tubuh terasa panas, merasakan gairah yang membara membangkitkan jiwa kelelakian yang selama empat tahun terpendam.
Saling melumaat, lidah saling membelit hingga mereka merasakan kekurangan pasokan oksigen di paru-paru.
Sang ketua RT melepaskan pangutan bibir dan menatap penuh gairaah akan sosok wanita cantik bertubuh tinggi semampai di depannya. Dengan suara berat, dia berkata, "Wahai istriku tercinta, bolehkah Akang meminta hak sebagai suami Neng? Akang ... sudah tidak tahan lagi kalau harus menunggu terlalu lama."
Kayla tidak menyahut dengan sebuah ucapan, tetapi melalui bahasa tubuhnya. Ia menganggukan kepala sambil tersimpul malu. Rona merah muda terukir jelas di kedua pipi.
Tanpa menunggu lagi, Husni segera menggendong Kayla menuju kamar. Beruntungnya di rumah itu tidak ada siapa-siapa sehingga mereka bebas berteriak, menjerit sesuka hati tanpa takut didengar oleh bu Fatimah ataupun Adinda, sebab mereka berdua tengah mengunjungi mantan mertua Husni di Yogyakarta.
Duduk berdua di teras rumah sambil menikmati senja. Hamparan sawah hijau luas membentang memanjakan netra bagi semua insan. Semilir angin sore dan suara cicit burung bertengger di dahan pohon semakin menambah kesyahduan.
"Ra, menurutmu apakah saya pantas untuk bahagia?" tanya Mahesa tiba-tiba.
Sontak, Nadira yang saat itu sedang memandangi para bocah kecil tengah mengayuh sepeda di jalanan perkampungan menoleh ke arah Mahesa. Ini pertama kalinya pria itu berbicara dengan nada lemah lembut.
Nadira semakin melongo dibuatnya. Mengerjapkan mata berkali-kali sambil mencubit lengan mencoba mencari tahu apakah saat ini ia sedang berhalusinasi. Akan tetapi, rasa sakit itu muncul tatkala jemari tangan menarik permukaan kulit.
"Aawh!" pekik wanita berseragam perawat.
__ADS_1
Mahesa mendengkus kesal melihat sikap aneh yang ditunjukan oleh wanita di sebelahnya. "Hentikan tindakan bodohmu itu, Suster Nadira! Kamu itu sedang tidak bermimpi," tandasnya. "Sudah, cepat jawab pertanyaan saya barusan."
"I-iya, Pak Mahesa. Maaf. Saya pikir tadi sedang bermimpi, sebab nada suara Bapak terkesan lebih lembut dari biasanya," sahut Nadira jujur.
Sebelum menjawab pertanyaan Mahesa, Nadira lebih dulu menarik napas dalam mencoba menetralkan degup jantung yang terus berparade ria setiap kali berada di dekat sang pasien. Meskipun dirinya telah ditolak mentah-mentah, tetapi perasaan wanita itu kepada mantan suami Arumi belum juga sirna.
"Pak, setiap orang itu berhak untuk bahagia termasuk Bapak. Terlebih ada sebuah riset yang menunjukan bahwa orang bahagia akan lebih mudah terhindar dari pemburukan kesehatan fisik ataupun non fisik karena adanya semangat saat menjalani hidup dan sikap penuh percaya diri dalam diri seseorang. Banyak cara agar hidup lebih bahagia. Salah satunya adalah tersenyum dan tertawa."
"Lalu, apakah saya bisa bahagia setelah melepaskan Arumi?"
"Tentu saja. Saya yakin, Bapak pasti menemukan kebahagiaan Bapak sendiri. Terlebih, Pak Mahesa sudah mengikhlaskan Dokter Arumi untuk hidup bersama keluarganya. Jadi, kini saatnya Bapak pun mencari dan kalau sudah menemukan kebahagiaan itu sambutlah dengan penuh suka cita."
Mahesa menuangkan air putih dari teko ke dalam gelas, kemudian mengisi tenggorokan yang terasa kering. "Kalau misalkan saya membutuhkan dirimu dalam menyambut kebahagiaan itu, apakah kamu bersedia?"
"Apa?" Nadira membulatkan mata sempurna hingga sepasang mata bulat nyaris copot dari tempatnya.
Mantan pemimpin Adiguna Properti meletakan gelas kosong di atas meja, kemudian sebelah tangannya menyentuh tangan lembut Nadira. "Suster Nadira, maukah kamu membantuku menemukan kebahagiaan itu? Saya membutuhkan seseorang untuk bisa membimbingku menemukan kembali artinya sebuah kebahagiaan. Saya lelah bila terus terjebak pada masa lalu. Saya ingin melangkah maju ke depan tanpa menoleh ke belakang lagi. Sudikah kiranya dirimu menemaniku menemukan itu semua?"
"Jujur, saya memang belum ada rasa sama kamu. Namun, berikanlah waktu bagi saya untuk belajar mencintaimu," sambung Mahesa dengan sorot mata penuh pengharapan. "Saya berjanji akan belajar melupakan Arumi dan menerimamu sebagai satu-satunya wanita yang terakhir yang pantas untuk dijadikan pelabuhan terakhir."
"Saya--"
"Sst!" Jari telunjuk Nadira berhenti di depan bibir Mahesa. "Saya bersedia, Pak. Saya mau tetap berada di samping Bapak, selamanya."
Mahesa tersenyum, lalu mencium punggung tangan Nadira dengan lembut. "Terima kasih, Nadira, karena kamu masih tetap menyimpan rasa itu untuk saya."
__ADS_1
...~TAMAT~...