Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil

Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil
Arumi Sudah Tahu


__ADS_3

Setibanya di apartemen, Arumi tidak langsung pergi bekerja. Rayyan memutuskan mengambil cuti untuk Arumi agar sang istri dapat istirahat dengan cukup selama tiga hari ke depan, sementara ia pergi bekerja seperti biasa.


Kondisi Arumi begitu lelah. Wajah pucat pasi, disertai rintihan ringan kala merasakan bagian perut terasa kram meski rasa sakitnya bisa digolongkan cukup ringan tapi tetap saja membuat wanita itu merasa tak nyaman. Oleh karena itu, Rayyan mengajukan cuti tambahan untuk istri tercinta. Menggunakan kekuasaan yang dimiliki demi kepentingan istri tercinta.


"Hari ini aku akan mulai bekerja, kamu di rumah saja istirahat. Dan ingat, jangan melakukan pekerjaan apa pun!" Rayyan menekankan kalimat terakhir, berharap agar Arumi mematuhi perintahnya sebagai suami serta kepala rumah tangga. Ia tidak rela apabila istrinya jatuh sakit akibat kelelahan.


"Urusan pekerjaan, biar Mbak Tini saja yang mengerjakan. Aku sudah meminta Mbak Tini datang ke sini. Kemungkinan siang atau sore baru sampai apartemen. Mama Nyimas pun akan tinggal beberapa hari selama kamu mengambil cuti tambahan," ujar Rayyan panjang lebar.


Arumi mencebikan bibir. Wanita itu kesal karena sejak semalam Rayyan terus berbicara hal yang sama hingga membuat telinganya terasa panas. Raut wajahnya menunjukan kekesalan tapi juga tersebit rasa bahagia karena Rayyan memperlakukannya layaknya seorang ratu di apartemen itu.


Wanita cantik yang tengah duduk di kursi makan melirik ke arah jam dinding. Sudah hampir tiba waktunya Rayyan berangkat bekerja. Jika dalam waktu lima menit tidak berangkat, sudah bisa dipastikan pria itu akan telat sampai rumah sakit.


"Iya, aku paham. Sudah sana berangkat! Jika kamu terus berbicara yang ada malah kamu akan terlambat tiba di rumah sakit. Kamu itu seorang pemimpin. Jadi, harus memberikan contoh yang baik bagi seluruh karyawanmu. Mengerti?" ujar Arumi seraya menyodorkan tas kerja serta snelli putih milik suami tercinta.


"Ya sudah, kalau begitu aku berangkat sekarang." Rayyan mengulurkan tangan ke depan, lalu Arumi menyambutnya. Wanita itu mencium punggung tangan suami tercinta.


"Hati-hati di jalan, Suamiku. Dadah!" Arumi melambaikan tangan ke udara saat Rayyan melangkahkan kakinya menuju kotak persegi terbuat dari besi.


Setelah Rayyan pergi meninggalkan apartemen yang kini menjadi tempat bernaung bagi Arumi dan suaminya, wanita itu menghela napas pelan seraya mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan. Ruangan itu cukup luas dan terasa sepi bila hanya ada ia seorang. Beruntungnya Rayyan perhatian, tanpa ia suruh pria itu sudah meminta Mbak Tini untuk bekerja di apartemen. Sehingga kelak ia tak perlu merasa kesepian karena ada seseorang yang menemani.


Arumi tersenyum samar. "Cerita perjalanan rumah tanggaku akan dimulai hari ini dan di apartemen ini. Semoga kelak hanya ada kebahagiaan yang ada dalam buku sejarah pernikahan keduaku. Aamiin."


Segera setelah itu, Arumi mengayunkan kaki menuju dapur yang letaknya berada di dekat meja bar. Ia berjinjit mengambil toples teh, lalu meletakkannya di atas cangkir keramik bermotif bunga sakura. Menuangkan air hangat plus madu serta tidak lupa perasan jeruk lemon.

__ADS_1


Duduk di sebuah sofa panjang di dekat jendela besar dengan pemandangan kota Jakarta. Wanita itu menyesap teh hangat buatanya sendiri sambil memainkan telepon genggam miliknya.


Baru saja membuka akun instagram miliknya, dua buah video viral yang diupload oleh salah satu akun gosip menyapa wanita berusia dua puluh tujuh tahun silam.


"I-ini ... sejak kapan video ini tersebar di dunia maya?" Mata Arumi tidak berkedip sedikit pun ketika melihat setiap adegan yang terekam jelas dalam video tersebut.


"Oh astaga. Kenapa video ini bisa muncul di internet. Siapa yang telah menyebarkannya?" Arumi terus bergumam sambil terus menatap layar ponsel miliknya.


Namun, di saat Arumi tengah sibuk dengan benda pipih dalam genggamannya, suara bel pintu menghentikan sejenak kegiatannya. Wanita itu bangkit dari duduk dan melangkah menuju pintu.


Pintu apartemen Arumi terbuka. Wanita itu cukup terkejut kala melihat Rini berdiri di hadapannya. Sahabatnya itu tersenyum hangat kepadanya.


"Rini ... kenapa kamu bisa ada di sini?" Belum usai keterkejutannya akibat video viral yang masih hangat diperbincangkan, kini Arumi dibuat terkejut oleh kehadiran sahabatnya.


Rini mencibir dan memutar bola matanya malas. Jauh-jauh datang dari rumah, menerobos kemacetan demi bertemu sahabat rupanya kedatangannya tidak disambut dengan baik oleh tuan rumah.


"Jadi seperti ini cara kamu menyambutku setelah dua minggu kita tidak bertemu?" dengus Rini kesal. "Jangankan menggelarkan karpet merah bahkan pintu pun tidak dibukakan rapat olehmu!"


Arumi terdiam beberapa saat. Terlihat ia masih shock dengan video yang dilihatnya barusan. Namun, ia berusaha mengendalikan diri dan bersikap seolah tak pernah terjadi apa-apa.


Berdehem guna menyingkirkan penghalang yang menghambat tenggorokan. "Maafkan aku, Rini. Aku tidak bermaksud begitu," kata Arumi seraya membuka pintu lebar. Sedikit bergeser mempersilakan sahabatnya masuk ke dalam. "Masuk! Aku akan buatkan minuman untukmu."


Tanpa diperintah untuk kedua kali, Rini masuk ke dalam apartemen milik Arumi yang dijadikan mahar pernikahan oleh Rayyan.

__ADS_1


Rini duduk di sofa, tempat Arumi tadi duduk. Lalu, tak sengaja melirik ke arah telepon genggam yang tergeletak di atas meja. Ia menutup mulutnya menggunakan telapak tangan, terkejut dengan apa yang terlihat oleh netranya.


Melihat Rini yang hanya membeku seraya mengarahkan pandangan ke arah telepon genggam miliknya, Arumi mempercepat langkah dengan kedua tangan membawa nampan. Di bagian atas terdapat segelas teh hangat serta satu piring red velvet yang dibeli oleh Rayyan sebelum mereka pulang ke apartemen.


"Rini?" panggil Arumi lirih. Wanita itu mengikuti arah pandang sahabatnya.


Rini sangat terkejut karena tak menyadari jika Arumi telah berdiri di sampingnya. Wanita itu menatap Arumi dengan tatapan yang sulit diartikan.


Lewat sorot mata Rini dan sikap wanita itu yang mendadak berubah, Arumi yakin sahabatnya tahu sesuatu hal yang tidak ia ketahui.


Arumi meletakkan nampan ke atas meja, lalu memutari meja tamu dan duduk di sebelah Rini. Terus menatap sahabatnya seakan ia meminta penjelasan kepada wanita itu.


Rini menarik napas dalam, lalu mengembuskan secara perlahan. Lambat laun, Arumi pasti tahu video viral yang tengah hangat diperbincangkan oleh banyak orang dan menduduki nomor urut pertama di kolom pencarian. Jadi, tidak ada salahnya bila ia memberitahu yang sebenarnya pada Arumi atas apa yang menimpa Kayla selama dokter cantik itu pergi berbulan madu.


"Aku akan menceritakan semuanya padamu, tapi kamu janji jangan menyela sama sekali saat aku bercerita." Akhirnya Rini membuka suara.


"Ya, aku janji tidak menginterupsimu saat sedang bercerita," jawab Arumi penuh keyakinan.


Lalu, Rini mulai menceritakan semuanya yang ia ketahui kepada Arumi tanpa ada satu hal pun yang terlewatkan.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2