
Melihat raut wajah tampak gelisah, Rayyan meletakkan alat makannya di atas piring. Meraih gelas berisi air putih, lalu meneguknya hingga tersisa setengahnya.
Dengan nada lembut, Rayyan berkata. "Mau bicara tentang apa? Katakan saja apa yang ingin disampaikan. Aku janji, tidak akan marah."
Arumi merasa ini memang waktu yang tepat berdiskusi dengan suaminya. Maka, ia tidak mau membuang waktu begitu saja.
"Ini tentang anak-anak." Menjeda sejenak kalimatnya sambil mengumpulkan keberanian di dalam dada. Setelah dirasa yakin, barulah kembali berkata. "Aku begitu menikmati peranku sebagai ibu dari tiga orang anak kembar. Bisa mengurus mereka adalah suatu kebahagiaan tersendiri bagiku. Namun, semenjak masa cutiku habis, aku harus membagi waktu antara pekerjaan dan mengurusi anak. Walaupun ada Mbak Tini, Mama Nyimas dan terkadang Pak Burhan turut membantu jika aku sedang bekerja, tapi tetap saja tersimpan rasa penyesalan dalam diri karena tak bisa memberikan perhatian seutuhnya kepada Triplet."
"Waktuku banyak terkuras di rumah sakit. Mengurusi pasien di bangsal, membuat laporan, dan melakukan operasi minor ataupun mayor yang terkadang membutuhkan waktu tiga hingga lima jam lamanya. Akan terjadi perang batin di dalam hatiku apabila salah satu anak kita sakit sedangkan aku harus bekerja di rumah sakit, Mas."
"Tadi pagi, puncak keputusasaanku karena lelah membagi waktu antara pekerjaan dan anak-anak. Oleh karena itu, seandainya aku resign bekerja dan lebih memilih mengurusi anak-anak, bagaimana? Jujur, aku tak sanggup bila harus menjalankan dua peran dalam waktu bersamaan. Harus ada yang kupilih antara karir atau anak."
"Jika memilih karir, maka kita patut mencari baby sitter untuk merawat Triplet. Namun, bila aku memilih anak-anak maka aku harus berhenti bekerja," tutur Arumi. Raut keseriusan di wajah wanita itu terukir jelas. Nada bicaranya pun terdengar tegas.
Usai menyampaikan uneg-uneg kepada Rayyan, dada Arumi terasa lapang. Beban terbesar dalam hidup terangkat semua. Baru kali ini merasakan tubuhnya jauh lebih ringan dari sebelumnya.
Rayyan berubah menjadi pendengar setia. Mendengar keluh kesah istri tercinta tanpa menyanggah maupun mencibir, sebab ia mengerti tugas seorang ibu tidaklah mudah terlebih merawat bayi kembar tiga dalam waktu bersamaan membutuhkan energi lebih.
"Jadi, kamu mengajakku berbicara untuk mendiskusikan jalan terbaik dari masalah ini, begitu?" Arumi menjawab dengan anggukan kepala. "Kalau aku pribadi lebih menginginkan kamu fokus mengurusi anak-anak. Menikmati setiap moment bersama mereka lebih penting dari apa pun di dunia ini. Seandainya saja urat maluku sudah putus, mungkin aku pun akan resign dari pekerjaan dan menemanimu menjaga anak-anak."
"Namun, karena aku adalah kepala keluarga dan nyatanya urat malunya masih ada, tentu saja aku tetap bekerja di rumah sakit. Apabila resign, aku yakin saat itu juga Mama Nyimas akan menceramahiku habis-habisan. Belum lagi image-ku hancur di mata seluruh saudaramu dari pihak Mama Nyimas dan mendiang Papa Zidan."
"Aku tidak menyalahkan wanita di luaran sana yang mempercayakan anak-anak mereka untuk diasuh oleh baby sitter ataupun meminta tolong kepada orang tuanya karena kebutuhan dan cara pandang hidup seseorang berbeda-beda. Itu adalah pilihan masing-masing. Namun, dalam kasusmu saat ini, aku lebih setuju jika kamu resign dari pekerjaan. Lagipula, penghasilanku sebagai dokter dan pemasukan dari rumah sakit sudah lebih dari cukup untuk membiayaimu dan anak-anak. Untuk membayar gaji Mbak Tini dan Pak Burhan pun masih ada sisanya."
"Triplet adalah anugerah dari Tuhan yang diberikan kepada kita. Aku tidak mau, kamu melewatkan tumbuh kembang si kecil karena sibuk bekerja. Bukannya aku ingin menghancurkan karirmu sebagai dokter tapi lebih memikirkan masa depan anak-anak. Mereka masih kecil dan sangat membutuhkan perhatianmu sebagai ibu."
__ADS_1
Rayyan kembali membahasi tenggorokannya yang terasa kering, lalu meletakkan gelas itu di atas meja makan. "Resign dari pekerjaan bukan berarti kamu tidak bekerja lagi di masa depan. Hanya saja, untuk saat ini yang terpenting adalah merawat anak-anak dengan baik."
Arumi menarik napas dalam. Perbincangan malam ini bisa dikatakan termasuk pembahasan penting karena menyangkut masa depan ketiga anaknya. Ia tak mau gegabah mengambil keputusan.
"Jadi ... kamu setuju kalau aku resign dari pekerjaan?" tanya Arumi untuk memastikan kembali bahwa ia tak salah tangkap dari penjelasan yang dijabarkan oleh suaminya.
Tanpa pikir panjang, Rayyan menjawab. "Betul! Aku memilih opsi pertama, yaitu resign daripada memperkerjakan baby sitter. Bukan karena aku pelit, tak mau uangku habis untuk menggaji pengasuh cuma aku tidak mau memasukan sembarangan orang ke dalam istana kita."
"Di kemudian hari jika kamu mau kembali bekerja dan anak-anak sudah bisa ditinggal, aku adalah orang pertama yang akan menerimamu kembali di rumah sakit. Tidak perlu ikut tes, interview dan lain-lain. Kamu langsung aku terima detik itu juga."
Iris coklat sang lelaki menatap lekat ke arah istrinya. Wajah serius berubah jadi lebih santai. Bahkan Arumi dapat melihat senyuman samar di sudut bibir pria itu.
"Tapi ... semua itu tidak gratis. Ada yang harus kamu berikan padaku sebagai gantinya." Mengerlingkan mata nakal sambil menyeringai penuh arti. Kedua alis pun ikut bergerak turun dan naik.
Wajah bersemu merah, tersenyum simpul sambil menundukan pandangan. Tak ingin rona merah muda di pipi terlihat jelas oleh netra suaminya. "Apa pun yang kamu minta, aku pasti mengabulkannya."
Akan tetapi, sepasang bola mata sipit Rayyan menangkap rona merah muda sebelum rona itu menghilang. Sikap malu-malu wanita di depan sana membuat pria itu sangat gemas. Lalu, ibu jari dan jari telunjuk mengapit ujung hidung si wanita.
"Aku tagih janjimu nanti!"
***
Beberapa hari kemudian, Lena ditemani Puspa kembali ke rumah sakit. Hari ini dokter akan memberikan hasil kemoterapi pertama yang dilakukan oleh istri kedua Firdaus.
"Puspa, kenapa ya, jantung saya deg-degan terus sejak tadi seperti ada pertunjukan drum band di sini." Tangan Lena menyentuh posisi jantungnya berada. "Saya khawatir ini ada hubungannya dengan hasil kemoterapi beberapa waktu lalu," cicitnya.
__ADS_1
Wanita berseragam perawat membantu Lena turun dari mobil, dan mendudukannya di atas kursi roda. "Itu cuma perasaan Ibu saja. Saya yakin, hasil kemoterapi Ibu akan bagus. Obat-obatan yang diberikan kepada Ibu dapat bereaksi dengan baik." Puspa mencoba menenangkan Lena agar tak memikirkan hal lain selain pengobatan yang tengah dijalani olehnya. Berharap sang pasien dapat sembuh dari penyakit kanker stadium empat. Walaupun prediksi umur pasien hanya sebelas bulan saja, tetapi tidak ada salahnya jika terus berusaha daripada pasrah dan menerima takdir dari Tuhan.
Lena tersenyum samar. "Entahlah, Ta, saya sendiri tidak yakin kalau usaha ini akan berhasil menghambat pertumbuhan sel kanker agar tak semakin menyebar luas ke seluruh tubuh."
"Sebenarnya, saya enggan sekali mengikuti anjuran dokter, tetapi karena Mas Firdaus sudah kadung membuat janji jadi terpaksa mengikuti meski keraguan dalam diri begitu besar. Andai saja boleh memilih, lebih baik menunggu hingga ajal menjemput daripada menghabiskan uang banyak demi sesuatu yang tak pasti," cicitnya dengan suara gemetar.
"Bu Lena jangan pesimis begitu. Yang penting kita terus berusaha. Sisanya, serahkan kepada Tuhan. Berdo'a, ikhtiar dan jangan putus asa."
Puspa terus mendorong kursi roda itu menyusuri lorong-lorong rumah sakit menuju ruangan dokter Helena. Mereka berbelok ke sisi kanan lorong, melangkah maju hingga tiba di sebuah ruangan di depan apotek.
Berhubung Puspa telah mendaftarkan pasiennya via telepon, ia hanya perlu melapor kemudian dipersilakan masuk ke dalam ruangan bernuansa putih dipadu warna hijau daun untuk bagian gorden dan tirai pembatas antara ruang konsultasi dengan ruang pemeriksaan.
"Selamat pagi, Bu Lena. Apa yang Ibu rasakan setelah menjalani kemoterapi pertama?" tanya Dokter Helen sebelum memulai konsultasi.
"Pagi. Dokter, saya merasakan mual, napsu makan berkurang dan sembelit. Lalu, rambut saya pun mulai rontok," jelas Lena tanpa ada yang ditutupi. Ia memberikan informasi secara mendetail kepada dokter Helen sebagai bahan rujukan ketika melakukan kemoterapi yang kedua.
Dokter Helen menganggukan kepala, mencatat semua keluhan dari pasiennya. "Selain itu, ada lagi?" Lena menggelengkan kepala sebagai jawaban. "Baiklah, kalau begitu saya akan melihat hasil kemoterapi pertama yang telah Ibu lakukan." Lantas, ia mulai membuka amplop putih dan mengeluarkan lembaran kertas tersebut dari dalam amplop secara perlahan.
Air muka Lena tampak begitu tegang. Jantung wanita itu kembali memompa lebih cepat dari sebelumnya. Keringat dingin mulai muncul ke permukaan, wajah berubah pucat bagaikan seorang mayat.
.
.
.
__ADS_1