
"Papa tadi lihat tidak, wajah ketiga cucu kita mirip sekali dengan Rayyan? Padahal Arumi yang mengandung selama sembilan bulan kurang, tetapi wajah, hidung dan matanya mirip Rayyan." Lena terkekeh kala kembali mengingat saat berada di rumah sakit tadi. Ia dapat melihat ketiga cucunya meski tak diberikan izin untuk mengendong mereka. Rayyan sama sekali tidak menginginkan tubuh anak-anaknya tersentuh oleh wanita berhati iblis seperti mama sambungnya.
Begitu pun dengan Firdaus. Pria paruh baya itu hanya dapat memandangi ketiga cucunya saat digendong oleh Arumi, dan kedua perawat yang tengah berjaga di ruang VVIP. Kedua orang tua itu sama sekali tak dapat menyentuh tubuh mungil yang baru beberapa jam terlahir ke dunia.
"Benar, Ma. Hanya bagian bibirnya saja yang mirip dengan Arumi. Selebihnya, dikuasai oleh Rayyan." Firdaus ikut terkekeh walau rasa sakit di hati masih terasa akibat sikap Rayyan saat di rumah sakit. Namun, ia mencoba memaklumi mengapa anak sulungnya itu bersikap seolah Rayyan enggan jika tubuh suci ketiga anak-anaknya terjamah oleh tangan pendosa seperti dirinya dan Lena.
"Semoga kita bisa bertemu lagi dengan mereka ya, Pa?" harap Lena.
"Sebelum bertemu dengan Triplet, kita wajib meminta izin terlebih dulu pada Rayyan. Jangan sembarangan datang ke apartemen, nanti anak itu mengamuk dan malah menimbulkan masalah besar bagi kita semua." Firdaus mencoba mengingatkan Lena agar tak bertindak gegabah dalam mengambil keputusan.
Lena mencebikan bibir. "Ish, si Papa! Tentu saja aku tidak akan sembarangan bertemu ketiga cucuku. Aku pasti meminta izin terlebih dulu pada Rayyan."
"Ya ... ya ... kamu juga harus berlapang dada kalau Rayyan tak memberikan izin padamu untuk menemui si Triplet."
Wanita paruh baya itu menarik napas dalam, lalu mengembuskan secara perlahan. Nyaris melupakan bagaimana sikap Rayyan terhadapnya selama ini. Terlalu bahagia hingga lupa, bahwa dirinya adalah sumber kehancuran rumah tangga Mei Ling, ibunda tercinta Rayyan.
"Iya, Pa!" jawab Lena singkat.
Ketika Firdaus dan Lena melangkah masuk ke dalam ruang keluarga, di sana sudah ada Raihan sedang memainkan telepon genggam miliknya. Entah apa yang dikerjakan oleh anak bungsu Firdaus, tetapi pastinya si jomblo super dingin itu tampak begitu serius menatap layar ponsel berukuran 6.5 inchi dengan logo buah apel di belakangnya.
Mendengar suara derap langkah sepatu mahal beradu dengan lantai keramik, sang dosen menoleh dan netranya menangkap kedua sosok orang tuanya. Sebuah senyuman dengan sorot mata berbinar bahagia terlukis jelas di wajah mereka yang semakin senja.
"Tampaknya hari ini Mama dan Papa bahagia sekali. Memangnya habis pergi dari mana?" tanya Raihan penuh selidik. Tidak biasanya pasangan paruh baya itu pergi pagi-pagi sekali, mengenakan pakaian rapi dengan wajah sumringah.
__ADS_1
"Mama dan Papa habis membesuk Arumi di rumah sakit. Kakak iparmu itu, kemarin siang melahirkan," jawab Lena antusia. Pendar bahagia terlihat nyata di bola matanya. "Kamu tahu, Nak. Wajah ketiga cucu Mama sangat mirip sekali dengan Ayahnya, bagai pinang dibelah dua."
Lena bercerita penuh dengan semangat. Hatinya tengah berbunga-bunga karena menantu kesayangannya telah memberikan wanita paruh baya itu sebuah hadiah yang tak ternilai harganya. Kehadiran tiga bayi mungil nan menggemaskan, membuat hidupnya semakin berwarna.
"Yang dikatakan oleh Mama-mu benar, Rai. Keponakanmu itu lucu sekali. Setiap kali Papa panggil, mereka akan tersenyum seraya menggeliat dalam gendongan. Walaupun si sulung Ghani terus menangis ketika didekati oleh Papa, tetapi hati ini tetap bahagia karena dapat melihat ketiga cucu Papa yang menggemaskan itu." Firdaus ikut menimpali perkataan Lena. "Akhirnya, keinginan Papa untuk mendapatkan cucu terkabul."
"Ck! Untuk apa Papa dan Mama menemui mereka di rumah sakit? Sedangkan dia saja tidak pernah memperlakukan Papa dan Mama dengan baik!" dengkus Raihan jengkel mendengar cerita dari kedua orang tuanya. "Orang dengan watak sombong dan tak pernah menghormati orang tua, tidak pantas untuk didekati. Biarkan dia mati dan membusuk seorang diri!"
"Raihan!" bentak Firdaus. Menatap nyalang ke arah Raihan. Bola mata melebar, dengan tangan mengepal ke samping. Ia tidak terima mendengar sumpah serapah yang terucap dari bibir anak bungsungnya.
"Kenapa, Pa? Bukankah yang kukatakan semuanya benar! Anak sulung Papa itu tidak tahu bagaimana caranya menghormati orang tua!" ujar Raihan dengan nada ketus. Kesal karena sang papa masih terus membela Rayyan. Padahal, sejak dulu kakaknya itu tidak pernah bersikap hormat terhadap kedua orang tua terkhusus kepada mama kandungnya--Lena.
"Sekolah tinggi hingga mengemban ilmu sampai ke negeri Sakura yang terkenal memiliki budaya sopan santun tetapi tak menjamin dia bersikap hormat terhadap orang tua. Kalau begitu, percuma saja dia kuliah jauh-jauh kalau pada akhirnya tidak bisa menghormati kedua orang tuanya. Hanya buang waktu dan uang saja!" cibir Raihan. Terbesit rasa iri karena kakaknya itu diperbolehkan kuliah ke luar negeri, sementara dirinya hanya berkutat di dalam negeri saja. Bahkan, untuk masuk kuliah pun ia sempat mengalami kesulitan terkait kelegalitasan pernikahan orang tuanya.
Melihat situasi memanas, Lena mencoba melerai anak dan suaminya. Entah mengapa setiap kali membahas Rayyan, Raihan selalu emosi dan tak jarang jadi lepas kendali.
Firdaus, tentu saja tidak terima jikalau salah satu anaknya menjelek-jelekan darah dagingnya yang lain. Begitu pun sebaliknya. Pria paruh baya itu akan langsung emosi apabila Rayyan menghina Raihan di hadapannya. Ia hanya ingin agar kedua anak-anaknya dapat hidup berdamai, dan rukun tanpa ada perselisihan di antara mereka berdua.
"Papa, kendalikan dirimu. Jangan sampai terpancing emosi." Mengusap pundak sang suami, berharap amarah dalam diri pria itu segera mereda.
Setelah mengucapkan kalimat itu, Lena menatap ke arah Raihan sambil berkata. "Nak, jaga ucapanmu! Biar bagaimanapun, orang yang sedang kamu bicarakan adalah kakakmu sendiri. Hormati dia sebagaimana kamu menghormati Mama dan Papa," tegurnya dengan nada lembut. Selalu berkata lemah lembut saat berbicara dengan anaknya, termasuk kepada Rayyan, anak tirinya.
Alih-alih berhenti berbicara, Raihan semakin emosi mendengar perkataan Lena. Lantas, pria itu bangkit dari sofa dan tertawa dipaksakan. "Menghormati dia?" tanyanya dengan menekankan setiap kalimat yang terucap. "Cih! Jangan harap aku menghormati anak durhaka macam pria sombong dan arogan seperti si Berengsek itu!"
__ADS_1
Plak!
"Dasar anak kurang ajar!" Sebuah tamparan keras mendarat di pipi mulus Raihan. Terlalu keras hingga meninggalkan bekas lima jari di wajahnya yang mulus.
Raihan mendelik seraya memegang pipinya yang terasa panas akibat sebuah tamparan yang diberikan oleh sang papa. "Kenapa Papa menamparku? Memangnya semua yang kukatakan tadi salah hingga Papa tega menamparku?"
"Seharusnya, Papa berterima kasih padaku, karena melindungi istri Papa dari kejahatan anak durjana seperti Rayyan!" Meledak sudah emosi dalam diri Raihan. Ia sudah tak dapat membendung lagi emosi dalam dirinya yang ditahan sedari dulu. Meluapkan kekesalan, kebencian dan rasa sakit hati karena merasa di nomor duakan oleh Firdaus padahal ia dan Rayyan adalah anak kandung pria itu. Namun, ia merasa selama ini Firdaus lebih mengistimewakan anak sulungnya.
"Raihan!" Firdaus kembali berteriak. Telapak tangan pria itu terangkat ke udara, bersiap memberikan tamparan lagi ke wajah sang anak. Wajahnya merah padam, deru napas memburu dengan hebat. Mata memincing lebih tajam.
"Hentikan!" jerit Lena histeris. Sudah tidak sanggup melihat suami dan anak tercinta bertengkar di depan mata dan kepalanya sendiri.
Telapak tangan Firdaus membeku di udara, lalu, secara perlahan pria itu menurunkannya ke tempat semula. Menarik napas dalam, mengurai emosi dalam diri.
Lena bangkit dari tempat duduknya. Melangkah maju ke depan, menghampiri dua lelaki yang teramat dicintainya. Ia menatap darah dagingnya dengan mata sendu, kemudian beralih menatap sang suami.
"Selama ini kamu sudah salah paham terhadap Kakak-mu, Rai. Rayyan sama sekali tidak bersalah. Dalam kasus ini, yang bersalah adalah Mama karena Mama ...."
.
.
.
__ADS_1