Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil

Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil
Semua Demi Arumi


__ADS_3

Setelah tiba di toilet wanita, Arumi bergegas masuk ke dalam bilik yang disekat oleh dinding pemisah. Wanita itu memilih toilet jongkok dibandingkan toilet duduk, sebab toilet jongkok memberikan efek nyaman sehingga rasa kram di perut sedikit berkurang. Beruntungnya saat itu suasana di dalam toilet tidak terlalu ramai sehingga ia tak perlu mengantri.


"Aduh, kenapa perutku tiba-tiba kram sih? Seperti sedang datang bulan saja," keluh Arumi sambil berjongkok di closet. Ia memberikan pijatan lembut pada area sekitar perut. Rasa yang dirasakan sama persis saat seorang wanita sedang datang bulan. Begitu sakit dan menyiksa. "Apa karena semalam Rayyan terlalu buas menerkamku hingga bagian inti tubuhku terluka?"


Rasa sakit yang dirasakan oleh Arumi terus berlanjut meski wanita itu sudah berjongkok di closet serta memberikan pijatan lembut di bagian perut. Akan tetapi, usahanya tidak membuahkan hasil. Perut Arumi semakin sakit seperti diremaas oleh ratusan tangan tak kasat mata.


Tak ingin membuat Rayyan menunggu terlalu lama, akhirnya Arumi memaksakan diri untuk mengecek apakah memang dirinya tengah mengalami datang bulan atau tidak.


"Tuh 'kan benar. Ternyata nge-flek." Bibir wanita itu mengerucut ke depan, sedikit kecewa karena harapannya untuk memiliki keturunan bersama Rayyan sirna akibat si tamu yang datang secara mendadak. Namun, ia berusaha tenang dan ingat kembali semua perkataan Rayyan, Anne dan dokter Anin.


Wanita itu meraih sling bag yang digantung di gantungan terbuat dari stainless, merogoh pembalut--barang wajib yang dibawa pada saat bepergian.


"Bodoh! Kenapa aku bisa lupa menyisipkan satu pembalut ke dalam tas. Aaargh! Kamu benar-benar bodoh, Arumi!" maki Arumi pada dirinya sendiri karena ia lupa memasukan barang wajib yang biasa dibawa olehnya dalam situasi apa pun.


Belum usai rasa sakit dirasa, Arumi pun harus menerima kenyataan bahwa flek itu telah mengotori sebagian segitiga bermuda miliknya sehingga ia tak bisa ke mana-mana.


"Aduh ... aku harus bagaimana ini. Jika aku memaksa keluar, aku takut malah semakin deras. Duh ... bagaimana ya?"


Tatkala Arumi tengah kebingungan, di saat bersamaan telepon genggam milik wanita itu berdering. Dengan sisa tenaga yang dimiliki, wanita itu menggeser layar berwarna hijau.


"Babe, sebenarnya kamu pergi ke mana? Kenapa lama sekali." Suara berat seseorang di seberang sana mengawali perkacapan via aplikasi WhatsApp. Terdengar jelas jika Rayyan mencemaskan istrinya. Sudah hampir lima menit Arumi tak kunjung kembali, membuat dokter tampan itu khawatir.


Mendengar jika Rayyan-lah yang menelepon, Arumi dapat bernapas lega karena solusi dari masalahnya bisa teratasi. Senyum terkembang di sudut bibir, merekah bagai bunga yang bermekaran. Namun, senyuman itu tak lagi nampak kala teringat bagaimana dinginya sikap sang suami. Ia sangsi jikalau suaminya itu bersedia pergi ke minimarket hanya sekadar membelikan salah satu produk wajib dimiliki oleh para kaum Hawa.


"Ah ... masa bodoh! Kalau tidak dicoba mana mungkin aku tahu jawabannya," gumam Arumi lirih.


Dengan sedikit ragu, Arumi memberanikan diri meminta bantuan suaminya. "Honey, saat ini aku masih di toilet. Perutku kram sekali. Saat tiba di toilet, aku bergegas masuk dan melihat tamu bulananku datang."

__ADS_1


Di seberang sana, tampak raut kekecewaan terlukis di wajah. Harapannya untuk bisa memiliki keturunan sirna begitu saja. Besar harapan ia dapat membuahi Arumi, namun rupanya Tuhan berkehendak lain. Ia dan istrinya masih harus berusaha agar si buah hati hadir ke dunia ini.


Memaksakan tersenyum walau hati sedikit kecewa. "Ya sudah, tidak apa-apa. Mungkin usaha kita masih dirasa kurang cukup sehingga si kecil belum juga hadir dalam perutmu."


"Sebaiknya kamu kembali ke sini, sebelum Pak Burhan datang."


"Aku belum bisa keluar dari toilet!" sergah Arumi sambil menggelengkan kepala. Suaranya tercekat di tenggorokan. Menggigit bibir bawah dengan keras.


"Maksud belum bisa keluar, apa? Kamu berniat selamanya berada di toilet? Kamu mau meninggalkan sendirian heh?"


Rayyan sudah hampir kehilangan akal sehat ketika mendengar Arumi masih betah berlama-lama di dalam toilet. Takut jika wanita itu berniat kabur dan menggunakan alasan tak logis agar dapat meninggalkannya sendirian di bumi ini. Jantung pria itu rasanya mau melompat dari tempatnya, membuat lehernya tercekik karena rasa takut berlebih.


Memikirkan hal itu membuat Rayyan semakin panis dan nyaris berlari, menerobos masuk ke dalam toilet demi membawa kembali istrinya.


Arumi yang masih menahan rasa sakit akibat kram perut semakin meringis kesakitan. Keringat dingin keluar di antara pori-pori kulit, lalu mengucur dari kening dan meluncur ke pelipis. Seharusnya ia tahu konsekuensi yang terjadi apabila berkata jujur pada suaminya dalam hal ini.


Menarik napas dalam, mencoba menahan emosi agar tak meledak seperti bom waktu.


"Katakan yang jelas! Kamu kenapa, Babe?" teriak Rayyan seperti orang gila.


Suara keras menggelegar bagai gemuruh di siang hari membuat beberapa pengunjung menatap ke arah Rayyan dengan tatapan aneh. Namun, pria tampan yang tengah menjadi sorotan sama sekali tak terintimidasi, sibuk dengan telepon genggam yang menempel di telinga.


"Honey, tenang. Jangan berteriak padaku. Rasa sakitku semakin bertambah jika kamu terus berteriak." aku Arumi.


"Dengarkan aku baik-baik. Pertama, aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Kedua, saat ini aku benar-benar belum bisa keluar dari toilet. Dan ketiga, yang paling utama adalah ... aku sangat membutuhkan pembalut detik ini juga. Jadi ... bisakah kamu tolong belikan pembalut untukku?"


"Hah? Pembalut?" pekik Rayyan sambil mendelik. Tak menyangka jika ternyata istrinya belum kembali dari toilet sejak beberapa menit lalu karena membutuhkan seseorang membawakan pembalut untuk wanita itu.

__ADS_1


"Benar. Pembalut." Arumi sengaja menekankan kata terakhir agar Rayyan mendengar jelas apa yang dibutuhkan olehnya saat ini. Bahkan ia menjauhkan telepon genggam dari telinga dan menggenggamnya erat, kemudian kembali berucap. "Benda kramat itu sangat kubutuhkan saat ini. Bisakah kamu mencarikannya untukku?"


Tiba-tiba saja kepala Rayyan rasanya pening sekali. Seumur hidup tidak pernah menyentuh benda kramat yang biasa digunakan oleh hampir seluruh wanita baligh di muka bumi ini. Kini, ia diminta istrinya membeli roti Jepang tersebut.


Apa yang akan terjadi padanya bila ia menuruti permintaan Arumi. Apakah wanita itu marah padanya? Atau memaklumi jika dirinya begitu awam dalam hal yang berhubungan dengan wanita.


Keheningan terjadi beberapa saat. Baik Rayyan maupun Arumi tidak ada yang membuka suara. Rayyan tengah menimbang antara membantu Arumi atau menolak permintaan wanita itu. Sementara Arumi sedang merasakan kesakitan yang luar biasa.


Tidak! Arumi sudah tidak tahan lagi berlama-lama berada di dalam bilik toilet. Aroma bau tak mengenakan ditambah kakinya yang terasa pegal akibat terlalu lama berjongkok membuat wanita itu sudah tak tahan lagi.


Hingga akhirnya, suara lembut Arumi memecah keheningan. "Baiklah, jika kamu tidak mau biar aku sendiri yang mencari. Walaupun perutku terasa sakit, jika aku berjalan secara perlahan maka akan tiba juga di depan minimarket."


Arumi bersiap mematikan sambungan telepon, namun dengan segera Rayyan menyanggah.


"Katakan padaku, ukuran berapa dan model seperti apa yang biasa kamu pakai? Aku akan mencarikannya sekarang juga."


Khawatir Rayyan berubah pikiran, Arumi menjawab cepat. "Ukuran 36 cm dan ada sayapnya."


"Oke. Kamu tunggu sebentar, aku carikan dulu." Lantas, sambungan telepon terputus.


Wajah Arumi pucat pasi. Tertatih bangkit dari posisinya saat ini, menaruh kembali telepon genggam miliknya ke tempat semula.


"Aku menaruh harapan besar padamu, Ray. Tolong jangan kecewakan aku," gumam Arumi lirih disela rasa sakit yang menghampiri.


"Andai saja dia bukan istriku, sudah kupastikan aku buang dia ke laut. Seenak hati memintaku pergi ke minimarket membeli pembalut!" sungut Rayyan seraya menarik dua buah koper. Satu berukuran besar dan satu lagi berukuran sedang. "Memangnya dia anggap aku cowok apaan. Awas kamu ya, aku terkam habis-habisan setelah kamu bersih nanti!"


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2