
Setibanya di poli kandungan, Arumi dibantu Amira duduk di kursi panjang yang terbuat dari stainless. Wanita yang merupakan perawat senior di bangsal Bougenville begitu telaten membantu istri dari atasannya.
"Dokter Arumi tunggu dulu di sini, saya akan meminta perawat jaga di sana agar memberitahu Dokter Renata bahwa Dokter sudah menunggu di depan ruang pemeriksaan," ucap Suster Amira pada Arumi. Sebelumnya, perawat senior itu telah membuat janji terlebih dulu untuk menemui Renata.
Dokter Renata merupakan salah satu dokter senior teladan di Persada International Hospital. Hampir sebagian pasiennya yang terdiri dari para ibu hamil lebih memilih beliau dibanding dokter pria yang ada di rumah sakit itu. Memiliki wawasan luas serta pengalaman banyak menjadi salah satu faktor bagi kaum Hawa untuk menjadikan Renata sebagai dokter obgyn kepercayaan mereka.
Begitu pun dengan Arumi. Wanita cantik itu lebih nyaman apabila dokter yang melakukan pemeriksaan padanya adalah dokter wanita. Bukannya dia ingin membanding-bandingkan kemampuan Renata dengan dokter pria yang ada di rumah sakit itu, selain faktor pengalaman serta memiliki wawasan luas, wanita itu ingin menjaga perasaan sang suami agar tidak ada lagi konflik dalam rumah tangga mereka.
Setelah melapor pada perawat yang berjaga di balik meja, Amira kembali duduk di samping Arumi. Menemani dokter cantik itu sampai tibalah gilirannya masuk ke dalam ruang pemeriksaan.
"Dokter Arumi Salsabila, silakan masuk!" seru salah satu perawat yang merupakan rekan sejawat Amira.
Arumi beranjak meninggalkan Amira yang tengah duduk sambil menatap punggung sang dokter yang pernah menghilang dari pandangan. Perawat senior itu sengaja menunggu di luar, sebab ingin memberikan privasi pada Arumi agar lebih leluasa berbincang ataupun bertanya pada Renata tanpa merasa diperhatikan oleh orang lain.
"Permisi, Dokter." Arumi masuk ke dalam ruangan yang beberapa tahun lalu pernah dia kunjungi kala mengikuti program hamil saat dirinya masih berstatuskan sebagai istri dari Mahesa Putra Adiguna.
Namun, selama satu tahun terapi tak membuahkan hasil sehingga membuat Mahesa atas bujukan Naila mencari rumah sakit lain untuk dijadikan tempat ikhtiar pria itu agar bisa mendapatkan keturunan.
Renata mendongakan kepala ketika mendengar suara merdu Arumi masuk ke dalam ruang pemeriksaan. "Eh ... Dokter Arumi. Silakan duduk." Dokter senior itu tersenyum ramah kepada Arumi.
"Ada angin apa nih, datang ke sini?" tanya Renata sebelum memulai pemeriksaan. Netra wanita itu tengah sibuk membaca laporan medis milik Arumi. Membaca tanda-tanda vital rekan sejawatnya itu.
"Begini, Dokter. Belakangan ini saya merasa mual dan pusing di pagi hari. Memang sih tidak sampai muntah, tapi cukup membuat saya kewalahan setiap kali hendak sarapan. Tidak tahan dengan aroma masakan yang dimasak oleh ART saya. Selain itu, saya juga sudah telat satu minggu, Dok." Renata tampak menganggukan kepala sebagai responnya.
"Sudah pernah melakukan pemeriksaan urine sebelumnya?"
__ADS_1
Arumi menggelengkan kepala seraya berkata. "Belum, Dokter. Saya terlalu sibuk mengurusi pekerjaan dan ada sedikit masalah di rumah sehingga tak memiliki waktu untuk melakukan pemeriksaan."
Lagi-lagi, Renata menganggukan kepala. Dia memaklumi mengapa Arumi sampai tidak sempat melakukan pemeriksaan urine padahal pemeriksaan itu penting untuk skiring awal kehamilan.
"Suster, tolong kamu ambilkan satu buah test pack di apotik," pinta Renata pada wanita berseragam perawat. Lantas, perawat itu keluar ruangan dan mengambilkan benda yang biasa digunakan para kaum wanita untuk mendeteksi hormon hCG (human chorionic gonadotropin) di dalam urine.
Tak berselang lama, perawat itu datang membawa bungkusan biru muda lalu memberikannya pada Arumi.
"Kita cek dulu menggunakan test pack. Apabila hasilnya positif maka saya akan melakukan pemeriksaan USG pada Dokter Arumi. Namun, bila negatif kemungkinan Dokter Arumi sedang stres sehingga jadwal menstruasi terganggu. Kemungkinan nanti saya akan memberikan resep yang dapat ditebus di apotik."
Tanpa membuang waktu, Arumi meraih bungkusan itu dari atas meja dan berjalan menuju kamar mandi.
Sesampainya di dalam kamar mandi, Arumi tak segera melakukan aoa yang diperintahkan Renata. Wanita itu termenung sambil duduk di atas closet. Bola mata wanita itu menatap ke arah bungkusan biru muda yang ada dalam genggaman tangan.
"Bagaimana jika ternyata hasil pemeriksaan test pack ini negatif? Apakah Mas Rayyan tetap mencintaiku ataukah dia pergi meninggalkanku sama seperti Mas Mahes?"
Akhirnya setelah bertarung dengan rasa cemas dan gugup dalam hati, dia membulatkan tekad melaksanakan tujuan awalnya datang ke poli kandungan. Membuka bungkusan itu, lalu melakukan sesuai instruksi penggunaan.
"Ya Tuhan, semoga hasilnya sesuai dengan harapanku," gumam Arumi lirih seraya menanti perubahan warna indikator pada lempengan berukuran sepuluh centimeter di tangannya.
Perlahan, satu garis merah samar muncul bersisian dengan satu garis merah cerah menusuk mata. Saat garis merah samar berubah semakin terang, tubuh Arumi lemas seketika. Tungkainya tak lagi mampu menopang hingga membuat wanita itu terduduk di atas closet.
Tangan wanita itu gemetar. Dia menggenggam test pack itu dengan erat. "Ya Tuhan ... i-ini ... jadi ...." Arumi tak lagi mampu berkata, hanya air mata bahagia dan ucapan syukur dia panjatkan pada Sang Kuasa. Penantian wanita itu selama lima tahun, akhirnya membuahkan hasil.
Arumi masih berada di dalam toilet. Wanita itu tengah menenangkan diri. Kejadian hari ini membuatnya shock karena tak menyangka jika Tuhan telah mengabulkan doa-doanya selama ini.
__ADS_1
Banyak air mata, goresan luka yang ditorehkan oleh mantan suami dan mantan mertua Arumi kepadanya. Hinaan dan cacian menjadi makanan sehari-hari karena wanita itu tak kunjung hamil walau usia pernikahan menginjak hampir lima tahun. Namun, kini Tuhan telah menggantikan semua penderitaan itu dengan hadirnya calon buah cintanya bersama suami tercinta. Harapan untuk memiliki anak dari benih pria baik hati dan tulus mencintainya telah Tuhan kabulkan.
"Jika dilihat dari hasil test pack menunjukan bahwa Dokter Arumi saat ini tengah berbadan dua. Akan tetapi, untuk lebih jelasnya lagi sebaiknya kita lakukan pemeriksaan USG. Silakan berbaring di sana ya, Dok." Renata meminta Arumi agar berbaring di atas ranjang. "Suster, tolong dibantu."
Dengan dibantu seorang perawat, Arumi merebahkan tubuh di atas ranjang pemeriksaan. Perawat itu membantu Arumi memakaikan selimut kemudian menyibakkan pakaian sang dokter.
Renata mulai mengoleskan gel di bagian bawah perut Arumi, lalu meletakan sebuah alat di atasnya. Perlahan, dokter senior itu mulai melakukan pemeriksaan. Tatapan mata fokus pada layar monitor yang ada di hadapannya.
Raut wajah Renata bersinar bahagia kala melihat kehidupan baru tengah bersemayam di dalam rahim mantan pasien yang dulu pernah dia tangani saat status Arumi masih menjadi istri Mahesa. Wanita itu mengulum senyum saat mengetahui janin dalam kandungan sang ibu tumbuh sehat dan kuat.
"Selamat Dokter Arumi, saat ini Anda memang benar-benar hamil. Usia kandungan memasuki minggu ke-5. Ukurannya memang masih sangat kecil sebesar biji wijen, namun organ-organ vital si janin sedang berkembang pesat pada fase ini." Jemari lentik Renata masih bermain indah di bagian bawah perut Arumi.
"Organ penting janin seperti jantung dan ginjal mulai tumbuh di usia kandungan minggu ke-5. Selain itu, organ pencernaan sudah mulai berkembang. Lalu--"
Kalimat Renata terhenti di udara kala melihat sesuatu hal ganjil terpampang nyata di depan layar monitor. Alis wanita itu saling tertaut satu sama lain. Dia bahkan sampai memicingkan mata untuk memastikan kalau indera penglihatannya tidak salah.
Detik berikutnya dia tersenyum setelah yakin dengan titik samar hitam di depan sana. "Dokter Arumi, sepertinya saya harus menyampaikan kabar gembira lain."
"Kabar gembira apa, Dok?" tanya Arumi keheranan. Tak mengerti kemana arah pembicaraan dokter senior itu.
"Kabar gembira yang menyatakan bahwa Anda--"
.
.
__ADS_1
.