Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil

Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil
Kakak? Kakak Ipar?


__ADS_3

Rayyan berdengkus kesal setelah melihat siapa orang yang tengah memperhatikannya. "Ck! Sejak kamu beralih profesi dari dosen menjadi penguntit heh? Tidak sopan, mengamati gerak gerik orang lain!"


Sosok pria yang berdiri di belakang Rayyan membuka rahang sempurna, bola mata pun terbelakak kala mendengar pertanyaan mengandung sedikit sindirian. Tangan mengepal hingga buku kuku putih terlihat jelas di sana. Dada kembang kempis disertai suara rahang menonjol ke luar.


Dua anak kandung Firdaus memang sering terlibat pertengkaran bahkan berujung pada adu kekuatan. Jadi tidak heran bila kini kakak beradik itu mulai menunjukan tanda-tanda akan ada perang saudara yang entah sudah ke berapa kali, sebab sulit dihitung oleh jari karena terlalu sering bertengkar.


Membuka mulut lebar dan besiap membalas setiap kalimat terucap dari bibir sang kakak, tetapi suara lembut mama-nya kembali terngiang di telinga bagaikan tape recorder yang terus berputar tanpa tahu kapan berhenti. Namun, melihat sikap kurang bersahabat kakak-nya, apakah Raihan harus bungkam membiarkan pria di depan sana berucap apa pun sesuka hati?


Tersadar bahwa Rayyan Raihan adalah musuh bubuyutan, Arumi mempunyai misi menghalangi suami beserta adik iparnya untuk tidak terlibat perkelahian. Ini bukanlah waktu tepat bagi dua lelaki tampan itu untuk menunjukan siapa yang terhebat di antara mereka begitu yang dipikirkan oleh ibunda Triplet.


Bibir ranum nan mungil terbuka, membentuk huruf O hendak melerai dua lelaki tampan tersebut. Akan tetapi, suara bariton seseorang menghentikan niatannya itu.


"Maaf. Aku tidak ada niatan menguntitmu, Kak. Tadi ... aku mau pergi ke minimarket dekat rumah sakit membeli beberapa keperluan. Tanpa sengaja melihat orang mirip kalian. Untuk itulah aku memperhatikan Kak Rayyan dan Kakak Ipar. Memastikan apakah itu kalian berdua atau bukan," ucap Raihan.


Suasana tiba-tiba hening. Tidak ada yang berani berkata. Pasangan suami istri itu membisu seakan mulut terkunci rapat kala mendengar jawaban Raihan.


Kakak? Sejak kapan kami tampak akrab satu sama lain. Bukankah kami ini bermusuhan. Batin Rayyan bingung sendiri.


Begitu pun dengan Arumi. Wanita berambut panjang sebahu terkesiap beberapa saat. Ucapan Raihan membuat jantung wanita itu rasanya mau copot ketika adik kandung Rayyan memanggil dirinya dengan sebutan 'kakak ipar'. Ia tatap lekat iris coklat anak kedua sang mertua, mengamati wajah tampan itu dengan seksama.


'Kesambet Jin dari mana ini anak, tiba-tiba memanggilku dengan sebutan Kakak Ipar! Bukankah dia juga tidak suka kepadaku karena menikah dengan Mas Rayyan!' Arumi bermonolog di dalam hati.

__ADS_1


Sementara itu, Raihan tampak gugup setelah menambahkan kata 'kakak' di depan nama anak pertama dari sang papa. Keringat dingin mengucur di dahi. Muncul penyesalan dalam diri pria itu setelah sadar atas apa yang dilakukannya barusan.


'Bodoh! Kenapa kamu memanggilnya Kakak! Bagaimana kalau dia semakin membencimu dan Mama? Apa yang akan kamu lakukan untuk membela Mama-mu?' Merutuki kebodohannya karena gegabah mengambil keputusan.


Seharusnya dia mengajak Rayyan bicara empat mata. Meminta maaf pada lelaki itu, barulah dia meminta izin bolehkan memanggil dosen tampan itu dengan panggilan 'kakak'. Jika tiba-tiba menyematkan kata 'kakak' di depan nama Rayyan, tentu saja membuat shock dua sejoli di depan sana.


Mengumpulkan keberanian di dalam dada. Pasrah jika setelah ini Rayyan semakin membenci dirinya karena dirinya telah melakukan kesalahan fatal hingga membuat anak pertama Firdaus kesal. Tidak menutup kemungkinan bila suatu hari nanti akan terjadi perang ketiga antara dia dengan Rayyan.


Menarik napas dalam, kemudian mengembuskan secara perlahan. Raihan memberanikan diri menatap pasangan suami istri di depan sana. "Ehm ... sepertinya aku harus undur diri. Maaf sudah membuat kalian merasa tidak nyaman." Tersenyum kaku sambil meninggalkan Rayyan dan Arumi.


Kini tinggalah kedua orang tua Triplet, mereka menatap kepergian Raihan dengan tatapan penuh tanda tanya. Pandangan mata menatap lurus hingga punggung anak bungsu Firdaus menghilang dari jangkauan.


Rayyan menoleh ke arah Arumi, mata sipitnya pun masih melebar sempurna. Tampaknya lelaki itu pun masih belum percaya atas apa yang terjadi beberapa waktu lalu. "Aku pikir begitu! Lalu, dia juga memanggilku ... Kakak?"


Keduanya bertatapan, saling menatap satu sama lain. Alis mereka mengerut. Otak sedang berusaha menebak sendiri apa gerangan yang membuat Raihan bisa berubah bahkan sikap serta tutur katanya pun terkesan lembut.


Usai melepas kepergian Arumi, Rayyan memilih kembali ke ruang ICU. Malam ini, ia ingin menemani Firdaus, menjaga serta bernostalgia mengingat kembali kenangan manis saat hubungan mereka masih akur sebelum kehadiran Lena di tengah keharmonisan kedua orang tuanya. Walaupun keharmonisan itu hanya kamuflase semata demi kebaikan Rayyan remaja tapi setidaknya masa kecil suami Arumi pernah mendapatkan kehangatan dari sebuah keluarga.


Menundukan wajah, ia kecup puncak kepala sang papa penuh cinta. "Good night, Pa. Semoga mimpi indah."


Setelah mengucapkan selamat malam kepada papa-nya, Rayyan bangkit dari kursi dan melangkah menuju pintu keluar. Ia melakukan apa yang dulu sering Firdaus lakukan saat dokter tampan itu masih duduk di bangku sekolah taman kanak-kanak (TK). Ya, hubungan mereka dulu sangat akrab sebelum gelombang badai menerjang kapal yang ditumpangi oleh Mei Ling.

__ADS_1


Puspa menyaksikan kehancuran Rayyan dari ujung lorong rumah sakit. Sesuai dengan permintaan sang direktur, wanita itu tidak pergi ke mana-mana. Dengan setia menunggu hingga Rayyan duduk sendirian, lalu ia menjelaskan kronologi kejadian sesaat sebelum kebakaran terjadi.


"Dokter Rayyan!" kata Puspa pelan. Ia mendudukan bokongnya di kursi yang sama dengan Rayyan tetapi berjarak tiga kursi kosong. Tahu jika atasannya itu mempunyai penyakit aneh yang akan kambuh bila berdekatan dengan wanita lain. "Maafkan saya, karena kelalaian dalam bertugas hingga menyebabkan insiden ini terjadi. Saya menyesal, Dokter."


Rayyan menoleh saat suara seorang wanita berada di sebelahnya. Ia sedikit terkejut saat melihat Puspa masih berada di rumah sakit. Berpikir jika perawat wanita itu kabur karena tidak mau diinterogasi olehnya.


Sudut bibir Rayyan tertarik ke atas sebelah, kemudian menatap kembali pintu ICU. Berkata dengan nada dingin. "Memangnya apa yang kamu lakukan hingga Papa-ku sampai mengalami luka bakar serius? Setahuku, ada perawat pribadi yang menjaga Papa, lalu kenapa saat kejadian kalian berdua tidak menyelamatkan orang tuaku?"


Mendengar penuturan Rayyan, membungkam mulut Puspa. Ia tertunduk lesu sambil meremas kedua telapak tangan. Wanita itu merasa sangat bersalah. Andai saja ia lebih teliti, mematikan kompor sebelum meninggalkan kediaman Firdaus mungkin kebakaran itu tidak terjadi. Mantan direktur rumah sakit Persada International Hospital, Lena serta para korban lain tidak mungkin menjadi sasaran amukan si Jago Merah.


"Itu semua terjadi karena--"


Belum sempat Puspa menyelesaikan kalimatnya, alarm monitor alat vital Firdaus sudah berbunyi kencang hingga membuat dua insan manusia beda jenis kelamin itu melompat dari kursi kemudian menatap ke kaca transparan yang menghadap langsung ke ruangan Firdaus.


"Papa!"


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2