
Berita kebakaran yang terjadi di salah satu unit apartemen menjadi berita terkini di beberapa stasiun televisi tanah air, sebab gedung pencakar langit itu merupakan satu dari sekian banyaknya bangunan menjulang tinggi yang dihuni oleh para orang kaya berdompet tebal. Para pemburu berita atau reporter televisi bahkan menyambangi tempat kejadian guna mencari informasi penyebab terjadinya kebakaran di apartemen tersebut.
Di saat para pemburu berita sibuk mencari informasi tentang insiden kebakaran yang terjadi di Royal Apartemen, Arumi tengah disibukan oleh kegiatannya sebagai ibu rumah tangga dari tiga bayi kembar yang memiliki darah campuran Tionghoa.
Hari ini, wanita cantik itu telah resmi mengundurkan diri dari jajaran kepengurusan rumah sakit milik sang mertua. Surat resign miliknya pun sudah ditanda tangani langsung oleh suami tercinta. Oleh karena itu, saat jam dinding menunjukan pukul tiga sore waktu setempat ia sudah ada di rumah menjaga, merawat serta mengurusi buah cintanya.
Sore itu, Arumi tengah mengajak bermain Triplet di balkon apartemen. Sengaja membawa mereka melihat betapa indahnya pemandangan taman nan hijau di depan sana. Kebetulan, unit apartemen mantan dokter cantik itu berada tepat di dekat taman kota yang banyak ditumbuhi tanaman hijau, tampak begitu asri dan sedap dipandang.
"Telah terjadi kebakaran di salah satu unit apartemen elite di kawasan Jakarta Barat. Diduga, kebakaran itu terjadi akibat kelalaian dari salah satu penghuni apartemen yang lupa mematikan kompor sebelum meninggalkan kediamannya."
"Diperkirakan ada dua puluh korban kebakaran, satu di antaranya tewas dalam insiden tersebut. Dua di antaranya mengalami luka bakar yang cukup berat dan sisanya luka ringan. Para korban telah dievakuasi dan dibawa ke rumah sakit terdekat." Seorang reporter wanita tengah membacakan laporan terkini di salah satu stasiun televisi tanah air.
"Mbak Tini, tolong besarkan volume televisi!" seru Arumi dari balkon apartemen. Saat sedang menggendong Zavier, tanpa sengaja mendengar liputan berita yang disiarkan oleh wartawan. Namun, tidak begitu jelas terdengar, sebab volume televisi terlalu kecil.
Asisten rumah tangga Arumi yang saat itu tengah mengelap meja serta jendela apartemen bergegas menekan remote televisi yang tergeletak di atas meja kaca. Benda berbentuk persegi panjang berukuran tiga puluh dua inci dibiarkan menyala meski sang empunya apartemen berada di luar ruangan.
"Bagaimana, Bu, apakah segini sudah cukup jelas?" tanyanya sambil menaikan satu oktaf nada suara.
"Naikan dua tingkat volume lagi, Mbak! Dengan volume segitu, tidak terdengar sampai sini!" Arumi kembali berseru. Beruntungnya Triplet tidak dalam keadaan tertidur. Jika tidak, mungkin saat ini ketiga bayi kembar itu melakukan paduan suara, menangis hampir bersamaan mencari perhatian ibunda tercinta.
"Demikian laporan yang dapat saya sampaikan. Saya, Donna Ismawari melaporkan dari Royal Apartemen." Berikut sepenggal kalimat yang terucap dari wartawan yang meliputi di tempat kejadian.
Mendengar wanita di layar televisi itu menyebutkan nama Royal Apartemen, Arumi bergegas masuk ke dalam ruangan dengan langkah terburu-buru. Terlalu tergesa-gesa hingga ia melupakan Ghani dan Zahira yang masih duduk manis di dalam stroller. Zavier malah tersenyum bahagia saat sang bunda menggendongnya sambil berjalan dengan setengah berlari. Mungkin bayi montok itu berpikir jika dirinya tengah diajak bermain oleh bundanya.
"Mbak Tini, tadi aku dengar telah terjadi kebakaran apartemen di kawasan Jakarta Barat. Benar tidak?" tanya Arumi memastikan kalau informasi yang ia dengar barusan bukan cuma halusinasinya saja.
Maklum, terkadang ia sering berhalusinasi seakan mendengar suara tangisan bayi saat dirinya tengah mandi, makan ataupun merebahkan sejenak tubuhnya di kasur karena terlalu lelah mengurusi tiba bayi kembar dalam waktu bersamaan. Jadi, sangat sulit membedakan mana yang nyata dan tidak nyata.
__ADS_1
Mbak Tini menoleh ke sumber suara, dan mendapati Arumi berdiri di dekat pintu ruang kerja Rayyan. Wanita itu cukup terkejut ketika melihat wajah Arumi berubah pucat. Dengan hati-hati, ia menjawab, "Benar, Bu Rumi. Siang tadi terjadi kebakaran di apartemen ... ." Asisten setia Arumi menjeda kalimatnya. Mengingat nama unit apartemen yang menjadi korban amukan si jago merah. Faktor usia dan terlalu fokus bekerja menyebabkan wanita itu tak terlalu memperhatikan apa yang disampaikan oleh reporter televisi.
"Royal Apartemen?" sergah Arumi cepat.
Mbak Tini mengangguk cepat. "Betul. Royal Apartemen. Tadi saya sempat mendengar kalau ada dua puluh korban kebakaran. Satu orang meninggal dunia, dua orang luka parah dan sisanya hanya luka kecil. Semua sudah dibawa ke rumah sakit terdekat," tuturnya.
Jantung Arumi terasa berhenti berdekat untuk beberapa saat. Tiba-tiba ia menjadi lemah, tungkai wanita itu tak sanggup menobang tubuh. Ia hampir terjatuh jika tak segera berpegangan pada rak buku di sampingnya.
"Astaga, Bu Rumi!" pekik Mbak Tini kala melihat majikannya nyaris ambruk. "Ibu tidak apa-apa?" tanya wanita itu cemas.
Arumi mengganggukan kepala lemah. "Aku baik-baik saja, Mbak."
Khawatir terjadi hal buruk menimpa Arumi beserta Zavier, mbak Tini memapah majikannya duduk di sofa. "Wajah Ibu pucat sekali. Mau saya minta Pak Burhan mengantarkan ke rumah sakit atau menghubungi Dokter Rayyan dan memintanya segera pulang ke rumah?" tawar wanita itu setelah istri cantik Rayyan duduk di sofa.
"Tidak perlu, Mbak. Aku cuma butuh istirahat sebentar. Oh ya, tolong gantikan aku menggendong Zavier dan sekalian bawa Ghani serta Zahira ke kamar." Arumi menyerahkan tubuh montok kakak kedua Zahira ke hadapan mbak Tini. Meskipun asisten rumah tangga itu sedikit kebingungan akan sikap Arumi tetapi ia tetap menuruti perintah majikannya.
Tergerak hati Arumi menghubungi Lena, mencari tahu kondisi terkini wanita itu. Akan tetapi, ia teringat akan larangan Rayyan yang meminta dirinya untuk tidak berhubungan lagi dengan Lena meski keadaan urgent sekali pun, mantan dokter cantik itu tak diperbolehkan berdekatan dengan seorang mantan pelakor.
Kepala wanita itu terasa pening karena tak dapat berbuat apa-apa. Ia dilema antara mencari tahu keadaan Lena atau hanya berdiam diri saja di rumah tanpa melakukan apa pun.
Di satu sisi mencemaskan keadaan wanita paruh baya yang telah menolongnya dari hinaan Naila and the genk, tapi di sisi lain tak ingin disebut istri durhaka karena melanggar perintah dari sang suami. Pelipis terasa sakit kala membayangkan hal buruk menimpa mertua serta ibu sambung dari sang suami. Ia ulurkan tangan ke atas, memijat pelipis dengan gerakan memutar.
Beberapa hari lalu, saat Arumi tak sengaja bertemu Lena di rumah sakit, kedua wanita itu terlibat obrolan ringan. Tidak banyak yang dibicarakan, hanya sekadar basa basi.
Flashback On
"Oh ya, Arumi, apakah Rayyan sudah mengajakmu dan Triplet berkeliling melihat rumah peninggalan Mbak Mei Ling? Tante yakin, kelak kalian akan betah tinggal di sana. Rumahnya besar, ada kolam renang serta halamannya pun luas. Jadi, ketiga cucu Nenek ini bisa bermain sepuasnya di sana." Lena tersenyum lebar sambil menatap wajah ketiga anak Arumi.
__ADS_1
Mata sipit, kulit putih bersih serta pipi chuppy seperti bakpao tampak begitu menggemaskan. Sungguh, ingin rasanya Lena menciumi pipi gembul ketiga cucunya itu namun ia kembali teringat akan perangai Rayyan dan sikap pria itu terhadap dirinya. Maka, ia urungkan niat untuk mencium serta memeluk Triplet. Tak ingin menimbulkan masalah baru yang malah merusak keharmonisan rumah tangga anak dari sang suami.
Arumi tersenyum dan menjawab dengan lembut. "Sudah, Tante. Mas Rayyan pun tengah merenovasi beberapa ruangan di rumah itu untuk dijadikan kamar anak-anak serta mini bioskop saat kami ingin menonton film bersama."
"Baguslah kalau begitu. Jadi, kalian masih dapat melakukan family time walau tanpa harus keluar rumah."
"Betul, Tante. Awalnya aku sedikit keberatan tapi setelah dipertimbangkan baik-baik, tidak ada salahnya jika kami menyediakan ruangan khusus untuk bersantai bersama. Anak-anak pasti senang karena bisa menonton bersama saudara serta Ayah dan Bunda-nya," sahut Arumi.
Lena terkekeh pelan. "Ya ... kamu benar. Dulu, ketika Raihan masih kecil pun begitu. Tampak bahagia saat diajak ke bioskop bersama Papa dan Kakak-nya. Walaupun sikap Rayyan dingin, dan acuh, tetapi tak menyurutkan antusiasme si Bungsu kala menonton film di bioskop."
Arumi ikut terkekeh pelan. Lalu, ia bertanya, "Lantas, Tante dan Papa Firdaus tinggal di mana setelah pindah dari rumah itu?"
"Oh ... Tante dan Mas Firdaus pindah ke sebuah apartemen di Jakarta Barat. Namanya Royal Apartemen. Tidak terlalu luas sih jika dibandingkan dengan rumah peninggalan Mbak Mei Ling, tapi cukup nyaman untuk ditinggali berdua. Kapan-kapan, kamu main ke sana ya. Tante akan meminta Mbok Darmi menyiapkan cheese cake ataupun olahan makanan terbuat dari keju khusus untukmu. Kamu pasti suka," ujar Lena. Walaupun ia tahu selamanya Arumi tidak mungkin menjenguknya, karena pasti Rayyan telah mengultimatum ibu tiga bayi kembar itu untuk tak menemuinya. Baik secara sembunyi-sembunyi ataupun secara terang-terangan.
Flashback Off
.
.
.
Visual Zahira ketika bertemu Lena
Visual Zavier (kiri) dan Ghani (kanan) saat bertemu Lena
__ADS_1