Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil

Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil
Pembalasan Arman


__ADS_3

"Puspa, saya perhatikan sejak tadi melamun terus. Apa yang sedang kamu lamunkan?" tanya Lena sesaat setelah kepergian Reza dari kediamannya. Wajah perawat pribadi wanita itu tampak tengah memikirkan sesuatu.


Puspa yang saat itu sedang memanaskan sayur sop menoleh ke samping. "Eeh ... tidak ada, Bu. Saya tidak sedang memikirkan apa-apa kok," jawabnya berbohong. Sengaja menyembunyikan apa yang tengah dipikirkan.


Lena menatap lekat manik coklat milik perawat itu dengan lekat. Merasa ada hal tengah disembunyikan, tetapi tak mau memaksa wanita muda itu untuk bercerita kepadanya. "Kalau butuh teman curhat, saya bersedia mendengarnya." Puspa hanya tersenyum kaku.


Wanita paruh baya itu mengalihkan pandangan ke luar jendela menatap pemandangan kota Jakarta dari lantai tujuh. Ketika memandangi birunya langit di atas sana, ia teringat akan sesuatu. "Oh ya, Puspa, persediaan makanan di lemari es sudah mulai habis dan Mbok Darmi belum sempat berbelanja. Kalau saya minta tolong kamu pergi ke supermarket bagaimana?"


Wanita muda yang berprofesi sebagai perawat home care di rumah sakit milik mendiang ibu mertua Arumi menjawab, "Saya sih tidak keberatan. Namun, jika saya pergi ke luar, Bu Lena dan Dokter Firdaus siapa yang menjaga? Bagaimana jika Ibu ingin pergi ke toilet atau Dokter Firdaus membutuhkan sesuatu?"


Mengulum senyum di wajah sambil berkata, "Kamu pergi berbelanja di minimarket dekat sini saja. Jaraknya tidak terlalu jauh, hanya sekitar satu kilometer. Di sana cukup lengkap, ada buah dan sayur jadi tak perlu pergi ke mall atau swalayan." Ia meraih dompet yang tergeletak di atas meja berbentuk bundar, kemudian mengeluarkan secarik kertas dan memberikannya kepada Puspa. "Ini adalah catatan barang-barang yang dibutuhkan. Dan ini uangnya."


Uang lembaran seratus ribuan sebanyak lima lembar berada di tangan Puspa termasuk kerta berisi catatan belanjaan. "Kalau kamu mau membeli camilan, gunakan saja uang ini. Masih banyak sisa kembaliannya," ucap Lena.


Puspa bangkit berdiri dari duduknya. "Baiklah kalau begitu, saya usahakan dalam waktu tiga puluh menit sudah pulang ke apartemen."


Dengan lemah lembut Lena menjawab, "Iya. Kamu hati-hati di jalan."


Perawat wanita itu melangkah keluar dari unit apartemen milik pasiennya. Ia membawa kakinya melangkah menuju parkiran basement, tempat sepeda motornya diparkir. Akan tetapi, ketika jemari tangan wanita itu menutup daun pintu, benda terbuat dari kayu tersebut tak tertutup rapat. Baik Puspa maupun Lena tak menyadari itu semua.

__ADS_1


Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Tampaknya peribahasa itu cukup menggambarkan apa yang diinginkan oleh Arman. Setelah sekian lama menunggu, akhirnya kesempatan itu datang kepadanya. Puspa, perawat wanita yang dilihat olehnya beberapa menit lalu akhirnya melangkah menuju pintu lift dan gerak gerik wanita itu tak luput dari pantauan mantan suami Lena.


"Sepertinya hari ini memang hari keberuntunganku!" gumam Arman lirih. Tersenyum puas dan merasa bahagia karena sebentar lagi kesempatan membalas dendam kepada Lena dan Firdaus segera terwujud. "Waktunya beraksi!"


Melangkah dengan santai menuju apartemen milik Firdaus. Terus menyunggingkan senyuman di wajah tanpa henti. Hati Arman begitu berbunga-bunga. Usai menjalankan hukuman kurungan penjara atas kasus perampokan, baru kali ini pria itu tersenyum lebar layaknya seseorang mendapatkan hadiah lotre. Wajah berseri bagaikan sinar rembulan di malam hari, benar-benar menyenangkan. Begitulah yang dirasakan oleh pria berbadan tegap, berambut gondrong.


Saat ia berada di depan pintu, senyuman kembali telukis di wajah ketika melihat daun pintu itu tak tertutup rapat. "Yeah, keberuntungan berpihak lagi kepadaku!" Pria itu mendorong pintu tersebut hingga terbuka lebar. Lalu, menutupnya secara perlahan agar tak menimbulkan kecurigaan pada sang pemilik apartemen.


Berjalan mengendap-endap bagai rampok profesional memasuki apartemen milik rivalnya. Tak tampak kegugupan sedikit pun dalam diri pria itu. Ia begitu menikmati setiap langkah kaki melangkah seirama degup jantung dan embusan napas beraturan.


Posisi televisi menyala dengan volume cukup keras membuat Lena tak menyadari jikalau seorang pria di masa lalunya telah kembali dan kini berada di dalam istananya sendiri. Selain itu, si lelaki itu pun melangkah tanpa menimbulkan suara hingga semakin membuat Lena tidak mendengar apa pun.


Ketika melihat sosok wanita yang pernah ia cintai dalam hidupnya duduk di sebuah sofa empuk, sudut bibir semakin tertarik ke atas. Menatap wanita itu dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Hai, Lena! Lama kita tak berjumpa!" ucapnya sambil menyeringai ke arah wanita itu. Binar bahagia terlukis jelas di wajah pria berusia lima puluh dua tahun. Bahagia karena setelah sekian lama, akhirnya bisa bertemu lagi dengan Lena.


Mendengar suara begitu familiar, tak asing di indera pendengaran, Lena menoleh ke sumber suara. Alangkah terkejutnya dia kala melihat mantan suaminya berdiri angkuh dari jarak sekitar tiga meter di samping kiri.


"Kamu? B-bagaimana kamu bisa ada di apartemenku?" tanya Lena di sela keterkejutannya kala melihat lelaki di masa lalunya. Bola mata wanita itu melebar disertai rahang yang terbuka sempurna. Sungguh, tak menyangka jikalau dirinya dapat bertemu kembali dengan mantan suaminya itu.

__ADS_1


Ia pikir, saat mereka bertemu di pengadilan agama adalah pertemuan terakhir dan tak mungkin bertemu lagi dengan lelaki itu. Namun, rupanya semesta kembali mempertemukan mereka di waktu yang tak terduga.


"Benar, ini aku, Lena, mantan suamimu. Kang Arman kesayanganmu. Lelaki yang kamu cintai setulus hati walau diriku sering melukai hati dan fisikmu tetapi dirimu tetap mencintaiku sepenuh hati," ucap Arman santai. "Tapi sayang, cintamu padaku sirna setelah dirimu tinggal satu atap dengan pria berengsek itu!"


"Seorang pria kaya raya yang memiliki segalanya dibanding aku. Kamu lebih memilih pria yang telah beristri daripada memperbaiki hubungan rumah tangga kita," sinir Arman terus mencecar Lena tanpa henti.


Tak terima akan semua ucapan yang dilontarkan dari bibir mantan suaminya, Lena menyahut, "Memperbaiki apa, Kang? Aku sudah memberikanmu kesempatan itu berkali-kali tapi dirimu tetap melukaiku. Kamu memperlakukanku dengan k*s*r, menamparku, menjambakku dan menjadikanku sebagai sapi perah. Aku bisa menerima itu semua, Kang. Tapi ... saat dirimu hendak menjadikanku sebagai wanita penghibur, itu sudah sangat melukai perasaanku!"


"Aku merasa diriku ini tak mempunyai arti apa-apa di matamu. Kamu menganggapku cuma sebagai alat pencetak uang tanpa mau memperlakukanku sebagai istrimu. Oleh karena itu, jangan salahkan aku ketika diriku lebih memilih bercerai daripada terus hidup menderita dengan lelaki berengsek sepertimu!" sembur Lena berapi-api.


"Dasar perempuan sialan!" hardik Arman dengan meninggikan nada suaranya. Pria itu segera berhambur mendekati Lena, lalu menarik rambut panjang wanita itu yang mulai berubah keperakan. "Kamu pikir, kamu itu siapa yang berani menghina diriku heh? Kamu itu cuma seorang j*l*ng yang tega merebut kebahagiaan wanita lain demi kebahagiaanmu sendiri!" Semakin mengeratkan cengkeraman tangan di mahkota milik mantan istrinya hingga membuat Lena meringis kesakitan.


"Aaw! Sakit, Kang! Lepaskan!" rintih Lena ketika merasakan tangan Arman menarik k*s*r rambutnya yang terurai. Akan tetapi, Arman bergeming. Pria itu tetap mencengkram hingga wajah Lena mendongak ke atas.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2