Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil

Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil
One Step Closer


__ADS_3

Resepsionis itu menatap Arumi. Beberapa detik terdiam kemudian ia mengecek kembali pesanan kamar yang dipesan.


"Jika diperhatikan dari pesanan yang dilakukan, tidak ada kesalahan sama sekali, Bu. Booking kamar atas nama Dokter Arumi Salsabila ada di kamar suite dengan satu ranjang king size yang menghadap langsung ke arah pantai," timpal resepsionis tersebut.


Seketika pikiran Arumi kosong. Ia tak tahu harus berkata apa. Otaknya tidak lagi mampu mencerna setiap perkataan yang ucap dari bibir resepsionis itu.


Dari arah belakang, Rayyan mendengar percakapan antara Arumi dan salah satu resepsionis penginapan. Sejujurnya ia pun tampak terkejut sebab semua ini di luar kendali. Pria itu yakin, pasti ada kesalahan dalam pemesanan kamar yang dilakukan oleh orang kepercayaan Firdaus.


Rayyan melangkah maju menghampiri meja resepsionis. "Selain kamar yang dipesan, apakah ada 1 kamar lagi yang tersisa?"


Suara berat pria itu menyadarkan kembali kesadaran Arumi. Kepalanya seperti diguyur oleh satu ember air dingin. Pikirannya kembali jernih seperti sediakala.


"Bodoh sekali kamu, Arumi! Kenapa tidak terpikirkan olehku untuk menanyakan kamar lain selain yang dipesan oleh pihak rumah sakit!" Wanita itu merutuki kebodohannya.


Salah satu dari resepsionis itu segera menyentuh layar monitor. Mencari ketersediaan kamar yang dapat dipesan oleh dua orang pelanggan yang berdiri dengan setia di depan meja kerja.


"Ehem!"


Pria itu berdehem guna menyingkirkan penghalang yang mengganjal di tenggorokannya. Ditatap tajam oleh pemilik mata elang membuat nyalinya sedikit menciut. Sorot mata itu tajam bahkan lebih tajam dari sebilah pisau yang baru saja diasah.


"Untuk saat ini tidak ada lagi kamar yang tersisa sebab semua kamar sudah habis terjual. Hanya ada beberapa vila yang masih bisa dipesan. Dalam vila tersebut tersedia dua kamar dengan pemandangan lautan lepas serta terdapat fasilitas dapur serta kolam renang pribadi," tuturnya.


"Berbarengan dengan libur nasional biasanya seluruh penginapan yang ada di kawasan Jimbaran akan habis terjual. Bapak dan Ibu pun akan kesulitan mencari penginapan di sekitar sini jika pemesanan dilakukan secara mendadak," timpal resepsionis yang satunya.


Pria dalam balutan jaket kulit berwarna putih itu melirik sekilas ke arah Arumi. Melihat wajah lelah wanita itu membuat hatinya tak tega jika harus mencari penginapan lain. Apalagi lokasi ini sangat berdekatan dengan tempat diselenggarakannya seminar besok.


Rayyan menghela napas kasar. "Baiklah, saya pesan satu vila itu saja. Namun, pastikan kamar itu bebas dari taburan bunga di atas kasur, dekorasi yang mencolok serta handuk dibentuk menyerupai angsa!" pintanya pada resepsionis itu.


"Kami, bukan pasangan suami-istri yang hendak menghabiskan waktu untuk berbulan madu." Ia kembali mengingatkan pada dua petugas hotel itu bahwa dirinya dan Arumi bukanlah pasangan melainkan partner kerja yang mungkin saja akan berubah status menjadi partner ranjang dan partner dalam berbagi rasa.


***


Setelah menghabiskan waktu sekitar sepuluh menit untuk menunggu, akhirnya Rayyan dan Arumi tiba di sebuah vila yang jaraknya agak masuk ke dalam. Nuansa alam terlihat jelas dari bahan bangunan, dekorasi yang digunakan pada vila tersebut. Suasananya sepi dan tenang. Sangat cocok bagi pasangan yang ingin menghabiskan waktu bersama orang tercinta.

__ADS_1


"Di vila ini ada dua kamar, masing-masing menghadap langsung ke pantai. Namun, menurut saya kamar yang di sebelah kanan sangat cocok untuk ditempati Dokter Arumi," seru Rayyan setelah memeriksa seluruh ruangan. Ia ingin memastikan keberadaan mereka aman selama berada di tempat asing. "Kamar itu sangat jauh dari jangkauan pengunjung pantai sehingga Dokter Arumi bisa leluasa melakukan aktivitas tanpa takut diawasi orang lain."


Arumi menatap cengo ke arah Rayyan. "Kesambet jin apa lagi, nih Dokter Rayyan. Kenapa dia jadi perhatian dan nada bicaranya tidak lagi terdengar kasar! Terdengar lembut dan anehnya aku merasa aman berada di dekatnya."


Tanpa sadar, ia tersenyum tipis melihat perubahan sikap pria galak yang ada duduk di seberangnya.


"Baik, Dokter. Saya akan memilih kamar yang di sebelah sana." Suara lembut Arumi memecah keheningan.


Wanita itu bangkit dari sofa, lalu menarik koper berukuran sedang berwarna hitam. Hanya tinggal beberapa langkah lagi kaki jenjang itu mencapai kamar, ia menoleh lalu berkata, "Terima kasih karena Dokter Rayyan sudah perhatian pada saya."


Hari semakin larut, tak terasa waktu sudah menunjukan pukul tujuh malam waktu setempat. Arumi sedang duduk di tepian kolam renang sambil membaca novel online di salah satu platform terkenal.


Novel yang menceritakan tentang bagaimana perihnya perjuangan seorang gadis bernama Ameera dalam menjalani kehidupan sebagai istri siri yang tak dianggap oleh suami. Ia dinikahi atas dasar pertanggungjawaban semata bukan atas dasar cinta.


"Lagi-lagi, kaum Hawa menjadi korban keegoisan seorang lelaki. Seolah tidak ada habisnya penderitaan kami sebagai seorang wanita," keluh Arumi ketika membaca bagian Ameera (tokoh utama novel tersebut) sedang menangisi nasibnya sebagai istri siri. Di saat ngidam, suami tercinta lebih memilih istri pertama padahal sang istri adalah jelmaan rubah betina.


"Ternyata kehamilan pun tidak menjamin seorang pria akan mencintai dan menyayangi kita." Arumi kembali mengeluh.


Sudah hampir setengah jam wanita itu duduk di tepian kolam renang, membaca novel yang berjudul Berbagi Cinta : Menjadi Istri Kedua Bosku, karya author senja_90. (Promosi terselubung). 🤣 Hingga tanpa sadar, sepasang mata sipit memperhatikannya sejak tadi.


Semakin lama memperhatikan wajah Arumi, Rayyan semakin terpesona oleh kecantikan wanita itu. Meskipun tidak memakai riasan make up tetapi kecantikannya tetap terpancar. Satu anggota tubuh yang sangat disukainya adalah bagian bibir. Bibir tipis berwarna merah muda, begitu menggoda.


Terlalu fokus memandangi keindahan Tuhan di depan sana, ia sampai tak mendengar suara bel yang ditekan sebanyak tiga kali. Pria itu kembali tersadar tatkala Arumi berjalan menuju pintu.


Jemari lentik itu membuka pintu. Seorang room servis mendorong troli berisi makan malam. Salah satu fasilitas yang disediakan oleh pihak penginapan.


"Selamat menikmati," ucap pelayan itu seraya membungkuk hormat pada Arumi dan Rayyan.


"Dokter Rayyan sedang melamun apa, kok sampai tidak mendengar suara bel pintu yang ditekan berkali-kali." Tangan Arumi begitu cekatan ketika menata semua hidangan di atas meja.


Tidak terlihat canggung maupun gugup di saat jemari itu menyiapkan peralatan makan untuk pria asing yang menjabat sebagai atasannya di rumah sakit, tempatnya bekerja.


"Apakah Dokter sedang melamunkan sesuatu yang jorok ya?" goda Arumi disertai semburan tawa yang memenuhi ruangan.

__ADS_1


Wajah Rayyan bersemu merah bagai kepiting rebus. Khawatir isi pikirannya diketahui Arumi, ia mengalihkan pandangan ke luar jendela.


Sontak, hal itu semakin membuat Arumi bersemangat untuk menggoda pria galak yang sedang duduk di sisinya.


"Cie ... saya pikir Dokter pria alim. Tidak tahunya sama saja seperti pria di luaran sana." Arumi terkekeh seraya menuangkan air minum untuk Rayyan. Wanita itu terus menggoda atasannya tanpa memperhatikan wajah pria itu.


Merasa kesal karena terus menerus disudutkan, Rayyan mencari celah untuk membungkam bibir itu.


Ia menatap Arumi kemudian berkata, "Jika iya, kenapa? Apakah Dokter Arumi bersedia mewujudkan lamunan saya itu?" tanya Rayyan dengan sorot mata tajam.


"Eh ... m-maksud, Dokter, a-apa?" Arumi tergagap. Wajahnya seketika berubah menjadi pucat pasi. Mendengar pertanyaan ambigu membuat otaknya langsung menjurus ke hal "anu".


"Dasar mesum!" pekik wanita itu sambil berlari masuk ke dalam kamar.


"Makanya, jangan menggodaku terus. Giliran digoda balik, kabur!" batin Rayyan.


TBC


.


.


.


Hola, otor mau promosiin lagi nih karya milik temen otor.


Judul : Aku Di antara Mereka


Nama pena : Asyfa


Blurb : DIA TIDAK PERNAH MENEMUKAN KEBAHAGIAAN DALAM PERNIKAHANNYA KARENA SIKAP ISTRINYA. TAPI DIA MALAH BERTEMU DENGAN SOSOK WANITA LAIN YANG MAMPU MEMBAWANYA LEBIH NYAMAN, APAKAH YANG HARUS DIA LAKUKAN? MEMILIH SETIA DALAM PERNIKAHAN NERAKA ATAU MENDUA UNTUK MENGGAPAI SURGA?


Reyhan rela menikah dengan istrinya yang kejam demi membayar hutang sang ayah. Namun, pernikahan Reyhan tidaklah seperti pernikahan pada umumnya. Belasan tahun menikah dikaruniai dua orang anak, tapi tak pernah sekalipun dia menyentuh istrinya. Sejak bertemu Hanna kehidupan Reyhan mulai berubah. Bagaimana nasib pernikahannya dengan istri kejamnya? Ataukah dia lebih memilih Hanna sebagian teman dalam hidupnya? Lalu anak siapakah keduanya?

__ADS_1



__ADS_2