Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil

Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil
Apakah Kamu Akan Menerimaku?


__ADS_3

"Ray, kenapa sikapmu kini berubah kepadaku? Padahal dulu, kamu itu galak sekali loh. Sering membentakku, memarahiku hanya karena hal sepele bahkan tega mengusirku dari ruanganmu. Namun, kenapa sekarang sikapmu berubah 360°. Apakah kamu sedang merencanakan sesuatu untuk menyepakku dari rumah sakit?"


Arumi mendongakan kepala, menatap wajah rupawan sang lelaki. Beratus kali bahkan ribuan kali memandangi keindahan ciptaan Tuhan yang satu ini tidak akan membuat wanita itu bosan.


Alih-alih menjawab pertanyaan Arumi, Rayyan malah mengusap lembut rambu panjang wanita itu. "Dulu, aku belum tahu sifatmu yang sebenarnya. Namun, kini aku sudah tahu jika dirimu itu sebenarnya rapuh. Kamu pura-pura tegar di hadapan orang tetapi di belakang mereka, air matamu mengalir deras bagaikan mata air yang tidak pernah habis."


"Sikapmu ini mengingatkanku pada Mama Mei Ling, mendiang Mamaku yang telah lama meninggal. Di hadapanku, dia bersikap tegar seolah-olah tak terjadi apa-apa. Akan tetapi ketika hari berganti malam, air mata Mama jatuh membasahi kedua pipi."


"Pernah suatu waktu, aku mendengar suara tangisan Mama begitu menyayat kalbu. Membuatku ingin sekali menghajar wajah mereka yang tega menyakiti hati Mama. Namun, apa daya, saat itu aku masih kecil. Tenagaku belum kuat untuk membalas rasa sakit di dalam hati Mama," tutur Rayyan menjelaskan mengapa kini sikapnya berubah terhadap Arumi.


"Sejak kapan kamu tahu kalau aku bukanlah wanita tegar seperti anggapanmu?" Arumi kembali menatap air mancur yang ada di hadapannya.


Rayyan tersenyum getir saat mengingat bayangan masa lalu di mana ia melihat Mei Ling meringkuk di atas ranjang seorang diri sambil memeluk kemeja pria brengsek yang telah membuatnya lahir ke dunia ini. Hati Rayyan kecil begitu sesak ketika melihat mama tercinta terluka. Ingin membela sang mama tetapi tak memiliki kemampuan untuk melakukannya. Akhirnya ia hanya memedam rasa dendam di dalam dada.


"Ray, kamu belum menjawab pertanyaanku," tegur Arumi memandang sekian detik sebelum kembali memandangi pepohonan hijau serta bunga-bunga yang bermekaran di depan sana.


Berkali-kali menggigit bibir bawah karena wajah pria itu sangat memesona. Bahkan Arumi harus menghela napas panjang untuk menyembunyikan debaran aneh yang ada di dada.


"Ehm ... sejak aku bertemu dengan mantan suami dan Rubah Betina itu. Pertemuan yang tidak disengaja membuat aku tersadar bahwa kamu sebenarnya rapuh tidak setegar yang aku bayangkan."


"Sejak itu, aku merasa bersalah karena sudah memperlakukanmu dengan tidak baik. Andai saja aku tahu kalau kamu wanita lemah mungkin aku akan bersikap lebih lembut terhadapmu. Sungguh, aku sangat menyesal." Ucapan Rayyan terdengar penuh penyesalan.


Arumi bisa memaklumi sikap pria itu sebab pada dasarnya ia memang bukanlah wanita yang memiliki kepribadian ekstrovert. Tipe kepribadian yang mudah bergaul dan lebih menyukai lingkungan interaktif. Wanita itu lebih senang menyendiri serta menyembunyikan perasaannya dari orang lain.


"Sudahlah, jangan diingat lagi. Aku pun sudah melupakan kejadian itu. Yang penting saat ini kamu sudah berubah dan bersikap lebih manusiawi terhadapku dibanding sebelumnya." Ia mengulum senyum sambil menggerakan kaki jenjang yang terjuntai di bawah bangku taman.

__ADS_1


Wajah dingin namun sangat memesona melirik ke arah wanita cantik yang mampu membuat gemuruh riuh menghantam di dada.


"Mahesa itu bodoh karena telah membuang berlian berharga demi batu kali yang tak memiliki jual beli sama kali," celetuk Rayyan. Pandangan mata masih menatap ke arah Arumi. "Aku yakin, kelak ia akan menyesal karena sudah menyia-nyiakanmu, Rumi."


Arumi membalas tatapan pria itu. Keduanya saling menatap tanpa berkedip sedikit pun.


"Percuma saja berharga jikalau aku tidak bisa memberikan keturunan pada pria itu. Aku sama saja tidak memiliki arti apa pun di mata Mas Mahes. Meskipun Kayla hanya batu kali jika ia bisa memberikan keturunan maka akan memiliki nilai di mata keluarga Adiguna."


Rayyan tertawa terbahak mendengar ucapan Arumi. Ia bukan menertawakan wanita cantik yang duduk di sampingnya melainkan menertawakan kekonyolan Mahesa beserta mantan mertua Arumi.


"Apa yang kamu tertawakan? Menertawakan nasib malang yang menimpaku?" ujar Arumi sinis. Ia mendengus kesal sambil beringsut menjauhi Rayyan. Namun, tangan kekar itu menarik lengan Arumi sehingga ia tak dapat pergi ke mana-mana.


"Aku bukan menertawakan kemalanganmu. Bodoh!" Rayyan menjentikan tangan di kening Arumi.


"Aw! Sakit, Ray!" pekik wanita itu seraya mengusap keningnya yang terasa sakit.


Arumi memutar bola mata jengah sambil mencebikan. "Dasar aneh!"


Rayyan merubah posisi duduk. Kini ia menghadap Arumi. "Tadi aku menertawakan kebodohan Mahesa bukan kamu."


"Dia pikir, tolak ukur kebahagiaan seseorang terletak pada ada atau tidak adanya anak di dalam sebuah rumah tangga. Ya ... memang sih kehadiran buah hati di dalam sebuah keluarga akan semakin mengeratkan cinta antara sepasang suami-istri. Namun, jika Tuhan belum berkehendak menitipkan bayi di dalam rahim si istri, apakah tindakan seorang suami untuk berselingkuh di belakang sang istri dibenarkan dalam kasus ini?"


"Menurutku tidak, Rumi. Itu bukan alasan tepat untuk membenarkan suatu perselingkuhan. Seharusnya, Mahesa bersabar dan terus mendukungmu. Membantumu agar tetap optimis dan berusaha membuat hatimu senang. Bukan malah selingkuh dan enak-enakan dengan gadis lain hingga menghasilkan kehidupan lain di dalam rahim Kayla."


"Apapun alasannya, persingkuhan maupun perzinaan tetap tidak dibenarkan dalam agama mana pun. Terdapat banyak agama di negera kita, tidak ada satu pun yang membenarkan sebuah perselingkuhan."

__ADS_1


"Aku terkadang heran dengan pasangan di luaran sana. Banyak yang mengalami nasib sepertimu ini dan lagi-lagi kaum Hawa yang disalahkan. Semua orang memandang rendah wanita yang belum juga hamil. Mereka dihina, dicibir bahkan ada beberapa orang yang tega mengucapkan kata-kata yang kurang pantas untuk diucapkan tanpa memikirkan psikis wanita itu."


"Sebutan mandul yang disematkan oleh orang lain terhadap wanita yang sudah menikah tetapi tak kunjung hamil, akan menimbulkan beban mental para kaum Hawa. Padahal, bisa saja 'kan si laki-lakinya yang malah mandul." Rayyan mengangkat bahu dan tangan ke atas. "Kita 'kan belum tahu jika tidak memeriksanya."


"Jadi, jangan jadikan masa lalumu sebagai beban ketika kamu membuka lembaran baru dalam hidupmu. Lepaskan semua beban di dalam dada dan tetaplah tersenyum sebab di luaran sana masih banyak orang yang diberikan ujian hidup lebih parah daripada kamu," ujar Rayyan panjang lebar.


Arumi menghela napas panjang. Menganggukan kepala sambil mencerna setiap bait kalimat yang diucapkan oleh rekan kerjanya itu.


"Kamu benar, Ray. Selama ini aku sering menyalahkan diri sendiri karena belum bisa memberikan keturunan pada suamiku hingga perasaanku lebih sensitif setiap kali ada seseorang yang membahas soal kehamilan."


"Itu sangat wajar terjadi bagi sebagian wanita akibat beban yang dipikul membuat mereka tidak percaya diri dan cenderung menutup diri dari dunia luar."


"Di sini, peran suami serta keluarga sangat dibutuhkan untuk membantu si istri agar tetap optimis dan yakin jika suatu saat Tuhan akan memberikan kesempatan padanya untuk bisa mengandung. Selama kondisi kedua pasangan suami-istri sehat, tidak ada yang mungkin di dunia ini. Kalaupun memang si istri maupun suami memiliki penyakit, 'kan bisa diobati. Yang penting saling memberikan dukungan. Itu sudah lebih dari cukup."


Rayyan menggenggam erat tangan Arumi lalu meletakannya di dada pria itu. "Rumi, seandainya kedekatan kita ini menumbuhkan benih-benih cinta tanpa disadari, apakah kamu akan menerimaku sebagai pasanganmu di kemudian hari?" tanyanya memberanikan diri.


Selepas memberikan nasihat panjang lebar pada Arumi, entah mengapa hatinya tergerak untuk mengucapkan kata-kata itu. Ia ingin sekali menghapus kesedihan di dalam diri wanita itu. Mengganti semua penderitaan Arumi dengan kebahagiaan.


...Bersambung...


.


.


.

__ADS_1



__ADS_2