Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil

Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil
Bukan Lagi Istri Anakku!


__ADS_3

"Ma, sakit!" Kayla masih berusaha melepaskan rambutnya dari cengkraman tangan Naila. Ia merasa helaian rambut itu akan berguguran layaknya dedaunan di musim gugur jika tidak segera dihentikan.


"Saya akan melepaskan cengkraman ini kalau kamu sudah mati di tangan saya!" Naila tersenyum smirk. Ia menikmati setiap kesakitan serta rintihan yang keluar dari mulut menantunya.


Berkali-kali mencoba melepaskan diri dari cengkraman Naila, berkali-kali pula usahanya sia-sia. Hingga akhirnya emosi dalam diri Kayla terpancing. Rahang wanita itu mengeras. Sorot matanya memancarkan kemarahan.


"Dasar wanita sinting! Wanita gila! Idiot!" maki Kayla dengan suara melengking tinggi.


"Menantu kurang ajar!" hardik Naila. Ia semakin tersulut emosi. Tanpa sadar, wanita paruh baya itu mengangkat sebelah tangan ke udara. Dengan sekuat tenaga ia melayangkan sebuah tamparan keras di pipi mulus sang model.


Plak!


"Berani sekali kamu menghina saya heh!" sembur Naila. bola mata melebar sempurna. Dada wanita itu kembang kempis karena emosinya meluap-luap.


"Kamu pikir, kamu itu siapa? Anak presiden? Anak bupati?" Kali ini Naila mencengkram kedua pipi Kayla menggunakan tangannya yang lain. Membuat Kayla kesakitan berkali lipat dari sebelumnya. "Kamu itu hanya seorang wanita murahan yang bersedia menjadi selingkuhan anak saya!"


"Seorang pelakor dan wanita mandul! Yang selamanya tidak akan memberikan kebahagiaan pada anak saya!"


"Jadi, jangan banyak gaya di hadapan saya. Kalau saya tidak memaksa Mahesa mendekatimu, selamanya kamu hanya menjadi seorang model. Mencari nafkah dengan menjual tubuh di depan kamera. Cih! Sungguh menjijikan!" sindir Naila.


Wanita itu terus mencaci maki Kayla tanpa menyadari bahwasannya dia-lah yang menjadikan wanita muda itu sebagai pelakor. Dia juga merendahkan profesi Kayla sebagai seorang model padahal beberapa waktu lalu wanita paruh baya itu begitu memuji Kayla di hadapan teman-teman geng sosialitanya.


Amarah Kayla sudah sampai di ubun-ubun. Ia tidak terima diperlakukan kasar dan dicaci maki oleh Naila. Apalagi disebut mandul oleh mertuanya.


Menggunakan sisa tenaga yang ada, Kayla mengepalkan tangan lalu merentangkannya ke samping. Kemudian wanita itu mendaratkan sebuah pukulan ke perut Naila hingga wanita paruh baya itu terpelanting ke belakang. Bahunya membentur lemari kayu.


Merasakan sekujur tubuhnya terasa sakit bercampur amarah yang semakin bergejolak, Kayla menghampiri Naila. Ia membalas perlakukan kasar wanita paruh baya itu.


Tangannya menarik rambut Naila hingga sanggul yang dikenakan wanita itu terlepas. Rambut hitam yang sebenarnya sudah mulai keperakan tergerai indah begitu saja.


"Kamu pikir aku akan diam saja diperlakukan kasar olehmu!" sungut Kayla. "Walaupun aku baru saja keluar dari rumah sakit tetapi tenagaku masih cukup kuat untuk membalas semua perlakuanmu, wahai Nenek Peyot!"


"Kurang ajar kamu!" teriak Naila disela rintihan akibat mahkotanya dijambak oleh Kayla. "Lepaskan saya!" pekik Naila dengan suara tinggi.

__ADS_1


"Aku tidak akan melepaskan Mama begitu saja sebelum Mama meminta maaf karena telah menghinaku!"


Bukannya meminta maaf, Naila malah terkekeh pelan disela rasa sakit yang diderita olehnya. "Wanita gila! Mana mungkin saya meminta maaf padamu. Kamu memang mandul sama seperti Arumi."


"Nasibmu dengan Arumi tak jauh berbeda. Namun, setidaknya Arumi lebih baik daripada kamu. Dia memiliki rahim sehat sehingga peluang untuk hamil lebih besar daripada kamu," sindir Naila.


Kayla tercekat. Bola mata wanita itu melebar sempurna. Hatinya seperti tersayat mendengar sindiran langsung dari bibir mama mertuanya.


"Ma--" ucap Kayla lirih. Bibir wanita itu bergetar hebat.


Semua perkataan Naila bagaikan sebuah belati yang ditusukan tepat mengenai jantung. Amat dalam sehingga membuat hatinya terluka.


Cengkraman tangan Kayla melonggar. Wanita muda itu terkulai di lantai. Tubuhnya terasa lemas setelah mendengar ucapan terakhir Naila. Ia tak menyangka jikalau mertuanya itu tega membandingkan dirinya dengan wanita yang pernah disakiti olehnya.


Melihat ada kesempatan untuk meloloskan diri, Naila merangkak layaknya bayi yang baru berjalan merangkak. Ia menjauhkan diri dari Kayla. Menghirup oksigen sebanyak-banyaknya guna memenuhi pasokan oksigen di dalam paru-paru.


"Kenapa Mama tega memandingkan aku dengan Arumi?" tanya Kayla lirih. Ia menatap sendu ke arah Naila. "Bukankah Mama sangat membenci Arumi, lalu kenapa sekarang malah membela wanita itu?"


"Kamu pikir, saya akan tetap memuji dirimu setelah apa yang terjadi beberapa waktu lalu?" tukas Naila tajam. "Jawabannya tidak, Kay!"


"Saya tak sudi lagi memuji wanita mandul sepertimu di depan teman-teman sosialita saya. Jika saya nekad melakukan itu, mau ditaruh di mana muka saya hem?" tutur Naila.


Perlahan, Naila bangkit. Ia berpegangan pada kursi rias yang ada di dekatnya lalu duduk di kursi itu.


Ia menatap Kayla dengan sorot mata sinis. "Seharusnya kamu sadar tanpa adanya rahim di dalam tubuhmu, kamu tidak memiliki arti apa-apa di mata saya, Kayla! Kamu cuma anak haram yang dibuang oleh kedua orang tuamu di tempat sampah karena merupakan aib bagi keluargamu."


Merasa diremass oleh tangan tak kasat mata, hati Kayla sakit kala mendengar wanita yang telah dianggapnya sebagai ibu tega menghina dirinya sebagai anak haram.


Ribuan pertanyaan terlintas dalam benak wanita itu. Dari mana Naila tahu jika ia adalah anak haram? Sedangkan para pengurus panti asuhan saja tak mengetahui alasan mengapa orang tua Kayla membuangnya di tempat sampah. Apakah mungkin Naila tahu siapa orang tua kandung Kayla yang sebenarnya? Ataukah itu hanya tebakannya saja untuk membuat mental Kayla down? Entahlah, ia pun tak tahu.


"Aku bukan anak haram, Ma. Aku--" Kayla tak sanggup melanjutkan lagi perkataannya. Air mata wanita itu berderai disertai suara gemuruh bersahutan petanda akan turun hujan, mengguyur kota Jakarta.


Suasana hening seketika. Baik Kayla maupun Naila tak ada yang berani membuka suara. Hingga suara ketukan pintu memecah kesunyian di ruangan itu.

__ADS_1


Tampak seorang pria jangkung dengan tubuh tegap nan gagah menyembulkan kepala dari balik pintu. Ia begitu terkejut tatkala melihat pemandangan di depan sana.


Penampilan Naila berantakan. Dengan rambut yang tergerai serta pakaian yang sedikit miring ke sebelah kanan membuktikan bahwa beberapa menit lalu telah terjadi sesuatu dan itu dibuktikan dengan penampilan Kayla yang tak kalah berantakan dari sang istri.


"Ma, apa yang terjadi?" Putra mendekati sang istri yang tengah duduk di atas kursi rias. Menyampirkan anak rambut yang menutupi sebagian wajah.


Naila menghunuskan tatapan tajam ke arah Kayla. Terlihat sorotan mata penuh kebencian terpancar di dalam sana.


"Aku baru saja memberi pelajaran pada menantu siri kita ini, Pa. Aku sudah meluapkan semua kekesalanku pada wanita ini!" ujar Naila menjawab pertanyaan Putra--suami tercinta.


"Kamu tahu, Pa. Ternyata menantu kita ini tidak layak untuk dipertahankan lagi," timpal Naila. Membuat Kayla yang saat itu menutup wajahnya dengan telapak tangan menoleh ke arah Naila.


"Mama sudah memikirkan matang-matang, mulai detik ini dia tak lagi menjadi bagian dari keluarga Adiguna. Hubungan kita dengan Kayla Lestari sudah putus. Dia bukan lagi menantu dan istri dari putraku, Mahesa," ucap Naila mantap.


Kayla yang masih terduduk di lantai menggelengkan kepala. Tak percaya dengan semua perkataan mertuanya itu.


Putra menatap manik coklat milik sang istri. Mencari kebenaran dari semua ucapan wanita yang telah dinikahinya selama hampir tiga puluh tahun.


"Apa Mama yakin?" tanya Putra untuk memastikan.


"Sangat yakin, Pa. Dia sudah tidak berguna lagi di keluarga kita. Jadi, untuk apa dipertahankan. Bukankah barang yang sudah rusak sebaiknya kita buang agar tak memenuhi rumah?" Terdengar nada sindiran dari perkataan Naila.


"Ma ... kumohon, jangan berkata seperti itu," lirih Kayla. Kendatipun suara wanita itu terdengar seperti embusan angin di musim gugur, tetapi Naila dan Putra masih dapat mendengarnya dengan jelas.


Putra menarik napas panjang, seraya berkata, "Baiklah, kalau itu mau Mama. Papa akan setuju dengan keputusan Mama."


Naila bangkit dari kursi dibantu Putra. Ia melangkah menuju pintu kamar. Tepat di hadapan Kayla, wanita paruh baya itu berkata, "Tinggalkan rumah ini segera karena mulai detik ini, kamu bukanlah istri dari anak saya!"


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2