Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil

Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil
Setelah Delapan Bulan


__ADS_3

Di saat Mahesa tengah meratapi kesedihan karena harus kehilangan cinta dan kasih sayang dari Arumi, mantan model papan atas yang kini karirnya telah hancur akibat tersebarnya video skandal perselingkuhan antara dirinya dengan putra tunggal dari pemilik Adiguna Properti sedang berjuang keras membangun kembali citranya di mata masyarakat yang terlanjut melihat video wanita itu di salah satu aplikasi pemutar video.


Kayla, mantan model papan atas harus merasa sakit mulut pedas para kaum Hawa menghina serta mencaci maki dirinya setelah tahu kalau dia adalah orang ketiga yang sudah menghancurkan rumah tangga Arumi. Dalam delapan bulan belakangan, sebanyak dua puluh kali berpindah-pindah tempat karena masyarakat sekitar enggan bertetanggaan dengan mantan pelakor. Mereka resah jikalau Kayla menggoda para suami di kampung tersebut. Demi menghindari perselisihan, akhirnya wanita itu mengalah dan pindah ke tempat lain.


Kini, di tempat tinggalnya yang ke 21, Kayla bisa merasa tenang karena ketua RT setempat bisa membungkam mulut warganya untuk tak berbuat anarkis dan meminta wanita itu pindah ke tempat lain. Meski tak jarang, ada saja ucapan yang membuat hatinya sakit lantaran orang-orang itu terus saja menggunjingnya.


"Neng Sinta, kalau Teteh boleh kasih saran, untuk anak seusiamu ketika menggunakan lipstick carilah warna-warna yang natural. Salah satunya warna ombre lips bernuansa orange. Warna ini sangat cocok untuk Neng yang mempunyai warna kulit sawo matang, memberikan kesan summer vibes yang segar," ucap salah satu tukang rias bernama, Kayla.


Yeah, Kayla Lestari. Sang mantan model terkenal beralih profesi menjadi tukang rias pengantin serta membuka salon khusus wanita di sebuah kota yang cukup jauh dari kota Jakarta. Ia ditemani Mona, mantan asistennya merintis usaha kecil-kecilan dengan keahlian dan kemampuan yang dimiliki.


Sinta, salah satu pelanggan salon Mentari mengamati wajahnya dari pantulan cermin di depan sana. Anak remaja berusia enam belas tahun tengah memotong rambut sekalian melakukan creambath di salon milik Kayla.


"Memangnya warna merah gelap ini kurang cocok di bibir saya, Teh?"


Kayla yang saat itu sedang memberikan pijat*n lembut di pundak pelanggannya menatap Sinta dari kaca besar di depan sana. "Benar, Neng. Kalau menggunakan warna itu sementara usia Neng masih remaja jadi terlihat lebih tua dibanding usia yang sebenarnya. Punten ya, Neng, kalau ucapan Teteh terkesan menyinggung perasaan. Teteh ... cuma mau lihat Neng Sinta itu terlihat cantik di mata para jejakan di desa ini." Terkekeh pelan sambil terus memberikan pelayanan terbaik kepada pelanggannya.


Sinta mencebikkan bibir sambil berkata. "Iih ... si Teteh mah, ada-ada saja. Saya tidak mungkin bisa menandingi kecantikan Teh Kayla yang merupakan mantan model papan atas. Jika dibandingkan dengan Teteh, saya hanya butiran debu yang kalau ditiup langsung terbang ke mana-mana."


Mendengar perkataan Sinta, senyuman manis di wajah Kayla pudar. Kembali teringat kenangan pahit di masa lalu saat dirinya masih menjadi model terkenal. Akibat kesalahannya, ia telah menghancurkan karir yang dirintisnya susah payah selama hampir sepuluh tahun lamanya.


Perubahan air muka mantan model itu terlihat jelas dari cermin di depan. Sinta jadi merasa tidak enak hati karena ucapannya membuat orang lain terluka. "Aduh, Teteh! Maafkan saya. Saya benar-benar tidak bermaksud menyinggung perasaan Teteh."


Kayla mencoba tersenyum meski dadanya terasa sesak dan hatinya sakit ketika mengingat kejadian itu. "Tidak apa-apa, Neng. Sudah, jangan minta maaf. Teteh, baik-baik saja kok."


Setelah memberikan treatment kepada Sinta, Kayla memutuskan beristirahat sejenak, sebab waktu sudah menunjukan pukul dua belas siang. "Mona, aku tinggal beli makanan dulu. Kamu jaga salon. Kalau ada yang mau potong rambut ataupun creambath, langsung kerjakan! Jangan biarkan menunggu!" ucapnya sebelum meninggalkan Mona sendirian di salon.


"Iya. Kamu tenang saja. Serahkan semuanya kepadaku!" sahut Mona. "Oh ya, jangan lupa belikan aku rujak bebek di perempatan jalan depan sana ya. Minta Mamang-nya kasih satu biji cabai saja. Aku tidak mau, diomeli Kang Fadil jika dia tahu kalau hari ini makan makanan pedas padahal itu kurang baik bayi janin dalam kandunganku."


"Oke!" seru Kaila sembari memakai masker dan helm untuk melindungi kepala saat berkendara.

__ADS_1


Maka, melajulah kendaraan roda dua milik Kaila memecah jalanan kota kecil di sebuah desa yang cukup jauh dari ibu kota negara. Letak salon dari rumah tidak terlalu jauh hanya kisaran satu kilo meter saja.


Kehidupan Kayla jauh berbanding terbalik jika dibandingkan saat ia masih menjadi model terkenal. Kalau dulu seluruh tubuh dibalut barang-barang branded, kini pakaian yang melekat di tubuh merupakan produk yang dijual bebas di pasar dengan harga relatif lebih murah namun juga tidak terlalu mahal. Bagi wanita itu, asalkan nyaman kenapa harus membeli produk mahal.


Tiba di sebuah warung penjual bakso, Kaila menghentikan laju kendaraannya. Mematikan mesin motor dan memarkirkannya dengan rapi. Melangkah dengan langkah anggun layaknya seorang pragawati saat sedang memamerkan hasil rancangan desainer terkenal di tanah air.


"Pak Karno, bakso urat campur sayuran satu porsi. Saya minta tolong togenya dibanyakin ya, Pak!" pintanya pada si penjual bakso. Karena sudah lama kenal dengan pemilik warung bakso, sikap Kaila begitu ramah dan terkesan bersahabat.


"Siap, Neng Kayla! Bapak buatkan khusus untuk Neng cantik!" ucap Pak Karno. Pria itu memang biasa memuji setiap pelanggan yang membeli dagangannya. Bukan karena genit tapi memang itulah sifat pak Karno yang sebenarnya.


Lantas, Kayla duduk di bangku panjang terbuat dari kayu. Memandangi beberapa foto menu terpampang di dinding, mulai dari berbagai jenis bakso, mie ayam dan minuman dingin yang dijual di warung itu.


"Cih! Dasar pelakor! Kenapa sih, Pak Husni tidak membiarkan kita mengusir wanita itu dari kampung sini! Memangnya, dia mau bertanggung jawab kalau para suami di kampung ini ada main serong dengannya!" celetuk salah satu wanita mengenakan daster hijau motif bunga-bunga. Sengaja meninggikan suara agar Kaila dapat mendengar percakapan mereka.


Wanita berkacamata melirik tajam ke arah Kaila, kemudian menjawab. "Entahlah. Saya juga tidak tahu, kenapa Pak Husni jadi lemah begitu di hadapan si Lakor. Jangan-jangan, di antara mereka ada hubungan spesial sehingga segan mengusirnya dari kampung ini!"


Wanita berkacamata mendengkus kesal. "Semenjak dia tinggal di kampung sini, saya jadi sering mengawasi Kang Sopyan. Khawatir bertamu ke rumah pelakor itu! Andai saja Pak Husni mengusirnya tiga bulan yang lalu, mungkin hidup saja masih tenang tanpa diselimuti rasa cemas."


"Loh, kok sama sih, Bu! Saya pun begitu. Kita wajib menjaga ketat para suami agar tak tergoda pelakor. Kalau sudah kecantol, susah kembali lagi. Daripada terlanjur lebih baik dicegah sebelum terlambat."


"Saya terkadang heran, dia itu 'kan sudah terkenal di mana-mana karena videonya yang viral. Tapi, kenapa masih mempunyai muka tebal hingga berani berkeliaran di tempat umum seperti ini. Kalau saya jadi dia, lebih baik mengurung diri di rumah karena tidak sanggup berpapasan dengan orang di luaran sana." Menatap sinis ke arah Kayla, lalu kembali berkata. "Lah dia, malah buka usaha di dekat rumahnya. Benar-benar tidak tahu malu!"


"Mungkin karena sudah kere, Bu, jadi terpaksa buka usaha. Ibu 'kan tahu sendiri, karirnya sebagai model hancur karena skandal yang tersebar di jejaring sosial. Tempatnya bekerja tidak mau ambil resiko. Oleh karena itu, dia dipecat dan uang hasil kerjakerasnya selama beberapa bulan tidak dibayar demi menutup kerugian dari beberapa pembatalan kontrak."


Wanita berkacamata cukup terkejut mendengar fakta terbaru tentang kehidupan Kayla. Ia bahkan menghentikan kegiatannya menyantap bakso klenger kesukaannya. "Serius, Bu? I-ibu ... tidak bercanda?"


Dengan penuh percaya diri, wanita berdaster hijau menjawab. "Serius. Malah, dua rius! Saya mendapatkan fakta ini dari sumber terpecaya!"


"Wah ... wah ... Bu Kokom hebat sekali! Saya salut sama Ibu. Dapat informasi valid di saat semua orang tidak tahu kebenarannya." Wanita berkacamata mengacungkan dua ibu jari ke udara. "Bu Kokom, memang is the best!" pujinya.

__ADS_1


Merasa disanjung, membuat bu Kokom besar kepala. Merasa tubuhnya melayang ke udara, menembus awan putih di atas langit yang cerah. "Bu Kokom, gitu loh!" Lalu, kedua wanita itu cekikikan karena puas telah menggunjingkan Kayla di hadapan mantan model itu.


Sementara itu, Kayla hanya dapat meremas ujung kursi panjang yang didudukinya. Telinga wanita itu terasa panas, dada kembang kempis disertai deru napas yang memburu. Ingin rasanya ia memaki kedua wanita di belangnya, tetapi sadar jikalau yang dikatakan mereka semua ada benarnya. Ia memang seorang pelakor yang telah menghancurkan rumah tangga sahabatnya sendiri. Bercinta dan mengandung benih dari suami orang tanpa memikirkan perasaan wanita lain. Namun, apakah memang ia tak layak diberikan kesempatan untuk berubah menjadi manusia lebih baik lagi?


"Ibu-ibu, tidak baik membicarakan keburukan orang lain. Kata Pak Ustaz, itu sama saja seperti kita sedang memakan bangkai saudara sendiri. Memangnya ... Ibu mau memakan bangkai sesama manusia?" tegur isti Pak Karno. Wanita paruh baya itu baru saja selesai mencuci piring di ruangan sebelah. Ia mendengar semua yang dibicarakan oleh kedua pelanggannya.


Bu Kokom memutar bola matanya dengan malas. Ia memang memiliki hubungan kurang baik dengan istri pak Karno. "Tapi ini kenyataan kok, Bu. Saya mendapatkan informasi valid dari sumber terpercaya."


"Saya tahu, Bu. Baik berita itu benar atau tidak, tetap saja akan melukai hati Neng Kayla." Istri Pak Karno mengusap pundak Kayla dengan lembut, seakan memberikan kekuatan agar wanita itu tabah menghadapi ujian yang Tuhan berikan kepadanya.


"Alah, Bu Karno. Untuk apa sih Ibu membela pelakor ini? Apakah Ibu tidak takut Pak Karno direbut oleh dia?" tanya Bu Kokom sambil menghunuskan tatapan tajam ke arah Kayla.


Alih-alih merasa takut, bu Karno tersenyum lebar seraya berkata. "Perselingkuhan itu tidak akan terjadi apabila salah satu dari kedua orang itu teguh pendirian dan kuat iman. Sekuat apa pun dan sekeras apa pun si perempuan datang menggoda apabila si lelaki itu berperilaku baik maka tak mungkin tergoda."


"Lagipula, saya yakin, Neng Kayla ini sudah berubah dan tak mungkin melakukan kesalahan yang sama. Jadi, kenapa tidak kita berikan kesempatan kepadanya untuk menjalani kehidupannya seperti sedia kala. Jangan malah memojokkan Neng Kayla terus menerus. Berikan support kepadanya agar terus berada di jalan yang lurus." Terkekeh pelan sambil memberikan bungkusan bakso kepada Kayla.


Bu Kokom mencebikkan bibir. Ia bangkit dari bangku. "Kalau Bu Karno mau beramah tamah kepadanya, silakan! Saya mah ogah bergaul dengan mantan pelakor!" Lalu ia pergi meninggalkan warung bakso itu sambil misuh-misuh.


"Neng Kayla yang sabar ya. Jangan mudah terpancing oleh omongan orang lain. Cukup jadi diri sendiri dan terus memperbaiki diri agar semakin dekat dengan Tuhan," tutur bu Karno.


Kayla mengangguk lemah. "Iya, Bu. Terima kasih atas nasihat Ibu," ujarnya seraya menahan agar butiran kristal tak meluncur membasahi pipi.


Beruntungnya di bumi ini masih ada orang baik yang sudi berteman dengannya selain Mona dan Fadil, suami dari sang asisten. Jika tidak, mungkin sudah sejak dulu ia melakukan hal konyol dengan mengakhiri hidupnya karena tidak tahan menanggun beban moral akibat kesalahannya di masa lalu.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2