Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil

Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil
Kembali ke Indonesia


__ADS_3

Sudah empat belas hari lamanya Rayyan dan Arumi menghabiskan waktu berbulan madu ke negara-negara yang berada di Asia. Kini waktunya mereka kembali ke Indonesia, menjalankan rutinitas seperti biasanya. Anne dan Farhan mengantarkan sampai bandara.


Waktu lima tahun berpisah dengan teman lamanya semasa kuliah dulu, telah terobati. Arumi merasa bahagia karena diberikan kesempatan lagi untuk bertatap muka setelah sekian lama tak bertemu. Arumi merasa berterima kasih karena Anne telah menjadi pendengar setia di kala ia menceritakan segala kegundahan dalam hatinya dan mencoba memperbaiki diri agar menjadi istri yang terbaik bagi Rayyan hingga pernikahan mereka langgeng sampai maut memisahkan.


"Jangan terlalu memakirkan kapan kamu hamil. Bebaskan saja pikiranmu agar tidak menjadi beban," ujar Anne. Saat ini ia dan Farhan sedang berdiri di depan pintu masuk bandara. "Selagi belum diberikan momongan, nikmati kebersamaan kalian dengan kebahagiaan."


Rayyan memandangi Arumi dan Anne yang tampak begitu akrab. Walaupun hanya dua kali bertemu dengan teman dari istrinya, pria itu dapat menilai jika Anne adalah orang baik, selalu mendukung Arumi sama seperti Rini.


"Dokter Rayyan, saya memang bukan sahabat Arumi, tapi kami berdua cukup dekat. Hubungan pertemanan kami pun terjalin baik," imbuh Anne.


"Banyak kejadian yang kami lalui bersama saat kuliah dulu dan saya sudah menganggap Arumi seperti saudara sendiri. Jadi, tolong jaga dia baik-baik. Jangan pernah sakiti apalagi melukai hatinya. Cukup pria berengsek itu saja yang menyakiti hati temanku ini. Kalau sampai saya dengar jika Arumi terluka lagi hatinya disebabkan oleh kamu, maka saya akan segera datang ke Indonesia untuk membalaskan rasa sakit hati dia." Kalimat itu terdengar penuh ancaman.


Farhan menyenggol lengan Anne karena merasa tidak nyaman atas sikap istrinya. Anne sadar dengan kode yang diberikan suaminya. Namun, ia bersikap cuek seolah tak tahu arti dari senggolan itu.


Arumi tersenyum penuh arti sedikit terharu karena selain Rini, masih ada Anne yang peduli terhadapnya.


"Kamu tenang saja, Rayyan tidak sama seperti mantan suamiku dulu. Pria ini sangat mencintaiku dan cuma aku yang dapat menjinakan penyakit anehnya itu."


Arumi terkekeh setengah berkelakar yang diikuti kekeh Anne dan Farhan. Akan tetapi, Rayyan sama sekali tidak tertarik untuk tertawa apalagi tersenyum.


Rayyan melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangan. Waktu sudah menunjukan pukul sepuluh kurang tiga puluh menit dan ia harus segera check in.


"Waktu kita tidak banyak, segera berpamitan pada temanmu," bisik Rayyan pada istrinya. Arumi menganggukan kepala sebagai jawaban.


"Sampai jumpa, Anne. Kalau datang ke Indonesia menemui saudaramu di kampung jangan lupa kabari aku," ucap Arumi seraya memeluk Anne.


"Pasti. Aku akan menghubungimu. Ingat pesanku tadi. Jangan jadikan beban agar tidak stres. Oke?" Membalas pelukan Arumi.


Tatkala dua wanita itu berpelukan sebelum berpisah kembali, kedua lelaki itu pun bersalaman. Saling berjabat tangan satu sama lain.


Setelah sesi perpisahan, keempatnya berpisah. Rayyan merangkul bahu istrinya, berjalan bersisian masuk ke dalam bandara untuk melakukan check in.

__ADS_1


"Ray ... setelah tiba di Indonesia, kamu temani aku ke rumah Rini ya. Aku sangat merindukan Indah dan Bagus. Entah kenapa, beberapa hari ini aku ingin sekali memeluk mereka," rengek Arumi sambil bergelayut manja di lengan suaminya.


"Iya. Aku pasti menemanimu bertemu Indah dan Bagus." Mengusap rambut Arumi dengan lembut. "Kamu ini, seperti wanita hamil saja. Dari kemarin pingin yang aneh-aneh."


Arumi mencebikkan bibir seraya memasang wajah cemberut. "Memangnya kalau aku belum hamil, kamu tidak mau mengabulkannya hem?"


Rayyan terkekeh melihat sikap istrinya yang berubah merajuk seperti anak kecil. Walaupun usia Arumi hanya terpaut satu tahun lebih muda dari Rayyan, tapi sikap wanita itu sangat manja bila di dekat suaminya. Berubah menjadi kelinci yang begitu menggemaskan.


"Ehm ... tentu saja aku tetap menuruti permintaanmu. Meskipun kamu belum hamil, apa pun yang kamu minta, aku akan berusaha memenuhinya. Selagi masih masuk akal dan tidak menyusahkan pastinya." Suara kekehan kembali terdengar.


"Cih! Menyebalkan sekali!" dengus Arumi kesal. Meski demikian, ia tetap tersenyum dan semakin mengeratkan pelukan di lengan suaminya.


Di dalam pesawat, Arumi terlelap dalam pelukan Rayyan. Jemari lentik wanita itu terus melingkar di lengan sang suami. Senyuman samar terlukis di wajah.


"Tidurlah dengan nyenyak, Babe."


Setelah menempuh waktu selama kurang lebih dua jam, akhirnya pasangan suami istri itu telah tiba di Indonesia. Rayyan menuntun Arumi kala menyusuri bargarata menuju bangunan inti bandara.


Arumi mengangguk. "Masih. Aku mengantuk sekali dan ingin tidur lagi." Kembali merengek seperti anak kecil. Bahkan sikap wanita itu tak ayal menjadi pusat perhatian beberapa orang yang berpapasan dengan mereka.


Kening Rayyan mengerut. Ia sedikit heran kenapa sikap istrinya begitu manja dan sering meminta sesuatu secara tiba-tiba. Dalam hati pria itu berkata, 'Apakah memang seperti ini sifat asli Arumi?'


Namun, Rayyan segera mengenyahkan semua pikiran-pikiran yang dapat merusak suasana hatinya saat ini. Kembali fokus pada sosok wanita cantik yang masih mengusel-ngusel di dada bidang pria itu.


Dengan sabar Rayyan mengusap puncak kepala Arumi. Tidak sedikit pun merasa risih atas sikap wanita itu yang terkesan sedikit berlebihan. Malah merasa bahagia karena istrinya begitu ketergantungan padanya.


"Iya ... iya ... nanti di dalam mobil, kamu boleh tidur sepuasnya. Sudah ya, jangan merengek lagi," ujar Rayyan dengan sangat lembut.


Seumur hidup tidak pernah dekat dengan wanita lain semenjak sebuah kejadian di masa lalu yang membuatnya merasa alergi terhadap seorang wanita membuat Rayyan tidak mengerti bagaimana cara membujuk wanita jika sedang merajuk. Hanya mengandalkan insting saja terkadang tidaklah cukup baginya untuk membuat istrinya kembali bahagia. Sehingga ia terpaksa membaca artikel di internet agar lebih mengerti karakteristik unik yang dimiliki seorang wanita.


Merasa sifat seorang wanita lebih kompleks dari kaum Adam, Rayyan dituntut untuk mengerti dan memahami serta peka terhadap perasaan makhluk yang bernama perempuan agar kehidupan rumah tangganya bersama Arumi harmonis. Walaupun setiap rumah tangga pasti ada kerikil menghadang, namun setidaknya ia telah berusaha untuk menjaga keutuhan rumah tangganya yang baru seumur jagung.

__ADS_1


Saat ini, Rayyan tengah melakukan panggilan telepon dengan Burhan--sopir pribadi Arumi. Pria itu mengabarkan jika pesawat yang ditumpanginya telah mendarat dengan selamat dan meminta Burhan menjemputnya di terminal 3.


"Oke. Saya tunggu di terminal 3. Ingat, jangan sampai salah!" pungkas Rayyan sebelum mengakhiri sambungan telepon.


Arumi tengah duduk sambil memainkan telepon genggam segera mendongakan kepala ke arah Rayyan, lalu berucap. "Pak Burhan sudah sampai mana?"


Rayyan melangkah mendekati kursi tunggu di dekat sebuah restoran Jepang. Ia duduk di samping istrinya. "Masih di jalan. Kurang lebih lima belas menit lagi sampai."


Kembali merebahkan kepala di dada bidang sang suami. Jemari lentik itu melingkar di lengan suaminya. "Masih lama dong. Padahal aku sudah ingin merebahkan tubuhku di atas kasur. Aku lelah sekali, Ray."


"Iya, aku tahu kamu pasti kelelahan akibat agenda bulan madu kita. Maaf ya karena aku terus meminta hakku sebagai suami tanpa memikirkan bagaimana keadaanmu," tutur Rayyan. Ia sungguh menyesal telah membuat Arumi terus lembur setiap malam.


Menatap larut pada manik coklat cerah. Sorot mata itu memancarkan rasa kasih yang tulus . "Tidak perlu meminta maaf. Bukankah sudah menjadi kewajibanku untuk melayanimu? Sudah ya, jangan dibahas lagi."


Rayyan menganggukan kepala. Merasa bersyukur karena Tuhan telah menjodohkannya dengan wanita baik seperti Arumi. "Love you, Babe." Mencium puncak kepala Arumi.


"Love you too, Honey."


Di saat Arumi kembali memejamkan mata, tiba-tiba saja perutnya terasa sakit hingga membuat kelopak matanya kembali terbuka. Memegangi perutnya sambil meringis kesakitan.


'Aduh ... kenapa perutku sakit sekali,' batin Arumi. Hasrat ingin kembali tertidur pergi begitu saja. Kini yang ia rasakan rasa tidak nyaman pada bagian perut.


Tidak tahan dengan rasa kram di bagian perut, wanita itu mengurai pelukan dan segera bangkit. "Ray, aku ke toilet dulu sebentar. Kamu tunggu aku di sini ya!"


Tanpa memberikan kesempatan pada Rayyan, Arumi berlari begitu saja. Meninggalkan Rayyan yang masih membeku di tempat.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2