Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil

Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil
Triplet


__ADS_3

“Kabar baik apa, Dok?” tanya Arumi penasaran. Wanita itu mengikuti arah pandang Renata yang tengah menatap layar monitor USG.


Renata membenarkan posisi duduknya, lalu merogoh saku snelli berwarna putih yang dikenakan oleh wanita paruh baya itu. Mengambil sebuah pena dan mengarahkannya ke layar monitor.


“Dokter Arumi dapat melihat titik garis samar ini?” tanya Renata dan Arumi pun menganggukan kepala sebagai jawaban. “Ini adalah kantung embrio janin Anda.” Jemari lentik Renata bergerak dari kantung embrio satu ke kantung embrio yang lain.


Satu


Dua


Dan … tiga!


Seketika pupil mata Arumi melebar sempurna. Jantung wanita itu rasanya mau copot kala tangan Renata bergerak perlahan menunjuk tiga titik samar berwarna hitam di depan sana. Air mata haru bahagia menetes kembali di pipi. Akhirnya, setelah penantian selama lima tahun telah Tuhan ganti dengan kehadiran calon janin buah cintanya bersama Rayya, suami tercinta. Bukan hanya satu, melainkan tiga kantung embrio sekaligus telah tumbuh sehat dalam rahim wanita itu.


“Ini merupakan sebuah anugerah dari Yang Maha Kuasa. Penantian Dokter Arumi selama ini telah membuahkan hasil. Kini, di dalam perut Anda telah hadir tiga calon bayi yang akan menjadi pelita dalam rumah tangga Dokter Arumi beserta suami,” ucap Renata. Bola mata wanita paruh baya itu berkaca-kaca. Dia larut dalam kebahagiaan yang tengah menyelimuti rekan sejawatnya.


“Sekali lagi, saya ucapkan selamat karena sebentar lagi Dokter Arumi akan menjadi seorang ibu dari tiga bayi kembar.”


“H-hamil? Istriku hamil? K-kembar tiga?”


Suara berat seorang pria menginterupsi percakapan Arumi dan Renata.


Rayyan terkesiap beberapa saat, tak mengira jika saat ini dirinya telah menjadi calon ayah dari tiga janin yang ada dalam kandungan Arumi. Dia benar-benar shock hingga kehabisan kata-kata. Mulut pria itu membuka, lalu menutup kembali tapi tidak ada satu kata pun terucap dari bibirnya.


“Honey, sejak kapan kamu di sini?” Arumi bertanya dengan suara lirih seraya tersenyum hangat ke arah sang suami hingga memperlihatkan deretan gigi putih dan rapi milik wanita itu.

__ADS_1


Sejujurnya dia sedikit gugup melihat Rayyan berdiri di dekat tirai pembatas antara ruang periksa dengan ruang konsultasi. Namun, wanita itu berusaha menyembunyikan kegugupannya di hadapan pria bertubuh jangkung itu.


Alih-alih menjawab pertanyaa Arumi, Rayyan malah melangkah maju mendekati ranjang tempat Arumi terbaring. Raut wajah pria itu terlihat gugup bercampur bahagia. Bahagia karena harapannya untuk menjadi ayah bagi anak-anaknya akhirnya terkabul. Namun, dia pun merasa takut jika kelak tidak bisa menjadi ayah yang baik bagi ketiga anak kembarnya.


Bagaimana Rayyan tidak bahagia. Hari ini, Tuhan telah mengabulkan do'a yang sering dia panjatkan tatkala dirinya hampir mengalami pelepasan saat bergumul bersama istri tercinta. Tuhan, menitipkan malaikat kecil di dalam rahim Arumi. Tiga calon bayi sekaligus dalam waktu bersamaan. Sungguh, tidak ada lagi nikmat yang dapat pria itu dustakan.


"Dokter Renata, c-coba ... katakan sekali lagi, apakah istriku benar-benar hamil?" tanya Rayyan tergagap. Mencoba menanyakan kembali apa yang dia dengar barusan bukan hanya sekadar halusinasi di siang bolong.


Mau tidak mau, Renata tersenyum simpul saat melihat ekspresi wajah Rayyan. Pria sehebat dan sedingin Rayyan pun bisa memasang wajah hangat ketika mendengar kabar baik tengah hadir di keluarga kecil mereka.


"Saat ini, istri Anda, Dokter Arumi Salsabila sedang mengandung. Sebentar lagi, kalian berdua akan menjadi orang tua dari tiga bayi kembar," ucap Renata tegas dan lantang. Tidak ada sedikit pun keraguan dari setiap kata yang terucap.


Detik itu juga, Rayyan segera berhambur memeluk tubuh Arumi yang masih terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit. Pria itu memberikan kecupan di kening dan kedua pipi Arumi. Tanpa sadar, air mata pria itu mengalir deras membasahi wajah tampan nan rupawan.


"Terima kasih, Babe." Rayyan kembali mendaratkan sebuah kecupan penuh cinta di kening sang istri. Pria itu terus menghujani wanita cantik itu dengan kecupan hangat. Seakan tak pernah puas bila hanya mencium satu ataupun dua kali.


"Dokter Rayyan tolong diperhatikan lagi asupan gizi yang dikonsumsi oleh Dokter Arumi. Bantu istri Anda terhindar dari stress dan pola tidur harus teratur karena di dalam perut istri Dokter Rayyan ada tiga kantung embrio," tutur Renata.


Wanita paruh baya itu menuliskan resep obat disecarik kertas dengan tinta warna hitam, lalu memberikannya pada Rayyan. "Ini vitamin dan obat penambah darah yang bisa Dokter Rayyan tebus di apotik."


Bukannya Rayyan menerima resep yang telah dituliskan oleh Renata, pria itu hanya bergeming sambil menatap kertas itu dan wajah Renata secara bergantian. Pria itu bingung sendiri bagaimana menerima lembaran putih itu sementara dia mempunyai penyakit aneh yang langka di dunia ini.


"Terima kasih, Dokter Renata." Dengan gerakan cepat jemari lentik Arumi meraih secarik kertas putih yang ada di hadapannya.


Setelah menebus obat dan vitamin di apotik, Rayyan memutuskan mengantarkan Arumi pulang ke apartemen terlebih dulu. Tampak pria tampan itu begitu perhatian dan sangat hati-hati menjaga sang istri.

__ADS_1


Saat ini, pasangan suami istri itu tengah berada di dalam mobil. Rayyan sedang mengatur posisi kursi agar Arumi merasa nyaman ketika mobil itu melaju membelah jalanan ibu kota.


"Mas, apakah kamu bahagia mendengar kabar ini?" Arumi mendongakan kepala, manik coklat menatap intens manik coklat sang lelaki. Kedua netra saling memandang satu sama lain.


Rayyan menjawab pertanyaan Arumi dengan sebuah senyuman. Lalu, pandangan mata mengarah pada perut sang istri yang masih datar. Tangan pria itu gemetar ketika berusaha menyentuh perut istrinya, mengusapnya dengan lembut dan sangat hati-hati. Seakan benda di dalam perut wanita itu merupakan harta karun bernilai ratusan dolar, yang memiliki nilai jual tinggi.


"Tentu saja aku bahagia. Mana mungkin aku tak bahagia bila ternyata usahaku selama satu bulan ini membuahkan hasil. Aku sukses menebarkan bibit unggul yang kumiliki di padang rumput luas dan hangat. Delapan bulan ke depan, aku dapat menuai sendiri bagaimana hasil dari bibit yang kutanam di dalam rahimmu. Aku yakin, kelak mereka akan terlahir dengan paras tampan dan cantik sama seperti kedua orang tuanya." Arumi terkekeh mendengar kelakar sang suami.


Pria itu berdehem sebelum melanjutkan kalimatnya. "Rumi ... aku minta maaf atas sikap kasarku kepadamu beberapa hari lalu. Aku merasa saat itu terlalu keras kepadamu. Seharusnya aku dapat menasihatimu baik-baik tanpa harus menggunakan kekerasan."


"Saat itu, aku terbawa emosi karena mantan mertuamu tiba-tiba saja ada di dalam apartemen yang kubeli secara khusus untukmu. Aku tidak suka jika ada orang di masa lalumu hadir kembali dalam kehidupan rumah tangga kita. Aku--"


"Sst!" Jari telunjuk Arumi berhenti tepat di depan bibir sang suami. Wanita itu lebih dulu menyangah perkataan Rayyan sebelum pria itu menyelesaikan kalimatnya. "Jangan diteruskan lagi. Aku sudah mengerti maksudmu."


"Aku pun minta maaf, karena belum bisa menjadi istri yang sesuai dengan keinginanmu. Namun, aku akan berusaha mulai mengerti dirimu. Menjadi istri dan ibu yang baik bagi anak-anak kita."


Lantas, kedua insan manusia itu pun saling berciuman. Melarutkan rasa bahagia. Bersyukur di dalam hati masing-masing bahwa mereka telah kembali saling mencumbu satu sama lain.


"I love you, Bunda."


"I love you too, Ayah."


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2